Bodyguard I Love You

Bodyguard I Love You
Ini Hanya Untukmu


__ADS_3

Nesya dan Ravindra sedang dalam perjalanan menuju ke rumah Ravindra. Keduanya terlihat saling melempar tawa dan bergurau bahagia di dalam mobil mewah tersebut. Namun, untuk beberapa saat berubah menjadi ketegangan. Kala sepeda motor memepet dan ugal-ugalan mengganggu pergerakan mobil yang ditumpangi oleh keduanya.



"Sayang tutup kaca jendelamu!"


"Tapi, siapa orang itu Rav? Kenapa mereka mengganggu kita?" tanya Nesya sembari menutup jendelanya.


"Kamu tenang, kita akan berhenti di depan sana. Tapi, aku mohon agar kamu tetap tinggal di dalam dan mengunci pintu mobilnya.


"Tidak, Rav. Kita terus jalan saja dan jangan sampai berhenti! Aku takut mereka akan menghajar mu. Lihatlah dibelakang! Dia tidak sendiri, jumlah mereka sangat banyak dan tidak imbang jika kamu hanya melawannya seorang diri. Mereka akan mengeroyokmu dan aku tak ingin sampai hal buruk terjadi."


"Sayang, jika kita tidak berhenti kita berdua justru bisa celaka. Kamu tenang disini! Jika kamu merasa takut kamu pejamkan saja matamu. Aku akan membereskan mereka." ucap Ravindra yang telah menghentikan mobil. Ravindra membuka seatbelt-nya kemudian memberikan kunci mobilnya pada Nesya.


"Tutup pintunya dari dalam! Dan berjanjilah, apapun yang terjadi kamu tidak boleh keluar dari mobil! Ingat itu sayang!" ucap Ravindra yang telah keluar dari mobil dan menutup pintu mobil dengan rapat. Nesya menuruti semua perkataan Ravindra.


"Aku mohon lindungilah Ravindra-ku." gumam Nesya menutup paksa kedua matanya.


•••


Ravindra melangkahkan kakinya dengan begitu gagah. Ia menatap pada beberapa wajah yang berdiri didepannya. Dengan sikap tegas Ravindra membuka suara.


"Kenapa kalian menghalangi jalanku?"


"Hey pak, kami hanya ingin bermain-main dan bersenang-senang saja." ucap salah satunya


"Gadis didalam itu? Apa boleh aku meminjamnya?" imbuhnya.


"Tutup mulut kotor mu itu! Apa kau pikir seorang gadis sama dengan sebuah barang yang bisa kamu pinjamkan sesuka hatimu kepada mereka yang sedang ingin? Aku tidak akan membiarkan tangan kotor kalian untuk menyentuh ujung kukunya sekalipun!"


"Anda cari mati dengan kami, pak!"


"Kalian yang dengan mudah dan senang hati mengantarkan nyawa kalian kepadaku! Hadapi aku! Aku akan segera mengirim kalian ke neraka hari ini!"


Tanpa menunggu lama mereka menyerang Ravindra. Ini memang tidak adil satu banding sepuluh. Tapi, meski begitu Ravindra mencoba menghindari setiap pukulan dan tiju-an mereka. Setelah beberapa menit beberapa orang tersebut melangkah mundur, membuat Ravindra sedikit terperangah heran.


"Ingat, urusan kita belum selesai. Sampai jumpa kembali, pak."


'Bagaimana mungkin mereka pergi begitu saja? Aku bahkan belum melumpuhkan salah satu dari mereka dan mereka belum membuatku pingsan atau babak belur setidaknya?' mereka meninggalkan Ravindra yang masih bingung dengan pemikirannya sendiri. Sepasang tangan memeluk erat menyadarkan Ravindra dari lamunannya.


"Sayang, kenapa keluar dari mobil? Aku memintamu menunggu didalam mobil tadi." Nesya tak menjawab. Ravindra balas memeluk tubuhnya, membawa wajah gadisnya pada dada bidangnya dan memberi kecupan menangkan di ubun-ubunnya. Ia dapat mendengar isak tangis gadis itu yang semakin keras. "Sayang, don't cry! Kamu lihat aku baik-baik saja bukan?" Ravindra meraih wajahnya dan menghapus air mata gadisnya dengan kedua ibu jarinya. "Kamu terlihat sangat buruk saat sedang menangis, dan aku sedih melihatnya. Aku bahagia saat melihat kekasihku tersenyum. Tersenyumlah untukku sayang! Buat hatimu dan hatiku bahagia!" Ravindra mengukir senyumnya sendiri. "Ayo kita ke rumahku sekarang!" ajaknya saat melihat Nesya tak berkutik sama sekali.


Ravindra membuka pintu mobil untuk Nesya dan memasangkan seatbeltnya lalu menutup pintu. Kemudian berlari kecil duduk di kursi kemudi dan kembali melajukan mobilnya. Selama diperjalanan Nesya sama sekali tak mengeluarkan suaranya. Hingga Ravindra menghentikan mobilnya secara tiba-tiba yang sontak membuat gadisnya itu terperanjat kaget. Namun, itu tak membuat gadis bodohnya angkat bicara dan memarahinya seperti biasa.

__ADS_1


"Ada apa ini? Kenapa sedari tadi kamu berdiam diri? Aku baik-baik saja Nesya sayang!" Ravindra geram dengan sikap diamnya Nesya yang tiba-tiba dan tanpa sebab juga alasan yang tak jelas menurutnya.


