
Sebuah mobil memasuki pelataran kediaman Jendral Rico. Dapat dilihat Nesya dan Ravindra tengah berdiri dihalaman depan disamping mobil milik Ravindra.
"Ehm, Aldo kamu datang? Kebetulan sekali." tanya Nesya saat Aldo telah mendekati keduanya.
"Kebetulan bagaimana, Babe? Bukankah sebelumnya aku tadi sudah bilang akan menjemputmu? Dan, kenapa kalian berdua malah berdiri disini?" tanya Aldo heran.
"Iya, itu memang benar sebelumnya kamu sudah mengirim pesan padaku dan aku kira itu tidak sungguhan. Ehm, ini ban mobil Ravindra ternyata kempes Al. So, apa boleh kami berdua ikut mobil kamu?"
"Tentu saja sangat boleh untukmu, Babe. Tapi, tidak dengan bodyguard sialanmu ini!" jawab Aldo menunjuk wajah Ravindra.
"Bagaimana bisa begitu? Dia yang akan menjagaku selama aku berada diluar rumah. Tentu dia juga harus selalu bersamaku!" sentak Nesya.
"Karena aku tidak mau dia mengotori mobilku! Dan lagi untuk sekarang dan nanti aku bisa menjagamu tanpa bodyguard payahmu ini."
"Apa maksudmu? Kamu pikir aku kotoran? Alasan bodoh! Dan bagaimana kamu akan menjaga nona Nesya 24 jam nonstop jika kamu sibuk sendiri dengan pekerjaanmu itu?" cibir Ravindra.
"Nesya? Apa tidak ada lagi mobil lain di rumahmu ini? Biar dia bawa mobilmu atau naik taksi saja sekalian, itu akan lebih baik aku rasa." talak Aldo mengabaikan perkataan Ravindra.
"Aldo! Kalaupun dirumah masih ada mobil kita sudah pasti pergi sejak dari tadi tanpa menunggumu. Baik, kita berdua akan pergi naik taksi saja. Ayo, Ravindra!" jawab Nesya berbohong. Tentu, masih ada beberapa mobil yang terparkir rapi di dalam garasi saat ini, tak terkecuali mobil Nesya sendiri.
"Mari nona!" keduanya melangkah melewati mobil Aldo untuk keluar mencari taksi.
"Babe, okay. Baiklah. Baik dia boleh ikut kita, Babe." teriak Aldo menghentikan keduanya.
__ADS_1
‘Akhirnya kau menyerah juga bangsat!’ batin Ravindra menertawakan Aldo. "Terima kasih banyak tuan Aldo. Mari, silahkan masuk nona Nesya." Ravindra mempersilahkan Nesya masuk dan duduk. Kemudian disusul Ravindra yang ikut masuk dari pintu yang sama pula. "Tuan Aldo, mari silahkan masuk!" ajak Ravindra setengah berteriak pada Aldo yang masih setia berdiri di luar mobil.
"Hey bodyguard! Kenapa kamu duduk disini? Pindah kedepan dan duduklah di samping sopirku!" perintah Aldo.
"Itu tidak perlu!" saut Nesya cepat, kedua pria dewasa itu memandangnya heran. "Biarkan aku saja yang duduk didepan. Kalian berdua duduk manis dibelakang dan jangan banyak tingkah seperti Tom and Jerry! Ok?" tutur Nesya.
"Benar, itu terdengar lebih baik. Karena nona Nesya bisa mabuk jika dibiarkan duduk dibelakang tuan Aldo."
"Oh iya? Tahu begitu aku tadi tidak perlu bawa sopir sekalian!" kesal Aldo setelah Nesya berpindah di jok depan samping kemudi.
'Apa-apa ini? Aku sengaja menjemput Nesya agar bisa terus berdekatan dengannya, tapi kenapa malah jadi bodyguard sialan ini yang duduk bersamaku!' batin Aldo mengumpat.
'Jangan mimpi duduk berdampingan dengan Nesya untuk kali kedua pria gila.'
