Bodyguard I Love You

Bodyguard I Love You
Tak Mendengarkan


__ADS_3

Ratu naik keatas, setelah Nesya terlihat begitu kesal padanya tadi. Ratu berharap mama Renata akan mau menjadi teman ngobrolnya.


"Tok! Tok! Tok! Tante Renata, apa Ratu boleh masuk?" tanya Ratu dibelakang pintu.


"Masuklah nak. Kenapa kemari sayang, dimana kakakmu?"


"Tante, kak Nesya sepertinya sangat kesal juga padaku, karena tidak diperbolehkan keluar rumah."


"Kakakmu hanya sedang terbawa emosi, nanti juga lunak sendiri." kata mama Renata saat telah duduk berdampingan dengannya di sofa kamar.


"Tante, ini foto masa muda tante?" tanya Ratu kala melihat album foto diatas meja.


"Iya, Ratu mau melihatnya?"


"Boleh tante?"


"Tentu saja boleh."


"Tante? Apa ada foto ayah Ratu, yang tante simpan? Mama bilang dia tidak memiliki foto ayah selama ini dan telah membakarnya bersama kenangan mereka."


"Ada, tapi tante lupa menaruhnya dimana, karena hanya tinggal album ini yang tersisa nak."


"Ya sudah tante, mungkin memang Ratu tidak akan pernah bisa melihat wajah ayah Ratu untuk selamanya."


"Ratu tidak boleh begitu. Nanti biar tante suruh pelayan untuk mencari album lainnya di gudang."


"Benarkah tante? Terimakasih tante Renata." ucap Ratu memeluk erat tubuhnya, lalu melepasnya dan kembali fokus pada album foto.


"Wah, om Rico ternyata tampan juga. Pantas saja tanteku yang cantik ini jatuh hati padanya. Tante? Siapa pemuda ini? Kenapa terlihat sangat begitu mesra dengan tante? Dan kenapa wajahnya nampak tak asing dimataku ya, tan? Apa aku mengenalnya?"


"Tentu tidak. Kalian belum pernah bertemu, dia sahabat baik tante. Kami terakhir bertemu dua puluh lima tahun yang lalu, setelah itu kami kehilangan kontak, ada yang mengatakan ia telah meninggal dunia.


"Dua puluh lima tahun yang lalu? Meninggal dunia?"


'Kok aneh ya. Kenapa pria ini wajahnya sangat familiar? Bahkan aku sama sekali belum pernah melihatnya.' batin Ratu bicara.



...( Foto yang mengganggu pikiran Ratu )...


•••


"Nona Nesya? Mau kemana nona?"


"Keluar pak Eko. Tolong buka gerbangnya, pak Eko!


"Tidak bisa non Nesya, nanti kalau Big Bos marah, terus pecat saya gimana non?"


"Pak Eko tidak perlu takut begitu. Papa hanya akan marah padaku saja, ayo lekas buka gerbangnya! Ayo pak Eko! Mang Tejo! Dimana orang itu? Manggg Tejooo! Bukain gerbangnya!"


"Saya. Siap laksanakan non Nesya." ucap Tejo memberi hormat.


"Tejo!"


"Kenapa to mas Eko? Kok kepalanya geleng-geleng begitu? Ndak lagi main tik-tok kan ya mas Eko?"

__ADS_1


"Ayo buruan buka, mang Tejo! Keburu tutup Salon, mang Tejo."


"Iya non Nesya. Monggo, silahkan non!"


"Terimakasih mang Tejo." ucap Nesya tersenyum menang.


"Tejo!"


"Opo to mas Eko, demen banget manggil namaku! Lha wong aku mang Tejo bukan Bang Toyib."


"Wolha kamu ini ya, Jo? Radong blas atau gimana to? Kok malah kamu bukain gerbangnya? Tuan besar sudah wanti-wanti kamu to, tidak boleh biarkan nona Nesya keluar rumah apalagi sampai bawa mobil sendiri! Ingat ora, Jo?"


"Waduh, iyo e mas Eko. Lha terus pie iki?"


"Dimana nona Nesya?" tanya dua penjaga pintu utama.


"Lha wis bablas, den Edo."


"Kenapa tidak ditahan?" tanya Dodi.


"Lha? Saya bukan polisi yang suka nahan orang kok, den Dodi."


"Sttt. Diam kamu Tejo!" pinta pak Eko.


"Kalau sampai Big Bos tau, beliau pasti akan sangat marah besar ini nanti. Aku harus segera melapor kepada pak Ravindra!" ucap Edo, tanpa menunggu dan berfikir lama lagi, lelaki muda itu menekan ponselnya pada salah satu nomor di contactnya.


"Hallo selamat pagi pak Ravindra, maaf pak Ravindra, nona Nesya berhasil keluar rumah, pak. Hallo. Pak Ravindra?"


"Kenapa, Do?" tanya Dodi pada Edo.


