
Ravindra membuka mata, bangun dari tidurnya. Ia mengucek mata tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ya, ia kaget saat mendapati sosok Nesya yang tidur berbaring diatas ranjangnya dan dengan cepat ia menarik selimut agar menutup tubuh gadis itu.
"Astaga. Gadis bodoh! Kenapa kamu selalu berbuat hal bodoh, Nesya?"
"Apa kamu sedang berbicara padaku?" sahut Nesya melotot, namun masih tetap pada posisinya berbaring.
"Bangunlah! Apa yang kamu lakukan disini? Kenapa tidur di kamarku dan seranjang pula denganku?"
"Aku tidak nyaman tidur di sofa, tubuhku terasa sakit juga. Jadi, aku tidur disini. Tapi, kamu bisa lihat sendiri kan? Aku tidak berbuat macam-macam denganmu. Seriously."
"Aku tidak mintamu tidur di sofa, Nesya. Aku mengatakan agar kamu tidur dikamar sebelah semalam! Dan lagi? Kenapa kamu memakai kemeja itu?" Nesya yang telah berdiri, berjalan kearah cermin.
Nesya melihat dirinya dari pantulan cermin, yang menampakkan dirinya mengenakan kemeja Ravindra yang berwarna putih, berlengan panjang, namun hanya menutup setengah bagian tubuhnya saja, membuat Ravindra tak nyaman untuk melihatnya, ditambah lagi kainnya yang berbahan tipis dan sangat transparan, dan dua kancing atas yang terbuka memperlihatkan apa yang seharusnya tak terlihat.
'Argh! Untung aku mengetahuinya setelah pagi. Bagaimana kalau semalam . . .? Aku yakin, aku tidak bisa mengendalikan diri karena ulah konyolmu ini, Nesya.' umpat Ravindra dalam hati.
"Why? Apa ada yang salah dengan kemeja ini? Aku menyukainya. Meski lengan panjang, tapi tidak membuatku merasa kepanasan." Nesya memutar tubuhnya menghadap Ravindra yang membuang muka tak memperhatikannya. Nesya bukannya sadar akan letak kesalahannya, ia malah mendekati Ravindra dan berdiri tepat dihadapannya.
"Tentu kemejanya tidak salah, karena orang yang memakainya yang salah!" jawab Ravindra hendak bangkit dan berniat pergi ke kamar mandi. Namun, Nesya menahan tubuhnya agar tetap duduk.
"Ravindra! Kamu berbicara padaku, tanpa bertatap muka? Sungguh itu tidak sopan! Ravindra, kita sedang berbicara. Mengapa kamu membuang muka seperti itu padaku? Apa salahku memakai pakaian ini? Kenapa kamu selalu marah padaku? Apa kamu marah karena aku telah memakai kemeja milikmu?" Ravindra masih saja diam dan tak menatapnya.
"Baiklah aku akan menggantinya dengan yang baru nanti, kamu tak perlu memakai pakaian bekas aku, bukan? Dan biarkan saja aku tetap menyimpannya dan memakainya lagi saat aku ingin." Mendengar ucapan Nesya, Ravindra bangkit dengan kasar dan berjalan menuju lemari, mengambil selembar kain batik. Ia kembali kearah Nesya dan melilitkan kain itu ditubuh Nesya dengan susah payah. Tentu, mengingat tangan Ravindra yang masih menggunakan arm sling.
"Ini akan terlihat lebih baik dari sebelumnya." ucap Ravindra saat telah selesai mendandani Nesya. Tak lupa ia mengancingkan kancing kemejanya hingga kancing teratas, membuat leher gadis itu tak terlihat, karena Ravindra telah menaikkan kerah kemeja Nesya. Ravindra pun tersenyum menang menatap gadis di hadapnya sekarang.
"Ravindra apa yang kamu lakukan? Ini? Kamu mendandaniku ala boneka India. Ravindra, aku merasa sangat gerah, Rav! Masalahnya ini bukan kain sari, batik ini berbahan panas dan aku tidak suka!" Nesya membetulkan kerah kemejanya dan hendak melepas kain itu, namun dengan gerakan sigapnya Ravindra menahan tangan Nesya, menggenggam erat pergelangan tangannya.
"Ini lebih anggun dan indah dipandang mata. Aku akan segera meminta seseorang agar mengirimkan pakaian untukmu. Dan ingat! Jangan lagi memakai pakaian seperti itu, apalagi dihadapan orang lain. Apa kamu mengerti?" Ravindra melepaskan tangannya setelah Nesya menganggukkan kepala takut.
