Bodyguard I Love You

Bodyguard I Love You
Ingin Merawat dan Bertanggung Jawab


__ADS_3

Dimeja makan, Nesya terus menatap Ravindra. Namun, tetap tak membuat pria itu bereaksi atau berbicara sepatah katapun.


'Ada ada dengannya? Pria yang aneh! Kadang dia baik, kadang ramah, kadang marah, kadang jutek dan terkadang cuek!' umpat Nesya terus saja menatap pria didepannya.


"Rav?"


"Ravindra? Aku sedang berbicara padamu. Apa aku bisa membantumu?" tanya Nesya saat melihat Ravindra kesulitan menyendok nasi. Nesya mendekat dan mengambil piringnya.


"Aku akan menyuapimu."


"Tidak perlu! Aku bisa melakukannya sendiri."


"Diam dan buka saja mulutmu!" Ravindra akhirnya menurut dan membiarkan Nesya menyuapinya.


"Lagi! Buka mulutmu lebih lebar, Rav!" Ravindra hanya bisa menggelengkan kepala.


"Maaf tuan Ravindra, non Nesya, didepan ada tamu yang menunggu." ucap mbok Narti pembantu Ravindra.


"Sebentar lagi saya ke sana, mbok tolong buatkan minuman untuknya!" tutur Ravindra.


"Baik tuan."


"Mbok siapa tamunya? Datang sepagi ini? Laki-laki atau perempuan? Tua atau muda?" tanya Nesya membuat Ravindra harus menatap wajah gadis itu.


'Untuk apa dia bertanya begitu?' ucap Ravindra dalam hati.


"Lelaki muda yang cukup tampan, non Nesya." jawab mbok Narti tersenyum lalu pergi.


"Aku sudah kenyang. Kamu pergilah mandi, aku akan mengantar pakaian keatas nanti!"


"Tapi, ini belum habis? Habiskan dulu!"


"Kamu yang kebanyakan mengambilkannya. Cepatlah pergi mandi!"


"Ehm. Baik." jawab Nesya mengangguk, lalu ia pergi ke kamar Ravindra.


•••

__ADS_1


"Selamat pagi, pak Ravindra!" ucap si tamu berdiri memberi hormat saat melihat Ravindra mendekat lalu duduk bersamaan dengannya.


"Pak, ini pakaian untuk nona Nesya. Bagaimana kondisi bapak sekarang? Apa sudah merasa lebih baik?"


"Tentu. Dalam beberapa hari ke depan mungkin sudah tidak perlu lagi memakai arm sling ini. Sersan Dodi, bagaimana dengan orang-orang itu? Apa kalian mendapat petunjuk dari mereka?"


"Tidak pak. Mereka lebih memilih mati daripada berbicara."


"Tuan. Silahkan diminum kopinya."


"Terimakasih mbok. Mbok boleh minta tolong bawa ini ke kamar atas dan panggil Nesya kemari."


"Baik tuan muda. Saya permisi." Mbok Narti pergi ke kamar majikannya dengan membawa paper bag ditangannya.


"Permisi! Non Nesya? Ini mbok Narti, non."


"Masuk saja mbok, pintunya tidak dikunci!" Mbok Narti masuk dan memberikan barang dari majikannya tadi pada Nesya.


"Non, ini dari tuan muda dan tuan bilang supaya nona Nesya segera turun."


"Baik mbok, mbok turun saja duluan. Saya ganti baju terlebih dulu." Mbok Narti keluar dan menutup pintu dengan rapat.


•••


"Nona Nesya?" ucap sersan Dodi menatap nonanya.


"Tentu, dia kemari untuk menjemputmu. Cepat pulang bersamanya!" ucap Ravindra pelan namun tetap berwibawa.


"Ravindra? Apa kamu tidak suka aku tinggal disini menemani dan merawatmu?"


"Nesya, cukup. Aku sudah lebih baik sekarang. Semalam kamu sendiri yang bilang pada Jendral Rico, kalau kamu akan pulang paginya, kan? Aku masih harus bekerja, kamu pulanglah! Dodi, bawa gadis keras kepala ini pulang!"


"Ravindra! Aku tidak akan pergi kemanapun. Jadi, kamu tidak perlu pergi bekerja hari ini. Sekarang aku yang akan menjagamu disini."


"Nesya, ku mohon. Jendral Rico sudah menungguku."


"Bagus, jadi kita bisa pergi bersama."

__ADS_1


"Nona Nesya, ibu Renata sudah menunggu anda dirumah. Ia sangat menghawatirkan nona sejak kemarin." Nesya tak merespon perkataan sersan Dodi. Ia hanya memandang Ravindra lalu melangkah dengan kesal, meninggalkan rumah itu.


"Pak, saya permisi." pamit sersan Dodi.


Ravindra mengangguk. Ia pandang Nesya yang sudah keluar rumahnya lalu menggelengkan kepala. "Nesya. Nesya."


•••


Sesampainya dirumah, Nesya segera keluar dari mobil dan masuk kedalam rumah dengan wajah yang sangat kesal.


"Kak Nesya sudah pulang? Tante Renata! Kak Nesya sudah pulang!" teriak Ratu heboh.


"Queen! Diam!"


"Kak Nesya. Kenapa? Kakak marah? Dengan siapa?"


"Queen!"


"Nesya sayang, kok gitu sama saudara?" tegur mama Renata pelan, lalu memeluk putrinya yang terlihat sedih.


"Mama, Nesya capek." keluh Nesya manja.


"Pergilah istirahat! Apa kamu sudah sarapan?" Nesya hanya mengangguk lemas.


"Ada apa denganmu? Kenapa terlihat kacau seperti ini?" tanya mama Renata mengelus rambut putrinya.


"Mungkin kak Nesya habis diputus pacar! Tidak! Dia kan tidak punya pacar! Aaah! Pasti bertengkar dengan calon suami." ucap Ratu menebak-nebak.


"Ratu?" mendengar panggilan tantenya, Ratu hanya diam dan kembali fokus pada ponselnya.


"Ma, hari ini Nesya ada pemotretan, tapi Ravindra sedang sakit. Nesya ingin sekali merawatnya dan bertanggung jawab karena telah membuatnya terluka lagi. Tapi, dia malah menyuruh penjaga itu menjemput dan memaksaku pulang."


"Ratu bilang apa tante! Kak Nesya bertengkar dengan kak Ken."


"Ravindra sudah dewasa nak. Dia bukan anak kecil yang harus selalu dijaga dan dikurung didalam rumah saat sedang sakit. Dia juga mempunyai tanggung jawab yang harus dikerjakan. Ia tahu kondisi tubuh dan kemampuannya."


"Mama? Dia tertembak karena menyelamatkanku dan apa itu tidak sakit? Peluru menembus lengannya dan bagaimana dia bisa bekerja, jika makan saja ia begitu kesulitan?"

__ADS_1


"Mama tahu apa yang Nesya rasakan, tapi Nesya harus ingat! Ravindra lelaki hebat dan kuat. Meski peluru menembus tubuhnya sekalipun ia baik-baik saja kan? Lagi pula jika Dokter sudah menanganinya semua akan aman." ucapan mama Renata mencoba menenangkan hati putrinya.


__ADS_2