
Flashback on
Sepulang dari rumah Nesya, Ravindra melajukan mobilnya menuju markas. Ia masuk mencari anak buahnya.
"Tiger, apa kamu sudah berhasil mengumpulkan informasi tetang pria pengecut itu?" tanya Ravindra yang telah berhadapan dengan anak buahnya.
"Siap, sudah captain." Tiger berlalu untuk mengambil berkas yang diminta Ravindra di mejanya.
Ting
Ravindra meraih ponsel di sakunya dan membaca pesan yang masuk "Nesya." Ravindra tersenyum bahagia.
💌 Gadis Bodoh
Good night and sweet dreams of husband. See you tomorrow morning!
^^^Selamat malam dan mimpi indah kembali gadis bodohku.^^^
Sayang, apa tidak bisa manis sedikit padaku? Aku bahkan telah memanggilmu 'suami' 😯
^^^Baiklah 'istri cantikku'.^^^
^^^Lekaslah pergi tidur atau aku tidak akan menemuimu besok, sayang.^^^
Siap, kapten!
^^^Kapten?^^^
"Apa Nesya tau itu?" ucap Ravindra tak yakin.
Calon kapten, rumah tangga! Hahaha.
^^^Lupakan dan cepatlah tidur, jangan banyak begadang.^^^
Baik, suami.
Kiss me!
^^^Jangan nakal.^^^
Sungguh tidak ingin menciumku? Meski hanya lewat pesan singkat sekalipun?
Please!
^^^No.^^^
 'Kenapa sangat memaksa sekali, sayang?' gerutu Ravindra dalam hati dan dengan bibir yang tersenyum di setiap satu pesan yang masuk dari Nesya. Bahkan ia sampai tak lagi menghiraukan orang-orang yang berlalu-lalang dan memperhatikannya senyum-senyum sendiri tak terkecuali dengan Tiger yang telah kembali berhadapan dengannya dan dengan sebuah map ditangannya.
"Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Ravindra heran.
"Captain Ravindra, ini berkasnya! Apa captain baik-baik saja?" ucap Tiger sedikit ragu bertanya dan menyodorkan berkas itu.
"Tentu. Aku bahkan lebih dari kata baik." Ravindra meraih dan membacanya "Jadi pria pengecut itu adalah Nando Setiawan, mantan Mayor yang juga dicopot secara tidak hormat jabatan karena kasusnya pada anggota perwira lain . . .."
"Baik. Kita akan mengurusnya besok pagi." tegas Ravindra.
"Siap! Capt." ucap Tiger sebelum Ravindra melangkahkan kaki keluar gedung itu. Ravindra segera memasuki mobilnya dan membuka ponselnya kembali, ia terlebih dulu membalas pesan terakhir Nesya, tentunya.
Â
^^^😗😗 for cheeks^^^
^^^😚 for the forehead^^^
Ting
And 💋 for my husband.
Melihat balasan Nesya membuatnya kembali tersenyum heran "Bagaimana jika aku sedang berada disisi-mu, Nesya? Apa kamu akan memperkosaku?" gerutu Ravindra sembari menatap ponselnya, lalu menyalakan mesin mobil dan melajukan-nya hingga sampai rumah.
Flashback off
Ravindra kini sedang dalam perjalanan menuju rumah Nesya. Ia sengaja tidak membalas pesan dan menjawab telpon darinya. Ia berhenti di suatu tempat dan keluar dari mobil. Beberapa menit kemudian ia kembali masuk dan melajukan mobilnya lagi.
"Biarkan aku sedikit menjahili-mu, sayang!" ucapnya saat melihat layar ponselnya menyala dan tertera nama 'My Wife' didalamnya. Ravindra tersenyum menang membayangkan bagaimana nanti reaksi dan ekspresi yang akan Nesya berikan.
Chittttss!
Suara rem mendadak mobil Ravindra saat sebuah mobil tiba-tiba menghalangi jalannya. Beberapa orang bertubuh besar dan terlihat sangar keluar dan mengetuk kaca jendela mobilnya.
"Siapa orang yang ingin bermain-main denganku di pagi hari seperti ini?" umpat Ravindra sambil membuka pintu mobilnya hingga mengenai salah satu dari mereka sampai jatuh tersungkur ditengah jalan.
"Siapa kalian?" tanya Ravindra begitu tenang.
"Tidak usah banyak bacot! Jauhi nona Nesya atau kau akan mati!" ucap salah satu dari keempat orang yang Ravindra yakin adalah orang suruhan. Tapi entah itu siapa?
__ADS_1
"Kenapa? Aku sudah pasti tidak akan menjauhinya, aku akan selalu disisinya dan menjaganya. Apa kalian malaikat yang dikirim Tuhan untuk mencabut nyawaku? Sayangnya bukan! Silahkan maju aku tidak takut! Satu lawan satu jika memang kalian lelaki!" ucap Ravindra tetap tenang dan dengan sedikit senyum kecil dibibir-nya.
