Bodyguard I Love You

Bodyguard I Love You
Kamu adalah Hidupku


__ADS_3

...Jika aku dipaksa memilih...


...Antara KAMU atau HIDUPKU...


...Maka aku akan memilih HIDUPKU...


...Karena KAMU adalah HIDUPKU...


...- Nesya...


..._________________________________________...


Nesya yang baru saja turun melihat papa Rico, mama Renata dan Ravindra berjalan beriringan. Nesya yang penasaran segera menegurnya.


"Ada angin apa ini? Rav, kamu tidak sungguhan melakukannya bukan?"


"Tidak sayang, aku tadi sebenarnya juga sangat ingin melakukannya. Tapi, setelah aku pikir masih banyak tugas jadi aku cancel sampai bulan depan dulu ya." Nesya mengangguk.


"Pa, bu Renata, Ravindra pamit pulang dulu ya. Terimakasih atas waktunya."


"Tidak perlu sungkan begitu Ravindra. Papa sudah menganggap mu seperti anak sendiri. Apalagi setelah mengetahui kenyataan manis ini." ujar papa Rico.


"Betul kata papamu nak, pulanglah hati-hati dijalan. Dan, bisakah kamu memanggilku mama mulai sekarang!" pinta mama Renata.


"Tentu. Baik dan terimakasih, mama."


"Nesya antar Ravindra ke depan dulu ya pa, ma."


"Iya Nesya sayang." Nesya dan Ravindra melangkah berdampingan meninggalkan sepasang suami istri tersebut.


"Mama masih tidak menyangka pa, Tuhan mempertemukan kita dengan Ravindra yang ternyata adalah anak dari Bagas dan Ira sahabat dekat kita yang lama menghilang."


"Ya, rencana Tuhan memang lebih indah dari yang kita bayangkan. Jika mereka masih ada di dunia ini, pasti mereka sangat senang ketika melihat keduanya saling mencintai satu sama lain. Meski papa sering ngobrol dan tak jarang membahas Bagas dan Ira, tapi itu sama sekali tidak membuat kami saling berfikir bahwa mereka adalah orang yang sama. Semoga mereka berdua bahagia melihat putranya yang telah dekat dengan putri kita, ma. Ayo ma, kita sekarang pergi tidur!" Keduanya pun melangkah menuju kamarnya.


•••


Nesya mengantar Ravindra sampai ke mobil hingga dirinya pun ikut serta masuk ke dalam mobil mewah Ravindra. Ravindra mencium gelagat aneh pada tingkah gadisnya yang kini telah duduk disebelahnya dengan wajah yang lurus datar.


"Sayang, aku harus segera pulang!" Nesya menganggukkan kepalanya satu kali.


"Apa kamu akan ikut pulang bersamaku, kembali ke rumahku?" Nesya menggelengkan kepala dengan ragu.

__ADS_1


"Baik. Ingat, istirah yang cukup dan jangan pikirkan hal yang tidak perlu untuk kamu pikirkan. Biarkan semua mengalir seperti air."


'Bagaimana aku tidak memikirkannya Ravindra? Seseorang memaksaku menjauhi mu. Kehancuran akan segera datang, saat cinta kita ini telah kandas. Kita berdua akan hancur bersama cinta kita, Ravindra. Maafkan aku harus memberimu luka dan membuatmu kecewa. Kamu adalah hidupku dan aku tak akan membiarkanmu pergi meninggalkanku.'


"Nesya sayang?" panggil Ravindra yang melihatnya melamun.


"Iya. Hati-hati dijalan, sayang. Setelah sampai rumah tolong segera hubungi aku, ya!" ucap Nesya memancarkan kebahagiaan.


"Baiklah nyonya Nesya Adinata. Tunggu aku, aku akan segera menghubungimu nanti!"


"Bodyguard! I love you . . .. Ravindra, jangan bahayakan dirimu! Jaga dirimu baik-baik, untukku. Aku mencintaimu Ravindra." Nesya memeluk erat tubuh Ravindra dan mencium bahunya berulang kali. Membuat pria itu keheranan.


'Apapun yang akan terjadi esok, ketahuilah satu hal Ravindra, bahwa aku sangat mencintai dirimu, Rav.'


"Sayang, bagaimana aku akan pergi jika kamu terus seperti ini." protes Ravindra yang merasa jika Nesya semakin erat memeluknya.


'Aku sungguh tidak ingin kamu pergi Ravindra.' Nesya melepas perlahan pelukannya, ia meraih seatbelt kursi kemudi Ravindra dan memasangkannya hingga terdengar bunyi klik, lalu ia berbisik tepat di telinga pria yang dicintainya itu. "I love you forever." Nesya mencium kilat bibir Ravindra dan dengan segera keluar dari mobil mewah tersebut.


Ravindra membuka kaca jendela dan tersenyum pada gadisnya yang masih setia berdiri diluar mobilnya. "I love you so much. Sampai jumpa besok pagi, sayang. Bye!" Ravindra menghidupkan mesin, melambaikan tangan saat mobil mulai melaju perlahan meninggalkan pekarangan Jendral Rico.


