
Pagi harinya setelah sarapan Nesya dan keluarga berkumpul diruang tengah, karena ini weekend jadi semua anggota keluarga kumpul dirumah. Seperti saat ini papa Rico yang terlihat sedang fokus dengan koran paginya di sofa, sedangkan Nesya dan Ratu fokus pada layar kaca dihadapannya yang menampilkan cartoon favorit keduanya sambil tiduran diatas karpet bulu nan halus dan lembut.
"Papa, kenapa nak Ravindra belum datang juga ya?" tanya mama Renata yang mendekat dan duduk menghampiri sang suami.
'Itu bagus untuk kami berdua ma, jika dia sungguhan tak datang kemari hari ini. Tapi, kenapa mama sangat menantikan kehadirannya?' batin Nesya bertanya.
"Kenapa ma? Tumben nanya tentang Ravindra? Mama juga terlihat sedang sangat menunggunya, ada apa? Mungkin dia sedang kena macet atau sedang ada urusan mendesak, ma." jawab papa Rico yang masih terfokus pada media ditangannya.
"Mama ingin bercerita banyak hal tentang kedua orangtuanya, pa. Mama yakin Ravindra pasti akan merasa senang saat mendengar kedekatan kami saat muda dahulu." tutur mama Renata.
"Jadi? Mama mengenal kedua orangtua Ravindra? Apa mama juga tau siapa dan dimana adiknya berada?" sahut Nesya membombardir sang mama.
"What? Kak Nesya, apa kak Ken sungguh punya adik? boy or girls, kak Nesya? Cakep atau gak kak Nesya?" tanya Ratu tak kalah heboh.
"Queen! Ingat, kamu itu sudah punya Micky!" jelas Nesya.
"Ya. Tidak ada salahnya, jika adik kak Ken lebih mempesona dari seorang Micky Adriansyah Adinata maka aku tidak akan mempersulit diriku untuk melepaskan diri darinya, kak!" mendengar jawaban Ratu sontak membuat mama Renata dan dan papa Rico menggelengkan kepala dan senyum getir. Namun, berbeda halnya dengan Nesya yang justru malah mendadak terlihat sedang berpikir keras.
"Tunggu!" tegas Nesya. Semua mata menuju padanya.
Sunyi sepi . . ..
"Micky Adriansyah Adinata dan Kenzie Ravindra Adinata! Papa mungkin-. . .?" Nesya menggantung ucapannya, membuat sang papa melipat koran paginya.
"Mungkinkah mereka berdua putra Bagas Arya Adinata yang telah terpisah itu?" sahut papa Rico yang paham ucapan Nesya. Ratu dan mama Renata memperlihatkan dengan wajah bingung.
"Apa mungkin? . . .. Hanya karena nama belakang mereka yang sama bukan berarti mereka satu keluarga bukan? Terlalu banyak nama Adinata di kota ini, papa, Nesya." ucap mama Renata menghancurkan harapan suami dan juga putrinya.
"Tapi ma, kedua orangtua Micky juga telah meninggal dunia sejak lama dan selama itu pula entah om atau pamannya yang telah merawat dan membesarkannya hingga saat ini. Bukankan benar begitu Queen? Kamu pacar sekaligus calon istrinya kan? Apa kamu juga tahu itu?" jelas Nesya mencoba memberi keyakinan pada semua orang dan menanyakan kebenaran itu pada Ratu yang tanpa ekspresi.
"Selamat pagi papa, mama, Nesya sayang dan juga Ratu." sapa Ravindra yang baru datang.
"Pagi juga kak Ken."
"Ada apa ini? Tegang sekali. Kayak lagi bahas hal serius saja. Bahkan pak Presiden saja aku yakin tidak akan setegang ini dalam menangani seluruh rakyatnya." canda Ravindra.
"Kamu ini Ravindra, papamu ini seorang Jendral bukan Presiden! Apa kamu lupa itu?"
"Tentu Ravindra ingat jelas papa."
"Nak Ravindra, ayo duduk dulu!"
__ADS_1
"Ravindra, kita semua sedang membahas Micky pacar Ratu dan juga dirimu." jawab papa Rico.
"Memangnya kenapa? Ada apa dengan Micky, pa? Apa dia akan menikahi Ratu sebelum kami? Ya, sebelum aku dan Nesya?"
Ratu menggeleng cepat kepalanya. "Kak Ken! Kami sedang membahas adikmu. Apa benar kak Micky pacarku itu adalah adikmu, kak Ken?"
"Micky? Adikku?" Ravindra bertanya pada semuanya.
