
Hallo hai readers setia B I L Y tercinta, mohon maaf sebesar-besarnya atas ketidakpastian thor yang lambat dalam update. Thor harap readers semua bisa memaklumi dan follback lagi kisah Nesya dan Ravindra yang telah terputus lama sekian lama. So, happy reading readers semua.
...MAAF JIKA TAK SESUAI HARAPAN...
...----------------------------------------...
...*************************************...
...----------------------------------------...
"Tentu, anda akan mengetahui banyak hal tentang saya nona. Maaf, karena saya datang sangat terlambat!" suara terdengar cukup keras nan tegas membuat mereka yang terlebih dulu berada disana menoleh ingin tahu siapa gerangan pemilik suara itu.
"Tuan, anda tiba?" ucap Santi pada orang itu.
"Ya. Aku datang Santi. Apa kau memperlakukan orang spesialku dengan baik, Santi?" ucap seseorang yang belum bisa terlihat dengan jelas karena tertutup oleh dua sosok didepannya.
"Tentu. Tuan." jawab Santi apa adanya.
Kedua sosok membuka jarak antar satu sama lain hingga menapakkan sosok dibelakangnya dengan jelas. Dan betapa terkejutnya mereka bertiga, baik Nesya, Ravindra, atau pun Destia yang tercengang melihat sosok pria muda melangkah gontai dengan posisi kedua tangan singgah disaku celana. Pria gagah nan tampan begitu tampil mempesona dengan setelan jas putih super mahal lengkap dengan dasi kupu yang menambah pesona lain tercipta. Jangan abaikan wajah dingin pria itu yang tak lain dan tak bukan adalah bos dari Santi sekaligus pemilik dari SYADO Jewellery. Perlahan namun pasti, pria itu semakin dekat pada meja makan tempat ketiganya duduk mematung, tenggelam dalam pikiran masing-masing. Ya, meski dari sudut pandang ketiga orang itu masing-masing tentu akan berbeda, pastinya.
"K-kau?" ucap Nesya hampir tak terdengar.
'Bedebah! Jadi ini trik liciknya? Sungguh konyol dan kekanakan sekali.' batin Ravindra geram.
"Wow! Sungguh makhluk Tuhan paling sexy, bos muda, tampan dan mapan!" kagum Destia. 'Tapi kenapa aku merasa tidak asing dengan wajahnya, seperti pernah melihat dan kenal dekat dengan wajah itu sebelumnya?' lanjut destia dalam hati.
"Tuan, silahkan duduk!" ucap Santi yang telah menarik kursi untuknya dihadapan Nesya. Pria itu melangkah menunju kursi tersebut dan untuk sejenak tetap pada posisi berdiri memandang orang-orang yang masih duduk dan menatapnya keheranan, mungkin.
"Boleh saya duduk?" tanyanya.
"Tentu saja tuan. Silahkan! Anda tuan rumah disini." jawab Destia yang masih tak paham akan satu hal.
Pria itu mengangguk dan duduk, kemudian kembali berucap. "Sebelumnya perkenalkan, saya adalah pemilik dari SYADO Jawellery dan mungkin nona Nesya Adriana Faranisa Arora masih ingat jelas nama saya, seperti saya yang selalu ingat nama nona, barangkali?"
"Ya." jawab Nesya malas.
"Ok, tidak masalah jika nona Nesya yang cantik jelita dan semakin berkilau ini tak ingin menyebutkan namaku dan memperkenalkan siapa aku dihadapan bodyguard dan asistenmu ini. Oh ya Nesya, bagaimana proses syuting tadi? Apa semua berjalan dengan baik? Mereka berperilaku baik padamu bukan? Maaf karena aku benar-benar ada masalah kecil yang harus segera aku tangani tadi. Nesya, apa yang kamu tau tentang SYADO Jewellery? Dan taukah kamu mengapa aku memakai nama tersebut?"
"Tentu tidak." jawab Nesya tak peduli. 'Dan aku tak pernah ingin tau apapun tentangmu sejak saat itu.' batin Nesya.
"Well, no problem babe. Meski sebagai duta merk kamu harus tahu betul mengenai perusahaan dan termasuk diri saya tentunya. Saat acara Opening nanti aku akan memberitahumu, Babe."
'Babe?' batin Destia tergelitik mempertanyakan sebutan tersebut.
