Bodyguard I Love You

Bodyguard I Love You
Sandiwara Penolakan ( special episode )


__ADS_3


Nesya terlihat sedang berdiri didepan lemarinya, dia masih sibuk memilih gaun mana yang akan dipakainya. Ia mengambil berapa gaun dari dalam lemari dan melihatnya.


"Aku bingung, aku tidak tahu kemana dia akan membawaku pergi? Ke pesta kah? Atau sekedar jalan-jalan atau makan siang? Entahlah!"


'Aku pikir baju yang ini lebih cocok! Setidaknya ini terlihat sopan, sama seperti pakaian yang selalu Ravindra kenakan, formal.' ucap Nesya dalam hati kemudian memainkan salah satu matanya tanda OK atau cocok. Nesya segera mengganti pakaiannya dan turun menemui Ravindra yang telah menunggunya dilantai bawah.


•••


Ravindra tengah duduk di sofa, asyik memainkan ponselnya. Dia mendengar suara high heels yang memecah keheningan setiap kali langkah itu menuruni anak tangga. Ravindra melihat sosok Nesya turun dengan santai, mengenakan gaun lengan panjang elegant yang membuatnya terlihat semakin cantik. Ya, karena baginya Nesya memang selalu terlihat cantik.



"Apa gaun ini terlalu buruk? Aku akan ganti lagi jika iya." tanya Nesya meminta pendapat saat melihat Ravindra terus diam menatapnya.


"Tidak. Kamu terlihat sangat cantik. Bisa kita pergi sekarang?"


"Sebenarnya kamu akan mengajakku pergi kemana? Apa aku tidak akan salah kostum nanti? Aku takut kalau sampai membuatmu malu."


"Tenanglah, Nesya! Tidak akan ada mata lain yang memperhatikan gaun dan wajahmu selain aku di sana." Ravindra meraih lengan Nesya dan menggandeng tangannya, membawanya keluar rumah dan memasuki mobil. Selama di perjalan Ravindra terus saja diam, ia lebih fokus pada jalanan yang lumayan padat. Jangan tanyakan Nesya, dia tak henti menggerutu pada Ravindra. Beberapa jam kemudian mobil telah berhenti.


"Apa kita sudah sampai? Tentu. Kita sudah sangat lama berada didalam mobil." tanya Nesya yang juga dijawab sendiri.


"Eh, tempat apa ini? Kenapa terlihat sepi?"


"Ayo kita masuk!" ajak Ravindra yang telah membukakan pintu dan mengulurkan tangan.


'Apa yang sedang pria ini rencanakan sebenarnya?' tanya Nesya dalam hati. Ia meraih uluran tangan Ravindra dan melangkah beriringan, setelah Ravindra menutup kembali pintu mobilnya.


Mereka melangkah memasuki sebuah gedung yang didalamnya gelap gulita, bahkan Ravindra telah menyalakan senter hp-nya saat itu. Nesya tidak bisa menebak hal apa yang akan dilakukan oleh bodyguarnya.


"Nesya tutup matamu dan jangan berani mengintip!" ucap Ravindra.


"Ravindra, tempat ini sudah cukup gelap. Untuk apa aku harus menutup mataku? Aku bahkan tidak bisa melihat meski mataku terbuka sekalipun. Padahal, ini masih siang hari kan? Apa kamu merencanakan hal buruk padaku?" untuk sejenak Nesya menghentikan langkahnya. Membuat sang bodyguard harus menatapnya dalam kegelapan.


"Kamu percaya padaku? Maka tutup matamu dan jangan dibuka sebelum aku menyuruhmu membuka mata! Dan ingat! Jangan mengintip!" ucap Ravindra tenang. Mereka kembali meneruskan langkah mereka yang entah dimana tempat itu berada Nesya sendiri tidak tau.


"Awas ada anak tangga!" ucap Ravindra memperingatkan Nesya.


"....." gerutu Nesya tak jelas.


Setelah berjalan dalam kegelapan cukup lama. Ravindra berhenti dan meraih kedua tangan Nesya.


"Apa sudah sampai? Apa aku sudah boleh membuka mataku? Kenapa masih gelap gulita? Aku bahkan tidak bisa melihat wajahmu. Aku hanya mencium aroma wangi disekitar kita. Ravindra nyalakan kembali senternya!" ucap Nesya.


