Bodyguard I Love You

Bodyguard I Love You
Sampai Jumpa


__ADS_3

Nesya kini berada dikamar bersama Ratu. Keduanya terlihat fokus melihat drama Korea dari layar laptop didepan mereka.


"Ah, kisah cinta yang sungguh sangat tragis. Lelaki meninggal. Dan wanita ditinggalkan." ucap Ratu berkomentar tentang akhir film yang mereka tonton. Nesya menutup laptopnya dan turun dari ranjang.


"Kak Nesya, mau kemana?"


"Keluar, cari angin."


"Apa disini suhu udara kurang dingin? Apa ac-nya tidak berfungsi? Tapi, aku merasakan hawa dingin dan tidak sedang kepanasan! Mungkin tubuhnya saja yang bermasalah. Kak Nesya, tunggu aku!" Mereka keluar kamar dan mulai menuruni anak tangga, Nesya melihat seseorang berjalan kearahnya.


"Kamu disini? Aku merindukanmu." teriak Nesya kegirangan.


"Dimana ponselmu? Kenapa aku tidak bisa menghubungimu dan kamu tidak berusaha untuk menghubungiku? Apa kamu melupakan sahabat setiamu ini?"


"Destia maafkan aku, ayo ikut aku!"


"Kak Nesya, apa aku juga boleh ikut?" Nesya mengangguk iya.


•••


Dilain tempat, Ravindra tengah berdiri berhadapan dengan Jendral Rico. Entah mengapa suasana keduanya terlihat sangat tegang.


"Kapten Kenzie Ravindra Adinata! Aku memberimu tugas khusus untuk mengawal putriku, Nesya. Apa kamu menjalankan tugasmu dengan baik dan benar?"


"Siap! Tentu, pak Jendral Rico." ucap Ravindra dengan posisi siap dan tegaknya.


"Lantas, atas dasar apa kamu berani membawa putriku pulang ke rumahmu semalam?"


"Meski aku telah menyerahkannya padamu, dia masih milik kami dan tetaplah putriku. Kamu belum memiliki hak apapun. Tugasmu hanya melindunginya sekarang!" imbuh Jenderal Rico.


"Pak. Saya sudah melarangnya untuk tinggal lebih lama, apalagi untuk bermalam dirumah saya. Tapi, putri bapak memang sungguh luar biasa, keras kepala."


"Apa kamu akan menyerah sekarang juga? Jika iya, maka tugasmu akan menyelamatkanmu!"


"Tentu tidak pak. Saya tidak akan menyerah dengan mudah dan melupakan begitu saja janji yang pernah saya ucap. Bapak boleh memegang ucapan saya ini."


"Lalu, saat jarak menjadi penghalang untukmu, apa yang akan kamu perbuat?"


"Maaf, maksud pak Jendral Rico?"


"Apa kamu lupa, jika lusa kamu harus menjalankan tugasmu di negara lain?"

__ADS_1


"Saya ingat dan saya siap ditugaskan kapanpun dan dimana pun, pak. Saya juga telah menyiapkan orang saya untuk menjaga Nesya dan Ratu."


'Aku percaya, kamu bisa menjalankan tugasmu dengan cepat dan segera kembali untuk putriku, Kapten.' ucap Jendral Rico dalam hati.


"Baiklah! Aku percaya padamu. Mulai hari ini, kamu saya bebas tugaskan tidak lagi menjadi Bodyguard Nesya putriku. Segera kirimkan orang pilihanmu ke rumah dan kembalilah saat tugas barumu telah selesai! Bersiaplah dan fokus pada tugas barumu."


"Baik. saya permisi pak Jendral Rico. Selamat siang." Setelah memberi hormat, Ravindra meninggalkan ruang Jendral tanpa menemui Nesya dan langsung menuju markasnya.


•••


Nesya, Destia, dan Ratu tengah menikmati camilan dan minuman dingin yang baru saja diantar oleh beberapa pelayannya. Mereka duduk di sofa tepi kolam.



"Nesya sore ini kamu ada jadwal pemotretan jangan lupa! Aku hampir gila karena tidak bisa menghubungimu, aku bahkan sampai lupa jika aku memiliki nomor mami dan telpon rumahmu, saking bingungnya." ucap Destia jujur.


"Tapi, Ravindra sedang sakit. Aku telah berjanji pada diriku sendiri untuk tidak pergi tanpa dirinya lagi dan menyusahkannya lagi, apalagi sampai membuatnya terluka kembali untuk yang kesekian kali." ucap Nesya dengan tatapan kosong dan suara yang hampir tak terdengar.


"Apa ini benar-benar seorang Nesya Faranisa Arora? Aku tidak percaya ini." ucap Destia heboh.


"Kak Nesya? Serius? Ada apa denganmu?" ucap Ratu tak kalah hebohnya dengan Destia.


"Ada apa? Tidak ada apa-apa Des, Queen. Aku hanya akan pergi, jika Ravindra telah sembuh dan dia datang kemari."


"Nesya sayang, apa yang kamu lakukan?"


"Destia, aku ingin dia datang sendiri kemari. Aku membiarkannya untuk sembuh terlebih dulu."


"Ok. Lalu jika kamu meminta seperti itu dia mungkin tidak akan datang hari ini ataupun lusa! Dan kamu tidak akan pergi untuk melakukan pemotretan? Ini ide konyol Nesya, kita sudah bersedia dan telah menandatangani kontrak."


