
Sesampainya di lokasi pemotretan, Nesya menghampiri Destia. Keduanya pun langsung menuju ruang make up diikuti Ravindra dibelakangnya. Nesya mendudukkan diri didepan cermin besar dan beberapa MUA telah bersiap untuk memoles wajah ayunya dengan beberapa jenis macam make up.
"Hey, kak Ravindra!" tegur Destia setelah menjauh dari Nesya dan menghampiri Ravindra yang duduk satu ruang memandangi Nesya. "Kenapa melihatnya seperti itu? Apa kalian berdua belum juga menyelesaikan masalah?" tanya Destia yang memergoki Ravindra terus menatap Nesya tanpa berkedip. Bahkan saat Destia menyapa, pria dewasa itu hanya menoleh sesaat dan kembali lagi fokus pada Nesya yang masih di make over beberapa orang.
"Hubungan kami sudah baik. Hanya saja untuk beberapa waktu memang harus dibuat terlihat seperti ini dan saling menjaga jarak." jawab Ravindra tak menoleh sedikitpun pada Destia.
"Kenapa harus begitu? Hubungan kalian berdua ini sungguh sangat langka ya?" protes Destia.
"Well. Hal ini merupakan strategi dari permainan kami, Destia. Kamu tahu sendiri teman sekaligus modelmu itu terlalu cantik dan menarik sehingga tak sedikit orang yang memuja-memuji dan banyak pula dari mereka yang jatuh hati padanya. Jika saja orang itu sama seperti aku, mungkin tidak akan jadi sumber masalah seperti halnya saat ini. Ya, orang itu adalah pria gila yang sungguh telah terobsesi dengan temanmu dan menciptakan banyak masalah diantara kami." jawab Ravindra masih tak ingin melihat Destia.
"Pria gila? Yang benar saja, orang gila mana yang bisa merasakan fall in love? Aku pikir hanya orang waras saja yang bisa merasakan jatuh cinta apalagi untuk mencintai. Dan masalah apa yang telah di buat oleh pria gila itu pada hubungan kalian? Obsesi? Ya Tuhan, aku sungguh tak mengerti dengan ini semua. Kak Ravindra kalau bercanda yang sewajarnya saja, bagaimana orang gila jatuh cinta? Dan . . .. What the world says?" ucap Destia menganggap perkataan Ravindra gurauan semata.
Kali ini Ravindra menatap tajam ke arah Destia yang kini asyik menertawainya. "Ya, dia pria gila yang terobsesi pada temanmu dan melakukan pendekatan dengan cara yang tidak sewajarnya. Destia, maksudku adalah pria gila itu telah mengancam Nesya jika ia akan melenyapkanku kalau sampai aku dekat dengannya. Lalu ia meminta Nesya agar mau jadi kekasihnya dengan alasan untuk menyelamatkan nyawaku darinya. Bukan orang gila layaknya orang gila sewajarnya di luaran sana yang benar-benar gila. No, bukan seperti itu Destia. Pria gila itu hanya menggila karena obsesinya pada Nesya semata. Orang itu sungguh tak mengerti apa arti cinta yang sesungguhnya. Ini hanya OBSESInya semata!" jelas Ravindra.
"Sure? Apa benar ada orang yang seperti itu dimuka bumi ini? Siapa dia? Apa aku mengenalinya?" tanya Destia.
"Mungkin kamu mengenalnya juga. Nesya bilang pria gila itu akan datang ke lokasi syuting siang ini."
"What you say?"
"Dia akan menemui Nesya siang ini di lokasi syuting. Maka dari itu Destia, aku mohon agar kamu bisa bersikap biasa saja nanti. Namun, jika dia mulai berani berbuat hal buruk jangan takut dan ragu untuk segera menghentikannya."
"Sepertinya hal itu akan sedikit sulit. Apa dia benar akan melakukan hal gila?" tanya Destia was-was.
"Mungkin. Dia bisa jadi ancaman bagi siapa saja yang menghalangi tujuannya." Ravindra kembali menatap Nesya dan memberi senyum kecil saat kedua bola mata mereka saling bertemu di pantulan cermin besar yang cukup jauh dari Ravindra.
"Aku tidak sedang bercanda kak Ravindra!"
"Dan aku juga tidak sedang bercanda Destia. Pria itu sudah dibutakan oleh kata cinta yang bahkan ia sendiri tak tau apa itu arti cinta. Pria gila itu tak lain dan tak bukan adalah pria brengsek yang pernah mencoba melecehkan Nesya saat kita berada di New York dulu, Destia." ucap Ravindra setengah berbisik.