Kedua pria dewasa di jok belakang pun duduk dengan saling membuang muka dan tangan bersedakep, dengan jarak yang saling berjauhan tentunya, dari ujung pintu ke ujung pintu lainnya. Sementara Nesya yang melihat jelas pemandangan tersebut dari pantulan kaca spion mobil depan hanya bisa tersenyum puas memandangi kedua pria tersebut. 'Sudah seperti pinang dibelah dua saja tingkah mereka berdua ini.' gumam Nesya tanpa sadar.
"Baik tuan."
Sepanjang perjalanan, didalam mobil itu tak ada suara percakapan sama sekali, semua orang didalamnya bungkam. Nesya dan Ravindra hanya saling curi pandang lewat spion depan mobil dan tak sering melempar senyum kecilnya.
"Khem! Khem!" dehem Ravindra.
"Berisik! Diam bodoh!" bentak Aldo.
__ADS_1
"Nona Nesya, bagaimana dengan Destia?" tanya Ravindra memecah keheningan dan mengabaikan pria yang berada disebelahnya.
"Destia? Ah iya, aku bahkan sampai melupakannya. Aku akan mengirimkan pesan agar dia segera menyusul kita dengan taksi." Nesya mengambil ponselnya dan mulai menulis pesan.
"Babe?" panggil Aldo pada Nesya, namun tak ada jawaban dari gadis itu. "Nesya, apa kau tak mendengarkanku?"
"Dengar. Kenapa?" jawab Nesya malas.
"Bukankah Destia teman sekolah kita waktu SMA? Kenapa dia seolah tak mengenaliku? Apa aku semakin terlihat tampan, Babe?" tanya Aldo dengan PeDe.
"No, mungkin karena sudah sangat lama tidak saling bertatap muka, lagi pula kamu hanya satu semester saja sekolah SMA di Indonesia dan kita juga tidak satu jurusan apalagi sampai satu kelas dan sangat dekat."
"Iya benar. Aku memang tidak pernah dekat apalagi tertarik dengan wanita selain kamu, andai saja waktu itu papa tak memaksaku pindah, mungkin aku sudah jadi pacarmu sejak dari dulu."
"Bahkan sebelumnya aku selalu menolakmu, Al. Apa kamu melupakan itu?" ucap Nesya memperingatkan.
"Ya. Itu semua juga karena si tua bangka itu, bukan?" Nesya dan Ravindra langsung saja menoleh pada Aldo yang masih setia menatap pada arah luar jendela.
"Siapa yang kamu maksud dengan si tua bangka itu? Apa papaku?" tuduh Nesya yang bahkan sudah mendengar kata itu keluar dari mulut Aldo lebih dari satu kali untuk sang ayah tercinta.
Aldo memandang Nesya yang kini masih menatapnya geram. "Babe maaf, lidahku kesleo. Maksudku tadi adalah ayah mertua. Ya, ayah mertua. Dia dari dulu tidak pernah ingin putrinya dekat dengan sembarang orang bukan, hingga kamu tak punya banyak teman. Dan, kita berdua selalu pergi diam-diam untuk bisa saling bertemu, walau begitu dari kecil hingga kita dewasa kita selalu bersama dalam pertemuan sembunyi-sembunyi itu. Dan lagi, aku yakin kalau ayah mertua tak akan menyangka jika kita sudah berteman lama bahkan dari sejak kita kecil. Aku jadi tidak sabar untuk segera bertemu dengannya."
"Dan selama itu aku hanya menganggapmu sebagai kakakku, tidak lebih."
__ADS_1
"Tapi tidak dengan sekarang kan, Babe?"
'Tentu, aku akan selamanya menganggapmu sebagai kakak. Entah itu dulu, sekarang, esok, dan juga nanti. Karena hanya itu yang aku rasakan padamu, kak Aldo! Hatiku hanya milik Ravindra seorang. Demikian pula cintaku.' jawab Nesya dalam hati.