
"Bagaimana tidak?" seru papa Rico tak percaya.
'Mungkinkah Irfan sedang mempermainkan kami!' pikir papa Rico.
"Paman jangan bercanda! Aku sangat berharap jika Micky sungguh adikku!"
"Ravindra maafkan paman! Paman ini memang sungguh tidak berguna, nak." pintanya penuh dengan rasa penyesalan.
"Apa maksud semua ini? Aku sungguh sangat bingung." sela Micky yang memang masih belum bisa memahami semua ini. Kakak, adik, Bagas dan Ira? Bukankah keduanya itu nama orangtua kandungnya?
"Aku putra dari ayah Bagas dan bunda Ira juga kan, paman Irfan? Tapi, kenapa paman menyangkal keras kebenaran jika aku ini memang adik kandungnya? Apa aku bukan anak kandung ayah dan bunda? Lalu, siapa aku ini paman?" imbuh Micky semakin bingung dengan dirinya sendiri.
"Kalian memang saudara, tapi tak satu ayah juga tak satu ibu."
"Apa maksud paman? Semua aset yang paman beri adalah milik orangtuaku, ayah Bagas dan bunda Ira." kedua pria itu pun bersitegang.
"Micky, Ravindra, Rico dan Renata." ucap om Irfan.
"Perlu kalian tahu bahwa Micky adalah putra kandungku." semua orang terkejut tak terkecuali Micky.
"Ya. Aku sengaja memberi nama Adinata dibelakang nama putraku dan juga membohongi semua orang dan dirinya hingga saat ini."
"Apa maksud paman?"
"Micky, aku adalah ayah biologismu, nak."
"Ayah?" Irfan mengangguk sementara Micky hanya menggeleng berulang tak paham.
"Ini tidak lucu, Ifan!" sahut papa Rico.
__ADS_1
"Ya. Ini memang tidak lucu, Ric. Ini sungguh sangatlah rumit. Aku sendiri awalnya juga merasa ragu untuk memulai ini semua terutama untuk membohongi putraku sendiri, mengatakan bahwa aku hanya paman-nya dan harus selalu jauh darinya. Tapi, aku tidak ada pilihan lain lagi." semua tercengang mendengar penuturan Irfan.
"Saat itu, . . .. Tepatnya enam bulan setelah kami merawat putra kedua Bagas dan Ira. Kami kehilangan bayi malang itu. Dan disaat yang bersamaan istriku melahirkan bayi laki-laki dan kalian tahu bayi itu tak lain adalah Micky. Kami berusaha keras mencari bayi malang itu, lapor polisi, menyewa beberapa detektif bahkan menyebar info anak hilang. Tapi, usaha kami sia-sia. Kami tak pernah mendapat laporan dimana keberadaan bayi malang itu, hingga beberapa bulan kemudian terpaksa kami menghentikan pencariannya dan menutup rapat kasus itu. Ya, kami lebih fokus pada kesehatan istriku yang sakit kanker usus. Dan pada saat itulah terpikir dibenakku untuk menggantikan Micky sebagai putra kedua dari Bagas dan Ira. Itu semua aku lakukan agar saat seperti ini terjadi kita bisa bertemu. Dan kalian bisa lihat sendiri hasil dari kebohanganku? Aku menemukan putra pertama dari Bagas dan Ira. Dan aku sangat bersyukur hari ini tiba. Meski aku tak berhasil mempertemukan anak malang itu denganmu Ravindra."
"Jadi, adikku juga seorang putra?" tanya Ravindra.
"Ya. Dia juga seorang putra yang tampan sepertimu, nak. Maafkan paman tidak bisa menjaganya dengan baik. Maaf."
"Artinya, aku benar-benar telah kehilangan adikku? Aku sungguh tak akan pernah bisa bertemu dengannya walau hanya untuk sekali saja? Sekedar mengetahui bagaimana wajahnya barangkali?" Ravindra sedih dan rapuh.
"Kamu tenang nak, adikmu pasti akan datang padamu tanpa kita tahu dan sadari." tegas mama Renata yang angkat bicara.
"Bagaimana aku akan menemukannya mama? Seorang bayi hilang beberapa puluh tahun yang lalu, bagaimana wajah, hidup dan dimana dia tinggal sekarang? Wajah mungilnya tak akan bisa dikenal lagi sekarang, dia telah tumbuh dewasa ma . . .. Aku tidak yakin pada diriku sendiri dan aku telah mengecewakan nenek. Maafkan cucumu yang tak berguna ini nenek, aku membuatmu kecewa. Aku tak bisa memenuhi keinginan terakhirmu. Membawanya berkunjung ke makam nenek."
"Ravindra kamu tenang dulu, nak!" ucap papa Rico. Nesya terlihat telah meneteskan air mata melihat keputusasaan Ravindra saat itu.
'Ingin rasaku memelukmu erat, menguatkanmu, menenangkanmu, Ravindra. Jangan lemah seperti ini sayang. Percayalah dimana pun adikmu berada Tuhan akan mengirimkannya kembali dekat padamu.' batin Nesya berbicara.