"Ya. Micky Adriansyah Adinata!" Ravindra terkejut mendengar Adinata pada nama Micky. Ah ya, Ravindra pernah mendengarnya saat pertemuan pertamanya bukan? Tapi, ia tak terlalu memikirkannya kala itu. Sama seperti pendapat mama Renata, banyak nama Adinata di kota ini bukan?
"Ravindra, ini baru dugaan kami saja. Tidak ada salahnya jika kita bertanya tentang keluarganya bukan?" kekeh papa Rico.
"Tapi, apa itu mungkin?"
"Besar kemungkinannya nak. Nesya bilang jika kedua orangtuanya telah meninggal sejak ia masih kecil dan selama ini pamannya yang telah mengurusnya."
"Bisa jadi itu adalah Irfan Adnan." sarkas papa Rico. Ravindra nampak berfikir beberapa saat. Dan Ratu tiba-tiba saja bangkit dari duduknya dan berlari meninggalkan tempat itu. Otomatis semua mata memandangnya heran. Namun, tak berselang lama Ratu kembali dan menunjukkan suatu gambar yang dibuatnya beberapa hari lalu.
"Tante Renata, apa orang ini yang kalian maksud? Aku baru ingat kalau aku pernah melihat foto pria ini di ponsel kak Micky." sontak semua orang berdiri dan melihat gambar pada selembar kertas yang terjepit pada sebuah papan yang disodorkan oleh Ratu.
Papa Rico yang terlebih dulu melihatnya. "Mama?" Renata yang tak paham maksud suami segera mengambil alih benda itu dan dilihatnya gambaran Ratu itu. "Ya. ini aku dan Irfan Adnan. Ratu juga sempat melihat foto masa mudaku. Tapi, Ratu bagaimana bisa kamu melukis foto ini sayang? Apa ini yang kamu lukis kemarin saat menunggu Nesya dan Ravindra kembali?"
"Ya tante. Ratu juga tidak tau, Ratu sendiri merasa aneh juga. Tapi, jika benar orang itu yang kalian cari maka besar kemungkinannya jika kak Micky benar adik kandung dari kak Ken?" jawab Ratu yang memang baru menyadari ketidak asingannya pada pria digambar tersebut.
"Baik om." Ratu mengangguk dan sedikit menjauh untuk menghubungi Micky. Ravindra memperhatikan gelagat aneh Nesya yang sedari kedatangannya tak mengucap sepatah katapun. Bahkan saat semua orang saling mengutarakan pemikiran mereka.
'Ada apa dengannya? Dia tidak seperti Nesya yang aku kenal.' batin Ravindra.
"Nesya sayang, kamu baik-baik saja?" tanya Ravindra yang hanya mendapat anggukan dari Nesya.
"Papa, mama, boleh Ravindra berbicara dengannya sebentar saja?" Nesya menatapnya seolah berkata TIDAK.
"Tentu. Papa akan sangat senang jika kalian berdua lebih saling dekat dan terbuka. Hal itu berdampak baik pada suatu hubungan." tutur papa Rico.
"Ayo sayang!" ajak Ravindra. Nesya berjalan mendahului sang kekasih menuju taman belakang. Sesampainya ditempat Ravindra memeluk tubuh sang gadis yang terdiam cukup lama dari arah belakang, wajahnya menyusuri leher putih sang kekasih.
"Ravindra hentikan!" Nesya merasa geli.
"Kenapa sayang? Biarkan calon suamimu ini memberi sedikit sentuhan pada calon istrinya. Dan mulai sekarang kamu harus belajar untuk membiasakannya. Dan semalam, kenapa kamu tidak menjawab telpon dariku? Aku tidak yakin jika kamu telah lelap saat itu."
"Ravindra, lepaskan aku! Kamu ingin papa dan mama melihat kita seperti ini?" seketika Ravindra memutar tubuh gadis itu menghadap padanya.
__ADS_1
"Kenapa? Papa tidak akan marah melihat keromantisan kita. Ia pasti akan sangat bahagia. Apalagi mama, wanita seumuran mama pasti sudah sangat ingin menggendong bayi mungil bukan?"
"Ravindra!" bentak Nesya berusaha membebaskan diri.
"Kenapa sayang?" Ravindra menarik pinggang Nesya, membawanya kian dekat dengannya. Jangan tanya Nesya, gadis itu hanya menunduk menyembunyikan wajah merah merahnya.
"Aku merasa jika pagi ini kamu sedikit berbeda dan menjaga jarak denganku, apa perasaanku salah? Apa kamu tidak sedang berusaha untuk menghindari ku?" tanya Ravindra sambil mengangkat wajah Nesya.
"Kenapa? Matamu terlihat sedang menyembunyikan sesuatu dariku, sayang? Katakan ada apa! Bicaralah dan ungkapkan hal yang mengganggu pikiranmu itu!" Nesya menatap wajah dihadapannya, sedetik kemudian ia menangis dalam pelukan Ravindra membuat kekasihnya itu bingung dengan sikapnya pagi ini.
