Bodyguard I Love You

Bodyguard I Love You
Pesona Pandangan Pertama


__ADS_3

Malam harinya Ravindra datang ke rumah Nesya karena tak mendapat jawaban dari telponnya. Ya, Nesya tak merespon beberapa pesan dan telpon darinya. Maka ia sangat ingin bertemu langsung dengan Nesya dan memastikan bahwa gadisnya baik-baik saja. Tapi, papa Rico terlebih dulu menghadang saat tak sengaja berpapasan dengannya.


"Selamat malam, pak." papa Rico menganggukkan kepala pelan.


"Ada perlu apa tengah malam datang kemari, captain Ravindra?"


"Maaf pa, tapi Ravindra harus menemui Nesya sekarang. Ada yang harus Ravindra ingin sampaikan dan pastikan. Karena aku terpaksa harus meninggalkannya tadi siang."


"Mungkin dia sudah tidur sekarang. Oh ya, tadi Nesya sempat minta papa untuk mencarikan pengawal yang baru untuknya. Apa kalian berdua sedang ada masalah?"


"Tidak pa, semuanya akan baik-baik saja. Lalu, apa papa bersedia?"


"Ravindra, papa hanya percaya padamu, papa mohon dengan sangat jangan kecewakan papa maupun Nesya." ujar papa Rico.


"Temui dia! Bicaralah seperlunya saja dan segeralah pulang!" imbuh papa Rico sebelum akhirnya pergi meninggalkannya. Ravindra melangkahkan kaki menuju kamar Nesya dan mengetuk pintu dengan pelan juga penuh rasa keraguan.


Tok!


Tok!


Tok!


Kriet. pintu terbuka.


"Nesya?" panggil Ravindra tak bersuara. Tanpa menatap dan bicara apalagi tersenyum, Nesya melangkahkan kaki menuju balkon. Namun, belum sempat sampai tujuan sepasang tangan kekar memeluk mesra tubuhnya dari belakang untuk menahan langkah kakinya agar tetap diam ditempat. Sudah dapat Nesya pastikan bahwa itu Ravindra.


"Aku minta maaf karena harus pergi dan meninggalkanmu. Tapi, aku pasti segera kembali. Dan kamu lihat sekarang, aku sudah disini. Di sisimu sayang." ucap Ravindra yang memeluknya semakin erat. Sementara Nesya terus diam mematung tak memberontak. Ravindra melepas pelukannya dan memutar tubuh sang kekasih agar saling berhadapan.


"Ok. Aku paham, kamu sedang tidak baik-baik saja sekarang, itu karena kekasihku yang cantik ini sangat mencemaskan keadaanku. Tapi, aku juga menghawatirkan dirimu bahkan lebih dari aku menghawatirkan diriku sendiri. Nesya, aku sangat mencintaimu, jauh hari sebelum kamu mengenalku dan aku tidak akan berhenti mencintaimu. Aku akan terus selalu mencintaimu hingga akhir waktu nanti. Nesya, kumohon jangan diamkan aku seperti ini, bicaralah! Marahlah! Dan pukul aku jika kamu merasa itu perlu! Tapi, tolong jangan diamkan dan abaikan aku seperti ini, sayang!"


"Aku tahu gadis bodohku ini pasti sangat lelah juga sekarang. Dan lihatlah! Sudah selarut ini dia bahkan masih terjaga, padahal besok pagi dia harus bekerja. Oh sayang, janganlah menyiksa diri sendiri dan istirahatlah! Besok kamu ada pemotretan bukan? Aku akan kemari dan mengantarmu sebagai kekasih. Maaf aku harus segera kembali. Papa hanya memberiku waktu sebentar saja dan aku tak ingin ada masalah dengan camer yang juga merupakan big bos-ku. Aku pulang, good night sayangku." Ravindra mencium kening Nesya cukup lama, membuat gadisnya terlihat memejamkan mata sesaat. Ravindra melepas ciumannya dan melangkah hendak keluar kamar. Namun, suara Nesya seketika membuatnya mengurungkan niatnya tersebut.