"Ravindra, paman menyimpan foto terakhir adikmu dan jika kamu ingin, paman bisa memberikannya untukmu. Siapa tahu, suatu saat foto itu berguna untukmu. Dan, adikmu . . .. Ravindra, adikmu memiliki tanda lahir berbentuk bulan sabit dipunggung sebelah kirinya."
"Bulan sabit dipunggung sebelah kiri." ucap semua orang mengulang tak terkecuali Nesya.
"Baik. Terimakasih paman Irfan untuk informasinya." ucap Ravindra kembali tenang.
•••
Siang harinya Ravindra duduk dihalaman belakang rumah Nesya. Terlihat Nesya melangkah pelan mendekat padanya. Ia mendudukkan diri disebelah Ravindra.
"Ravindra?" ucap Nesya jeda beberapa saat, memastikan bahwa pria itu mendengarnya meski tak menoleh sedikitpun. "Ini. Ravindra. Aku, aku ingin kembalikan ini padamu. Aku tidak pantas mendapatkan ini semua." ucap Nesya menyodorkan dua buah kotak sedang warna hitam dan satu kotak kecil berlapis kain bludru warna merah. Ravindra tentu saja tahu jelas tanpa perlu membuka dan melihat apa isinya. Ya, perhiasan dari nenek yang sempat ditolaknya dan cincin berlian pemberiannya.
"Aku tidak bisa mengambil apa yang telah aku berikan pada seseorang, NESYA. Termasuk dengan hati dan perasaan ini yang sepenuhnya telah ku persembahkan hanya untukmu."
__ADS_1
"Tapi, aku merasa tidak pantas memiliki ini semua. Lagi pula aku yang memberikan kembali padamu, bukan kamu yang memintanya kembali dariku. Kamu bisa memberikan ini semua pada istrimu kelak. Nenek pasti sangat senang." Ravindra tak menjawab, wajahnya memandang lurus menatap jauh ke depan seolah berusaha menembus jarak dan waktu.
"Ravindra?" panggil Nesya ragu. Ia sangat tahu kesedihan Ravindra saat itu.
"Hidup tidak pernah adil padaku, Nesya. Dia selalu memberiku banyak harapan yang pada akhirnya tak satupun aku dapat. Dia juga telah mengambil semua orang yang aku cinta dan mencintaiku."
"Apa yang kamu pikirkan Ravindra? Kamu punya papa, mama, om Irfan dan juga Micky sebagai saudaramu."
"Dan aku tak memilikimu lagi Nesya! Kenapa kamu melakukan ini padaku disaat aku seperti ini, Nesya? Mengapa? Apa salah dan kurangku padamu? Kenapa kamu tidak membiarkanku mati saja sekalian! Bia- . . .."
"Pluk!" Nesya menampar bibir Ravindra pelan. Reflek Ravindra memandang wajah gadis itu, namun sebentar saja kembali membuang tatapannya kesembarang arah. "Apa kamu sungguh ingin pergi? Meninggalkanku? Lalu, siapa yang akan menjagaku? Dan menyelamatkanku dari bahaya. Apa kamu ingin melihatku terluka? Apa kamu akan membiarkanku terluka, Ravindra? Kamu akan men- . . .."
"Sssttttt!" Ravindra menghentikan ucapan Nesya, menempelkan jari telunjuk dibibir-nya. Mengusapnya lalu dengan cepat meraih wajah Nesya dan mengecup bibir itu kilat, menatap ragu bibir itu lalu segera mungkin ******* dengan rakus bibir manis gadis bodohnya itu dan entah sejak kapan wajahnya telah banjir air mata, pipinya basah. Nesya berusaha memberontak, memukul keras dada bidang Ravindra. Namun, tak lama kemudian ia meremas kaos yang dikenakan pria itu. Ia menikmati ciuman Ravindra yang mulanya kasar perlahan berubah jadi lembut, meski tetap terasa sangat dalam. Sentuhan itu membuatnya terbuai hingga ia benar-benar tak bisa lagi mengendalikan diri, Nesya melingkarkan kedua tangan di pinggang Ravindra, menutup mata dan membalas ciuman yang terasa memabukkan baginya. Ia ingin agar waktu dapat terhenti detik ini juga. Ia ingin terus seperti ini selamanya bersama pria yang dicintainya.
"Kamu bohong Nesya! Kamu bohong padaku dan juga dirimu sendiri! Kamu mencintaiku Nesya dan aku sangat paham hal itu, sayang. You love me and i know that." ucap Ravindra setelah mengakhiri ciumannya, namun kedua tangannya tetap menangkup wajah Nesya dan membiarkan kening keduanya saling menempel.
"Kamu menangis untukku Nesya. Kamu bersedih melihatku sedih. Kamu terluka saat aku luka. It's because you love me, Nesya!"
"No! Itu tidak benar Ravindra. I just fell pity for you no more!" Nesya menjauh dan berlari meninggalkannya.
'You love me and i know that.' batin Ravindra berucap. Senyum menyeringai kembali terukir dibibir manisnya.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.