
"Tidak Ravindra! Box yang satu ini hanya untukmu. Hanya untukmu. Lihatlah ini!" Ravindra yang penasaran segera meraihnya dari tangan Nesya.
Ravindra yang merasa dibuat penasaran dan tak sabaran saat melihat beberapa amplop didalamnya. Ia mengambil dan membuka salah satunya yang tertulis teruntuk cucuku Ravi, Ravindra tersayang. Ternyata dalam amplop tersebut berisi sebuah surat yang lumayan panjang.
Untuk cucuku tersayang,
Saat kamu membaca surat ini artinya nenek sudah pergi jauh dari kehidupanmu dan dunia ini. Maafkan nenek dan kakek mu Ravi. Kami berdua telah berdosa besar padamu dan sebelumnya izinkan nenek memohon padamu, maafkanlah kami berdua sayang. Kami sungguh sangat menyayangimu. Ravi cucuku tersayang, sesungguhnya kamu memiliki seorang adik kandung nak. Setelah kecelakaan maut yang merenggut nyawa kedua orangtuamu itu, baik dari pihak ayah ataupun ibumu saling menginginkan keberadaan kalian, hingga pada detik keputusan terakhir kami memutuskan untuk membawamu dan dari pihak ibumu membawa adikmu. Saat kejadian itu terjadi usiamu masih lima tahun. Sedangkan adikmu yang malang itu baru saja lahir diusia kandungan yang masih delapan bulan saat itu, bersyukur dokter berhasil menyelamatkan anak malang itu sebelum Ira, ibumu benar-benar meninggalkanmu. Ya, dia cucu kecilku yang malang tak merasa air susu ibu, kasih sayang kedua orangtua dan kami memisahkannya dari si kakak. Dari kejadian saat itu, wajar jika sampai sekarang kalian tidak saling mempertanyakannya satu sama lain. Nenek sangat ingin sekali mencari cucu kecil nenek yang malang itu, tapi nenek rasa di usia yang sangat tua ini dan penyakit ganas yang telah menggerogoti tubuh nenek, nenek tidak yakin cukup waktu untuk menemukannya nak. Semenjak kami memutuskan untuk membawamu pergi ke Surabaya, sejak saat itu pula kami tidak lagi berhubungan dengan pihak keluarga ibumu. Ravi cucuku sayang, kami sungguh sangat menyangimu, jika saja waktu itu kami mengalah dan membiarkanmu untuk tetap tinggal bersama adikmu mungkin perpisahan seperti ini tidak akan pernah terjadi dan kami tidak perlu menutupi beberapa hal darimu seperti ini. Dengar nak, kamu harus menemukan adikmu itu. Dia keluarga yang kamu miliki setelah kepergianku. Maafkan nenek karena telah mengurangi beberapa fakta yang pernah nenek ceritakan padamu mengenai orangtuamu, dan baru bisa melengkapinya sekarang ini. Nenek melampirkan beberapa foto sebagai petunjuk untukmu nak, carilah mereka. Sekali lagi maafkanlah kami.
Jaga dirimu baik-baik nak dan carilah istri yang benar-benar baik setibanya kamu beranjak dewasa nanti. Jadilah seperti ayahmu yang membanggakan namun tetap rendah hati, yang mencintai dengan sepenuh hati, yang bertanggung jawab terhadap keluarga dan masa depan anak-anaknya.
Semoga kamu selalu bahagia nak.
Temukan adik malangmu itu! Bawa dia mengunjungi dan melihatku. Terimakasih cucuku yang tersayang.
Dari yang sangat menyangi mu,
Nenekmu.
Nesya melihat wajah Ravindra yang sudah basah penuh dengan air mata. Bahkan kertas yang tadinya kering dan bersih kini telah ternoda oleh tetes air matanya. Ravindra menjatuhkan tubuhnya pada sofa, namun matanya tetap terfokus pada selembar kertas ditangannya.