"Ravindra? Apa kamu berhasil menangkap orang tadi?" tanya Nesya menatap sosok didepannya. Ravindra menghentikan langkah kakinya dan tersenyum getir.


'Gadis bodohku, kenapa dia selalu saja meragukanku?' batin Ravindra yang mulai melangkah kembali mendekat pada gadisnya. Bahkan keduanya sangat dekat, hingga Nesya mendadak beku dan kelu.


"Aku pastikan akan menangkap dan menjebloskan ke penjara pada mereka yang berani melukai atau mengancam keselamatanmu dan orang yang kamu sayang, Nesya." imbuh Ravindra tepat di wajah Nesya yang berhasil membuat gadisnya itu memejamkan mata kembali menikmati hembusan nafasnya.


Untuk beberapa saat Ravindra menatap mata Nesya yang terpejam. Ravindra semakin dekat dan mengikis jarak antara keduanya.



Ia memperhatikan bibir Nesya yang tampak sedikit terbuka, seperti hendak ingin mengucapkan suatu kata. Tiba-tiba "Cup." Ravindra menciumnya kilat, kemudian menatap kembali wajah gadisnya yang telah membuka mata dan memelotot sempurna. Keduanya saling beradu pandang untuk waktu yang cukup lama. Hingga akhirnya Ravindra membuka suara dengan sedikit ragu.


"Nesya? Aku . . .?" seolah mengerti dengan apa yang akan Ravindra katakan Nesya menganggukkan kepala. Ravindra yang merasa telah mendapat lampu hijau segera meraih wajah Nesya, ******* nikmat dan pelan bibir tipis namun manis gadisnya itu. Ini bukanlah ciuman pertama bagi kedua insan itu. Tapi, Nesya merasakan ada hal yang beda dari ciuman mereka sebelumnya. Ciuman yang tak mengandung nafsu, namun justru menyalurkan rasa kerinduan dan kekhawatiran didalamnya.


'Apa sesederhana ini mencintai?'


•••


Keesokan pagi harinya, Nesya turun menuju meja makan dan dia melihat Ravindra yang telah rapi duduk dimeja makan bersama kedua orang tuanya. Ia sedikit heran dengan penampilannya yang casual dan tak se-formal seperti hari biasanya.


"Cie-cie yang pagi buta udah di apel calon suami." ledek Ratu yang juga baru saja turun dan melewati Nesya begitu saja setelah berhasil menggoda kakaknya.


"Pagi om, tante, kak Ken." sapa Ratu yang mulai mendudukkan diri dan ketiganya membalas dengan anggukan kecil juga senyuman.


"Nesya sayang, ayo kemari! Kenapa malah berdiri disana?" ucap mama Renata yang melihat putrinya diam ditempat. Nesya segera duduk didepan Ravindra yang menatapnya dengan seribu misteri.


Selesai sarapan Nesya dan Ravindra duduk di taman belakang. Sedangkan Ratu memilih menemani mama Renata.


"Ravindra, boleh aku tanya sesuatu?" ucap Nesya.


"Katakan saja, sayang! Apa yang ingin kamu tau tentang calon suamimu ini?"

__ADS_1


"Semalam . . .. Semalam kamu bilang padaku kalau kamu jatuh hati sebelum aku mengenalmu? Apa itu benar? Lalu kapan? Aku bahkan baru mengenalmu saat papa mengirim mu kemari."


"Iya. Kita sebelumnya memang pernah bertemu dan saat itu aku sangat terpana, terpesona dengan tingkah mu yang menggemaskan kala itu." jawab Ravindra.


"Mana mungkin? Aku tidak merasa jika pernah melihat dan bertemu denganmu." hardik Nesya.


"Karena kamu tidak memperhatikanku, sayang. Tapi, aku begitu memperhatikanmu bukan?"


"Bagaimana bisa begitu?" tanya Nesya tak percaya.