Sesuai permintaan Ravindra mereka maju satu persatu. Setelah keempatnya tersungkur mereka kembali bangkit dan menyerang Ravindra secara bersamaan.
Bughhh!
Sebuah pukulan keras mengenai wajah tampan Ravindra. Tanpa menghiraukannya Ravindra tetap melawan keempatnya yang tak butuh waktu lama kembali tersungkur. Ravindra hendak meraih salah satunya, namun mereka terlebih dulu kabur.
"Si**!" desis Ravindra kesal. Ia kembali masuk mobil dan melajukan kembali menuju rumah Nesya.
•••
"Selamat pagi pak Ravindra!" ucap kedua orang bersamaan.
"Pagi." jawab Ravindra yang telah melangkah masuk.
"Pak Ravindra terluka? Apa yang terjadi?" bisik sersan Edo terus menengok Ravindra yang kian melangkah maju. Sementara sersan Dodi hanya menggeleng dan acuh. Ia kembali menutup pintunya.
"Pak Ravindra, silahkan duduk saya panggilkan nona Nesya terlebih dulu." ucap salah satu pelayan yang menyambut kedatangannya. Belum sampai menaiki anak tangga ia urungkan niatnya, karena telah melihat Nesya yang hendak turun.
"Nona Nesya ada pak Ravindra menunggu." ucap si pelan.
Nesya menganggukkan kepala "Tolong bawakan minuman untuknya!" perintah Nesya yang di angguki dan dilaksanakan oleh sang pelan. Nesya mendekati Ravindra yang duduk di sofa tamu.
"Hey! Sayang?" ucap Nesya. Ravindra berdiri dan mencium kening Nesya, lalu ia memberikan bunga mawar yang sempat dibelinya tadi sembari tersenyum manis menatap sang kekasih.
"Terimakasih, sayang." ucap Nesya mencium wangi bunga pemberian Ravindra.
"Kenapa?" tanya Nesya saat tangannya menyentuh ujung bibir Ravindra yang terluka. Keduanya mendudukkan diri di sofa.
"Nona, pak Ravindra, silahkan diminum!"
"Terimakasih. Tolong ambilkan air es dan handuk kecil!" ucap Nesya sebelum pelayan pergi.
"Ini luka masih baru, kamu berkelahi dengan siapa?" tanya Nesya menyentuh luka Ravindra.
"Ini hanya luka kecil, sayang." jawab Ravindra pelan. Tak lama seorang pelayan membawa perlengkapan kompres. Nesya membersikan dan mengompres lukanya.
"Apa terasa perih?" Ravindra menggeleng.
"Apa kamu tidak bisa menjaga wajahmu? Ketampanan mu akan sedikit berkurang jika sudah terluka seperti ini!" keluh Nesya, lalu meniup lukanya pelan.
"Apa kamu tidak akan mencintaiku setelah aku terluka seperti ini karena mu?"
"Karena aku?" Ravindra mengangguk pelan.
"Kenapa tertawa?"
"Tentu aku tertawa. Istriku memang gadis bodoh! Bagaimana mungkin papa akan memukulku? Dia yang paling menyayangiku, sayang." Nesya menjauhkan tangannya dan memalingkan wajahnya dari Ravindra.
"Ok. Baik. Maafkan aku! Aku hanya tidak ingin kamu terlalu mencemaskan keadaanku." bujuk Ravindra yang menyadari tingkah Nesya saat marah, namun Nesya masih tetap diam dan enggan untuk menatapnya.
"Saat perjalan kemari ada beberapa orang menyerang ku." Nesya kembali mengamati wajah Ravindra dan mendengar setiap ucapan yang keluar dari mulutnya.
"Mereka ingin aku menjahui kamu!" imbuh Ravindra.
"Lalu?" tanya Nesya saat Ravindra tak mengatakan apapun lagi dimenit berikutnya.
"Lalu? Lalu apa lagi? Mereka tentu segera menyerang ku hingga wajahku sedikit cacat seperti sekarang." jelas Ravindra.
"Bukan itu!"
"Lalu?"
"Apa yang akan kamu lakukan? Menjauh dan meninggalkanku?"
"Mana mungkin aku meninggalkanmu hanya karena luka sekecil ini." ucap Ravindra meraih tubuh Nesya dan memeluknya.
"Aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Aku akan selalu mencintaimu lebih dari aku mencintai diriku sendiri. Aku bahkan siap jika harus kehilangan nyawaku demi dirimu." imbuhnya.
