Bodyguard I Love You

Bodyguard I Love You
Ingat untuk Jaga Jarak


__ADS_3

...Jangan lupa like, komen, dan vote ya readers...


...Happy reading readers setia BILY...


...----------------------------------------...


Pagi hari di suatu ruang, seorang wanita baru saja membuka mata dan mendapati pemandangan yang mengharukan. Bagaimana tidak? Wanita itu melihat seorang anak yang tidur pulas diatas sofa dengan posisi tengkurap, beralaskan tubuh kekar yang memeluknya erat. Mungkin, niatnya agar si anak tidak terjatuh.


"Siapa pria itu? Aaaau, kenapa kepalaku terasa sakit?" tanya wanita itu berucap monolog.


"Nyonya Diandra, anda sudah sadar? Wah, lihatlah ayah dan anak itu, hubungan yang harmonis, tidur saja sampai begitu sangat romantis." ucap seorang Dokter yang masuk untuk memeriksa kesehatan si pasien dan tak sengaja melihat kedekatan kedua lelaki tersebut.


"Ayah?" tanya Diandra. Dokter mengangguk pelan.


"Nyonya Diandra baik-baik saja? Apa kepala anda terasa sakit? Dan, apa nona mengingat siapa mereka?" tanya Dokter khawatir.


"Saya baik-baik saja, Dok. Dan, tentu saya mengingat jelas siapa saja keluarga saya." jawab wanita yang bernama Diandra meyakinkan si Dokter, setelah selesai memeriksa segera pamit pergi sebelum mengatakan bahwa pasien harus minum obat dan makan dengan teratur. Tak lupa meminta agar banyak istirat dulu.


"Siapa pria itu? Dia bukanlah ayah Reno." tanya Diandra bingung bertanya-tanya. Tiba-tiba saja ia mengingat suatu kejadian.


"Reno! Reno! Tunggu bunda, Reno!" teriak Diandra berlari mengejar Reno.


"Reno mau ketemu ayah, bunda. Reno mau cari ayah, bun." teriak Reno saat Diandra berhasil menghentikan langkahnya.


"Iya, kita akan cari ayah bersama nanti setelah Reno mau menghabiskan makanan. Ayo kita kembali!" Diandra hendak melangkah namun matanya tanpa sengaja tertuju pada sosok yang dikenalnya di sebrang jalan sana. 'Lexi? Bagaimana mungkin dia bisa berada disini?' tanpa di sadari, Diandra melangkah dan tak memperhatikan jalan, tak menoleh kanan maupun kiri jalanan hingga teriakan menggema. "Aaaa!" teriak Diandra kaget saat melihat mobil melaju kencang hampir saja menabrak tubuhnya, namun beruntung ia dapat menghindar. Meski pada akhirnya ia kehilangan keseimbangan dan, "Brak!" tubuh Diandra terjatuh dan terguling diatas aspal karena harus menghindar dari kendaraan lain.


"Bunda!" teriak Reno kaget. Pasalnya, bukankan tadi ibunya berdiri dibelakangnya?


'Reno, Rena, Lex-. . ..' Diandra hilang kesadaran.


"Kau sudah bangun?" tanya Aldo melirik pada Diandra tanpa mengubah posisinya yang masih berbaring diatas sofa dan memeluk erat Reno diatas tubuhnya.


Diandra yang baru akan mengambil air minum terhenti niatnya dan memandang wajah pria yang baru terbangun itu sesaat sembari menganggukkan kepala penuh keraguan.


"Kau haus? Tunggu biar ku ambilkan!" Aldo mendudukkan tubuhnya perlahan dan membaringkan kembali tubuh Reno diatas sofa penuh kehati-hatian.


"Ayah? Ayah mau kemana? Jangan pergi lagi!


Jangan tinggalkan Reno dan bunda lagi!" ucap Reno yang telah terbangun dan menarik lengan kemeja Aldo.


"Aku hanya akan mengambilkan air untuk ibumu. Kau mau tidur lagi?" tanya Aldo begitu lembut.


"Bunda!" tanpa menjawab pertanyaan Aldo, anak itu bangkit dari sofa dan berlari untuk memeluk ibunya.


"Bunda sudah bangun? Bunda jangan bobok lama-lama lagi ya, Reno takut bunda." Diandra mendadak meneteskan air mata.


