
Pemotretan telah berjalan beberapa jam dan hasilnya sungguh diluar dugaan. Destia sampai heran se-heran-herannya. Tak beda halnya dengan Ravindra yang merasa jika sang kekasih sedang ada masalah yang sangat mengganggu pikirannya kini. Hingga mereka memutuskan break time beberapa menit.
"Nesya? Apa yang kamu lakukan? Kita semua disini sangat bergantung padamu. Please! Untuk lebih fokus lagi." Nesya hanya terdiam seribu bahasa.
"Destia, boleh aku berbicara dengannya sebentar saja?" ucap Ravindra mengatupkan kedua tangan, memohon.
"Jadi, apa kalian berdua sedang ada masalah? Dan ini karena . . .. Kak Ravindra, tolong kembalikan sifat profesional yang dimiliki Nesya!" Ravindra hanya menatap Destia melas. Setelah Destia meninggalkan keduanya Ravindra segera mendekati Nesya yang sedang duduk didepan kaca ruang make up. Ravindra memeluknya dengan erat dari belakang dan meletakkan dagunya di bahu sang gadis.
"Sayang ada apa denganmu sebenarnya? Tidak biasanya kamu tidak fokus dalam melakukan pekerjaanmu seperti ini. Katakan sayang! Aku tahu pikiran kamu saat ini sangat mengganggumu." ucap Ravindra yang menatapnya dari pantulan cermin didepan mereka.
"Tidak ada. Aku hanya sedang sedikit tidak enak badan saja, sayang." elak Nesya yang enggan melihat wajahnya sendiri.
Ravindra beralih dari posisinya, ia bersimpuh didepan Nesya dan menggenggam erat kedua tangannya serta mata tajam yang menatap dalam mata sang gadisnya itu. "Aku tahu kamu sedang berbohong padaku. Nesya, aku tidak ingin ada satu hal pun yang kamu sembunyikan dariku. Apalagi jika hal tersebut sampai mengganggu aktifitasmu seperti ini."
"Ravindra!"
"Ya, katakan sayang!"
"Tadi, . . .."
'Bagaimana aku akan berbicara padamu, Ravindra? Seseorang telah memaksaku untuk menjauh dan melepaskan mu dariku. Aku tidak ingin kamu terluka karena terus di sisiku, tapi aku juga tidak ingin ada perpisahan dalam kisah kita. Bagaimana aku akan mengakhiri ini semua, Rav? Kamu bahkan tidak memiliki kesalahan kecil sekalipun yang bisa aku gunakan untuk menghancurkan diriku sendiri. Aku sangat begitu mencintaimu.'
"Nesya!"
"Sayang?"
"Ah iya, maafkan aku. Aku akan lebih fokus lagi nanti. Aku tadi hanya . . .."
"Nesya, apapun masalahmu tolong beritahukan padaku! Aku mungkin memang tidak selalu bisa membantumu, tapi paling tidak kamu akan sedikit merasa lega setelahnya."
Nesya menganggukkan kepala. "Aku sangat mencintaimu, Ravindra. Sangat."
'Tanpa kamu mengatakannya, aku bisa melihat dan menemukan cinta itu di matamu, Nesya.' Ravindra menatap mata Nesya begitu dalam hingga tanpa sadar kehadiran Destia yang tengah melihat keduanya, yang menurutnya tak seperti biasa.
"Khemm!" Destia berdehem dan mengagetkan keduanya.
"Destia?"
"Nesya sayang Break time sudah berakhir, mari kembali bekerja!"
"Sayang, ingat! Lakukan pekerjaanmu dengan baik dan lebih fokuslah!" tutur Ravindra yang di angguki sang gadis.
"Sayang?" teriak Destia mendekati keduanya.
"Barusan kak Ravindra panggil Nesya, sayang? Apa aku tidak sedang salah dengar?" imbuhnya masih terlihat kebingungan. Tentu, beberapa hari mereka telah menjalin hubungan dan hanya Destia yang tidak mengetahuinya hingga detik ini.
"Tentu, kamu tidak sedang salah dengar Destia. Aku telah melamarnya dan segera mungkin akan meminangnya." jawab Ravindra penuh percaya diri.
"Benarkah itu Nesya?" Nesya hanya mengangguk, tertunduk, tersipu malu. Entahlah, mungkin karena sejak awal ia telah meyakinkan pada Destia bahwa ia tak mungkin jatuh cinta dengan bodyguard tampannya itu.
"Kerja bagus Nesya. Hatimu jatuh pada orang yang tepat Nesya, aku telah melihat cinta itu sejak awal. Selamat dan semoga kalian berdua selalu bahagia. Dan Nesya, aku tunggu episode yang terlewat itu dipertemuan mendatang!" ucap Destia tersenyum dan berlalu.