"Baik, bagaimana jika kita pergi bertiga dan dengan sopir. Bagaimana?" usul Ratu memberi solusi, dan diangguki keduanya.


"Nona Nesya, mereka datang!" ucap pelayan menghadapnya.


"Mereka siapa mbak? Bicaralah dengan benar!"


"Permisi nona Nesya. Kami berdua adalah utusan pak Ravindra dan akan menggantikan beliau menjadi bodyguard nona Nesya mulai hari ini." ucap salah satunya.


"Apa ini? Ravindra mengirim kalian berdua untukku?" Kedua lelaki itu hanya mengangguk iya.


"Destia, hubungi Ravindra sekarang juga!" tanpa menunggu lama, Destia melakukan panggilan via telepon dan memberikan ponselnya pada Nesya saat panggilan mulai terhubung.

__ADS_1


"Hallo ada apa Desti . . ..?" Belum selesai Ravindra menyelesaikan kalimatnya, Nesya menyaut dengan rasa emosi.


"Ravindra apa ini? Kamu mengirim dua bodyguard untukku? Untuk apa? Aku sudah memilikimu dan tak membutuhkan mereka! Cepat suruh mereka pergi dari sini!"


"Nesya, dengar aku! Aku harus pergi ke luar negeri dan mereka berdua adalah orang pilihan, yang telah aku latih, pilih, dan percayakan untuk menggantikan aku menjagamu. Aku harap kamu bisa mengerti itu."


"Pergi? Kamu akan pergi? Meninggalkanku?" Tiba-tiba air mata membasahi pipi Nesya. Ratu dan Destia yang menyaksikan segera memberi ketenangan dengan mengelus pelan bahunya. Sementara diseberang sana Ravindra terdiam untuk waktu yang cukup lama, mungkin ia tahu kondisi Nesya sekarang, bahkan Ravindra sendiri merasa sangat berat untuk meninggalkannya, apalagi setelah kejadian kemarin. Namun, mau bagaimana lagi, ia orang yang dipercaya untuk menjalankan tugas ini dan sebagai pengabdi negara ia tak bisa seenaknya menolak tugas yang telah diberikan oleh atasannya pada dirinya.


"Nesya dengar dan ingat pesanku! Kamu harus bersama mereka selama aku tidak ada di sampingmu dan ingat jangan pernah melepas tanda persahabatan kita, karena benda itu bukan sekedar tanda persahabatan. Jaga dirimu baik-baik dan selama . . .."


"Katakan sampai jumpa! Karena kita akan bertemu kembali suatu saat nanti." sahut Nesya menegaskan ucapannya.


"Baiklah. Sampai jumpa. Sampai jumpa, Nesya." Ravindra memutus sambungan telponnya. Nesya mematung dan tak tahu kenapa ia merasa sedih dan tak ingin ditinggalkan.


"Kak Nesya, apa yang terjadi? Ada apa dengan kak Ken? Apa dia baik-baik saja?"


"Nesya, tenanglah!" ucap Destia saat Nesya menangis pilu. Meski tak mengeluarkan suara sedikitpun, air mata terus saja mengalir deras dikedua pipinya.


'Kenapa dia pergi mendadak? Kenapa dia meninggalkanku? Kenapa dia menjauh saat aku mulai merasa nyaman didekatnya? Tuhan? Apa karena selama ini aku menyia-nyiakan kehadirannya dan tak pernah mendengarkannya, hingga Kau mengirimnya pergi jauh dariku? Dia akan sangat jauh dariku, Tuhan. Apa aku bisa? Setelah aku terbiasa dengan kehadirannya setiap harinya.' suara teriakan Nesya menggema didalam hati.


•••


"Semoga kamu selalu baik-baik saja, Nesya." ucap Ravindra terus melajukan mobil ke markasnya. Sesampainya di sana Ravindra segera masuk dan menemui orang-orang yang telah menculik Nesya. Ravindra membawa salah satunya ke suatu ruang tertutup dan membiarkan kedua anak buahnya memukulinya hingga babak belur.


"Stop!" kedua anak buahnya berhenti memukulnya saat Ravindra menghentikan.


"Katakan! Siapa orang yang sudah menyuruhmu menculik gadis itu?" Ravindra mengangkat wajahnya dan menekannya erat.


"Aku tidak akan mengatakannya, meski aku harus mati sekalipun."


"Apa kau tak punya keluarga? Anak? Ibu? Atau istri?"


"Aku melakukan semua ini demi mereka!"


"Siapa namamu? Katakan! Siapa namamu?" Ravindra berteriak dihadapannya.


'Aku harus membuatnya bicara. Aku tidak mungkin meninggalkan Nesya, sebelum aku tahu siapa orang yang ingin mencelakainya.' ucap Ravindra membatin.


"Baik, jika kau tetap tidak mau bicara?"


"Tiger! Stubby! Bawa semua keluarga pengecut ini kemari! Perlihatkan pada mereka semua, bagaimana kematian akan merenggut orang yang sangat mereka cintai!" imbuh Ravindra terlihat begitu murka, setelah merasa usahanya sia-sia karena tak kunjung mendapat jawaban dari pertanyaannya.

__ADS_1



...( Kasihan beng-beng Ravindra semoga cepat menyelesaikan tugas dan segera kembali disisi neng Nesya )...


__ADS_2