"Iya sayang, maafkan bunda! Bunda janji akan selalu menemani Reno dan lebih menjaga diri, asal Reno mau berjanji pada bunda untuk tumbuh menjadi pria yang baik untuk bunda dan orang-orang disekitar kita." Mendengar penuturan Diandra pada putranya, Aldo jadi teringat pada Nesya.


'Sedang apakah Nesya pagi ini?'


"Okay bunda, Reno janji dan akan Reno tepati. Ayah, kenapa diam saja? Ayah!" teriak Reno menyadarkan Aldo.


"Ehm iya, ini minumlah dulu! Maaf, aku harus pergi. Istirahatlah yang cukup dan semoga cepat sembuh, nyonya Diandra."


"Terimakasih. Panggil saja saya Diandra, tuan . . .."


"Aldo. Cukup Aldo saja." sahut Aldo. Diandra mengangguk, Aldo mengambil jasnya dan memakainya dengan rapi.


Reno turun dari brankar bundanya dan menghampiri Aldo hingga berdiri dihadapannya. "Lihat! Ayahku sangat keren, bunda." puji Reno pada Aldo dan memperlihatkan kebahagiaannya pada bundanya. Namun, mendadak ia berubah murung, "Apa ayah akan pergi jauh dan tak akan kembali lagi?" sontak pertanyaan itu membuat Aldo dan Diandra saling menatap.


"Jika bunda mu tidak keberatan dan ayah tidak sedang sibuk, ayah pasti akan datang kembali menemuimu." jawaban Aldo membuat mata Diandra melotot serasa akan copot dari tempat seharusnya berada.


"Reno, biarkan om Aldo pergi!" ucap Diandra melihat putranya masih menahan Aldo dengan pelukan erat.


"Ini ayah Reno, bunda. Dan, ayah Reno tidak boleh pergi lagi!" teriak Reno membuat Diandra naik darah.

__ADS_1


"Reno! Om Aldo bukanlah ayah Reno! Ayah Reno sangatlah jauh dari kita berdua berada sekarang. Kemari, sayang! Biarkanlah om Aldo pergi!"


"Tidak bunda. Ayah Aldo, ayah Reno!"


"Reno!" teriak Diandra emosi, dan itu membuat tangannya reflek memegang kepalanya yang terasa sakit kembali. Sementara si bocah mulai menangis sekeras mungkin memeluk erat kaki Aldo.


Entah situasi macam apakah ini yang dihadapi dan membuat Aldo menjadi bimbang sepagi ini. Disisi lain ada Reno, anak kecil yang begitu menginginkan kehadirannya sebagai ayahnya dan di lain sisi Diandra yang masih belum pulih benar harus mengurus dan menghadapi sifat keras kepalanya Reno. Belum lagi dirinya sendiri yang ingin segera bertemu Nesya. 'Dimana suami Diandra? Lalu, apa mereka tidak punya keluarga atau saudara? Kenapa hanya ada Diandra dan Reno saja disekitar mereka?' pikir Aldo bingung sendiri.


"Reno, Reno dengar ayah!" bujuk rayu Aldo berhasil membuat anak itu melepas pelukan eratnya dan tangisnya perlahan terhenti hingga membuat si anak siap mendengar apa yang akan Aldo katakan. "Reno ingin ayah datang lagi, bukan?" anak itu mengangguk.


"Reno harus nurut apa kata bunda, tidak boleh buat bunda lelah apalagi sampai sedih. Reno sayang bunda Diandra bukan? Reno mau jaga bunda Diandra, kan? Sekarang, ayah Aldo harus pergi dulu. Apa Reno bisa jaga bunda Diandra baik-baik untuk ayah?" Reno dan Diandra menatap pria asing yang baru dikenalnya itu dengan pandangan berbeda.


Reno hanya terus menganggukkan kepala. Hingga saat Aldo bersiap melangkah Reno membuka mulut. "Ayah juga harus janji untuk menjaga diri ayah sendiri untuk Reno dan bunda. Reno dan bunda sangat rindu dan sayang ayah Aldo." Aldo hanya tersenyum dan menatap Diandra yang sudah berlinang air mata.


Aldo mendekat pada Diandra. "Entah, kebenaran apa yang sedang kamu coba tutupi dari Reno dan semua orang, tapi yakinlah suatu saat nanti mereka pasti akan mengetahui kebenaran itu. Dan aku harap Reno bisa mendengar langsung kebenaran itu terucap dari mulutmu sendiri, Diandra. Bukan orang lain." entah bagaimana bisa seorang Aldo berbicara seperti itu. Ia sendiri tidak tahu apa maksud dari ucapannya itu.