"Kamu mematai-matai aku atau sengaja menguntit ku? Atau ini rencana papa yang telah memintamu melakukan ini semua?" imbuh Nesya menuduh. Sementara tersangka justru tak bisa menahan tawanya, hingga membuat Nesya bingung dan kesal dibuatnya.


"Gadis bodohku sayang, bahkan pada saat itu aku belum mengenal apalagi dekat seperti sekarang dengan papamu." jawab Ravindra yang semakin membuat gadisnya penasaran.


"Baik. Baik. Aku akan ceritakan padamu dan membuatmu mengingat betapa menggemaskannya dirimu saat itu." imbuh Ravindra yang siap bercerita. Nesya pun dibuat tak sabaran olehnya.


"Katakan!"


"Dengar!" saran Ravindra yang diangguki Nesya.


"Dengar baik-baik!" Nesya merasa geram dan mencubit lengannya hingga Ravindra meringis kesakitan.


"Ok."


Flashback on


3 TAHUN LALU


Ravindra terlihat sedang berada di dalam mobil yang sedang terparkir didepan suatu restaurant, dia sibuk membalas beberapa pesan dari ponselnya hingga seseorang diluar sana tiba-tiba mengalihkan pandangannya. Ravindra menatap pada gadis yang berdiri dibalik kaca pintu mobil mewahnya.


"Gadis bodoh yang sungguh menggemaskan." ucapnya mengukir senyum dibibirnya saat melihat gadis cantik dengan dress mini merah hati menyisir rambut panjangnya dengan menggunakan jemarinya lalu menatap pantulan wajahnya sendiri dikaca pintu mobil yang sangat gelap itu. Sesaat gadis itu merasa dirinya telah terlihat rapi, gadis itu pun tersenyum dan tanpa di duga mamanyunkan bibir merahnya dan mendaratkan bibirnya pada kaca pintu mobil milik Ravindra dengan mata yang terpejam. Ya, meski bibirnya tak sampai benar-benar menyentuh kaca mobil tersebut, tapi tingkahnya cukup membuat Ravindra menggelengkan kepala dan tersenyum dengan begitu manisnya. Setelah gadis itu melangkah, Ravindra memutar kunci mobil dan hendak menyalakan mobilnya, namun karena gadis itu kembali mendekat bercermin lagi dia segera mengurungkankan niatnya dan kembali memperhatikan setiap gerak gerik gadis itu dari dalam mobil dan dengan tangan yang melipat didada ia menyandarkan tubuhnya dan membiarkan gadis bodoh itu bercermin hingga merasa puas dan benar-benar meninggalkan mobil mewahnya.


'Gadis bodoh, tapi dia sangat unik dan cantik. Senang bisa melihatmu hari ini, semoga kita sering bertemu setelah ini.' senyum Ravindra terukir mengiringi langkah kaki yang kian menjauh, hingga gadis itu masuk salah satu restaurant.


Mendengar penuturan Ravindra, Nesya menutup wajahnya sendiri karena sangat malu. Ia tak percaya bahwa di dalam mobil mewah itu ada sang pemilik yang ternyata kekasihnya sendiri kini. Ravindra meraih kedua telapak tangan Nesya yang menutup wajahnya, menggegamnya erat.


"Kenapa? Kamu terlihat sangat manis saat itu. Bahkan sampai membuatku terpana, terpesona pada padangan pertama."


"Itu sudah sangat lama dan kamu masih mengingatnya dengan jelas? Dan sejak saat itu juga kamu sudah menobatkanku sebagai gadis bodoh? Ini sungguh konyol." tutur Nesya memejamkan mata setelah menyelesaikan kalimatnya karena sungguh malu pada Ravindra.


"Tapi, aku sangat mencintai gadis bodohku ini." tutur Ravindra membawanya dalam pelukannya.


'Aaaaa! Ini sungguh sangat memalukan. Aku tak menyangka bahwa kejadian tiga tahun lalu masih diingatnya dengan sangat begitu jelas dan rinci?' batin Nesya menjerit.


Ravindra menatap wajah Nesya yang memerah seperti kepiting rebus itu. Ia mengusap lembut pipi sang gadis dan tersenyum manis.


