Bodyguard I Love You

Bodyguard I Love You
Aku Nyata


__ADS_3

Ravindra telah berada dikediaman Jendral Rico. Ia terlihat duduk diatas mobilnya, memandangi pintu rumah megah itu sambil menyandarkan tubuhnya pada kursi dan menaruh satu tangan pada stir mobilnya. Wajahnya menggambarkan sebuah keraguan, namun sedetik kemudian ia mulai membuka pintu dan turun dari mobil dengan penuh keyakinan dan semangat yang tinggi.



"Selamat pagi captain Ravindra." ucap kedua penjaga pintu utama memberi hormat.


"Jangan panggil aku seperti itu disini!"


"Baik. Siap pak Ravindra!" jawab keduanya bersamaan dengan sikap tegak.


"Apa Nesya ada dirumah?"


"Nona Nesya ada didalam, pak." ucapnya sembari membukakan pintu. Ravindra segera masuk untuk menemui Nesya.


"Kenapa rumah ini terlihat sangat sepi? Dimana semua orang?" ucap Ravindra monolog.


"Tuan Ravindra?" ucap salah satu pelayan yang sedang melintas.


"Dimana semua orang? Kenapa rumah ini terlihat begitu sepi?" tanya Ravindra mengedarkan pandangannya.


"Tuan dan nyonya besar sedang pergi menghadiri acara kantor, nona Ratu juga sedang keluar bersama teman dan dua pengawal nona Nesya, tuan."


"Lantas, dimana Nesya sekarang?"


"Non Nesya ada di kamarnya tuan, saya akan panggilkan."


•••


"Tok! Tok! Tok!" suara ketukan pintu menggema didalam kamar Nesya.


"Siapa? Masuk, pintunya tidak dikunci!" teriak Nesya dari dalam kamar.


"Ceklek." bunyi daun pintu yang telah diputar dan menampakan sosok yang berdiri diluar kamar. Nesya menaruh laptopnya dan mendekat pada sosok yang tengah berdiri mematung didepan pintu kamarnya.


"Ravindra?" ucapnya tak percaya.


"Apa aku sudah mulai gila? Aku berimajinasi akan kehadirannya?" Nesya memutar tubuhnya, mengurungkan niatnya untuk mendekati sosok itu.


"Nesya." panggil Ravindra.


"Dia bisa berbicara?" Nesya tak percaya, namun ia segera mendekati sosok itu kembali dan berhenti tepat dihadapannya.

__ADS_1


"Aku tidak berhalusinasi atau sedang bermimpi, kan? Kamu nyata, Ravindra? Ini sungguh dirimu?" Nesya hendak menyentuh wajahnya, namun ia segera mengurungkannya sebelum jemarinya sampai menyentuhnya. Nesya memutar tubuhnya membelakangi Ravindra.


"Awww!" teriak Nesya saat kedua pipinya dicubit dari belakang.


"Apa kamu sekarang akan tetap masih berfikir tentang hal yang sama? Aku nyata, Nesya. Aku sungguh Ravindra." Nesya menyingkirkan kedua tangan Ravindra dari wajahnya dengan kasar.


"Cukup! Diam! Dan jangan lancang menyentuhku! Kenapa baru datang sekarang? Kenapa tidak pernah memberiku kabar? Kenapa mengingkari janjimu? Kenapa tidak menjawab pesan dari Destia? Dimana kamu saat itu? Sedang apa di sana? Bersama siapa? Apa kamu selalu baik-baik saja? Dan apa ka- . . .." Belum selesai Nesya menumpahkan sejuta pertanyaan yang terpendam dihatinya selama beberapa bulan ini. Ravindra segera menghentikan ucapan Nesya. Ia menyambar bibir tipis Nesya, merasa mendapat serangan tiba-tiba, Nesya yang kaget hanya bisa membulatkan mata lebar-lebar. Namun, tak lama kemudian ia membalas ciuman lembut Ravindra dan membuatnya menjadi ciuman panas dan bergairah.


"Maaf aku tidak bisa menjawab semua pertanyaanmu. Tapi yang harus kamu tahu, aku selalu rindu dan sangat merindukan dirimu, Nesya!" ucap Ravindra terengah-engah sesaat setelah memaksa melepaskan ciumannya dengan Nesya. Ia membawa Nesya kedalam pelukannya yang begitu nyaman bagi Nesya.


Hening.


"Lalu, bagaimana dengan vidio itu?" tanya Nesya memecah keheningan.


"Vidio? Vidio apa Nesya?" ucap Ravindra seolah tak tahu apapun tentang vidio itu.


"Kamu tidak menerimanya? Lupakan! Itu tidaklah penting!" ucap Nesya melepas pelukan bodyguardnya dan memandang wajah pria dihadapannya itu.


