
Nesya telah lelap didalam mobil. Sementara Destia yang duduk dibelakang celingukan memastikan keadaan teman sekaligus bosnya itu.
"Apa Nesya akan baik-baik saja kak Ravindra? Dia sama sekali tidak pernah menyentuh alkohol selama ini. Dan sekarang, tiba-tiba dengan sengaja dia minum begitu banyak." ucap Destia khawatir.
"Kamu tenang Destia, temanmu ini tidak akan mati hanya karena minuman itu."
"Baik. Jaga dia baik-baik dan pastikan bahwa om Rico tidak mengetahui hal ini. Aku turun. Kalian berdua hati-hati dijalan. Dan satu lagi tolong perbaiki hubungan kalian segera. Aku tidak ingin bintangku ini redup dan tak bisa fokus karena hal itu, toh kalian berdua saling mencintai satu sama lain." ucap Destia sebelum membuka pintu mobil.
"Apa kita sudah sampai?" tanya Nesya yang menyadari mobil terhenti, namun masih dengan mata yang tertutup.
"Ya Nesya, aku sudah sampai dirumah. Pulang dan istirahatlah yang cukup. Besok kita ada jadwal pemotretan dan syuting untuk sebuah iklan. Bye Nesya, kak Ravindra. Sampai jumpa."
Ravindra kembali menyalakan mesin mobil dan mengemudikannya dengan kecepatan normal. "Aku tidak mau pulang ke rumah! Jangan bawa aku pulang!" ocehan Nesya. "Rumah itu sudah tidak aman lagi. Meski papaku sudah memperketat keamanan sekalipun." imbuhnya masih dalam mode mata terpejam.
"Bagaimana bisa begitu? Semuanya aman-aman saja kok." ucap Ravindra berpendapat.
"Tentu saja tidak. Pria itu sangat licik dan cerdik. Dia mengintai ku meski aku didalam rumahku sendiri, bahkan dia tahu moments saat aku bersama Ravindra ditanam belakang siang tadi."
"Moments?" Ravindra tampak sedang berfikir. "Ciuman tadi siang maksudmu?" Nesya mengangguk cepat.
"Siapa pria itu?" tanya Ravindra kembali menggali apa yang Nesya coba pendam dalam-dalam.
"Ravindra. Ravindra-ku sangat membenci nama itu. Aku tak ingin membuatnya marah jika aku menyebutkan nama itu lagi. Kamu tahu, Ravindra-ku itu terlihat sangat menyeramkan saat sedang marah. Bukan! Bukan marah, tapi lebih pada kecemburuannya menurutku. Walaupun begitu Ravindra-ku selalu terlihat tampan berkarisma dalam situasi apapun. Bahkan saat wajahnya babak belur sekalipun." Ravindra mengukir senyum tipis dan menggelengkan kepala berulang.
'Si**! Jadi benar dugaan ku? Ya, siapa lagi lelaki yang sangat terobsesi pada Nesya hingga sampai segila ini. Kepa*** itu? Bahkan aku sendiri malas untuk menyebutkan nama itu.'
"Ya. So, kamu takut membuat seorang Ravindra marah karena kamu berani menyebutkan nama pria itu?" Nesya mengangguk berulangkali.
"Berhenti!" teriak Nesya mengejutkan Ravindra. Ia segera menepikan mobilnya.
"Kenapa?"
"Perutku sangat mual, aku ingin muntah." Ravindra segera membuka pintu mobil dan menuntun Nesya agar mengarahkan tubuhnya keluar juga sedikit membungkuk dan mengeluarkan semua isi perutnya. Tak lupa ia melepas jas dan memakaikannya ditubuh Nesya yang memang bagian atasnya sangat terbuka. Lalu menutup kembali pintunya.
"Bawa aku pulang ke rumahmu saja! Aku tidak mau pulang ke rumah itu. Dia terus saja mengawasiku. Aku takut. Jika saja Ravindra-ku tahu hal ini maka dia tak akan tinggal diam. Tapi aku tak mau itu terjadi, aku tak ingin Ravindra-ku celaka. Aku takut Ravin- . . .."