"Apa saat itu kamu akan pergi berkencan?"


"Apa? Tentu tidak!" ucap Nesya.


"Saat itu, aku hendak menghadiri udangan temanku? Dan kamu! Apa yang kamu lakukan didalam mobil yang terparkir itu?"


"Undangan lelaki kepar** itu?" tuduh Ravindra.


"Tentu saja untuk memandang wajahmu yang cantik dan menggemaskan saat itu. Apalagi saat gadis bodoh ini hendak menciumku dari balik kaca pintu mobilku."


"Gombal. Aldo? Tentu itu bukan dia. Dan kamu? Aku sungguh . . .. Arghhh kenapa hal konyol seperti ini terjadi padaku?"


"Sudahlah sayang, kamu terlihat semakin cantik saat sedang marah. Tapi, aku tak suka mendengar nama teman lelaki breng***mu itu." tutur Ravindra.


Hening


Sunyi

__ADS_1


Sepi


"Sayang?" ucap Nesya dengan suara pelan.


"Ya, ada apa?" Ravindra menatap wajah Nesya.


"Ehm, aku ingin bertanya satu hal lagi padamu?"


"Apa itu?"


"Ini tentang . . .."


". . .. Ravindra, kenapa kamu tidak memajang foto keluargamu? Dimana mereka sekarang? Kenapa aku tidak bisa melihat salah satu fotomu atau keluargamu yang terpajang di dinding rumahmu yang lumayan besar itu. Apa kamu memiliki saudara? Dan berapa banyak? Aku ingin sekali bertemu dengan mereka, itu jika kamu tidak keberatan." imbuh Nesya yang berani mengungkapkan unek-uneknya dengan penuh semangat dan rasa ingin tahu yang tinggi.


Hening


"Sayang, ada apa denganmu? Apa aku salah bicara? Maafkan dan lupakan saja ucapanku!"


"Tidak." mata keduanya saling bertemu.


"Nesya, orangtuaku telah meninggal dunia sejak lama. Saudara? Aku tidak tahu itu, karena sejak kecil aku hanya tinggal bersama nenek, tapi saat umurku sepuluh tahun nenek meninggalkanku dan meninggalkan rumahnya juga beberapa tabungannya, untukku bertahan hidup hingga sampai aku bisa seperti sekarang ini."


"Maafkan aku, aku tidak ber . . .!"


"Tidak. Kamu tidak perlu meminta maaf padaku. Kamu harus tau apa yang memang ingin kamu tahu, sayang."


"Apa kamu tidak memiliki foto ketika bersama mereka?"


"Tidak. Tapi aku memiliki lukisan wajah mereka dibenakku dan nama mereka yang terukir dihatiku."


"Nesya? Apa bisa sebelum pemotretan kita mampir ke rumah? Aku mendadak teringat sesuatu benda yang diberikan nenek padaku."


"Apa itu? Lalu bagaimana nanti dengan Destia? Kita harus menjemputnya."


"Aku juga tidak tahu benda apa itu dan aku tidak pernah membukanya sama sekali. Nenek hanya mengatakan bahwa jika kelak aku telah menemukan tulang rusukku aku harus memberikan benda itu padamu. Soal Destia, kita bisa pergi lebih pagi agar tetap bisa menjemputnya tepat waktu bukan?" jawab Ravindra yang diangguki Nesya.


"Baik. Aku akan mulai bersiap sekarang saja."


"Ok. Aku akan tunggu disini." Nesya menganggukan kepala dan bangkit meninggalkan Ravindra.


'Apa sebenarnya isi peti yang telah nenek berikan padaku beberapa tahun yang lalu? Kenapa aku melupakannya hingga selama ini? Jika bukan karena Nesya menanyakan tentang keluargaku, mungkinkah aku tak akan pernah benar-benar mengingatnya?'


.


.


.


.


.


.


.


.


Lloha, hayo kira-kira apa isi peti peninggalan nenek Ravindra?


stay with me.


Nantikan kisah BILY episode selanjutnya.

__ADS_1


__ADS_2