Diandra menganggukkan kepala. "Umur Reno masih terlalu kecil untuk mengetahui kebenaran ini dan aku tak ingin belas kasihan dari orang lain. Maaf, aku sudah banyak merepotkanmu. Untuk selanjutnya bisakah kamu memintanya untuk memanggilmu 'om' saja?"


"Aku akan memberinya pengertian perlahan."


"Terimakasih, Aldo." Aldo melangkah pergi, diambang pintu ia menengok kembali Diandra dan Reno yang kini telah duduk berpelukan diatas brankar.


"Sampai nanti, ayah Aldo." ucap Reno dengan tangan kanan kanan melambai. Aldo tersenyum dan menutup pintu rapat.


•••


Kediaman Jendral Rico, Ravindra baru saja sampai rumah Nesya. Ia bergegas masuk namun sebelum ia masuk seseorang menegurnya terlebih dulu.


"Hay kak Ken, tumben kesiangan?" sapa Ratu yang berdiri didepan Ravindra dengan seorang pria dibelakangnya yang sepertinya bodyguard yang Jendral Rico siapkan untuk menjaga Ratu selama diluar rumah.


"Ini masih pagi, Ra. Kamu pagi-pagi begini mau kemana?" tanya Ravindra heran, pasalnya selama disini Ratu jarang keluar rumah tanpa Nesya atau Micky, apalagi pagi seperti ini.


"Seperti yang kak Ken lakukan sekarang, Ratu juga akan pergi bekerja." ya, selama beberapa hari ini Ratu sudah mulai bekerja di perusahan besar sebagai Desainer sesuai rekomendasi temannya. Dan untungnya om Rico memberi izin, ya meski dengan terpaksa harus mendapat pengawalan khusus yang membuatnya tak nyaman.


"Biar saja, lagi pula pacarku juga sibuk kerja. Punya kakak perempuan juga super sibuk, jadi apa salahnya? Maaf kak Ken, aku buru-buru. Bos akan datang hari ini, jadi aku harus datang tepat waktu. Bye kak Ken." ucap Ratu tergesa-gesa masuk mobil. Sementara Ravindra hanya bisa menggelengkan kepala menatap kepergian mobil yang ditumpangi Ratu.


"Selamat pagi, pak Ravindra." ucap Dodi.


"Pagi. Apa semua aman disini?"


"Siap. Aman Kapten!" jawab Dodi tegas.


"Lalu, bagaimana keadaan di markas?" tanya Ravindra sedikit pelan, bahkan terkesan berbisik.


"Saat ini Edo sedang berada disana pak."


"Ravindra? Dodi? Sedang apa kalian? Kenapa bisik-bisik seperti itu? Kalian sedang membahas apa?" tanya Nesya yang tiba-tiba muncul diambang pintu dengan penuh rasa penasaran.


"Tidak. Hanya menanyakan keamanan saja. Apa yang akan kamu lakukan diluar Nesya?"


"Aku mendengar suara mobilmu jadi aku keluar." jawab Nesya kembali masuk rumah yang diekori Ravindra.


"Apa Aldo mengganggumu lagi malam ini?"


Nesya menggelengkan kepala. "Dia sama sekali tidak mengirimkan pesan apalagi menelpon." jawab Nesya malas.


"Kamu kecewa?"


"Maksudmu apa, Rav?" ucap Nesya menghentikan langkahnya.


Ravindra memeluknya dari belakang dan berbisik pelan di telinganya. "Apa kamu kecewa karena dia tidak lagi mengganggumu?" Nesya hanya diam. "Sepertinya calon istriku yang cantik ini sudah mulai jatuh hati pada pria gila itu." sindir Ravindra melepas kasar pelukannya.


Nesya memutar tubuhnya menghadap Ravindra dan menatap dalam matanya lalu melingkarkan jemarinya dileher pria itu. "Kamu cemburu?" Nesya tersenyum dengan wajah berbinar membuat Ravindra memahami sesuatu. "Aku suka, melihatmu cemburu begini."


"Kamu sungguh nakal sekarang." Ravindra menarik hidung Nesya lalu beralih meletakkan kedua telapak tangannya di pinggang Nesya dan membawa wajahnya semakin dekat pada Nesya.

