
Kini dua mobil telah melaju ditengah gelap dan sunyinya malam. Seusai mengantarkan Destia pulang, Ravindra melajukan mobilnya kembali menuju kediaman Jendral Rico dengan mengawal mobil didepannya dimana didalam mobil tersebut ada Nesya bersama Aldo. Ya, Ravindra terpaksa harus mengalah dengan pria gila itu demi tujuan dan kebaikan bersama. Sementara mendengar obrolan antara kekasih dan rivalnya dari earphone yang masih melekat di telinganya itu membuat Ravindra tak kuat menahan tawa, lucu sendiri mendengar tanggapan kekasih yang acuh terhadap Aldo. Entahlah! Harusnya Ravindra jealous? Secara kekasihnya satu mobil dengan orang yang sangat mencintai Nesya-nya. Mungkin karena dia tahu bahwa Nesya sangat membenci pria itu juga.
Sesampainya dirumah, ketiganya pun turun dari mobil. Tentu mereka adalah Aldo, Nesya dan Ravindra. Aldo menatap pada kedua penjaga pintu. Ya, Edo dan Dodi pastinya. Tak lupa ia melirik pada Ravindra setelahnya.
"Hey bodyguard!"
"Aldo! Ingat untuk tidak berbicara atau berperilaku kasar pada orang disekitar kita!" tegur Nesya mengingatkan.
"Babe, maafkan aku. Tapi, . . .. Bodyguard? Bukankah pekerjaanmu cukup sudah untuk hari ini?" ucap Aldo sinis.
"Maaf tuan Aldo, saya masih ada laporan yang harus saya sampaikan pada Jendral Rico. Dan alangkah baiknya jika tuan Aldo segera pulang! Atau anda ingin melihat Beliau murka mengetahui putri semata wayangnya pulang larut bersama pria yang tidak Beliau kenal?"
"KAU! Lancang sekali kau memberi perintah padaku! Babe, lihatlah pengawalmu ini! Dia tak punya sopan santun sama sekali."
'Dan kau!' jerit Nesya dalam hati, geram.
"Aldo, yang dibilang Ravindra ada benarnya juga. Lebih baik kamu pulang sekarang dan bukankah masih ada banyak hari esok? Ini sudah terlalu larut untukmu mampir. Aku masuk sekarang!" Nesya tak lama menghilang dibalik pintu utama yang tertutup rapat.
"Babe!" keluh kesah Aldo.
"Maaf tuan Aldo, saya juga permisi masuk duluan!"
"Hey bodyguard! Jangan berani kau berbuat macam-macam pada Nesya-ku! You know it?"
"Tergantung! Dan asal anda tahu tuan Aldo yang terhormat, untuk pertama dan terakhir kalinya saya peringatkan kepada anda agar tak berbuat hal bejat dan tidak terpuji pada nona saya. Karena, jika saya sampai melaporkan satu hal pada Jendral Rico tentang kejadian di New York kala itu . . .? Busst! Saya yakin, beliau akan menembak tepat di jantung anda saat itu juga dengan tangan dan senjatanya sendiri." tegas Ravindra menunjuk pada dada Aldo.
"Tutup mulutmu! Kau pikir aku takut akan ancaman murahan seperti itu?" ucap Aldo menepis kasar tangan Ravindra.
"Tidak juga. Sebenarnya aku hanya tak ingin Nesya sampai kembali dilukai oleh orang yang dulu dikenal baik dan dekat kepadanya. Karena jujur, hal seperti itu akan membuat hatinya merasa teramat sangat sakit. Apa anda pernah dengar pepatah lebih baik sakit hati daripada sakit gigi? Lalu, apa anda pernah sakit gigi, tuan Aldo? Bahkan perlu anda ketahui, rasa sakit di khianati orang terdekat itu akan terasa sakit berkali lipat dari sekedar sakit gigi."