"Sayang, are you ok?" Ravindra mengangkat dagu Nesya dan menatapnya lekat seolah mencari sesuatu jawaban dari sorot matanya.


"Apa yang terjadi?" merasa risih dengan tatapan Ravindra, Nesya segera mengalihkan pandangannya dan meraih tangannya menjauh dari wajahnya.


"I'am fine."


"Okay." jawab Ravindra penuh keraguan. Ia merogoh ponselnya dan menghubungi seseorang.


"Hallo tuan bodyguard." sapa orang dibalik telpon.


"Destia, bisa kamu pergi ke lokasi dengan taksi?"


"Tentu. Tidak perlu khawatir begitu, aku akan segera sampai disana. Kalian jangan terlambat atau aku akan mendapat masalah besar nanti."


"Baik Destia, terimakasih dan sampai jumpa disana. Bye." Ravindra memutus telponnya.


"Kita langsung ke lokasi pemotretan saja." ucap Ravindra yang mendapat tatapan tajam dari sang kekasih seolah menuntut penjelasan.


"Rumahmu!"


"Lain waktu saja. Lagi pula barang itu tidak terlalu penting untukmu bukan?"


"Kamu berani mengancam ku, Nesya sayang? Okay." Ravindra melajukan mobilnya menuju arah rumahnya. Sesampainya disana keduanya disambut hangat oleh mbok Narti.


"Tuan Ravindra, nona Nesya silahkan masuk. Mau mbok Narti buatkan minuman apa?"


"Tidak perlu repot mbok Narti, kita hanya mampir sebentar saja." jawab Nesya sedikit tersenyum.


"Tunggu disini aku akan mengambil benda itu." Nesya hanya mengangguk pelan.


Ravindra meninggalkan Nesya yang telah duduk diruang tamu. 'Ada apa dengannya? Tiba-tiba murung. Seperti ada sesuatu telah mengganggu pikirannya. Tapi, kenapa dia hanya mengacuhkan ku? Apa aku telah berbuat salah padanya? Dimana salahku? Nesya kamu membuatku gila sayang.'


Setelah cukup lama Ravindra kembali mendekati Nesya dengan sebuah peti berlapis emas yang tak terlalu besar namun tidak juga tidak kecil ditangannya. Ia sedikit membersihkan debu yang menempel dengan beberapa lembar tisu dan cepat-cepat membuka gemboknya.



"Ini untukmu." Nesya menatap Ravindra yang telah menaruh benda tersebut diatas meja sofa tempat ia duduk.


"Kamu bahkan belum membuka dan melihat apa isi didalamnya. Dan aku tidak berhak atas benda ini selain dirimu. Ini untukmu."


"Ini pemberian nenek untuk wanitaku dan kamu berhak karena kamu adalah wanitaku, Nesya."

__ADS_1


'Saat ini iya. Tapi, bagaimana dihari esok dan esoknya lagi? Apa aku akan masih tetap jadi wanita yang kamu cintai?'


"Sayang kenapa malah melamun? Ayo cepat buka! Kamu tidak ingin mengecewakan nenekku bukan?" Nesya menatap lekat Ravindra yang kini mengangguk, ia mengulurkan tangan dan meraih peti tersebut. Ia membuka dan mengambil isi didalamnya. Terdapat beberapa mini box didalam peti tersebut. Nesya membuka satu persatu dan menaruhnya diatas meja, memperlihatkan pada Ravindra yang lebih berhak sepenuhnya. Kedua box diantaranya berisi beberapa perhiasan meliputi anting, cincin dan gelang tangan dan juga kalung pada box lain yang terlihat sangat cantik dan sangat cocok untuk Nesya-nya kenakan.



"Wah nenek sangat mengejutkan dan menakjubkan. Beliau bahkan meninggalkan perhiasan cantik nan elegan ini untuk istriku." ucap Ravindra.


"Kamu pasti akan semakin cantik saat memakainya di tubuhmu, sayang." imbuhnya terlihat sangat bahagia.


"Sayang? Ini memang sangat indah, tapi maaf, aku tidak bisa menerimanya. Ini semua terlalu berlebihan menurutku. Dan lagipula aku belum menjadi istrimu."


"Tidak lama lagi itu akan terjadi sayang. Masukkan semua ini kedalam tasmu dan ayo bergegas pergi! Destia akan memarahiku kalau sampai kita terlambat." Ravindra beranjak dari duduknya.


"Tunggu!" Ravindra menatap pada Nesya.


"Masih ada satu box lagi yang belum aku buka!" imbuh Nesya meraih box yang masih didalam peti.


"Buka nanti saja setelah pekerjaanmu selesai sayang."


"Ravindra?" Nesya menatap isi box tersebut. "Box ini nenek berikan hanya untukmu." Ravindra tersenyum melihat mimik wajah Nesya yang mendadak berubah.


"Iya tapi itu sudah menjadi milikmu sekarang. Karena aku telah memberikannya untukmu."


"Tidak Ravindra! Box yang satu ini hanya untukmu. Hanya untukmu. Lihatlah ini!" Ravindra yang penasaran segera meraihnya dari tangan Nesya.


.


.


.


.


.


.


Kira-kira apa isi box untuk Ravindra?


Tunggu jawabannya di episode selanjutnya.


Happy reading all.

__ADS_1


__ADS_2