"Tunggu sebentar, aku melupakan sesuatu! Tetap berada di tempatmu dan jangan bergerak!" Ravindra menjauh dari tubuh Nesya.


"Ravindra, kamu jangan gila! Jangan tinggalkan aku sendiri! Apa kamu sengaja meninggalkanku ditempat yang gelap seperti ini? Aku yakin tidak bisa keluar, setelah jalan begitu lama ditempat gelap ini. Ravindra kembali! Aku sungguh takut sendirian! Ravindra? Rav!" teriak Nesya.


Tak lama kemudian Nesya terkejut dan membuka mata saat mendengar seseorang berbicara dengan mikrofon yang diiringi dengan suara musik dan lampu kelap-kelip dengan berbagai warna yang mulai menyala hingga menjalar kebawah sampai pada tulisan 'MARRY ME' dan menyala terang menghias sempurna ruangan itu.


"Nesya, kali ini aku sungguh bersungguh-sungguh. Aku tidak pernah bermain-main jika sudah menyangkut tentang hati dan masa depanku. Kali ini aku mohon padamu. Dengarkan aku, hanya sebentar saja. Mungkin suaraku memang tidak terlalu bagus tapi ini tulus dari hatiku yang terdalam. Dengar aku, Nesya!" Ravindra mengakhiri kalimatnya dan mulai bernyanyi dengan diiringi oleh seorang pemain piano.


🎼 Dengarkanlah wanita pujaan ku


Hari ini akan ku sampaikan


Hasrat suci kepadamu Dewi ku


Dengarkanlah kesungguhan ini


Aku ingin, mempersunting mu


Tuk yang pertama dan terakhir


Jangan kau tolak dan buatku hancur


Ku tak akan mengulang tuk meminta


Satu keyakinan hatiku ini


Kamulah yang terbaik untukku


Dengarkanlah wanita impianku


Hari ini akan ku sampaikan


Janji suci satu untuk selamanya


Dengarkanlah kesungguhan ini


Aku ingin, mempersunting mu

__ADS_1


Tuk yang pertama dan terakhir


Jangan kau tolak dan buatku hancur


Ku tak akan mengulang tuk meminta


Satu keyakinan hatiku ini


Kamulah yang terbaik untukku


"Nesya, meski aku sadar aku bukanlah yang terbaik, tapi aku akan mencoba memberikan yang terbaik untukmu. Nesya, be my wife!" ucap Ravindra disela nyanyiannya tetap dengan suara piano yang mengiringinya. Nesya hanya diam terpaku, tak percaya dengan apa yang bodyguardnya lakukan sekarang ini. Ravindra mulai fokus kembali pada lirik lagunya.


Jangan kau tolak dan buatku hancur


Ku tak akan mengulang tuk meminta


Satu keyakinan hatiku ini


Kamulah yang terbaik untukku


Jangan kau tolak dan buatku hancur


Ku tak akan mengulang tuk meminta


Satu keyakinan hatiku ini


Kamulah yang terbaik untukku


Kamulah yang terbaik untukku 🎼


Saat Ravindra telah selesai menyanyikan lagunya, lampu menyala sepenuhnya dan memperlihatkan dengan jelas seluruh isi ruang itu. Nesya menutup mulut dengan kedua tangannya, ia tak percaya bahwa seorang Ravindra bisa melakukan hal super romantis seperti ini. Nesya berputar, sorot matanya melihat seluruh sudut ruang yang dipenuhi hiasan balon, bunga, dan kawan serupanya. Matanya menatap tubuh Ravindra yang mulai mendekat dan semakin dekat padanya, lalu membawanya pada sebuah meja yang tak jauh dari tempatnya berdiri sejak tadi.



"Maafkan suara jelekku." pinta Ravindra.


"Tidak terlalu buruk, bahkan sangat bagus. Tapi, apa harus mengubah liriknya?" tanya Nesya.


"Apa kamu sedang menjuri-i-ku?"


"Tidak. Tapi, jika Yovie & Nuno mendengarnya tadi saat kamu bernyanyi pasti mereka akan marah, karena dengan sengaja kamu merubah kata malam menjadi hari dan lirik yang seharusnya 'akulah yang terbaik untukmu' ja- . . .."