"Bisa kita mulai makan malamnya TUAN? Nona saya telah bekerja sangat keras hari ini dan tentu saja saat ini nona saya butuh makan serta istirahat yang cukup. Jadi, mari kita mulai makan malamnya dan kami akan segera bergegas kembali ke rumah." ucap Ravindra yang mulai muak dengan panggilannya terhadap Nesya.
__ADS_1
"Ups, maaf bodyguard. Kau disini bukan siapa-siapa dan saya mohon dengan sangat agar anda sadar diri dan jangan banyak ikut campur urusan antara aku dan nonamu!"
"Terimakasih untuk peringatan anda. Saya berkata demikian, karena saya cukup sadar akan diri saya sendiri. Saya disini bekerja untuk menjaga dan melindungi nona saya." 'Terlebih dari pria gila sepertimu.' lanjut Ravindra dalam hati.
"Eh! Kenapa suasana makan malam yang seindah dan semewah ini jadi terasa begitu menegangkan? Ada apa dengan kalian bertiga? Tuan maaf, bisa kita mulai saja makan malamnya?" tanya Destia kebingungan.
"Tentu, asisten Destia. Silahkan dinikmati. Ayo makanlah! Jangan sungkan begitu!"
"Anda tau nama saya, tuan? Oh, baiklah. Ayo tuan, Nesya, kak Ravindra, kita makan!" ucap Destia, tanpa menunggu lama lagi Destia mulai mengambil beberapa menu dan menyantapnya. Berbeda dengan ketiga orang disekitarnya yang masih diam mematung.
"Apa kalian tidak akan makan?" tanya Destia menatap satu persatu wajah disekelilingnya.
"Destia, makanlah dan setelah itu kita pergi!" Destia mengangguk ragu dan kembali menyantap menu yang ada di piringnya.
"Brak!" suara keras menggetarkan meja membuat aktivitas Destia seketika terhenti saat sendok dan garpunya terbang bebas, lolos begitu saja dari genggaman kedua tangannya.
"Babe, stop it! Cukup! Aku menunggu waktu seperti ini setelah sekian lama dan kamu ingin pergi begitu saja setelah aku menunggu waktu seperti ini tiba? Come on, follow me!" Destia yang kembali dibuat kaget oleh ucapan dan tindakan sang pemilik SYADO Jawellery itu pun seketika menatap Ravindra bingung dan bertanya-tanya.
'Inikah pria gila yang kak Ravindra maksudkan tadi? Tapi kenapa aku seperti mengenalnya? Oh no!' pikir Destia ngeri.
"Maaf tuan, tapi kami harus segera pergi." jawab Nesya seraya bangkit dari duduknya.
"Kamu sungguh ingin pergi? Baik. Pergilah! Pergi sekarang juga dan jangan sesalkan akibat dari perbuatanmu hari ini! Kamu membuatku kecewa, Babe." teriaknya marah. Nesya hanya bisa menghembuskan nafasnya kasar. Sementara Ravindra dan Destia hanya bisa menyimak keduanya layaknya nonton live show.
"Ravindra, Destia, bisa kalian berdua menungguku diluar?" ucapan Nesya sontak membuat keduanya saling memandang.
"Tapi, nona? Anda dan . . .? Biarkanlah saya tetap berada disini, menemani nona." bujuk Ravindra menanggapi perintah Nesya yang dirasa konyol.
"Kak Ravindra? Kenapa kita harus keluar dan membiarkan mereka berdua didalam hanya berdua? Bagaimana kalau Nesya, pria it- . . .?"
"Kami sudah menyiapkan segalanya sebelumnya Destia. Sekarang tenanglah! Biarkan aku lebih fokus sebentar!" Ravindra terlihat membetulkan earphone saat mulai terdengar suara dari benda kecil yang terselip di telinganya itu.
"Welcome back tuan Aldo Adijaya, saya sangat terkejut dengan kehadiran anda saat ini, disini."
"Babe? Kamu ingat kesepakatan kita sebelumnya bukan?"
"Ya."
"Lalu apa ini? Kamu mempermainkanku? Babe, sekarang kamu adalah milikku. Jika kamu berani ingkar maka jangan salahkan aku atas apa yang akan terjadi kemudian."
"Dan apa sebenarnya maksud dan tujuanmu menarikku di perusahaanmu ini, tuan Aldo yang terhormat?"