"Tapi, aku tidak mau! Aku tidak ingin kamu terluka lagi, apalagi jika itu karena aku. Aku akan mati jika tanpamu." ucap Nesya yang sudah berderai air mata.
"Berjanjilah untuk tidak menjauh dan meninggalkanku, Nesya!" ucap Ravindra memeluk erat Nesya dan mencium keningnya.
"Khemm!" deheman Ratu mengharuskan keduanya mengakhiri momen romantis mereka.
"Haduh, si bucin pagi-pagi udah main peluk-peluk saja!" sinis Ratu yang mulai mendudukkan diri.
"Queen!"
"Ya, maaf jika aku telah mengganggu." jawab Ratu tersenyum.
"Eh, kak Ken? Kenapa wajahmu? Ya ampun wajah tampan kak Ken ternoda!" ucap Ratu kemudian mendekatinya dan duduk disampingnya. Ratu hendak menyentuh lukanya, namun dengan sigap Nesya menepis tangannya. Ravindra hanya bisa diam melihat tingkah kedua wanita yang kini duduk diantaranya.
"Jangan berani menyentuhnya! Dia milikku."
__ADS_1
"Ya ampun, kak Nesya! Aku hanya ingin melihat lukanya saja, tidak lebih. Lagi pula aku sudah memiliki kak Micky."
"Kak Nesya jangan berlebihan napa?
"Siapa juga yang berlebih." gerutu Nesya.
"Nah yang tadi barusan? Kak Ken kenapa?"
"Panggil dia Ravindra! Semua orang memanggilnya Ravindra disini!"
"Itu kan mulai. Kak Nesya sebenarnya kenapa sih? Lagi PMS? Atau JEALOUS, ya? Sewot saja sedari tadi. Apa salahnya aku panggil dia kak Ken? Namanya memang Ken, Kenzie."
'Tidak salah Queen! Aku hanya tidak ingin seseorang memanggilnya dengan panggilan khusus. Bahkan aku tidak punya panggilan khusus untuknya!' batin Nesya menjawab.
"Sudah-sudah kalian berdua ini sudah kaya Tommy and Gerry saja."
"Kak Ken . . .."
"Panggil Ravindra! Queen!" potong Nesya cepat.
"Baiklah kakakku Nesya sayang yang cantik dan agak bawel juga nyebelin." ucap Ratu dengan wajah kesalnya.
"Kak Ke-. Kak Ravindra kalian kan udah jadian nih. Kapan mau traktir? Ratu ada ide bagus kak, gimana kalau kita Double Date saja? Kakak mau kan?"
"Kakak terserah kakak kamu saja, Ra." jawab Ravindra yang melihat wajah kesal Nesya.
"Besok aku ada pemotretan." jawab Nesya tanpa melihat keduanya.
"Ya sudah sekarang saja!" pinta Ratu.
"Tidak bisa." sahut Ravindra.
"Why?" tanya Ratu.
"Aku ada acara." jawab Ravindra tenang.
"Kemana? Kamu baru saja datang dan lagi pula kamu masih bodyguard ku jadi aku yang bisa menentukan waktu kerjamu." tegas Nesya. Ravindra mencubit kuat hidung Nesya.
"Aawww!" pekik Nesya kesakitan.
"Apa yang kamu lakukan, sayang? Ini adalah aset berhargaku, you now?" ucap Nesya sembari mengelus hidungnya yang sedikit memerah.
"Gemes, jadi pingin nyubit." jawab Ravindra.
"Aduhhh! Males ah. Jadi obat nyamuk doang!" ucap Ratu meninggalkan keduanya.
"Lihat sayang, dia pasti sedih!" ucap Ravindra menatap punggung Ratu yang kian menjauh.
"Itu juga salah kamu! Dia pasti hanya mau menelpon Micky." jawab Nesya ikut menatapnya.
"Kok jadi aku? Mana mungkin sayang, Micky orang sibuk. Bersiaplah dan ajak juga Ratu!" perintah Ravindra.
"Mau kemana?"
"Sudahlah, cepatlah pergi bersiap dulu!"
"Sayang, kamu selalu saja mengajakku kemanapun dan kapanpun semau kamu sendiri, tanpa memberitahuku terlebih dahulu. Aku kan jadi bingung mau menyesuaikannya."
"Apa yang mau disesuaikan?"
"Ayo cepatlah! Atau aku pergi saja dengan yang lain?"
"Yang lain? Jadi benar kata Ratu kamu punya orang lain selain aku?" ucap Nesya tiba-tiba naik darah.
"Hey. Aku hanya bercanda, Nesya sayang. Ayo cepat!" Nesya dengan langkah malas meninggalkan Ravindra yang justru senyum-senyum tak jelas.
"Apa ini cinta?" ucap Ravindra menatap Nesya yang semakin tak terlihat.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.