"Kau membuang banyak waktuku untuk omong kosong yang tak penting, bodyguard."
"Jika memang anda mencintai nona saya, maka perjuangkanlah dia dengan cara yang seharusnya dia dapat dan setidaknya belajarlah untuk menghargai wanita. Apa anda juga tidak menghargai ibu yang melahirkan anda?" sontak ucapan Ravindra kali ini membuat Aldo bungkam dan mematung sekian saat. Bahkan pria gila tersebut bergegas memutuskan untuk segera pergi.
"What happened to him? Apa aku memerlukan bantuan bu Renata untuk menyembuhkan kegilaannya?" gerutu Ravindra hendak melangkah menuju pintu utama.
Ting
Notifikasi pesan masuk mengurungkan niatnya untuk menyusul Nesya kedalam. Dan betapa kecewanya Ravindra membaca pesan dari kekasihnya itu.
💌 My Beautiful Wife
^^^Ravindra segeralah pulang! Aku sangat lelah hari ini.^^^
^^^Selamat malam.^^^
Ravindra mempertajam penglihatannya. "Ada apa dengannya? Kenapa mengirim pesan sekaku ini? Apa dia marah? Atau kesal karena kehadiran si brengsek Aldo?" gerutu Ravindra masuk mobil dan menyalakan mesin mobil. Namun, ia tak membuatnya segera melajukan mobilnya.
"Hallo, Honey? Apa kamu baik-baik saja? Kenapa langsung memintaku pulang dan tak memberiku waktu bicara sebentar saja? Apa kamu sudah mulai bosan denganku dan terpikat dengan kak Aldo-mu itu?" cerocos Ravindra dengan kesal setelah memutuskan untuk bicara via telpon pada sang kekasih yang tak memberinya waktu bersama walau hanya sebentar saja.
"Ravindra, bukankah kamu tadi yang bilang sendiri padanya agar segera pulang karena hari sudah larut? Aku baik-baik saja, hanya sedikit lelah dan butuh istirahat cukup. Lagipula papa juga sudah tidur. Dan aku tidak ingin kamu kurang istirahat."
"Baik. Aku membebaskanmu dari musuh dan kamu menghukumku? Aku pulang sekarang." ucap Ravindra yang langsung memutuskan panggilan dengan berat hati dan sedikit rasa kesal.
Ting
💌 My Beautiful Wife
^^^Jangan marah, sayang. Pulanglah dan jangan ngebut. Kamu masih ingi jadi My Husband kan? Aku mencintaimu, calon suami 😘.^^^
Aku juga cinta kamu, itu pasti. Lekas tidur dan mimpikan kita. Selamat malam, calon istri cantikku 😚😚😚😚😚😚😚😚😚😚😚😚😚😚😚😚😚.
Maafkan sikapku barusan.
^^^Siap Kapten.^^^
Ravindra tersenyum getir. "Kenapa aku selalu merasa takut jika kamu mengatakan hal ini? Aku tidak ingin menyakitimu, Nesya. Sungguh! Aku sangat mencintaimu dan tak berniat sedikitpun untuk membuat luka dan kecewa di hatimu. Ku harap cinta kita bisa membuatmu menerima kebenaran ini suatu saat. Aku mencintaimu, Nesya."
__ADS_1
^^^Tunggu! Sayang, kamu curang. Aku hanya menciummu sekali saja. Kenapa kamu memberi balasan banyak ciuman? Dan^^^
Karena aku sungguh sangat mencintaimu. Dan . . ..
Hanya untuk kening 😘.
^^^Well. Sekarang cepatlah pulang atau kamu akan bermalam didalam mobil yang masih terparkir didepan rumahku?^^^
"Apa dia sedang melihatku saat ini?" ucap Ravindra celingukan memperhatikan rumah yang setengah padam.
Ok. Aku pulang. Sampai jumpa kembali esok, Honey 👄.