"APA? Lalu? Kenapa kak Ravindra membiarkan mereka berdua saling bertemu? Bagaimana jika pria gila itu kemba- . . ..?"
"Pelankan suaramu Destia, Nesya orang yang sangat dia inginkan. Tidak mungkin baginya untuk melukai Nesya apalagi membahayakan nyawanya. Lagi pula aku dan yang lain akan selalu menjaganya, termasuk kamu juga Destia." saut Ravindra.
"Kasihan sekali Nesya harus berhadapan dengan orang seperti itu. Aku harap hubungan kalian selalu baik-baik saja. Wait! Aku? Bagaimana aku akan menjaga Nesya dari pria semacamnya? Aku ini hanya wanita biasa yang juga butuh perlindungan." jawab Destia mendengar penuturan Ravindra. Dan mengeluh pada akhir kalimatnya. Sementara Ravindra hanya mengangkat bahu sebagai jawabannya.
Setelah kurang lebih satu jam duduk didepan meja rias. Nesya mulai menuju tempat pemotretan untuk melakukan pekerjaannya, ia berpose dengan berbagai gaya dan sangat lincah, bahkan tanpa beban yang mengganggu pikirannya. Ya, meski ia tak lupa bahwa dia akan menemui pria gila itu siang nanti, namun hal itu tak membuatnya pecah konsentrasi. Hal tersebut tentu saja akan berbanding terbalik jika Ravindra tak berhasil mengungkap kasus misterius yang Nesya coba tutup rapat-rapat.
Pukul 14.41 WIB, Pemotretan telah berakhir dan kini ketiganya sedang dalam perjalanan menuju lokasi syuting. Nesya terlihat gelisah selama diperjalanan. Nesya meremas jemarinya untuk menangkal rasa yang entah perasaan apakah itu sebenarnya yang dirasakannya? Mungkinkah hanya rasa gugup, rasa takut atau perasaan lainnya. Seolah memahami gelagat dan isi hati Nesya, Ravindra segera meraih tangan mungil itu dan menggenggamnya erat, mencium, dan meletakkannya pada dada bidangnya. Ia beranikan menatap wajah Nesya sesaat dan memberi senyuman termanisnya kemudian kembali fokus pada jalanan yang cukup padat. Destia yang duduk di jok belakang dan menyaksikan adegan langsung tersebut hanya bisa diam tanpa mampu berkata-kata. Tidak ingin membuka mulut meski hanya sekedar untuk menggoda ataupun memberi semangat dan rasa tenang padanya.
__ADS_1
Satu setengah jam lebih perjalanan mereka telah tempuh. Mereka turun dari mobil dan masuk gedung megah tersebut. Ya, sebuah hotel mewah bintang lima.
"Syutingnya benar disini Destia?" tanya Nesya tak percaya.
Destia mengangguk cepat. "Ya, Nesya. Ayo, cepat kita masuk!" ajak Destia.
"Destia? Tunggu! Kita ini akan syuting iklan apa? Kamu belum mengatakannya dengan jelas kepadaku, bukan?" tuntut Nesya.
"Nesya sayang tenanglah, sebenarnya ini bukan syuting iklan biasa, tapi luar biasa. Maaf, maksudku lebih tepatnya ini adalah syuting untuk pembuatan promotional videos, mereka telah mempercayakan padamu sebagai brand ambassador Nesya dan kamu tahu apa artinya itu?" jawab Destia santai.
"Brand ambassador, duta merek?" jawab Nesya syok. "Bagaimana bisa? Mereka menunjukku sebagai ikon atau identitas untuk mewakili produk tertentu sebagai representasi citra terbaik dari suatu produk, menarik dan mengundang konsumen untuk membeli atau menggunakan produk dengan keahlian dan daya tarik dariku?" Destia mengangguk 'iya'.
"Destia! Penunjukkan brand ambassador biasanya diwakili oleh sosok selebriti atau atlet yang menjadi panutan idola dari masyarakat luas. Duta merek adalah identitas di mana mereka bertindak sebagai alat pemasaran yang mewakili pencapaian individualisme, kemenangan manusia dan komersialisasi dan komersialisasi suatu produk!" ucap Nesya menjelaskan. "Penggunaan brand ambassador dilakukan oleh perusahaan untuk memengaruhi atau mengajak konsumen. Dan itu bertujuan untuk menarik minat konsumen dalam menggunakan produk, terutama karena pemilihan duta merek yang biasanya didasarkan pada citra seseorang. Dan bagaimana bisa itu jatuh padaku yang hanya seorang modeling?"
