Bodyguard I Love You

Bodyguard I Love You
Terluka Kembali Karenaku


__ADS_3

Ravindra telah sampai ditempat Nesya berada. Beberapa orang utusannya juga telah bersiap ditempat.


"Bagaimana? Apa situasi aman?"


"Pak, tawanan disekap didalam dan kemungkinan dia berada dilantai paling atas karena dibawah hanya ada beberapa penjaga. Dan mereka ada beberapa orang, kurang lebih sepuluh sampai lima belas orang, pak." Ravindra membawa beberapa anak buahnya mendekat dan membuat lingkaran kecil, dia menyusun strategi untuk membebaskan Nesya.


"Pak, apa tidak sebaiknya jika kita menambah prajurit?" usul salah satunya.


"Tidak, jika kita menambah personil tentu akan membuat Jendral Rico curiga."


"Maaf pak Ravindra, kami terlambat." sersan Dodi dan sersan Edo segera menempatkan posisi mereka. Ravindra sebenarnya merasa kecewa pada keduanya, namun ia sadar akan kondisi saat ini. Keselamatan Nesya jauh lebih penting dari pada mencari kesalahan orang.


"Ok. Delta team!"


"Siap Kapten! Kami Delta. Siap jalankan misi, kami Delta yakin pasti berhasil! Yakin. Pasti. Yakin. Pasti. Pasti. Berhasil!" jawab serempak dengan yel-yel semangat berkobar. Semua orang mulai menyebar dan berusaha mengepung tempat itu.


Ravindra memanjat saluran pipa untuk naik keatas, mencari celah diam-diam untuk bisa masuk ruangan Nesya berada. Sementara sersan Dodi, sersan Edo dan kelima prajurit yang lainnya menyerang dan menyelinap dari pintu utama dan pintu belakang.


•••


Nesya siuman alias sadar dari pingsan, ia melihat sekeliling. Tempat itu begitu asing baginya. Dia menangis mengingat apa yang orangtua dan Ravindra katakan padanya.


"Awww!" jerit Nesya dalam hati saat kedua tangannya terasa sakit. Ya, bahkan ia sampai tak bisa mengeluarkan suara karena memang mulutnya dilakban, kaki dan tangannya juga diikat dengan sangat erat pada sandaran kursi.


'Ravindra!' ucap Nesya dalam hati diiringi air mata yang membasahi pipinya.


'Ravindra tolong aku! Aku takut disini. Andai aku mendengarkan apapun perkataan kamu, Rav. Ini semua tak akan terjadi padaku.' batinnya terus berucap dan air mata terus berderai.


"Hai nona! Apa kau sedang menangis?" tanya salah seorang lelaki yang terlihat menyeramkan.


"Kau bicara apa nona?" imbuh si peculik meledek Nesya yang terus meronta dan bergumam tak jelas.


"Heh! Ingat kata bos! Jangan macam-macam dengannya. Atau bos akan murka." ucap yang lain mengingatkan, akan perintah yang telah diberikan bos besarnya.


"Bos tidak melihatnya kan?" balasnya santai.


"Bodoh! Apa kau lupa? Setiap dinding ditempat ini memiliki telinga." Nesya yang mendengar ucapan keduanya mengangkat kaki dan mengayunkannya, memberontak dan ingin melepaskan diri.


"Hei nona, tenanglah atau kau akan terluka! Berhenti menyakiti diri sendiri! Tunggulah sampai bos besar datang, dan kau akan tamat! Hahaha." Mendengar ucapan itu membuat hati Nesya semakin kalut dan menyesali perbuatannya.


"Ravindra? Aku sungguh dalam bahaya saat ini! Ravindra datanglah! Ku mohon, selamatkan aku untuk yang kesekian kalinya!" teriak Nesya yang terdengar tak jelas ditelinga orang yang mendengarnya.

__ADS_1


"Diam! Berisik! Kau mengganggu ketenangan kami, nona."


•••


Ravindra mulai menemukan jalan masuk ke ruangan dimana Nesya disekap. Dia berusaha untuk bisa masuk lewat jendela lantai tiga tanpa ada yang menyadari apalagi melihatnya sebelum Nesya ditangannya.


"Ingat, jangan gunakan senjata kalian sebelum Nesya ditangan kita! Kita harus melindunginya dan jangan sampai keributan membuatnya semakin dalam bahaya!" ucap Ravindra pelan mengingatkan seluruh prajuritnya yang masing-masing terhubung dengan bluetooth headset ditelinga masing-masing.


Ravindra melihat sekitar dan terlihat dua lelaki berdiri di depan pintu. Saat salah satu dari mereka mendekat, ia segera menarik dan memukulnya hingga terkapar tak sadarkan diri.


"Siapa di sana?" teriak seseorang mendekat kembali kearahnya. Ravindra segera sembunyi dan memukul kepalanya dari belakang dan melumpuhkannya. Ravindra segera mendekati ruangan dimana Nesya berada dan membuka sedikit pintunya, ia melihat suasana didalam. Terlihat ada tiga lelaki berjaga didalam ruangan.