"Jika memang tidak penting kenapa harus menanyakannya padaku? Apa isi vidio itu? Lupakan juga! Ayo ikut aku!" kata Ravindra meraih tangan Nesya dan mulai melangkah.


"Kemana?" Nesya menghentikannya.


"Aku perlu ganti baju?"


"Terserah." jawab Ravindra santai.


"Kenapa terserah?"


"Lalu?"


"Lalu? Bagaimana aku bisa menyesuaikan bajuku dengan tempat itu?"


"Nesya, itu bukan masalah besar. Aku tidak peduli dengan pakaianmu saat ini, karena kamu selalu terlihat cantik dengan baju apapun. Ya, kamu seorang model kan, Nesya! Bisa kita pergi sekarang?"


"Tunggu! Aku akan mengganti dengan baju yang lebih baik. Aku tidak ingin mempermalukan diriku sendiri apalagi orang lain."


"Baik nona Nesya, aku akan menunggumu diluar."


"Tidak!" larang Nesya.


"Ma-maksudku, pilihkan baju yang cocok untukku terlebih dulu, aku akan ganti dikamar mandi setelahnya." ucap Nesya sedikit terbata namun membuatnya terlihat tenang kemudian. Nesya membawa Ravindra menuju walk in closet.

__ADS_1



"Pilihkan salah satu untukku!" perintah Nesya.


"Semua bagus, indah, dan mahal. Dan yang pasti akan sangat cocok di tubuhmu."


"Kamu tidak menyukainya?"


"Aku suka apapun yang ada di dirimu. Cepat kenakan salah satunya dan ayo segera pergi!" perintah Ravindra.


"Bodyguard." ucap Nesya menggoda.


"Kamu sekarang sudah mulai berani memerintah aku? Apa kamu lupa siapa aku? Katakan, apa mau kamu? Apa kamu sedang merencanakan sesuatu untukku?" imbuh Nesya.


"Baiklah nona Nesya, kamu tidak akan ikut kemana bodyguardmu ini akan pergi? Aku akan pergi sendiri saja." Nesya berlari menghentikan langkah Ravindra dan segera memeluknya dari belakang.


"Kamu akan pergi meninggalkanku kembali? Kamu membiarkan dua orangmu yang payah itu menjagaku lagi? Aku tidak suka cara mereka? Aku hanya ingin dirimu. Kamu tahu? Entah sejak kapan aku mulai rindu saat sedang jauh darimu. Aku ingin tertawa bersamamu seperti saat kita di pantai saat itu. Entah kenapa juga, semenjak kepergianmu itu aku merasa kosong, seperti tidak mempunyai tujuan hidup. Kamu tahu, Ravindra? Aku merasa jika aku telah jatuh hati pada bodyguardku yang dulu sangat aku benci dan aku tolak mentah-mentah kehadirannya. Aku mengabaikan setiap perlakuan manis dan kenyamanan juga keamanan yang selalu kamu berikan. Ravindra sungguh, aku sungguh mencintaimu, Ravindra! Ravindra, Bodyguardku! Really! Love you. Love you. Love you . . .." bisik Nesya ditelinga bodyguardnya.


Hati Ravindra bergejolak kala mendengar ucapan gadis itu. Ia merengkuh tangan yang kian erat memeluk tubuhnya. Membawanya untuk saling bertatap muka dan berpandangan mata. Yeah, Ravindra bisa melihat kesungguhan dimata gadis itu. Dia tertawa bahagia didalam hati.


"Aku tidak percaya ini? Kamu sangat manis." Ravindra merengkuh wajah Nesya dan mendaratkan ciuman di keningnya.


"Hanya itu saja?" tanya Nesya sementara Ravindra hanya mengangkat kedua bahu dan menggelengkan kepala.


"Cepat ganti pakaianmu dan kita pergi!" ucap Ravindra mengusap rambut Nesya pelan.


"Hey? Bodyguard! Kamu tak ingin menjawabnya? Aku sudah mengatakan yang sesungguhnya. Apa kamu tidak mencintaiku? Kamu menolak ku? Hey, pak tolong katakanlah sesuatu!" teriak Nesya.


"Kamu sungguh konyol Nesya, kamu gadis bodoh yang pernah aku miliki." gerutu Ravindra tak terdengar jelas ditelinga Nesya. Ia segera keluar dan membiarkan Nesya untuk mengganti bajunya.


"Keterlaluan! Apa dia sungguh telah menolakku? OMG, ini akan menjadi sejarah yang sangat memalukan! Aku tidak akan bisa menatap wajahnya lagi mulai dari sekarang. Aku akan tertunduk malu dihadapan bodyguardku sendiri! Oh no!" ucap Nesya sambil melangkah masuk toilet.


.


.


.


.


...Rupanya dimata Ravindra Nesya masih gadis bodoh-nya...

__ADS_1


__ADS_2