
"Tiger! Stubby! Bawa semua keluarga pengecut ini kemari! Perlihatkan pada mereka semua, bagaimana kematian akan merenggut orang yang sangat mereka cintai!" imbuh Ravindra terlihat begitu murka, setelah merasa usahanya sia-sia karena tak kunjung mendapat jawaban dari pertanyaannya.
"Tunggu! Dengar, kalian tidak akan bisa menemukan mereka!" ucap Pria itu.
"Benarkah? Kenapa kau terlihat sangat begitu yakin?"
"Karena mereka semua telah di surga!"
"Good. Kau sungguh pintar. Tapi tidak semudah itu kau bisa membohongi dan membodohi diriku!" ucap Ravindra tersenyum sinis.
"Tiger! Stubby! Perlihatkan wajah keluarga pengecut ini!" Stubby mendekat dan memperlihatkan sebuah vidio yang berisi aktifitas keluarganya. Pria itu sangat terkejut dibuatnya.
"Bagaimana? Apa mereka bukan keluargamu?" imbuh Ravindra. Pria itu seperti sedang berfikir dan enggan untuk menjawab. Ya, mungkin dia dilema harus memilih keluarga atau orang jahat yang ditaatinya.
"Tuan, apa kau ingin mereka sampai kemari terlebih dulu, baru kau akan bicara? Baik, jika memang itu maumu. Tiger! Stubby! Kerjakan tugas kalian!"
"Siap! Kapten." Keduanya hendak mengangkat kaki untuk pergi namun suara menghentikan mereka.
"Pak, dia bukan orang jahat. Dia hanya orang baik yang terdzolimi." Mendengar ucapannya Ravindra tertawa.
"Kalian berdua dengar apa yang pria ini katakan? Orang jahat adalah mereka orang baik yang terdhzolimi? Kata mutiara yang bagus!" ucap Ravindra memperjelas.
"Kamu dengar pak! Bahkan dia memiliki pangkat lebih tinggi daripada dirimu!" teriak pria itu memelototi Ravindra.
"Dengar tuan! Bagiku pangkat bukanlah segalanya dan bukan juga tujuan utamaku, karena aku tidak memerlukan status itu untuk bisa terus berbuat baik dan melindungi orang baik dari orang seperti kalian!" ucap Ravindra dengan raut yang memanas.
"Sekarang aku tahu siapa bos besarmu yang sangat kau lindungi itu! Bahkan tanpa kau menyebutkan namanya aku yakin. Ya, orang itu adalah Mayor James! Kau dengar baik-baik tuan! Bahkan gadis yang kau culik saat itu tidak bersalah dan tidak tahu apapun! Sama seperti halnya keluargamu yang tak tahu kebusukanmu, seperti itu pula penilaianmu terhadap Jendral Rico. Kau tidak tahu kejadian yang sesungguhnya tuan, dan Bos besarmu itu hanya memanfaatkan orang bodoh dan lemah sepertimu!" pria itu hanya menyimak ucapan Ravindra.
"Aku tidak bodoh dan aku tidak lemah! Mayor James sangat membanggakanku, dia selalu memujiku atas hasil kerjaku selama ini dihadapan yang lain, bahkan ia tak pernah berani memukul wajahku sekalipun!"
"Itulah. Karena kau sangat bodoh dan lemah! Bodohmu adalah kau tahu ini salah, tapi kau tetap dengan senang hati menurutinya. Dan kelemahanmu? Kau ingin melawan, tapi dia bukan lawanmu! Kau terlalu lemah tuan! Kau hanya dimanfaatkan olehnya! Kau pikirkan itu baik-baik! Dia tidak akan memukulmu selama kau masih tetap menjadi budak setianya!"
"Dia bukan lagi perwira! Dia orang jahat yang telah memanfaatkan dirimu! Berhentilah memanggilnya Mayor, karena itu tak pantas untuk seorang pembunuh sepertinya!" imbuh Ravindra sebelum benar-benar keluar ruangan.
__ADS_1
"Jaga baik-baik orang itu! Dia bisa membantu kita nanti. Jangan biarkan pria itu keluar apalagi sampai kabur!"
"Siap! Kapten."
•••
Nesya tengah duduk di sofa dan menanti kedatangan seseorang. Lumayan lama ia menunggu lelaki itu bahkan ia sampai merasa bosan dan pegal hingga berulang kali duduk dan kembali berdiri seperti orang tidak sabar.
"Non Nesya, mau mbok Narti ambilkan makanan?"
"Tidak perlu repot-repot mbok."
"Kenapa dia pergi sangat lama mbok? Apa dia sudah sembuh?" imbuh Nesya menghawatirkan bodyguardnya.
"Non Nesya tidak perlu cemas. Tuan muda pasti baik-baik saja." baru mbok Narti selesai bicara, sosok yang dinanti telah tiba.
"Nesya? Ada perlu apa kamu kemari?"
"Nesya ada apa ini? Kenapa kamu disini?"
"Kamu baik-baik saja? Apa papa memarahimu? Kenapa kamu akan meninggalkanku? Aku mohon jangan pergi! Aku akan mengatakan pada papa nanti, kamu tak perlu pergi jauh, Rav." ucap Nesya menangis memegang wajah tampan bodyguardnya itu.
"Nesya untuk apa kamu menangis? Aku hanya akan pergi untuk beberapa bulan bukan untuk selamanya." Ravindra menghapus air mata Nesya menggunakan ibu jarinya.
"Aku tidak ingin kamu pergi! Mengapa kalian tidak memahami keinginanku? Pertama papa mengirimmu padaku, setelah aku bisa menerimamu kamu pergi dan memberi orang asing itu padaku! Apa katamu tadi? Kamu akan pergi dalam beberapa bulan saja? Mungkin setelah pulang kamu tidak akan bisa melihatku lagi untuk selamanya."
"Apa yang kamu bicarakan? Jangan melakukan hal bodoh! Kamu mengerti? Cepatlah pulang atau papamu akan marah saat mengetahui putrinya pergi ke rumah lelaki!"
"Biarlah!"
"Nesya, jangan keras kepala!"
"Ravindra?"
__ADS_1
"Apa?"
"Kenapa papa bilang kamu calon suamiku? Apa itu benar? Apa kamu akan menjadi suamiku?"
"Itu hanya akan terjadi jika kita berdua saling mencintai."
"Apa kamu mencintaiku?" tanya Nesya menatap kedua manik mata Ravindra.
"Bodyguard?" Ravindra masih saja terdiam.
"Bodyguard, i love you." bisik Nesya ditelinga bodyguardnya. Ravindra tetap diam mematung sementara Nesya kini telah memeluknya dengan erat.
"Nesya!" Nesya melepas pelukannya dan memandang kembali wajah lelaki didepannya, ia meraih wajah tampan Ravindra dan mendaratkan ciuman dibibir lelaki itu untuk waktu yang cukup lama. Namun, tindakan Nesya tak membuat prianya bereaksi.
"Kamu mencintaiku bukan? Ravindra, aku mencintaimu. Sungguh. Entah mulai kapan datangnya perasaan ini, tapi aku telah jatuh hati padamu. Ravindra?" Nesya terus saja berkata.
"Aku akan pergi berkemas. Kamu pulanglah!"
"Ada apa denganmu? Kamu akan tetap pergi?"
"Ravindra! Rav?" Nesya terus saja berteriak dan memanggil Ravindra yang semakin tak terlihat.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1