"Ayo kita selesaikan pekerjaanmu dan kita pergi kencan untuk yang pertama kalinya." ucap Ravindra.
"Bagaimana mungkin ini kencan pertama kita? Sebelumnya bahkan kita sudah melakukan double date bersama Queen dan Micky." gerutu Nesya yang didengar jelas Ravindra.
•••
Nesya dan Ravindra kini telah berada disebuah restaurant klasik. Setelah mengantar Destia pulang, Ravindra sengaja membawa Nesya ketempat super nyaman tersebut. Ia ingin membuat gadisnya sedikit melupakan segala masalah yang ditutup rapat darinya, dan berharap jika ini bisa membuatnya buka mulut tetang masalah yang dihadapinya. Ia tak ingin jika sesampainya dirumah Nesya hanya akan berbaring dan memikirkan kembali masalah yang dimilikinya. Namun sayang, usahanya gagal. Nesya hanya terus diam tanpa sepatah katapun terlontar dari bibir manisnya.
"Sayang, habiskan minuman mu! Aku harus segera membawamu pulang dan menemui papa."
"Why?"
"Aku akan berbicara hal serius dengannya."
"Tentang?"
"Hubungan kita sayang, apalagi? Melihatmu terus seperti ini rasanya aku harus segera menikahi mu!"
__ADS_1
"Hah?"
"Hah? Bahkan kamu merespon dengan kata terburuk seperti itu untuk kesungguhan ku ini? Ayo, kita pulang sekarang!"
"Pulang? Ravindra, maafkan aku."
"Ya. Aku akan selalu memaafkan kebodohanmu itu, sayang."
•••
Di kediaman Jendral Rico, Ratu yang sedang duduk di sofa ruang tamu menanti kedatangan Nesya kini terlihat sangat bosan menunggu. Ia fokus mencoret pensil pada kertas putih di pangkuannya.
"Ratu, kamu kenapa duduk sendiri disini?" Ratu menengok wajah mama Renata dengan senyum tipis di bibirnya.
"Tante, Ratu bosan. Kak Nesya dan kak Ken belum pulang. Kenapa mereka meninggalkanku dirumah? Aku juga ingin melihat keadaan diluar." keluh kesah Ratu.
"Begitu rupanya? Kenapa tidak meminta kekasihmu datang kemari saja?"
"Apa itu boleh tante? Kalau nanti om Rico marah gimana tan?"
"Tidak akan sayang. Kamu sedang melukis sesuatu? Apa itu?"
"Ini, ini sangat jelek tante, karena aku tidak sedang berselera menggambar. Aku hanya sedang merasa bosan menunggu kak Nesya pulang. Aku akan memarahinya nanti karena telah berani meninggalkanku."
"Kamu ini seperti mamamu. Saat sedang bosan, sedih, ataupun bahagia maka kertas putih dan pensil adalah pilihannya. Entah apa itu bentuk hasil akhirnya namun satu yang pasti, hasil lukisannya selalu indah." ucap mama Renata berbinar, seolah ia melihat Nita sang kakak ada di diri Ratu, sang anak.
"Ya tante, kami berdua memiliki hobi yang sama. Tante, apa boleh Ratu bekerja?"
"Ehm? Ratu mau kerja apa sayang?"
"Teman Ratu merekomendasikan perusahaannya sendiri. Dia ingin Ratu jadi desainer di perusahaannya. Apa itu boleh tante? Lagipula Ratu bosan dan tidak enak hati jika tidak pergi bekerja."
"Nanti tante bicarakan dengan om kamu terlebih dulu ya sayang. Dan apa pacarmu itu mengizinkan?"
"Malam mama sayang, malam juga Queen." teriak Nesya yang baru tiba dan melihat keduanya duduk di sofa ruang tamu, dan segera berhambur kepelukkan sang mama.
"Malam putri mama yang cantik." mama Renata tersenyum membalas senyum sapa Ravindra.
"Tumben sampai malam begini?" tanya mama Renata menatap keduanya bergantian.
"Hari ini memang sangat melelahkan ma, Nesya pergi ke kamar dulu, badan Nesya sudah lengket semua dan juga bau." gerutu Nesya segera pamit pada semua orang.
"Ravindra, apa semua baik-baik saja hari ini?"
"Ya, bu Renata tidak perlu khawatir. Maaf apa saya boleh berbicara dengan bu Renata dan pak Rico?"
"Tentu. Mari nak Ravindra!" mama Renata tersenyum ramah. Kemudian keduanya meninggalkan Ratu yang diam sedari kedatangan kedua insan tersebut.
"Apa lukisan ini bagus? Kenapa aku malah melukis gambar ini? Ini sama sekali bukan bakat ku, aku tidak terbiasa melukis wajah seseorang. Dan gambar ini, bukankah ini . . .." gumam Ratu geleng kepala tak percaya akan hasil gambarannya sendiri.