"Tentu agar aku selalu bisa berdekatan denganmu, Babe. Kamu tahu Babe, aku sengaja membeli perusahaan ini belum lama ini dan merangkulmu sebagai duta merk, semata karena aku ingin terus bersama denganmu. Saat Opening nanti aku akan mengumumkan tentang hubungan kita kepada semua orang."
"Terserah. Dan anda harus ingat juga syarat dariku, Tuan Aldo Adijaya?"
"Oh Babe, jangan terlalu formal begini padaku. Aku milikmu mulai sekarang. Panggil aku dengan panggilan 'sayang' mungkin itu akan terdengar lebih syahdu ditelinga, daripada tuan atau sebuah nama."
"Aldo! Aku tahu kamu sangat menginginkan diriku. Tapi, apa yang kamu lakukan ini adalah salah besar! Kembalilah menjadi Aldo yang dulu, yang selalu membuatku merasa nyaman saat bersamamu."
__ADS_1
"Apa yang salah dengan diriku yang sekarang, Nesya? Dan bagaimana yang benar menurutmu? Aku masih sama dan aku ini masihlah Aldo yang dulu, yang selalu mencintaimu."
"Mencintaiku?" ucap Nesya diikuti tawa mengejek.
"Ya. Kenapa? Kamu ingkar Nesya? Kamu melanggar perjanjian kita, kamu mempermainkanku Nesya. Kamu ingin aku yang dulu? Aku bisa kembali seperti apa yang kamu ingin, demi kamu Nesya. Apapun itu aku akan lakukan asal Jangan memintaku untuk jauh darimu lagi. Please."
"Aku tidak lupa Aldo dan aku tidak akan ingkar. Dan ingatlah bahwa aku juga minta agar kamu tidak memaksaku dan kasar padaku selain tidak menyentuh dan berbuat macam-macam pada keluarga, teman dan terutama sampai berani menyentuh Ravindra."
"Apa kalian sungguh telah berakhir?"
Hening
'Katakan kita telah berakhir Nesya!' batin Ravindra kebingungan karena lama tak terdengar suara keduanya.
"Babe, katakanlah sesuatu! Apa kamu berniat mempermainkanku? Jawab aku! Apa kalian telah berakhir?" teriak Aldo emosi.
"Kenapa hanya mengangguk? Aku butuh suaramu sebagai jawaban, Babe."
"Iya, kami sudah putus. Jangan lagi berteriak dihadapanku!"
"Sungguh? Maafkan aku, Babe. Kamu benar-benar milikku sekarang, Babe. Aku sangat lega sekarang. Ayo kita pulang sekarang!"
"Kita? Pulang? Tentu aku akan pulang. Destia dan Ravindra juga sudah menungguku diluar. Aku pergi!"
"Aku akan mengantarmu pulang, Babe."
"Aldo lepas! Kamu harus ingat permintaanku jika memang kamu masih ingin bersamaku. Dan cobalah bersikap baik kepada orang disekitar kita, tak terkecuali dengan Ravindra."
"Baik. Dan bisakah kamu tidak menyebut namu bodyguard sialanmu itu dihadapanku!"
"Kenapa?"
"Lupakan! Aku akan mengantarmu pulang sekarang."
"Tapi, Ravindra dan Destia? Kami harus mengantar Destia terlebih dulu. Dan aku harus kembali ke rumah dengan Ravindra atau papa akan murka."
"Ah tua bangka itu! Tidak masalah, itu akan membuat waktu kebersamaan kita semakin lama kan? Ayo Babe!"
"Jangan pegang-pegang! Aldo lepaskan! Lepas Aldo!"
"Apa yang keparat itu lakukan?" umpat Ravindra yang terlihat khawatir.
"Kak Ravindra, apa yang terjadi apa yang akan kakak lakukan?" ucap Destia yang bingung melihat Ravindra berlari kearah pintu dan kelabakan memutar kenop pintu hingga . . .?
"Brak!" pintu terbuka lebar menampakan Aldo yang menggenggam erat Nesya namun tak membuat Aldo segera melepas pergelangan tangan Nesya.
"Ravindra?" ucap Nesya samar.
"Maaf, aku kira pintunya tadi terkunci. Apa kalian berdua sudah selesai berbicara? Tuan Rico baru saja telpon dan minta agar kita segera pulang. Mari nona Nesya!"
__ADS_1
"Ok. Aku juga akan mengantar wanitaku pulang dan sekalian bertemu ayah mertua!"
"Ayah mertua?"