"Nesya! Jangan merendahkan diri seperti ini. Kamu cantik dan juga terkenal, dan jangan lupa jika dirimu memiliki banyak followers, bahkan tak kalah dari artis-artis terkenal. Jangan lupa pula berapa banyak produser dan sutradara yang menawarkan beberapa film untukmu. Dan yang jelas pemilik perusahaan ini juga sangat tertarik dan sangat menginginkan dirimu jadi duta merk."
"Siapa pemiliknya? Apa dia lebih tua dari papa atau mama? Apa penglihatannya juga sudah berkurang? Kenapa dia sangat bodoh mau memakaiku sebagai brand ambassador."
"Jangan ngaco! Banyak orang bilang pemilik masih muda dan tampan, juga single. Meski perusahan tergolong masih baru tapi ini merupakan awal yang bagus untuk kariermu. Nesya, syuting ini dibuat untuk promosi berlian limited edition dan tentunya dari perusahaan yang sangat besar meski masih sangat baru tapi cukup meyakinkan. Tenanglah Nesya kamu pasti bisa. Aku yakin kamu mampu, tunjukan bakatmu!"
"Destia! Ka- . . .." ucap Nesya terhenti kala terdengar suara seseorang menyapanya.
"Iya terimakasih, Santi. Sebelumnya perkenalkan pria ini Ravindra, bodyguardku dan yang ini teman sekaligus asistenku namanya Destia." ucap Nesya tak lupa memperkenalkan kedua orang disampingnya. Mereka saling tatap dan lempar senyum yang juga diangguki satu sama lain.
Ketiganya mengikuti Santi dan menuju lantai 31 dengan menggunakan lift pribadi. Sebenarnya ini merupakan syuting pertama yang Nesya jalani. Ia telah menolak banyak tawaran syuting iklan dan bahkan sempat datang beberapa tawaran sebagai pemeran utama salah satu film. Gadis itu paling tidak suka banyak dituntut dan membuang banyak waktu. Tentu, bukankah selama proses syuting hal seperti itu pasti akan terjadi? Ya, Akan banyak dialog yang harus dibaca dan dipahami, mengulang begitu banyak adegan, dan masih banyak lagi hal lain yang membuatnya enggan untuk menerima tawaran tersebut. Yang jelas pemotretan adalah pilihan utama bagi Nesya.
Dan kira-kira akan seperti ini hasil syutingnya nanti ya pemirsa . . ..
Kini tiba waktu malam. Mereka menghentikan syuting untuk beberapa waktu. Santi mengajak Nesya, Destia dan Ravindra ke suatu ruang yang berada di lantai 17. Terlihat didalam ruang itu terdapat meja makan yang cukup besar penuh dengan makanan. Sungguh, kali ini Nesya merasa dirinya diperlakukan bak seorang ratu di jam kerjanya. Bagaimana tidak? Dari lokasi syuting yang sangat megah nan mewah, beberapa MUA ternama, dan segala hal lain yang dia rasa telah di siapkan dengan begitu matang bahkan untuk makan malam disela syutingnya saja cukup membuatnya tercengang.
"Maaf nona Nesya, berhubung pemilik SYADO Jewellery mengalami sedikit masalah dan harus segera menyelesaikannya. Maka, dengan tidak mengurangi rasa hormat silahkan kalian untuk menikmati makan malam tanpa kehadiran beliau." tutur Santi.
"Maaf Santi, apa beliau akan datang kemari? Dan siapa gerangan pemilik SYADO Jewellery itu? Apa saya bisa mengetahui sedikit mengenai siapa beliau?" tutur Nesya bertanya. Belum sempat Santi memberi jawaban seseorang terlebih dulu menjawabnya.
"Tentu, anda akan mengetahui banyak hal tentang saya nona. Maaf, karena saya datang sangat terlambat!" suara terdengar cukup keras nan tegas membuat mereka yang terlebih dulu berada disana menoleh ingin tahu siapa gerangan pemilik suara itu.
.
__ADS_1
.
.
.
.
.
Siapa yang menantikan episode kali ini? Author harap para readers setia B I L Y tidak akan kecewa untuk episode kali ini.
A : Coba tebak siapa yang datang tiba-tiba?
R : Pemilik SYADO Jewellery thor.
A : Mungkin.
Bisa jadi.
Tapi, siapa kira-kira sosok itu?
Apa dia orang baik?
Orang yang mereka kenalkah?
Atau justru pria gila yang terobsesi oleh Nesya?
Penasaran?
Tunggu episode selanjutnya!
Jangan lupa dukung author jika ingin kisah mereka terus berlanjut.
LIKE 👍
KOMENTAR 💬
FAVORIT ❤
__ADS_1
Happy reading and See you next time.