Setelah mendapat rasa puas setelah saling mengirim chat, Ravindra menyimpan ponselnya dan melajukan mobil meninggalkan kediaman Jendral Rico.
•••
Dilain tempat, Aldo masih dalam perjalan pulang. Pria itu terlihat fokus mengendarai mobilnya.
"Sial! Berani sekali dia berbicara seperti itu padaku!" ucapnya memukul stir mobil sekerasnya.
"Ibu? Bahkan aku tak pernah melihat dan tahu, siapa dan dimana ibuku? Ayah? Apa harus aku bertanya padanya? Aku sangat membencinya! Dia tak pernah menganggapku anak selain hanya memberi dan memanjakanku dengan uang."
Drtttt
"Hallo Ayah?" ucap seseorang di sebrang sana membuat Aldo mengerem tiba-tiba mobilnya. Dilihatnya nomor baru tanpa nama tertera dilayar ponsel.
"Hei bocah kamu siapa? Apa yang kau lakukan larut malam begini dengan menelponku? Dan apa katamu tadi? Ayah? Aku bahkan belum menebar benihku pada wanita-ku."
"Ayah, ini Reno. Bunda belum bangun sampai sekarang Ayah. Reno takut disini sendiri, Reno tidak bisa bobok karena perut Reno terasa lapar. Ayah datanglah! Hiks... Hiks." tutur si bocah.
Aldo nampak berfikir keras. Hingga kejadian tadi sore terlintas di kepalanya, "Apa yang terjadi?" tanya Aldo pada sopirnya.
"Maaf tuan, sepertinya saya menabrak seseorang. Seseorang tiba-tiba melintas begitu saja."
"Apa matamu rabun! Cepat turun dan lihat!"
"I-iya tuan." ucap si sopir gagap dan gemetar. Ia keluar dan benar saja sosok wanita tergeletak tak sadarkan diri bersimbah darah dan ditangisi anak kecil.
Melihat kondisinya, sepertinya wanita tersebut terluka parah. Si sopir segera melapor kembali kepada tuannya.
"Apa kamu tak bisa membawa mobil dengan benar? Aku sedang terburu-turu dan kau tau itu!" teriak Aldo yang telah keluar dari mobil dan mendekat pada korban.
"Hei wanita! Sadarlah! Buka matamu!" ucap Aldo yang telah berjongkok, sementara si bocah masih menangisi ibunya.
"Tuan, nona ini sepertinya terluka cukup parah. Lihatlah darahnya keluar banyak." jelas saja parah, wanita itu tertabrak mobil yang dikendarainya dengan kencang. Tanpa menunggu lama Aldo mengangkat sosok wanita yang sudah tak sadarkan diri itu masuk kedalam mobil, sementara si bocah dan sopir mengikuti langkahnya menuju mobil.
"Cari Rumah Sakit terdekat!" perintah Aldo setelah mesin menyala.
"Bunda bangun bun! Jangan tinggalin aku sendirian. Aku takut bun."
DEG
Mendengar ucapan bocah itu tiba-tiba hati Aldo merasa tergetar. Ia memandang wajah polos nan apik itu. Bocah yang menggemaskan, pikirnya.
'Apa bocah ini sungguh putranya? Wanita ini terlalu sangat muda untuk memiliki putra seusianya. Kenapa aku memikirkan ibu dan anak yang sama sekali tidak aku kenal? Hah!'
Setibanya di Rumah Sakit korban segera mendapat penanganan dari tim medis. Aldo dengan setelan jas yang lusuh dan ternoda oleh bercak darah yang menempel segera pergi ke toilet. Setelah merasa bersih ia kembali ke ruang tunggu dimana ada bocah dan juga si sopir.
"Apa itu ponsel ibumu?" tanya Aldo pada si bocah. Dan bocah itu hanya mengangguk.
"Apa bisa kau telpon keluargamu! Beritahu mereka bahwa ibumu masuk Rumah Sakit!"