'Dimana adiku yang malang itu berada nek? Dan siapa namanya? Laki-laki? Atau perempuan?'
'Ravindra janji akan menemukannya dan membawanya untuk menemui nenek.'
Nesya mendekat dan memeluk tubuh besarnya. Entah apa isi surat itu, sehingga membuat seorang Kenzie Ravindra Adinata bersedih hati. Meski begitu, Nesya tak berani untuk bertanya terang-terangan sekarang. "Sayang apapun isi surat yang ditulis nenek, itu semata karena beliau sangat menyangi mu. Kamu kuat Ravindra. Kamu tidak boleh terpuruk seperti ini." Nesya meraih dan memandangi wajah prianya lalu menghapus air matanya. Seperti apa yang selalu Ravindra lakukan saat Nesya sedang menangis.
"Saat kecelakaan dua puluh empat tahun yang lalu . . .. Nesya?"
"Iya, katakanlah Ravindra! Aku akan mendengarkan ceritamu."
"Saat kecelakaan maut itu terjadi, . . .. Ibu, ibuku saat itu sedang mengandung adikku." Nesya memejamkan mata sesaat dan saat terbuka air mata pun tak mampu tertahan, mengucur dengan derasnya.
"Dia. Adikmu, adikmu pasti bahagia bersama kedua orang tuanya di syurga sana dan mungkin saat ini mereka tengah melihat kesedihanmu. Jadi, berhentilah menangis atau mereka juga akan ikut bersedih melihatmu lemah seperti ini." jawab Nesya dengan suara yang bergetar.
"Nesya? Sayang, dia masih hidup. Adik malangku itu masih hidup." Nesya menatap mata Ravindra. Melihat keraguan di wajah gadisnya Ravindra segera menyodorkan surat itu.
"Kamu baca ini, nenek bilang kalau adik malangku itu masih hidup." Nesya mengambil selembar surat dari tangan Ravindra dan membacanya dengan teliti dan sungguh-sungguh.
"Ya, benar. Adikmu masih hidup. Kita akan mencarinya bersama." Ravindra memeluk erat tubuh Nesya. Ia tak menyangka bahwa orangtuanya tak sungguh-sungguh meninggalkannya sendirian saja.
__ADS_1
"Sayang, nenek bilang isi didalam amplop ini adalah petunjuk darinya." Ravindra mengambil amplop yang masih terletak didalam kotak. Terdapat beberapa foto berukuran 3X4 dan saat melihatnya Ravindra membelalakkan mata kaget dan tak percaya, keraguan menyelimuti hatinya.
'Ayah, ibu, . . .. Bu Renata? Bu Renata? Papa Rico? Bu Renata? Apa sebenarnya hubungan mereka? Apa mereka saudara papa atau mama? Lalu pria asing ini siapa?' batin Ravindra bertanya-tanya.
"Ravindra? Are you okay?" tanya Nesya yang khawatir melihatnya terdiam. Ravindra segera mungkin memasukan kembali foto-fotonya kedalam amplop.
"Nesya. Aku sudah lebih baik sekarang. Setidaknya masih ada harapan untuk bisa bertemu dengannya. Sayang, maafkan aku?"
"Untuk?"
"Aku membuatmu terlambat pergi ke lokasi pemotretan, sayang!" ucap Ravindra melirik arlogi-nya lalu mengantongi amplop fotonya. Dan dengan buru-buru ia meraih dua kotak perhiasan dimeja, menaruhnya didalam tas Nesya.
"Ravindra! Apa yang kamu lakukan? Dan foto-foto tadi? Apa itu sungguh bisa membantumu?" Ravindra diam namun masih sibuk memasukan kotak pemberian neneknya kedalam tas Nesya. Dan itu membuat gadisnya geram.
"Ravindra! Aku sudah bilang, aku tidak bisa menerimanya!" Ravindra masih tak menggubris dan malah menarik lengan Nesya hingga membuatnya sedikit berlari menuju mobil.
