Bodyguard I Love You

Bodyguard I Love You
Bagaimana Tidak


__ADS_3

Ravindra kembali keruang tengah dengan wajah yang kusut. Melihat kedatangan Ravindra yang terlihat sedikit berantakan dan kusut membuat semua mata memandang heran padanya. Dan lagi, dirinya hanya kembali seorang diri tanpa Nesya bersamanya.


"Nak Ravindra? Dimana Nesya?" tanya mama Renata pelan seolah mengerti hal buruk telah terjadi pada keduanya.


"Iya. Dia pergi ke kamarnya ma." jawabnya dengan ragu. Tentu, ia tak tahu kemana Nesya pergi meninggalkannya setelah berhasil mengutarakan keputusannya itu.


"Papa, bisa kita bicara berdua?" papa Rico hanya mengangguk dan beranjak dari duduknya. Seperti biasa, jika akan berbicara hal yang serius, maka keduanya pasti pergi ke ruang kerja untuk membahasnya. Ratu dan mama Renata hanya bisa menggeleng kepala kompak.


"Ada apa lagi ini Ravindra?" tanya papa Rico setelah duduk di sofa ruang kerja.


"Pa, Nesya telah mengakhiri hubungan kami." jawab Ravindra tenang.


"Bagaimana mungkin? Kalian berdua terlihat baik-baik saja selama ini."


"Ya. Ravindra sendiri heran dan terkejut dengan keputusan Nesya kali ini. Pa, biarkan aku tetap mendampingi dan menjaganya. Beri aku kesempatan sekali lagi! Aku merasa Nesya terpaksa melakukan ini, pa. Seseorang telah mengendalikannya." imbuh Ravindra.


"Siapa?" Ravindra hanya menggeleng.


"Baik. Berusahalah lebih keras lagi nak! Papa yakin kamu mampu mengatasi putri papa itu. Papa sangat percaya padamu."


"Aku tidak mengerti siapa lagi orang dibalik masalah ini, pa? Aku tidak tahu lagi bagaimana mengatasi Nesya dan semua kekacauan ini, pa."


"Kapten Ravindra! Apa kamu selemah ini setelah bertemu dan berhadapan dengan putriku? Tunjukan keteguhan dan ketangguhan mu Kapten! Bersikaplah semestinya!"


"Aku tak mengerti diriku lagi, pa. Ketika Nesya mengatakan hal itu seakan duniaku runtuh seketika dan aku merasa nafasku terhenti saat itu juga."


"Ravindra kamu masih bernafas nak. Papa tak percaya kamu akan selemah ini, nak. Bangkitlah Ravindra! Bawa kembali hati dan cintanya. Aku yakin semua akan baik-baik saja. Kamu hanya perlu sedikit waktu untuk memahami keadaan ini. Berpikirlah yang jernih! Kamu tidak bisa seperti ini nak. Tenangkan dirimu dan pikirkan langkah selanjutnya!" ucap papa Rico yang kemudian keluar meninggalkannya sendiri, memberi ruang baginya untuk menerima dan mencerna keadaan ini.


'Apa yang ada di hatimu Nesya? Masalah apa yang kini menghantui mu? Kenapa kamu mengambil keputusan yang membuatku tidak bisa berfikir jernih. Kamu membuat nafasku terhenti seketika Nesya.'


"Arghhh!"


5 menit


15 menit


25 menit


45 menit


1 jam 3 menit 45 detik


"Apapun yang terjadi aku akan tetap disisi-mu dan melindungimu, berusaha membuatmu kembali jatuh hati padaku. Kita akan bersama dalam permainan baru yang lebih menantang. Mungkin?"


"Yang jelas aku yang akan memenangkannya, Nesya. Bukan aku, tapi kita berdua sayang. Ya, kita. Mari mulai bermain cantik, sayang. Dan kita kalahkan lawan kita bersama. Aku akan mendukungmu."