__ADS_1


"Khem!" suara deheman keluar dari mulut mama Renata yang mengharuskan keduanya segera memisahkan diri.


"Pagi-pagi sudah romantis-romantisan saja putri mama." ledek mama Renata membuat keduanya canggung dan malu.


"Nak Ravindra sudah sarapan?" tanya mama Renata mencoba mencairkan suasana.


"Ehm, belum ma."


"Nesya, temani Ravindra makan. Mama akan pergi menghadiri pertemuan dengan para istri-istri tentara." sontak saja ucapan mama Renata membuat bengong Ravindra.


"Siap mama sayang. Hati-hati dijalan mama."


"Dan kalian berdua, ingat untuk jaga jarak! Minimal satu meter." perintah mama Renata sungguh-sungguh memberi peringatan.


"Mama? Bukankah mama ingin cucu?" tanya Nesya jahil, berhasil membuat Ravindra dan mama Renata kaget dan dengan kompak langsung menatap tajam pada Nesya. "Ups sorry, remember to keep your distance." ucap Nesya mengulang kalimat sang mama tercinta.


"Bagus. Mama akan sangat bahagia jika kalian mau segera melangsungkan pernikahan terlebih dulu dan baru memberi mama cucu bukan sebaliknya." jelas mama Renata tersenyum dan berlalu pergi.


"Ayo, aku temani makan!" Nesya menarik tangan Ravindra dan menatap pria itu saat merasa tangannya terlepas paksa oleh Ravindra.


"Ingat apa kata mama! Dan ingat jika Aldo ada diantara kita!" Nesya melotot tak percaya.


"Hanya ada kita dan pelayan, Rav! Lagi pula aku hanya menggandeng tanganmu, dan hal itu tak akan membuatku hamil, bukan?"


"Nesya-."


"Aku tak ingin ada perdebatan pagi ini. Ayo cepat makan!"


"Ehm Nesya, apa kau akan marah jika seseorang berbohong padamu?" tanya Ravindra penuh kehati-hatian. Ia tak sanggup jika Nesya meninggalkannya suatu saat nanti.


"Bohong? Apa kamu sedang menyembunyikan kebohongan dariku? Kebohongan macam apa itu, Ravindra?" belum Nesya menjawab ia terlebih dulu fokus pada ponselnya yang berbunyi.


Ting. Ting. Ting.


💌 Crazy Man


Good morning, Babe.


Babe, tunggu aku dirumah pagi ini sebelum pergi. Aku akan mengantarmu kemanapun kau akan pergi.


Nesya mengurutkan dahi membaca pesan chat dari Aldo. "Siapa? Kenapa ekspresimu jelek sekali?" Nesya memberikan ponselnya pada pria dihadapannya yang tengah menikmati makan paginya.


"Bukankah dia pengusaha? Apa dia tak sesibuk seperti pengusaha lainnya?" tanya Ravindra keheranan sesaat membaca pesan yang membuat mood Nesya jadi sangat down.


^^^Tidak perlu repot begitu Aldo, aku bisa kemanapun diantar Ravindra. Lagipula kamu seorang pemimpin perusahaan. Bagaimana bisa kamu akan meninggalkan tanggung jawabmu begitu saja hanya demi untuk mengantar aku pergi?^^^


Balas Ravindra pada pesan yang dikirim Aldo. Tak butuh waktu lama mendapat balasan dari Aldo, Ravindra segera membukanya.


Tidak jadi masalah Babe, tujuan kita masih sama bukan? Kau masih harus menyelesaikan syuting dan menghadiri acara opening minggu depan.


^^^Baik.^^^


"Kenapa kamu membiarkan dia datang?" tanya Nesya setelah melihat kembali percakapan terakhir.


"Tenang, Honey. Kali ini kita tetap akan berada didalam mobil yang sama."


"Bagaimana caranya?"


"Itu sangat mudah." Ravindra menyunggingkan senyum sinisnya.


..._____________________________________...


...Maaf ada banyak tokoh baru berdatangan guys dan mereka saling terpaut satu sama lain dan tentu ini akan membuat novel B I L Y semakin seru. Mungkin. Apa ada yang penasaran? Simak terus kelanjutannya ya....


...Tekan ❤ untuk menyimpan novel pada draf favorit dan dapatkan notifikasi setiap update episode terbarunya....

__ADS_1


__ADS_2