"Kamu tau aku sangat mencintaimu bukan?
Love you forever, Ravindra." Ravindra menarik tubuh Nesya dan memberi jarak pada keduanya. Ia mengangkat wajah yang menunduk kembali.
"I love you too. I love you so much, honey. Aku juga sangat mencintaimu dan aku rasa kamu paham betul tentang perasaanku ini." ujar Ravindra tersenyum dan menghapus air mata sang gadis.
"Maka menjauhlah dariku!" ucap Nesya tegas mendorong tubuh prianya. Mendapat perlakuan demikian, Ravindra mengerutkan kening kebingungan.
"Apa maksudmu?"
Nesya memunggungi prianya. Ia tak ingin Ravindra kembali melihat air mata yang menetes dan membasahi wajah cantiknya. "Kamu harus menjauhiku! Perasaanku padamu adalah sebuah kesalahan. Aku tidak benar-benar mencintaimu! Perasaan ini bukan rasa cinta, Ravindra." Ravindra kembali memeluknya dari belakang. Namun, kali ini lebih erat dari yang sebelumnya.
"Apa maksudmu? Kamu adalah cintaku, cinta pertamaku. Aku tahu perasaanmu kepadaku itu adalah rasa cinta. Kamu menyadari dan mengetahui pasti itu, Nesya. Tapi, kenapa kamu mengatakan hal yang justru berbalik?"
"Aku sadar dengan perasaanku Ravindra. Aku yang lebih tahu hal itu. Kamu akan tetap menjadi bodyguard ku dan menjagaku, tapi hubungan ini tidak bisa dilanjutkan. Aku harap kamu bisa mengerti keputusanku ini." ucap Nesya berusaha menyingkirkan tangan Ravindra yang melingkar di perutnya.
"Lepaskan aku Ravindra! Aku mohon!" Ravindra melepaskannya. Ya, dia melepas gadisnya. Nesya mulai mengambil langkah untuk meninggalkannya namun tangannya tertahan dan langkahnya harus terhenti.
"Katakan padaku jika kamu tak sungguh mencintaiku! Aku bahkan masih mendengar kata yang berlawanan beberapa waktu lalu. Katakan kembali kata indah nan menggetarkan itu! Katakan Nesya! Katakanlah kepadaku!" pinta Ravindra yang kini telah berdiri didepannya. Melihat Nesya tak berkutik, Ravindra kembali berucap untuk sang gadis. "Nesya, aku harap kamu tidak sedang melakukan hal bodoh yang akan merugikan dirimu sendiri. Katakan apa masalahmu! Kita bisa tetap bersama dan mencari solusi untuk masalahmu itu. Jangan gegabah memutuskan hal seserius ini, ini masalah hati. Dan aku tidak akan membiarkan perasaan ini berakhir begitu saja. Kamu ingin menghancurkan perasaanmu, aku, mama dan juga papa? Mereka sangat mendukung dan bahagia dengan hubungan kita. Apa kamu sungguh ingin mengakhiri hubungan kita? Apa kamu sungguh tidak mencintaiku meski hanya seujung kuku sekalipun? Ayolah Nesya, aku sangat tahu perasaanmu padaku demikian juga sebaliknya. Perasaan kita sama, perasaan kita satu dan perasaan itu adalah rasa CINTA." bujuk rayu Ravindra tenang mencoba menjernihkan pikiran Nesya dan menarik kata yang tak diinginkan itu. "Aku tahu seseorang mungkin sedang mengendalikan mu saat ini dan aku sungguh tak tahu siapa orang itu. Dan satu pasti yang harus kamu tahu KITA BISA MENGHADAPINYA jika kita tetap terus BERSAMA. Aku tak ingin dan tak akan membiarkanmu sampai terluka apalagi tersiksa sendiri." Ravindra menarik nafas dan menghembuskan pelan. "Ku mohon Nesya jangan melakukan hal bodoh seperti ini, AKU TIDAK SUKA keputusanmu ini! Tolong katakan padaku! Apa yang sedang mengusik mu sehingga kamu memutuskan dan melakukan HAL BODOH ini?"
"Maafkan aku Ravindra, kali ini keputusanku sangatlah benar dan tepat. Ini untuk kebaikan kita bersama. Aku tetap ingin kita berakhir, Ravindra. Maafkan aku! Aku mohon bersikaplah layaknya seorang bodyguard mulai dari sekarang. Dan satu hal lagi, panggil aku nona Nesya, jika memang kamu masih ingin tetap menjadi bodyguard dan menjagaku!"
.
.
.
.
.
__ADS_1
.