•••


Dikamar. Nesya terlihat tengah menangis dibalik pintu kamarnya. Ia terduduk dilantai mengamati cincin berlian yang masih melingkar dijari manisnya. Ia mengingat bagaimana awal pertemuannya dengan Ravindra mulai dari kedatangannya dirumah ini untuk pertama kali, mengawalnya saat berada di New York, menangkapnya saat ia hendak terjatuh, menyelamatkan kesucian dan harga dirinya dari si bangsat Aldo, bahkan saat dengan suka rela tertusuk pisau demi melindunginya dihari terakhir mereka di New York, lalu terluka lagi karena tembakan di lengannya saat menyelamatkannya dari penculikan kala bersikeras keluar rumah sendiri, hingga yang paling terkenang saat dia menyanyikan janji suci untuk melamarnya dan membuatnya merasakan bahagia yang belum pernah ia rasa sebelum kehadiran Ravindra.


"... Hiks. Maafkan aku! Hiks ... Hiks ... Aku terlalu banyak menyusahkan dan melukaimu. Aku meremehkanmu, mengacuhkanmu bahkan membencimu. Tapi, kamu terus saja menghujaniku dengan senyuman manismu dan juga melindungiku." ucap Nesya begitu lemah disela tangisannya.


'Aku mungkin terlihat bodoh dimata kalian. Ya, mama, papa, Ravindra, Ratu dan juga yang membenciku. Ravindra benar aku memang gadis bodoh. Tapi, asal kalian semua tahu ini semua aku lakukan demi kebaikan Ravindra, lelaki yang sangat aku cintai. Aku tidak bisa membiarkannya pergi dariku sebentar saja apalagi untuk selamanya! Biar saja aku terlihat bodoh dan egois seperti yang mereka lihat! Aku hanya ingin Ravindra-ku tetap hidup dan bernafas untukku.'

__ADS_1


"Hiks ... Hiks ..."


Tok!


Tok!


Tok!


"Nesya sayang, buka pintunya nak! Mama ingin berbicara denganmu, sayang." suara mama Renata dibalik pintu kamar Nesya.


"Nesya baik-baik saja mama. Nesya akan turun sebentar lagi, mama tidak perlu mencemaskan keadaanku!" teriak Nesya dari dalam kamar tanpa berniat untuk membuka pintu. Berusaha tenang dan pura-pura kuat, padahal ia sangat rapuh sekarang. Ia hanya tak ingin membuat mama Renata sedih saat melihat air matanya.


"Baik. Kami tunggu dibawah, sayang. Micky juga akan segera sampai. Jadi, cepatlah turun ya!"


•••


Satu jam lebih telah berlalu, setelah mama Renata pergi dari depan pintu kamar Nesya dan papa Rico meninggalkan Ravindra diruang kerjanya. Keduanya terlihat melangkah kembali keruang tengah diwaktu yang bersamaan dan keduanya pun saling adu pandang. Dari kejauhan mereka saling melempar senyuman bahagia layaknya pasangan yang lama tak bertemu dan tak sedang dalam masalah, senyum terus terukir dibibir keduanya hingga jarak semakin dekat dan kian dekat.



Namun, saat tinggal beberapa langkah saja senyum keduanya mendadak luntur bak tersiram air. Ya, setelah dua insan itu kembali memperoleh kesadaran masing-masing, MUNGKIN.


'Aku sangat mencintaimu, my bodyguard. Tetaplah seperti ini berada di sisiku, menjagaku dan bernafas untukku, sayang.'


'Apapun yang terjadi aku akan tetap di sisimu, menjagamu, dan mencintaimu seumur hidupku Nesya. Because i love you, honey.'


"Nesya! Ravindra! Ayo duduk nak!" keduanya tersentak dari pikiran masing-masing dan setelahnya mereka hanya langsung mendudukkan diri dan terlihat menjaga jarak.


"Sebentar lagi mereka sampai nak. Ravindra, Nesya, papa mohon selesaikan masalah kalian baik-baik! Terutama kamu Nesya, bersikaplah bijak dalam mengambil keputusan. Jangan sampai kamu menyesal dikemudian."


"Papa, Nesya sudah memikirkan semuanya dengan matang dan apa yang telah Nesya sampaikan pada Ravindra itu sudah final. Tidak ada yang bisa mengubah keputusanku lagi, pa. Dan aku sudah tegaskan padanya bahwa dia tetap bisa bekerja sebagai bodyguard ku jika dia masih menginginkannya. Aku tidak keberatan."