•••
"Mama, Ravindra? Ada apa kalian kemari?" tanya papa Rico kaget melihat keduanya masuk ruang kerjanya.
"Ada yang ingi Ravindra katakan pada kita, pa." keduanya mendekat pada meja kerja papa Rico.
"Ada apa ini Ravindra, mama bisa ambilkan minuman untuk kami?" mama Renata mengangguk dan hendak meninggalkan ruang kerja. Namun urung karena mendengar ucapan Ravindra
"Tidak pak Rico. Kali ini Ravindra juga perlu berbicara dengan bu Renata." sahut Ravindra membuat keduanya menatap dirinya.
"Ini tentang hubunganku dengan Nesya." imbuh Ravindra.
"Ada apa dengan kalian? Kalian berdua bertengkar? Itu hal biasa dalam sebuah hubungan nak. Kalian jangan tergesa mengambil keputusan."
"Justru karena itu pak, bu. Saya sudah terlanjur jatuh terlalu dalam. Saya sangat mencintai Nesya sejak awal melihatnya."
__ADS_1
"Ravindra, mama ayo duduk kemari!" mendengar ucapan serius dari Ravindra, papa Rico jadi bergetar hatinya dan segera mengajak keduanya untuk duduk di sofa ruang kerjanya yang nyaman, tenang dan tentu kedap suara.
"Sepertinya ini masalah yang sangat serius Ravindra."
"Ya pak. Ravindra akan langsung pada intinya pak, bu. Jadi, apa Nesya adalah putri kandung kalian berdua?" papa Rico yang awalnya tegang kini dibuat tertawa terbahak oleh pertanyaan Ravindra.
"Ravindra? Apa ini? Dari mana kamu mendapat berita bahwa Nesya anak angkat kami?"
"Nak, Nesya adalah putri kandung kami. Aku sendiri yang mengandung dan melahirkannya."
"Lalu, apa kalian mengenal mereka?" Ravindra meletakan amplop cokelat yang sedari tadi siang dikantonginya kemanapun ia pergi.
Papa Rico segara mengambil dan melihat seluruh isi didalamnya. "Bagas Arya Adinata?" satu kalimat keluar dari mulutnya.
"Papa?" mama Renata segera mungkin mengambil alih beberapa foto dari tangan sang suami.
"Kalian mengenal orangtuaku?"
Deg
Deg
Deg
Ketegangan kini menyelimuti ketiganya. Papa Rico dan mama Renata saling beradu pandang. "Bagas Arya Adinata adalah ayahmu?" ucap keduanya hampir bersamaan. Ravindra hanya mengangguk.
"Ya Tuhan. Dunia ini benar-benar sempit. Kami kehilangan kontak setelah sekian lama dan kini dengan ketidaktahuanku aku bertemu denganmu. Putra dari sahabat lama kami Bagas Arya adinata dan Ira Mayang Sari."
"Ya. Kalian mengenal mereka?"
"Tentu. Kami berteman sangat baik dan dekat dengan keduanya. Apalagi kakak Ira, Irfan Adnan dia temanku dari kecil hingga SMA." jelas papa Rico.
"Berarti, Nesya sungguh anak kandung kalian? Jika benar begitu, lalu dimana adik malangku berada?"
"Adik? Kamu memiliki adik?" tanya mama Renata.
"Iya bu Renata, ceritanya panjang hingga aku bahkan sempat mengira bahwa gadis yang aku cinta adalah adik malangku."
"Jadi, singkat cerita saat kecelakaan maut yang terjadi dua puluh empat tahun lalu, saat itu ibu sedang mengandung adik malangku. Karena dari pihak ayah dan ibu sangat menginginkan kami maka mereka ambil jalan tengah dan memisahkan kami. Hingga saat sebelum nenek meninggal dan memberi beberapa foto itu. Nenek bilang jika foto itu petunjuk untuk menentukan keberadaan adik malangku. Dan jika bukan kalian berdua, maka hanya ada satu kemungkinan . . ..?"
"Irfan Adnan?" saut papa Rico.
"Tapi, bukankah dia ikut dalam mobil naas itu?" sergah mama Renata.
"Ya, aku dengar mereka mengalami kecelakaan maut itu bersama."
"Tidak pa. Hanya ayah dan ibuku yang meninggal saat kecelakaan itu. Dan yang artinya adik ibuku, Irfan Adnan masih hidup dan dia yang kini merawat adik malangku?"
"Ya itu bisa jadi. Kamu tenang, Ravindra. Sebisa mungkin kami akan membantumu."
"Terimakasih pak, bu."
'Irfan Adnan, aku harus menemukan keberadaan anda.'
.
.
.
.
.
Kira-kira siapa adik Ravindra? 🤔
Cowok atau cewek kah? 🤔
Temukan jawabannya di episode selanjutnya🤗
__ADS_1