Bodyguard I Love You

Bodyguard I Love You
I'm Sorry


__ADS_3

Ravindra melajukan mobilnya. Ia membawa Nesya dan Ratu pergi entah kemana. Nesya hanya diam karena ia masih merasa kesal pada Ravindra.


"Kak Ken, kita mau kemana sebenarnya? Aku sudah bilang tidak ingin ikut kalian berdua kan? Aku hanya akan membuat kalian terganggu, dan aku hanya akan jadi setannya saja."


"Tidak akan, Ra. Nanti juga Kamu akan tahu."


"Yakin? Lalu? Apakah masih lama?" tanya Ratu lagi. Ravindra menganggukkan kepala dan Ratu melemaskan tubuhnya.


Suasana hening.


"Nesya, janganlah diam diri seperti ini!" ucap Ravindra melirik Nesya, namun tak lama kemudian ia kembali fokus pada jalan. Nesya terus saja diam tak bergeming sedikitpun.


"Nesya! Kita hanya akan pergi ke Cafe sebentar, sayang. Jangan marah lagi! Aku yakin kalian berdua pasti tidak akan kecewa. Dan aku tidak bermaksud apapun." ucap Ravindra tiba-tiba meraih tangan Nesya dan menggenggam jemarinya lalu menciumnya lembut dan cukup lama.


"Aku bilang juga apa? Aku hanya akan mengganggu kalian bermesraan!" ucap Ratu kesal.


"Maaf Ra, tapi aku hanya sedang berusaha membujuk kakakmu saja. Dan kamu lihat sendiri hasilnya? Sia-sia." ucap Ravindra melepas tangan Nesya. Ia terlihat kecewa dengan sikap Nesya yang seperti itu.


"Baru beberapa hari jadian saja sudah ngambekan kek gini. Harusnya kalian berdua itu lagi anget-angetnya." timpal Ratu.


Suasana kembali hening hingga sampai tempat tujuan. Ravindra mengajak keduanya masuk sebuah Cafe dan memesan beberapa menu.


"Aku pergi ke toilet dulu!" pamit Nesya tanpa menatap Ravindra maupun Ratu.


'Gadis bodohku yang kelewat keras kepala! Lihat saja nanti! Maaf papa. Aku masih belum sepenuhnya berhasil, pa.' batin Ravindra berteriak memandang punggung wanitanya yang semakin tak terlihat.


"Apa kak Nesya marah karena aku tadi, kak?"


"Tentu tidak, Ra. Kakakmu selalu seperti itu kan? Nanti juga akan pulih dengan sendirinya seperti sedia kala."


"Silahkan tuan, nona." ucap pelayan mengantar minuman dan beberapa menu diatas meja.


"Kalian berdua memaksaku tetap pergi hanya untuk mengisi perut seperti ini saja? Ini bahkan bisa dilakukan dirumah sambil tidur." gerutu Ratu yang terdengar jelas ditelinga Ravindra.


"Tentu tidak! Maksudku, tentu nanti kita akan jalan-jalan, lagipula aku belum sempat sarapan tadi pagi." ucap Ravindra kemudian menyeruput minumannya.


•••


Nesya melangkahkan kaki keluar toilet. Namun, seorang menghentikan langkahnya. Nesya menoleh dan seorang pelayan memberinya setangkai bunga mawar merah dengan secarik kertas bertulis 'for you' namun tak tertera nama si pengirim dan belum sempat Nesya bertanya sang pelayan telah menghilang. Nesya terlihat begitu bingung.



"Pergi ke lantai dua!" ucap Nesya saat menemukan satu kalimat dibalik kata for you. Dengan langkah ragu Nesya membawa dirinya pergi ke lantai atas dan mulai menaiki anak tangga perlahan sembari menengok kanan, kiri, depan dan belakang.


Sesampainya di lantai dua Nesya kembali bertatap muka dengan seorang pelayan yang tentunya berbeda dari yang dibawah tadi. Dan kali ini bukan dengan setangkai bunga mawar merah, melainkan sebuah teddy bear berukuran sedang yang bertuliskan 'I Love You' pada baju boneka itu.


Nesya kembali membuka kertas dan membacanya "Naik satu lantai. Lagi?" Nesya mengerutkan dahi dan memelotot-kan matanya. Ia melangkah dengan begitu malas.


•••


Ratu terlihat celingukan mencari seseorang. Ravindra memperhatikannya yang sedari tadi jelas tampak gelisah.


"Ada apa, Ra?"


"Kenapa kak Nesya lama sekali pergi ke toiletnya? Apa terjadi sesuatu padanya?"

__ADS_1


"Siapa ini? Jangan menggangguku! Kak Nesya, aku sedang tak berselera bercanda denganmu!" ucap Ratu saat tangan seseorang menutup matanya dengan kedua tangannya.


"Kamu yakin jika dia Nesya, Ra?" tanya Ravindra.


Ratu terdiam. Ia mencoba menebak siapa orang yang mengganggunya itu 'Tunggu! Aku sangat mengenal aroma parfum ini. OMG! Kak Micky?' ucap Ratu dalam hati.