"Brak!" pintu mobil tertutup.
"Ravindra?"
"Dengar Nesya sayang, kita sudah sangat terlambat. Destia pasti akan mengomeli ku nanti. Cepat pakai seatbeltnya!" ucap Ravindra yang telah menyalakan mobil dan siap melaju.
"Ternyata bodyguard ku seorang penakut dan cengeng." ledek Nesya. Namun yang diledek malah cuek membuat Nesya mendengus kesal.
"Ravindra!"
"Rav?"
"Hallo!"
"SAYANG!" teriak Nesya murka.
"Iya. Kenapa? Kenapa kamu berteriak padaku seperti itu?"
'Apa yang sedang pria ini pikirkan? Tidak biasanya dia gagal fokus seperti ini?'
"Ledies, Apa semua wanita selalu sepertimu? Setelah berteriak dan berhasil merusak pendengaran ku lalu kamu diam membisu!" ucap Ravindra yang di ambaikan Nesya bag angin berlalu. Setelah ucapan terakhir Ravindra, keduanya dibuat sibuk oleh pemikirannya masing-masing.
'Aku harus segera menemui Jendral Rico secepatnya. Atau bu Renata saja? Tapi aku telah berjanji pada Nesya untuk menemaninya sebagai kekasih. Dia pasti akan marah kalau aku harus meninggalkannya lagi!' pikir Ravindra.
__ADS_1
'Apa yang harus aku katakan padamu Ravindra? Aku telah begitu sangat dalam mencintaimu. Tapi, kita tak bisa terus bersama. Kisah kita akan segera berakhir dan aku akan lenyap dalam sekejap setelahnya.' batin Nesya bicara.
•••
Di lokasi pemotretan, terlihat Destia berdiri tak jauh dari tempat parkir mondar-mandir, lirak-lirik sekitar dan berulang kali ia terlihat mencoba menghubungi seseorang dengan penuh rasa kesal ia terus berusaha.
"Dimana kalian berdua?"
"Hey! Pak bodyguard, aku sudah bilang tadi jangan ter . . .."
Tut... Tut...
"Dia mematikannya? Tidak sopan!" umpat Destia.
"Maafkan aku nona Destia! Kami sedikit terlambat dan soal telepon aku takut pulsa mu habis." ucap Ravindra yang tiba-tiba.
"Sedikit terlambat? Takut pulsa habis? Pak Ravindra, anda telah merusak mood saya hari ini."
"Maaf dan terimakasih."
"Terimakasih? Aku bahkan belum memaafkan mu! Dimana Nesya sekarang? Jangan lagi mengulang hal sama atau kau . . .."
"Nesya diruang make-up, nona." Destia meninggalkan Ravindra dan segera menyusul Nesya. Ia tak berhenti menggerutu tentang Ravindra.
"Destia! Aku sangat merindukanmu." ucap Nesya antusias saat melihatnya dari pantulan kaca dihadapannya.
"Bagus, setelah membuatku kebingungan menunggumu dan dimarahi juga diteriaki oleh banyak orang disini, kamu pikir aku akan lupa untuk memarahi mu balik? Setelah kamu bilang bahwa kamu sangat merindukan asisten mu ini?"
"Destia? Maafkan aku! Aku tidak akan mengulanginya lagi. Aku janji, ini yang terakhir kalinya." ucap Nesya menjewer, memegang kedua telinganya sendiri, sebagai janji tak akan melakukan kesalahan lagi.
"Kamu selalu berjanji seperti itu Nesya. Dan kamu selalu melanggarnya. Selesaikan riasnya dengan cepat mbak, atau kita akan pulang larut malam nanti!" ucap Destia melirik Nesya yang memanyunkan bibirnya.
'Emang enak? Sesekali ngerjain atasan yang juga teman. Hahaha. Itu bukan suatu tindak kejahatan kan?' batin Destia kegirangan.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.