Ravindra menghubungi sersan Dodi dan segera masuk kamar mandi setelahnya. Nesya mendudukkan diri sambil memainkan jarinya. Nesya merasa sungguh bosan saat merasa Ravindra sangat lama didalam sana.
__ADS_1
"Apa yang Ravindra sedang lakukan didalam sana?" pikir Nesya heran. Satu jam sudah Nesya menunggu.
•••
Dikediaman Jendral Rico, sersan Dodi terlihat sedang mencari Ratu. Namun justru ia berpapasan dengan mama Renata.
"Dodi? Sedang apa kamu disini?" tanya mama Renata bingung. Pasalnya baik Dodi maupun Edo tak pernah masuk dan hanya akan berjaga didepan pintu.
"Bu Renata, selamat pagi. Maaf, tadi pak Ravindra menelpon dan meminta agar saya menjemput dan mengirimkan pakaian untuk nona Nesya. Saya berniat meminta tolong pada nona Ratu, agar mengambilkan gaunnya."
"Saya akan siapkan, kamu tunggu dibawah nanti saya antar."
"Baik bu Renata. Saya permisi."
Sersan Dodi menuruni anak tangga hendak kembali ke pintu utama. Namun terlebih dulu pak Jendral Rico memanggilnya.
"Selamat pagi pak Jendral." ucapnya sembari memberi hormat.
"Duduklah!"
"Apa yang sebenarnya sudah terjadi kemarin? Kenapa kamu dan Sersan Edo meninggalkan rumah dan tiba-tiba Nesya berada dirumah Ravindra?" tanya Jendral Rico to the poin. Sersan Dodi hanya terdiam, dia bingung harus bagaimana menjawabnya.
"Sersan Dodi! Anda mendengarnya?" ucap sang Jendral saat tak kunjung mendapat jawaban.
"Maaf pak Jendral Rico, alangkah baiknya jika pak Ravindra yang memberi penjelasan langsung nanti."
"Baiklah. Mungkin kali ini saya harus mengikuti perintah Sersan Dodi?"
"Maaf pak Jendral . . .."
"Kembalilah dengan tugasmu! Saya tidak butuh kata Maaf!" sahut Jendral Rico tegas.
__ADS_1
"Siap! Selamat pagi pak." pamitnya tak lupa memberi hormat kembali sebelum melangkah pergi.
"Ravindra? Mengapa kamu menyembunyikan ini semua dariku? Kenapa kamu tidak melaporkan apapun padaku?" ucap Jendral Rico penuh tanda tanya.
•••
Ravindra selesai mandi, namun ia tak menemukan Nesya diruang kamarnya. Ia segera bergegas keluar mencarinya. Ravindra terhenti saat mendengar obrolan dan ia mencoba untuk mendekati sumber suara.
"Non Nesya pacar tuan muda, ya? Maaf non saya lancang, tapi selama saya bekerja disini saya tidak pernah melihat tuan muda membawa perempuan. Bahkan tadi saya merasa sangat syok saat melihat non."
"Saya bisa melihatnya juga tadi mbok. Muka dan ekspresi mbok yang sangat lucu. Mungkin karena pakaian ini? Mbok pasti mengira saya hantu dari India. Entahlah! Ravindra benar-benar membuatku tersiksa karena kain ini." ucap Nesya kesal mengingat kejahilan Ravindra.
"Kamu juga telah menyiksaku dengan kemejaku itu, Nesya." umpat Ravindra sangat pelan.
"Non sangat cantik, seperti boneka India versi nyata."
"Mbok meledek saya, ya?"
"Kalau non Nesya tidak cantik, tidak mungkin tuan muda jatuh hati dan membawa non Nesya kemari."
'Mbok tidak tahu saja, aku sendiri yang memaksanya tetap tinggal disini, bukan karena keinginannya sendiri.' ucap Nesya memelas dalam hati dan tersenyum pada wanita paruh baya dihadapannya.
Ravindra yang melihat dan mendengarkan obrolan mereka ikut tersenyum. Ia kembali ke kamarnya saat mengetahui Nesya ada di dapur bersama pembantunya. Ya, hari ini pas sekali pembantunya datang ke rumahnya.
.
.
.
.
__ADS_1
...Semoga kita semua selalu dalam lindungan Allah Swt. Dan diberi nikmat sehat selalu. Amin....