"Aku menghargai apapun keputusan Nesya, pa. Dan aku akan tetap mengawalnya hingga nafas terakhirku nanti."


"Aku tidak membutuhkan banyak waktumu Ravindra. Aku hanya berharap semua masalah segera berakhir dan kamu segera bebas dari tanggung jawab, tak perlu banyak membuang waktu dan sisa hidupmu untukku."


"Aku tidak akan . . .." ucapan Ravindra terhenti kala mendengar suara seorang berbicara.


"Tuan, nyonya, ada tamu menunggu didepan."


"Suruh mereka masuk!" jawab papa Rico. Pelayan tersebut berlalu untuk mempersilahkan tamu tuannya masuk dan duduk.


"Ravindra! Ayo keluar! Mungkin itu Micky dan Irfan." semua orang mengikuti papa Rico dan Ravindra tak terkecuali Nesya. Mereka duduk di sofa ruang tamu dan mendapati Micky yang terlebih dulu duduk seorang diri.


"Om, tante, Ravindra, Nesya, Ratu, ada apa ini sebenarnya? Kenapa tiba-tiba memintaku datang?"


"Kamu datang seorang diri Micky?"


"Tidak om, tadi Ratu bilang saya harus mengajak paman, dan beliau sedang keluar mengangkat telpon saat ini. Sebentar lagi pasti kemari." mereka mengangguk dan suana menjadi hening hingga terdengar suara seseorang yang sangat dikenal kedua orangtua Nesya.


"Maaf jika menunggu terlalu lama." suara menggema memecah kesunyian ruang tamu tersebut. Semua mata langsung tertuju pada suara itu.


"Ifan!" Renata reflek berdiri dan memanggilnya.

__ADS_1


"Renata?" nama pertama yang disebutkannya. Lalu menatap sosok disampingnya dengan tatapan yang sulit diartikan. "Rico. Kalian disini? Senang bisa bertemu kalian disini."


"Silahkan duduk Irfan! Aku tak menyangka jika Micky benar-benar keponakanmu. Aku senang jika sampai benar-benar menjadi besan sahabat lamaku." raut wajah Irfan yang telah duduk berdampingan dengan Micky malah terlihat jelas perubahannya setelah mendengar pernyataan papa Rico.


"Aku pun tak menyangka bahwa pacar Micky adalah putrimu, Ric."


"Irfan, sebenarnya alasan kami mengundang kalian berdua kemari adalah untuknya." ucap papa Rico menyentuh pundak Ravindra yang duduk disisi kanannya.


"Ravindra? Why?" ucap Micky mengerutkan dahi.


"Ya. Dia kemungkinan kakakmu, Micky!" jelas papa Rico.


"Kakak?" jawab Micky dan Irfan serentak.


"Jadi, kamu putra mendiang Bagas dan Ira? Keponakanku?" Ravindra mengangguk. "Sungguh?" ucapnya masih tak percaya.


"Ya, saya Kenzie Ravindra Adinata putra pertama dari Bagas Arya Adinata dan Ira Mayang Sari. Dan nenek juga kakek Suroto yang membesarkan ku. Namun, mereka telah meninggal dunia dan baru memberitahu jika saya memiliki adik."


"Ya. Betul. Itu betul." Irfan mengangguk pelan dan terdiam cukup lama.


"Jadi, Micky benar adik kandung dari Ravindra?" pertanyaan keluar dari mulut papa Rico, ia tak sabar untuk mendapat jawaban itu. Irfan tak langsung menjawab. Beberapa menit kemudian dengan gerakan yang pelan nan terlihat berat Irfan menggelengkan kepala.


"Bagaimana tidak?" seru papa Rico tak percaya.


'Mungkinkah Irfan sedang mempermainkan kami!' pikir papa Rico.


.


.


.


.


.


.


Nah loh gagal lagi!


Siapa coba adek bang Ravindra sebenar-benarnya?


Nesya ❌


Micky ❌


Ratu ¿


Destia ¿


Dari pada pusing cari tahu siapa adek kandung Ravindra. Mending main game baru bareng Nesya dan Ravindra di episode selanjutnya. Gimana?


Happy reading and see you next time ...

__ADS_1


__ADS_2