"Berhenti menggangguku kak Micky!" kesal Ratu menghempas tangan sang kekasih.


"Bagaimana kamu tahu itu aku, sayang?" Micky berdiri di samping Ratu yang menatapnya.


"Tentu." jawab Ratu pelan.


"Kenapa kemari? Bukankah kak Micky sibuk?" imbuhnya. Micky mendudukkan tubuhnya dan menatap Ratu.


"Kamu tidak suka? Baik aku akan pergi saja." Micky bangkit namun dengan cepat Ratu menahan tangannya yang menyentuh meja.


"Duduklah kembali! Aku hanya bercanda." ucap Ratu berbinar membuat Micky tersenyum senang.


"Dimana Nesya?" tanya Micky yang sudah duduk kembali dan tak melihat Nesya disekitar mereka.


"Sayang, aku disini! Kenapa malah cari kak Nesya yang jelas tidak ada?"


"Bukankah ini double date?" tanya Micky.


"Aku akan menjemputnya." Ravindra bangkit dari kursi dan berlalu meninggalkan keduanya.


"Apa dia sungguh akan pergi ke toilet wanita?" gumam Ratu.


•••


"Tapi siapa yang melakukan ini semua?"


'Apa ini kejutan untuk seseorang dan yang pasti bukan aku? Bisa saja orang tadi salah sasaran kan?' batin Nesya bertanya-tanya.


"Tapi, itu tidak mungkin terjadi. Ini tempat umum dan mereka semua pasti telah memikirkan semua ini sebelumnya dengan baik dan benar. Jadi, tidak mungkin mereka salah orang kan?" Nesya kembali naik anak tangga hingga menginjak lantai tiga.


"Kosong?" ucap Nesya saat tak melihat siapapun dan benda apapun ada ditempat itu.


"Mereka mengerjai ku rupanya. Kenapa membawaku ke tempat kosong melompong bag lapangan sepak bola seperti ini?" Nesya membalikan tubuhnya dan berniat untuk turun kembali.


Ting


Nesya menghentikan niatnya saat mendengar suara sepatu dan langkah kaki seseorang yang semakin dekat "Bukankah tadi aku tidak melihat siapapun disini?" pikir Nesya takut.


"I'am sorry."


"Ravindra? Kamu yang melakukan ini semua?" ucap Nesya setelah memutar tubuh dan melihat sosok prianya berdiri dihadapannya.


"Iya. Maafkan aku Nesya sayang." ucap Ravindra yang telah memeluk tubuhnya.


"Apa kamu mau memaafkan aku, Nesya?" imbuhnya melepas pelukan dan meraih wajah Nesya, menatapnya dalam.


"Aku tidak bisa!"


Ravindra terlihat kecewa dengan ucapan Nesya. Ia mengangguk pelan.

__ADS_1


"Aku tidak bisa untuk tidak memaafkan mu, Ravindra sayang. Kamu terlalu sayang untuk aku diamkan dalam waktu yang cukup lama." tutur Nesya yang telah berhambur memeluk Ravindra.


"Benar? Terimakasih sayang." Ravindra mencium kening Nesya penuh kasih sayang.


"Ayo turun! Micky dan Ratu sudah menunggumu terlalu lama dibawah." imbuhnya.


"Micky? Dia datang? Bagaimana bisa?" ucap Nesya heran.


"Apa yang Ravindra tak bisa lakukan? Aku bahkan bisa membuat gadis keras kepala sepertimu takluk padaku." ucap Ravindra menyombongkan diri.


"Omong kosong. Awas berani macam-macam denganku!"


"Memang aku berani berbuat apa pada putri semata wayang Jendral Rico? Selain mengambil hatinya saja." ucap Ravindra penuh penekanan.


"Ingat! Kamu bukan saja hanya mencuri hatiku, Rav. Kamu juga telah mencuri hati papaku!" jelas Nesya.


"Tidak. Papamu yang telah menyerahkannya sendiri padaku."


"Benarkah?" Nesya mendekatkan tubuhnya dan memainkan jarinya di dada bidang prianya.


"Nesya, jangan menggodaku!"


"Aku tidak sedang menggoda mu, Rav." ucap Nesya dengan manja memperhatikan wajah Ravindra.


"Ayo turun! Atau?"


"Atau apa, Ravindra sayang?" Ravindra tak menggubris. Ia menarik lengan Nesya dan membawanya masuk lift.


"Ada lift disini?" kaget Nesya, terlihat bodoh didepan mata Ravindra.


"Kamu mempermainkan ku Ravindra! Kamu tahu? Aku lelah menaiki anak tangga hingga sampai lantai tiga."


"Itu belum seberapa sayang!"


"Apa maksudmu? Apa kamu akan memintaku naik tangga seribu dilain hari nanti?"


"Gadis bodoh. Kapan aku memintamu melakukanya? Itu tidak akan pernah terjadi, sayang." jelas Ravindra menekan hidung Nesya.


"Aku juga tahu kalau kamu tidak akan pernah memintaku melakukan hal konyol seperti itu." ucap Nesya menjauhkan tangan Ravindra dari hidungnya.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2