
Tiga bulan lebih Nesya menjalani harinya tanpa Ravindra disisinya. Ia tak ada semangat selama ditinggalkan Ravindra. Dirinya juga tak pernah mendapat kabar darinya selama ini. Apalagi perihal vidio yang di kirimkan Destia tempo lalu. Nesya bahkan dibuat penasaran hingga saat ini! Hari ini, Nesya terlihat mengenakan dress yang sangat cantik. Ia menikmati pagi hari didepan kolam renang ditemani beberapa camilan dan kue yang tersaji dimeja.
"Kak Nesya, kakak tidak ingin keluar?" tanya Ratu yang mulai mendudukkan diri didekatnya.
"Tidak!"
"Ada apa? Masih menunggu kedatangannya?"
"Aku tidak sedang menunggu siapa pun, Queen."
"Lain dimulut, lain dihati. Mulut bisa saja berbohong, tapi hati? Siapa yang tahu isi hati seseorang? Hanya orang itu sendiri yang tahu." ucap Ratu yang telah menyambar sepotong kue dari tangan Nesya dan memasukkannya ke mulut.
"Queen!" teriak Nesya kesal.
"Hari ini aku akan pergi dengan kak Micky. So, dengan terpaksa aku akan meminjam para bodyguard kakak hari ini." ucap Ratu malas.
"Ambil saja! Aku tak menginginkan mereka!"
"Iya, aku tahu. Karena kak Nesya hanya menginginkan dia bukan?" Nesya tak memperdulikan ocehan Ratu.
"Tapi, jika kamu pergi aku akan dirumah sendirian. Mama pergi bersama papa menghadiri acara Kantor." ucap Nesya layu.
"Mau ikut?"
"No! Apa dua bodyguard tidak cukup untukmu? Aku hanya akan jadi obat nyamuk jika pergi denganmu!"
"Ya sudah, kakak dirumah aja!"
"Jelas aku akan terus dirumah saja. Aku bahkan tidak memiliki satu teman pun saat ini."
"Dimana kak Destia? Kenapa tidak mengundangnya kemari?"
"Mamanya sedang sakit."
"Ya sudah, aku bersiap dulu kak Micky akan segera datang menjemputku." ucap Ratu dengan begitu girangnya. Ia meninggalkan Nesya dan berlari terbirit-birit ke kamar untuk bersiap.
__ADS_1
"Andai dia ada disini saat ini? Aku tidak akan sendirian seperti sekarang. Aku tidak mungkin pergi dengan bodyguard pilihanmu, Ravindra. Mereka sangat membosankan! Terlalu kaku, tidak sepertimu." ucap Nesya begitu saja.
•••
Ditempat lain, sebuah Helikopter terbang kian rendah hingga menyapu rerumputan hijau dibawahnya. Terlihat seorang lelaki gagah keluar dengan langkah sigap, mengenakan seragam motif loreng khas tentara, yang dilengkapi dengan baret dengan warna yang disesuaikan dengan paduan warna hijau, hitam, dan coklat tua, yang membuatnya terlihat semakin mempesona. Diikuti beberapa personil lain di belakangnya. Mereka melangkah dengan kompak di setiap langkah kakinya.
"Captain Ravindra, hari ini apa perlu kita pergi ke markas?" tanya salah satu anak buahnya ketika telah sampai area parkir.
"Kalian pulanglah terlebih dulu. Setelah tugas beberapa bulan lamanya apa kalian tidak merindukan rumah kalian?" Ravindra melangkahkan kaki menuju mobilnya dan melajukannya.
"Aku tahu Captain sangat merindukan tugasnya sebagai bodyguard."
"Diam Rabbit! Kau hanya berani berbicara dibelakang saja. Ayo kita pergi!"
•••
"Tuan sudah kembali." ucap mbok Narti yang sedang membersihkan taman depan.
"Iya mbok."
"Untuk apa? Dia tahu aku tidak dirumah."
"Itu sebabnya tuan. Maaf tuan, apa tidak sebaiknya tuan pergi menemuinya terlebih dulu."
"Tentu saya akan menemuinya mbok. Saya masuk dulu mbok."
"Tuan muda, beberapa hari yang lalu non juga sering bertanya mengapa tuan tidak menghubunginya dan tidak bisa dihubungi?" Ravindra hanya mengangguk pelan dan hendak melangkahkan kakinya lagi.
"Tuan, non Nesya juga terus saja bertanya kenapa tidak ada satu figura pun yang terpajang dirumah ini?" kali ini Ravindra terlihat sedikit tak tenang. Ia mengangguk dan berlalu masuk rumah.
Ravindra mendudukkan dirinya di sisi ranjang. Ia mengambil ponsel didalam tas ransel dan menyalakannya. Terdapat banyak pesan masuk dan beberapa notifikasi panggilan tak terjawab. Ia mencari pesan dari Nesya namun tidak menemukannya sama sekali.
"Kenapa tidak ada satu pesan pun darinya?"
"Ratu?" ucap Ravindra segera membaca pesan dari Ratu.
__ADS_1
💌 Ratu
Hey! Kak Ken, kakak pergi kemana saja? Seseorang sangat menunggu balasan itu darimu!
Jangan berani mempermainkan hati kakakku! Segera kembali dan beri jawabanmu padanya!
Kenapa kak Ken sulit sekali untuk dihubungi? Aku saja lelah memperingatkan mu, lalu bagaimana kak Nesya tidak? Aku kecewa padamu kak Ken! Aku harap kakak segera menemui kak Nesya setelah membaca pesan terakhirku ini! Kak Nesya menunggu bodyguardnya yang dulu! Dan semoga bodyguardnya itu bisa cepat kembali dan memberi kepastian yang pasti dinantikannya.
Ravindra dibuat bingung dengan semua pesan yang dikirimkan oleh Ratu padanya. Ia mengusap wajahnya frustasi.
"Apa maksudnya?"
"Destia?"
"Vidio?" ucapnya setelah membuka pesan Destia. Ia segera menekan tombol play dan memutarnya.
"Kenzie Ravindra Adinata. Aku, Nesya Adriana Faranisa Arora, mencintaimu. Aku mencintaimu Ravindra. Sangat. Mencintaimu. Bodyguard, i love you. Really. Love. You. And only you."
Betapa Ravindra bahagia menerima pesan yang merupakan pernyataan cinta dari Nesya. Meski ia tahu betul ini adalah hasil kejahilan dari dua wanita itu, siapa lagi kalau bukan Destia dan Ratu. Ravindra menarik ujung bibirnya memberi senyum sinisnya. Kemudian ia segera meletakan ponsel dan masuk kamar mandi.
.
.
.
.
...Apa ini? Nesya menunggu begitu lama dan reaksi Ravindra hanya seperti itu saja?...
...Jangan kecewa, karena ini belum berakhir . . .....
__ADS_1