Nesya melangkah perlahan mengikuti mobil Ravindra hingga terhenti dan menjatuhkan diri saat tak bisa lagi menjangkau mobil Ravindra. Ia menangis sejadi-jadinya, air mata mengalir deras membasahi wajah cantiknya. 'Aku tidak bisa melihatmu terluka karena ku, tapi aku juga tidak akan sanggup bila harus berpisah darimu, Ravindra. Kamu adalah hidupku, bagaimana aku akan membenci dan berhenti untuk mencintaimu? Sedang nafasku kini hanya untukmu seorang.'


Pikiran Nesya buyar seketika kala mendengar suara langkah sepatu kian mendekat ke arahnya. Ia segera menghapus bekas air matanya, takut jika seseorang mengetahui keadaannya yang sangat kacau itu.


"Tidak pak Eko, tadi Nesya terpleset. Nesya masuk pak Eko." ucap Nesya tanpa memandang pak Eko dan berlalu pergi.


"Non Nesya kenapa malam-malam begini berada diluar rumah, ya? Mana glengsotan di tanah lagi. Ehh, apa beneran itu tadi nona Nesya?" tanya pak Eko yang tiba-tiba merasa merinding. Ia pun segera berlari kembali menuju posnya.


•••


Ravindra baru saja tiba dirumahnya. Ia membuka pintu, menyalakan lampu dan segera mendudukkan diri diatas sofa ruang tamu. Ia meraih ponsel pintarnya dan men-dial nomor Nesya. Setelah beberapa kali mencoba dan tidak ada jawaban, ia pun akhirnya menyerah.


"Mungkin gadis bodohku itu sudah tertidur pulas saat ini. Selamat malam Nesya sayang, mimpi indah bersamaku, sayang." ucap Ravindra menatap layar ponselnya yang memperlihatkan gambarnya dan Nesya.


•••


Nesya kini telah berada didalam kamarnya. Ia telah mencuci wajah dan kakinya. Ia juga telah mengganti pakaian kotornya dengan piyama. Nesya bersiap tidur dan membaringkan tubuhnya. Ia menatap layar ponsel yang memperlihatkan notifikasi panggilan telpon dari Ravindra.


"Apa yang aku lakukan nanti, semua semata hanya karena aku sangat mencintaimu Ravindra. Setidaknya kamu akan tetap hidup meski harus terluka karena cintamu dan aku harus bersiap untuk mematikan hatiku. Aku hanya mencintaimu seorang. Kamu satu-satunya bagiku Ravindra. Cinta pertama dan juga terakhirku. Kamu adalah hidupku Ravindra. Kita akan tetap hidup meski kita akan saling terluka."


"Dan aku akan terima semua kebencian darimu. Aku akan menerimanya seperti saat kamu memberikan cinta tulus mu. Aku berjanji, aku tak akan membiarkan siapapun melukai dirimu. Cukup aku saja yang selalu membuatmu terluka karena cintamu sendiri."

__ADS_1


Drtttt


Drtttt


Drtttt


Ponsel Nesya yang masih berada di gengamannya bergetar. Terlihat nomor tak dikenal dilayar ponsel miliknya tengah memanggil. Meski begitu, Nesya sangat tahu siapa orang pemilik nomor itu. Nesya memilih untuk mengabaikannya dan memutuskan untuk tidur saja. Ia tersenyum bahagia saat mengingat kejadian beberapa waktu lalu saat bersama Ravindra.



Namun seketika senyum bahagia itu pudar, saat mengingat kehancuran didepan mata. Ia pun mengngerutuki dirinya sendiri dan segera mengubur seluruh tubuhnya dengan bed cover putih miliknya.


'Selamat datang mimpi buruk nan panjang.' batin Nesya bicara.


•••


Pagi harinya Ravindra telah rapi dan hendak masuk mobil untuk pergi menemui kekasih hatinya. Namun ia urungkan, ia teringat akan sosok orang asing yang sedang dicarinya. "Om Irfan Adnan. Dimana dirimu berada?" ucapnya kemudian merogoh ponsel di sakunya dan menghubungi salah satu nomor didalam kontaknya.



Ravindra menunggu hingga panggilannya terhubung ". . .."


"Hallo Tiger."


". . .."


"Tiger, cari tahu semua data yang berkaitan dengan Irfan Adnan yang juga merupakan kakak dari Ira Mayang Sari atau ipar dari Bagas Arya Adinata! Aku mau keseluruhan data miliknya segera!"


". . .."


"Aku tidak peduli apapun! Bagaimana caranya cari tahu data tentang orang itu, SECEPAT MUNGKIN! Aku akan pergi ke markas malam nanti. Dan aku harap kamu telah menyelesaikan tugasmu saat aku datang."


"Tut!" panggilan berakhir.


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2