Ravindra mengeluarkan pistol yang melekat di lengan kakinya, menarik pelatuknya dan bersiap melepaskan tembakan. Namun, ia mengurungkan niatnya begitu melihat wajah Nesya. Ia tersadar, bahwa untuk menyelamatkan nyawa gadis itu tidaklah main-main. Perlu strategi yang tepat.


'Ravindra?' batin Nesya berucap kala menangkap bayangan bodyguardnya itu. Ravindra segera memberi kode pada Nesya agar tetap tenang. Dengan langkah hati-hati, Ravindra memukul pundak kedua lelaki itu bersamaan dari arah belakang dan melompat hingga terguling tepat didepan Nesya.


"Hei! Siapa kamu?" ucap salah seorang yang tak mendapat pukulan dari Ravindra yang langsung membantu kedua kawannya bangkit. Ravindra sudah menarik lakban di mulut Nesya dengan perlahan, dan segera mungkin Ravindra mengarahkan senjatanya dan menembakan bebas di udara guna memanggil semua teamnya.


Dor!


"Aaaa. Ravindra?" teriak Nesya histeris.


"Kalian bertiga diam ditempat atau peluru ini akan menembus jantung kalian!" ancam Ravindra sambil melepaskan ikatan Nesya.


"Apa yang akan kau lakukan sekarang, pak? Kami tidak takut padamu, pak."


"Dor!" Ravindra merengkuh tubuh Nesya membawanya kedalam pelukannya dan berputar menghindari setiap peluru yang ditembakkannya oleh para penculik.


Dor!


Dor!


Dor!


Ravindra melepaskan beberapa tembakan dengan kedua tangannya sambil berputar dengan posisi Nesya kini di gendongan sang bodyguard, seperti bayi koala. Ya, Nesya yang terlihat amat ketakutan dengan tubuh yang telah bergetar lalu gadis itu melingkarkan kedua kakinya pada pinggang Ravindra, meski gadis itu telah bersusah payah menutup mata dan telinganya dengan tangan yang tetap melingkar erat dileher bodyguardnya, akan tetapi suara tembakan itu tidak bisa ia abaikan begitu saja.


"Ayo, kita keluar dari sini." ucap Ravindra tepat ditelinga Nesya dan masih dalam posisi sama. Nesya segera turun dari gendongan Ravindra.


"Dor!" peluru mengarah pada tubuh Nesya yang baru melangkah beberapa langkah saja. Ravindra sontak menariknya kembali dalam pelukannya dan memberi tembakan bertubi pada orang itu.


Dor!

__ADS_1


Dor!


Dor!


Nesya hanya bisa membekap mulut dengan kedua tangannya dan air mata yang kembali berderai, saat melihat darah segar keluar dari lengan Ravindra.


"Pak Ravindra, anda terluka?" tanya sersan Dodi yang baru saja muncul.


"Aku baik-baik saja. Kalian urus saja mereka!" ucap Ravindra setelah berhasil melumpuhkan lawan.


"Siap, pak!"


Ravindra membawa Nesya turun dan keluar dari gedung dengan air mata yang terus berjatuhan.


"Pak, apa anda dan nona Nesya baik-baik saja? Pak, anda terluka." tanya Edo yang mendekat saat melihat keduanya.


"Iya. Edo, kamu urus mereka jangan biarkan salah satu dari mereka lolos! Aku akan ke Markas setelah mengantarnya kembali." ucap Ravindra melirik sekilas Nesya.


"Baik. Siap laksanakan pak."


•••


Didalam mobil, Ravindra mulai menyalakan mesin dan hendak menginjak gasnya, namun ia mengurungkan niatnya saat Nesya memeluknya tiba-tiba dan membuatnya kaget. Nesya melepas pelukannya, merobek lengan bajunya yang tipis dan mengikatkannya pada lengan Ravindra yang terluka.


"Maafkan aku. Aku tidak tahu jika akan terjadi hal seperti ini. Dan kamu terluka kembali karena kebodohan aku. Maafkan aku, Ravindra." ucap Nesya yang merasa bersalah pada Ravindra.


"Lain kali jangan pernah pergi sendiri lagi. Dan dengarkan kata orang-orang yang peduli dan sangat menyayangimu. Jangan membuat kami khawatir." jawab Ravindra menghapus air mata lalu memeluk Nesya.


"Aku akan mengantarmu pulang." imbuh Ravindra setelah melepaskan pelukannya.


"Tidak. Kita akan ke Rumah Sakit sekarang. Biarkan aku yang mengemudikan mobilnya.


"Aku harus mengantarmu pulang terlebih dulu. Sebelum hari petang dan kita harus cepat kembali sebelum pak Rico curiga."


"Aku akan bicara sendiri dengan papa nanti, sekarang yang terpenting kamu ke Rumah Sakit dan obati luka kamu segera." Nesya yang terus memaksa, membuat Ravindra terpaksa mengiyakan keinginan Nesya.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2