"Ya. Kamulah yang terbaik untukku, Nesya." sahut Ravindra cepat.


Keduanya mendudukkan tubuh mereka saling berhadapan. Nesya kembali dibuat senam jantung saat seorang pelayan meletakkan piring hidangan dihadapannya yang bertuliskan 'will you marry me' diatas piringnya lengkap dengan kotak cincin berlian ditengahnya.



"Ravindra, apa lagi ini? Kamu membuatku senam jantung berulang kali dalam beberapa menit terakhir." ucap Nesya dengan air mata yang tak terbendung lagi. Ravindra dengan sigap menghapusnya dengan ibu jarinya dan tersenyum kecil.


"Aku sengaja menyiapkan semua ini untukmu, Nesya. Aku tidak ingin kamu berfikir bahwa aku hanya main-main denganmu dan perasaanmu. Dan aku bersungguh-sungguh Nesya. Nesya, jika kamu memang serius padaku maka menikahlah denganku. Aku tidak memaksamu untuk menikah secepatnya atau dalam waktu dekat ini. Tapi, aku hanya minta agar kamu bersedia mengenakan cincin itu, sebagai tanda bahwa kamu adalah milikku dan kamu harus siap untuk menjaga hati dari pria selain aku."


"Nesya, jika kamu menerimaku, kenakanlah cincin itu. Tapi, jika kamu menolak, kamu bisa mengabaikan cincin itu dan mintalah agar aku segera mengantarmu kembali." imbuh Ravindra tegas.


Hening


Sunyi


Sepi


"Ravindra?" ucap Nesya pelan.


"Iya. Katakan saja!" Ravindra berkata dengan penuh semangat.


"Ravindra, ayo antar aku pulang sekarang!"


Duarrr


Seketika Ravindra melemas, tubuhnya bagai mendapat tembakan senjata api yang tepat bersarang di jantungnya. Ia mengangguk tanpa berkata, Nesya juga terlihat telah berdiri disampingnya yang masih duduk manis pada kursinya. Nesya mulai melangkah, Ravindra menatap pilu pada kotak cincinnya yang masih belum terjamah tangan Nesya sama sekali. Ia melangkah mengikuti Nesya yang sudah jauh berada didepannya.


"Ravindra?" ucap Nesya ragu saat telah sampai pada pintu exit.


"Iya. Ada apa, Nesya?" tanya Ravindra datar.


"Aku seperti telah meninggalkan barangku."


"Tunggu disini! Aku akan mengambilkannya untukmu." jelas Ravindra.


"Baik." ucap Nesya nurut.


10 minutes later


"Nesya, aku tidak menemukan barang apapun didalam, apalagi barangmu yang tertinggal itu." ucap Ravindra.

__ADS_1


"Kamu yakin? Sudah memeriksanya dengan teliti? Apa para pelayan telah membereskan tempat itu?" tanya Nesya.


"Belum. Mereka tidak akan berani menyentuh apapun, karena aku telah menyewa tempat ini untuk 24 jam." ucap Ravindra malas.


"Baiklah aku akan mencarinya sendiri. Mungkin kamu hanya kurang fukos atau memang tidak bersungguh-sungguh mengambilkan barangku yang tertinggal!" ucap Nesya ketus. Ia melangkah kembali menuju meja diikuti Ravindra dibelakangnya.


"Apa kamu tidak bisa melihatnya? Barangku yang tertinggal masih terletak pada tempatnya, tanpa ada yang menyentuh atau menggesernya walau sedikit saja dari tempat semula. Apa kamu benar-benar sudah mencarinya tadi, Ravindra?" ucap Nesya saat telah sampai kembali di mejanya tadi.


"Tentu aku sudah mencarinya dengan sungguh-sungguh. Sekarang sudah ketemu? Ambil dan cepat kita pergi dari tempat ini, SEGERA!" kini Ravindra terlihat tegas dalam perkataannya.


"Baik. Aku lebih menyukai gayamu yang seperti ini. Cool dan sexy."


"Apa kamu sungguh tidak tahu? Barang apa yang tertinggal? BARANGKU yang tertinggal!" tanya Nesya penuh penekanan terutama pada kata 'barangku'.