"Kita harus menyusul nona Nesya segera. Aku akan mengambil mobil, kamu tunggu disini!" ucap Dodi mulai berlari.


"Jangan beritahu Big Bos dan bu Renata dulu! Paham?" ucap Edo kepada pak Eko dan mang Tejo dengan tegas sehingga membuat keduanya menunduk. Lalu Edo dan Dodi pergi, setelah Dodi mengendari mobilnya.


•••



"Akhirnya keluar Rumah juga." ucap Nesya tersenyum senang saat telah berhasil melajukan mobilnya menjauh dari kediaman Jendral Rico.


"Drtttt." getar ponsel yang terletak di kursi sebelah kemudi.


"Ravindra? Biarkan saja, aku tak akan menjawab telponnya." ucap Nesya saat ponsel terus getar, dan terpaksa ia harus mengangkat di panggilan yang kesekian puluh kalinya.


"Ada apa, Ravindra? Aku sedang menyetir! Apa kamu akan membuatku celaka hanya karena panggilan darimu ini?"


"Nesya, kamu dimana sekarang? Berhenti mengemudi dan tunggu aku datang!"


"Kenapa mencemaskan aku, seperti aku anak kecil saja? Aku sudah biasa bawa mobil dan pergi sendiri."


"Iya, aku tahu itu. Tapi, aku ingin sekarang kamu berhenti dan tunggu hingga aku datang!"


"Kenapa kamu selalu marah padaku?"


"Iya. Tentu, karena kamu gadis bodoh Nesya. Cepat, pinggirkan mobilmu dan tunggu aku datang!"

__ADS_1


"Ravindra? Kamu berteriak padaku? Iya aku memang bodoh! Harusnya aku tidak mengangkat telpon darimu! Maaf Rav, aku sedang terburu-buru."


"Nesya tunggu! Jangan kekanakan seperti ini! Pikirkan bahaya apa yang bisa saja terjadi selain pak Rico memarahi kamu nanti!"


"Bagus. Setelah mengataiku gadis bodoh dan sekarang kamu bilang aku kekanakan? Ya, aku anak kecil yang bodoh, begitu kan maksud kamu?"


"Aku hanya minta kamu berfikir dengan logika dan kamu tidak tahu apa yang akan kamu hadapi, jika kamu . . .."


"Aaaa!"


"Nesya? Nesya! Apa yang terjadi? Nesya! Kau masih mendengarkanku kan? Nesya jawab aku! Nesya!"


•••


Setelah mendengar Nesya berteriak dan telepon yang telah terputus, hati Ravindra merasa semakin khawatir. Ia terus menambah laju mobil dan mencoba menghubungi seseorang namun tak mendapat jawaban.


"Untung ponselnya masih bisa dihubungi dan gpsnya juga aktif. Aku harus sampai sana segera." ucap Ravindra gusar. Ia terus melajukan mobil hingga semakin dekat dengan posisi Nesya.


"Cittttt!" bunyi rem yang dalam dan begitu mendadak, membuat si pengemudi kaget sendiri.


"Maaf pak, ada apa ini? Kenapa ada macet disini?" tanya Ravindra pada penjual koran yang berdiri di samping mobilnya.


"Didepan ada kecelakaan pak. Korban telah dilarikan ke Rumah Sakit. Tapi, mobil korban masih berada ditengah jalan pak. Bapak mau beli koran?"


"Tidak pak. Maaf dan terimakasih atas infonya." ucap Ravindra, setelah keluar dari mobil dan berlari mendekati TKP.


'Nesya? Itu bukannya mobil Nesya?' ucap Ravindra dalam hati.


"Pak? Bapak sedang apa? Korban baru saja dilarikan ke Rumah Sakit terdekat dan sebentar lagi polisi akan datang." ucap seseorang saat Ravindra tengah mengecek isi mobil dan hanya menemukan ponsel dan tasnya yang tertinggal.


'Gadis bodoh.' umpatnya dalam hati.


"Pak maaf, apa korban terluka parah pak? Saya teman korban pak."


"Korban pingsan sebelum dibawa ke Rumah Sakit dan saudaranya sendiri yang membawanya ke sana."


'Saudara? Apa Nesya pergi bersama seseorang? Siapa? Apa Ratu bersamanya?' tanya Ravindra dalam hati.


"Pak, bapak baik-baik saja?" tanya si bapak membuyarkan lamunan Ravindra.


"Maaf pak, saya harus ke Rumah Sakit sekarang dan terimakasih untuk infonya."


•••


"Nesya apa yang terjadi padamu? Kenapa kamu tak mendengarkan ucapanku dan melakukannya, Nesya!"


"Ratu? Aku harus menghubunginya. Apa benar dia yang bersama Nesya saat ini?" ucap Ravindra merogoh ponselnya dan berusaha menelpon.


,


,


,


,

__ADS_1


Terimakasih dan selamat membaca!


__ADS_2