"Maaf, apa anda suami pasien? Bisa ikut keruangan saya sebentar?" suara Dokter tiba-tiba menghentikan perbincangan sebelumnya. Tanpa mengiyakan pertanyaan Dokter, Aldo mengikuti langkah sang Dokter yang terlebih dulu melangkah didepannya menuju ruangan.
"Apa dia baik-baik saja? Apa dia mengalami gagar otak atau amnesia, Dok?" ucap Aldo setelah duduk didepan Dokter.
"Tidak pak. Tidak separah itu. Bapak tidak perlu mencemaskannya, istri bapak hanya perlu opname untuk beberapa hari kedepan."
__ADS_1
"Okelah kalau begitu. Terimakasih banyak Dokter."
"Dan, bapak mohon untuk lebih memperhatikan kesehatan istri nanti setelah siuman karena sepertinya istri bapak sangat tidak menjaga pola makannya dengan baik."
"Ehm. Baik, terimakasih. Saya permisi dulu, Dok." Setelah meninggalkan ruangan Dokter, Aldo kembali menemui si bocah yang ternyata sudah berada didalam ruangan dimana ibunya dirawat dan masih belum sadarkan diri.
"Ini kartu namaku, jika ibumu sudah bangun atau perlu sesuatu kamu bisa menghubungiku. Maaf aku harus segera pergi dulu." Aldo pun segera pergi meninggalkan Rumah sakit dan kembali ke Hotel untuk berganti pakaian terdahulu.
"Ohw, ternyata nama kamu Reno?" ucap Aldo setelah mengingat kejadian yang mengharuskannya terlambat menemui Nesya. "Baik. Aku akan segera ke sana." imbuhnya sebelum mengakhiri panggilan suara.
Aldo telah memarkirkan mobilnya di Rumah Sakit Harapan dimana korban kecelakaan si sopir dirawat. Tak lupa ia membawa bungkusan untuk bocah yang ketahui bernama Reno.
"Ayah." ucap bocah itu begitu gembira melihat kedatangan Aldo.
"Apa ibumu belum membuka mata barang sekalipun?" Reno hanya mengangguk.
"Ini makanlah! Kamu lapar bukan?"
"Terimakasih. Apa ayah akan menemani kami?"
"Reno, aku bukan . . .. Makanlah dulu! Kau terlihat sangat lapar sekali." Reno kembali menganggukkan kepala. Ingin sekali Aldo menjelaskan bahwa dia bukan ayah Reno tapi, mendadak hatinya dilema dan lidahnya kelu.
"Kau tidak menghubungi keluargamu yang lain?" Kali ini Reno menggelengkan kepala.
"Kenapa? Aku akan menghubungi mereka."
"Jangan ayah! Bunda selalu melarangku untuk melakukan itu."
'Sungguh aneh sekali. Apa mereka adalah penipu? Jika benar, berani sekali dua makhluk ini mempermainkan seorang, Aldo.' pikir Aldo yang terus menatap bergantian wajah ibu dan anak tersebut.
•••
Ravindra telah sampai Rumah. Ia segera membersihkan diri dan berbaring di kasur setelahnya.
Ting
💌 My Beautiful Wife
^^^Selamat 😴 calon suami.^^^
^^^Mimpi indah.^^^
^^^Aku mencintaimu 💋💋💋.^^^
Bisa kita segera menikah, Nesya? Aku ingin tidur bersamamu, Honey.
^^^Hey, sejak kapan calon suamiku berotak mesum? 😈^^^
Tidak. Aku hanya bergurau. Ayo kita tidur dan kembali bertemu dalam mimpi!
^^^Siap Kapten.^^^
"Oh tidak. Aku tidak akan bisa tidur dengan tenang malam ini!"
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
...Jangan lupa LIKE, VOTE, KOMEN yang positif....
...Terimakasih dan happy reading....