"Kamu tidak perlu takut Nesya, Ravindra-mu itu selalu di sisimu dan menjagamu. Kenapa kamu tidak berkata jujur saja pada Ravindra-mu itu?" Ravindra memeluk tubuh Nesya tapi dengan cepat gadis itu mendorongnya.
"Tidak. Pria itu tidak suka melihat pria lain dekat dan memelukku seperti ini. Lepaskan aku!"
"Aku bukan pria lain Nesya, aku pria yang kamu cinta dan aku sungguh mencintaimu, aku tidak akan membiarkan pria brengsek sepertinya menyentuhmu."
"Aku hanya mencintai bodyguard ku, Ravindra. Bukan dirimu!" seperti tersambar petir tubuh Ravindra bergetar hebat dan rasa bahagia menyelimuti hatinya. Ya, orang mabuk biasanya selalu berkata jujur bukan? Tapi, dia juga baru sadar dan sedikit merasa heran. Bukankah sedari tadi gadis itu berbicara padanya tapi kenapa seolah sedang bicara dengan orang lain dan selalu menyebutkan nama Ravindra dihadapannya? Entahlah.
"Bagus sayang, Ravindra bodyguard-mu itu juga sangat mencintaimu." Ravindra membuka laci dashboard dan mengambil sesuatu dari dalamnya.
"Kamu sungguh mencintai Ravindra bukan? Maka, pakai benda ini kembali. Ravindra-mu sangat senang ketika melihatmu memakai cincin indah ini di jari manismu." ucap Ravindra sambil menyematkan kembali cincin yang pernah dilepas Nesya dari jari manisnya. Nesya tak lagi merespon, mungkin dia sudah tertidur.
"Sangat menggemaskan sekali! Jangan berani minum lagi jika ingin semua rahasiamu aman, honey." ucap Ravindra mencubit kedua pipi Nesya gemas. "I love you forever, honey." ucap Ravindra memutar tuas kemudi dan melajukan mobilnya segera.
Sesampainya dirumah, Ravindra menggendong tubuh Nesya ala bridal style dan membawanya masuk. "Selamat malam Captain Ravindra. Ada apa dengan nona Nesya?" sapa sersan Dodi sebelum membukakan pintu.
"Malam. Tidak apa. Dia hanya terlalu menikmati pesta temannya, hingga kelelahan." jawab Ravindra yang kini membawa Nesya masuk menuju kamar. Semua lampu telah padam, artinya semua orang sudah pergi tidur. Sesampainya dikamar Nesya, Ravindra membaringkannya perlahan. Melepas high heels Nesya dan menyelimutinya.
"Good night my wife. Sweet dreams and forget your problems with that damn bastard." ucap Ravindra mencium kening Nesya cukup lama sebelum akhirnya meninggalkannya. Namun, belum sempat ia membuka pintu ponsel Nesya berdering terlebih dulu.
__ADS_1
๐ถ This is love story
Ini kisah cinta
that I canโt hide away
Yang tak bisa ku pendam
๋์ย ๊ฐ์ดย ์์์
neoui gaseum sogeseo
Di dalam hatiku
๊น์ดย ์ ๋ค๊ณ ย ์ถ์ด
gipi jamdeulgo sipeo
Aku ingin tertidur pulas
์ด๊ฑดย ์ฌ๋์ด์ผ
igeon sarangiya
Ini cinta
์ด๊ฒย ํ๋ณต์ด์ผ
ige haengbogiya
Ini kebahagiaan
hoksi kkum sogilkkabwa
Kalau ini sebuah mimpi
๋์ย ๋ฐย ์๊ฐย ์์ด
nuneul tteul suga eopseo
Aku tak bisa membuka mataku
This is my love story
Ini kisah cintaku
์ฌ๋ํดย ๋๋ง์
saranghae neomaneul
Aku mencintaimu, hanya dirimu ๐ถ
Ravindra kembali mendekat dan mencari ponsel itu didalam tas Nesya dan penasaran siapa yang berani menelpon gadisnya di jam istirahat seperti ini.
"Aku juga mencintaimu, hanya dirimu Nesya. Lagu yang indah, and this is your love story dear." gumam Ravindra kala telah menggenggam dan mendengar bait terakhir dari dering ponsel Nesya.