"Tidak!" jawab Ravindra singkat.


"Bodoh!" umpat Nesya mulai melangkah.


"Memang apa yang tertinggal? Aku sama sekali tidak menemukan apa barangnya yang tertinggal dimeja. Bahkan dia juga tidak terlihat mengambil apapun tadi." gerutu Ravindra menatap meja. Tiba-tiba matanya mendapati cincin berlian yang sengaja dia pilihkan untuk jari manis Nesya.Ya, cincin itu menghalangi pandangan matanya dan betapa bahagianya saat cincin itu telah berada dijari tangan gadis yang tepat, dijari manis Nesya.


"Kamu membodohi ku? Kamu mengelabuhi ku? Kamu nakal sekarang, ya?" ucap Ravindra hampir meneteskan air mata. Apa iya pria ini akan menangisi seorang Nesya? Bodoh!


"Apa kamu akan tetap menilai ku sebagai gadis bodoh-mu? Setelah semua kejadian ini?" tanya Nesya yang kini telah kembali berdiri didepan matanya.


"Mungkin kamu menjadi pintar setelah aku lamar tadi." ucap Ravindra dengan senyum bahagia yang tak bisa digambarkan dengan kata-kata.


"Ini artinya kamu menerimaku?" tanya Ravindra. Nesya tersenyum kecil lalu menganggukkan kepala.


"Nesya Adriana Faranisa Arora, aku Kenzie Ravindra Adinata mencintaimu. Aku menyayangimu Nesya. Dan kamu sekarang hanya milikku. milik Kenzie Ravindra Adinata seorang." teriak Ravindra lantang, menggema didalam gedung. Ia mengangkat tubuh Nesya dan membawanya berputar berulang kali dan terus berteriak mengulang setiap kata-katanya tadi. Nesya tertawa bahagia bersamanya.


"Hahaha. Ravindra cukup. Hahaha. Cukup Ravindra, kepalaku sudah terasa pusing." ucap Nesya. Ravindra menurunkan tubuh gadisnya dan membawanya kedalam pelukannya.


"Bagaimana kamu melakukannya? Aku tidak melihatmu menyentuhnya tadi, apalagi bisa sampai terpasang dijari manismu."


"Karena kamu tidak sedang fokus, Ravindra."


"Aku juga tidak begitu mempermasalahkannya. Tapi, kamu sudah menggagalkan rencanaku, Nesya!" ucap Ravindra kecewa.


"Tapi, aku sudah menerimamu?" pekik Nesya.


"Harusnya kita saat ini sedang menikmati dinner romantis perdana kita, jika saja tidak ada sandiwara penolakan tadi!"


"Sandiwara penolakan?" beo Nesya mendongakkan kepalanya. Ravindra mengangguk.


"Ini bukan sandiwara penolakan. Awalnya aku memang ingin menolakmu, tapi karena aku melihatmu begitu sedih, aku jadi tidak tega sendiri." tutur Nesya dengan memainkan jemarinya di dada bidang Ravindra.


"Jadi itu alasannya?" Ravindra melepas pelukannya dan menjauhkan tubuhnya dari Nesya.


"Aku tidak butuh belas kasihan! Kamu bisa melepas cincin itu dan mengembalikannya ketempat semula! Aku tidak akan memaksa seseorang untuk HARUS MENCINTAIKU!"


"Ravindra!" ucap Nesya menggoda.


"Aku hanya bercanda, lalu kamu memintaku untuk melepas cincin ini? Apa kamu menjadi pria bodoh setelah berhasil melamar ku?"


"Kamu yang bodoh!" bantah Ravindra.


"Kamu, Ravindra!"


"Iya. Itu namaku, sayang!"


"Bukan itu Rav, tapi kamu yang bodoh!" Ravindra merengkuh tubuh Nesya, membawanya kembali dalam dekapannya.


"Gadis bodoh, i love you."


"Bodyguard, i love you too." ucap Nesya memandang wajah Ravindra. Ia membawa tubuhnya agar sama tinggi dengan Ravindra. Mempererat pelukannya, membawa wajahnya lebih dekat pada wajah Ravindra dan ******* bibirnya perlahan.


.


.


.


.


.


.


.


🍁Terimakasih


& Happy reading🍁

__ADS_1


__ADS_2