__ADS_1
"Private number? Siapa yang menelpon Nesya diwaktu tengah malam begini?" Ravindra menjawab panggilan tersebut.
"Hallo babe! Kamu sudah pulang? Belum tidur?" ucapnya bertanya namun Ravindra tetap diam dan hanya mendengarkan.
"Bagus kamu langsung mengangkat telpon dariku, setidaknya aku tidak perlu berulang kali meneleponmu seperti sebelumnya. Dan dengar! Besok pagi kita bertemu. Selamat malam dan selamat tidur, babe. Tunggu! Kamu sungguh tidak ingi mengatakan sepatah kata pun padaku? Baiklah, selamat malam." ucapnya sebelum panggilan berakhir.
'Kau benar-benar ingin bermain dengan kami, crazy man. Aku rasa otakmu memang tidak beres.' batin Ravindra berucap kala melihat history panggilan di ponsel Nesya dan menaruhnya diatas nakas.
Ravindra keluar kamar Nesya dan menutup pintu perlahan, tak lupa ia mengamati setiap sudut ruang dan melihat beberapa cctv di setiap sudut ruang.
'Setidaknya aku akan segera tahu siapa penghianat didalam rumah ini.'
"Jangan takut Nesya, ada aku disini untukmu." ucap Ravindra keluar dari kediaman Jendral Rico.
โขโขโข
Nesya terbangun dari tidurnya. Ia memegangi kepalanya yang terasa berat dan pusing. "Aku dikamar? Ini bukankah milik Ravindra? Kenapa ada padaku? Dan benda ini? Bagaimana . . .. Awww! Kepalaku terasa sakit sekali." ucap Nesya saat mengamati dirinya sendiri, ia melihat jas Ravindra dan menemukan cincin yang telah dilepasnya dan dikembalikan pada si pemberi sebelumnya, namun kini justru kembali terpasang dijari manisnya lagi. Kepalanya terasa sangat sakit hingga ia kembali memejamkan matanya lagi.
"Apa yang sudah terjadi semalam?" ucapnya tanpa berniat membuka mata.
Diluar rumah, Ravindra berhenti didepan pos satpam. "Selamat pagi pak Ravindra! Ada yang bisa saya bantu pak?" sapa pak Eko yang melihatnya mendekat.
"Pak Eko bisa tunjukan rekaman cctv yang mengarah ke taman belakang?"
"Tentu bisa pak Ravindra. Monggo ikut saya ke ruang cctv!" Ravindra kembali masuk mobil. Ya, karena jarak pos satpam dan kediaman Jendral Rico memang berjarak jauh namun sangat dekat jika naik mobil.
"Pak Ravindra kenapa ingin melihat rekaman cctv apa ada sesuatu yang terjadi? Sebenarnya beberapa hari lalu saya melihat nona Nesya tidak seperti biasanya." ucap pak Eko setelah sampai ruang cctv dan mengoperasikan komputer didepannya.
"Tidak biasa bagaimana?"
"Benar pak Ravindra. Nona Nesya terduduk diatas tanah tengah malam dan sepertinya ia sedang sedih malam itu."
"Sungguh? Tunjukan sekalian rekaman waktu itu!"
"Baik pak."
'Mungkin karena ancaman pria brengsek itu Nesya sampai seperti itu. Dan oh Tuhan!' batin Ravindra miris saat melihat Nesya keluar dari mobilnya malam itu dan berlari kecil hingga terjatuh dan menangis ditengah gelapnya malam.
"Cukup! Cari rekaman yang saya mau!"
"Tunggu! Siapa wanita itu?" tanya Ravindra saat rekaman mulai berjalan sesuai waktu dan tempat yang dimintanya tadi. Wanita yang berjalan mengendap-endap dan celingukan seperti maling. Tentu itu membuat siapapun yang melihatnya curiga.
"Setahu saya pelayan baru pak Ravindra."
"Ya. Aku juga bisa mengetahui dari pakaian yang dikenakannya. Tolong copy rekaman itu pak Eko!" pak Eko mengangguk dan melakukan perintah Ravindra.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Gantian jempolnya ya all ๐๐ฌโค