Bodyguard I Love You

Bodyguard I Love You
Aneh


__ADS_3

Jakarta


Setibanya di Jakarta Nesya mengantar Destia pulang terlebih dulu. Ia juga meminta Ratu dan Micky agar segera kembali ke rumah duluan.


"Kalian berdua, antar aku ke rumah Ravindra!" perintah Nesya pada kedua pengawalnya saat Destia telah masuk rumahnya.


"Kediaman pak Ravindra? Untuk apa nona? Beliau sedang tidak berada di Jakarta saat ini." jawab salah satunya.


"Aku tahu dia pergi dan sedang tidak berada di Jakarta. Kalian jangan banyak bertanya dan lakukan apa saja yang aku perintahkan!"


"Baik nona Nesya." mobil kembali melaju. Tak butuh waktu lama mereka sampai dikediaman Ravindra. Nesya melihat dari kaca jendela mobilnya. Rumah itu terlihat sunyi dan sepi seperti tak berpenghuni namun gerbangnya sedikit terbuka.


"Kalian tunggu disini dan jangan ada yang keluar!"


"Tapi, nona Nesya . . .?"


"Tapi apa?" Nesya membuka pintu dan keluar dari mobil, ia berjalan lebih dekat pada rumah Ravindra. Dari kejauhan ia celingak-celinguk bak maling disiang bolong, hingga tiba didepan pintu utama dan menabrak tubuh seseorang.


"Non Nesya!" Nesya yang kaget segera memutar tubuhnya menghadap sumber suara.


"Mbok Narti? Mbok mengagetin Nesya. Untung Nesya tidak ada riwayat jantung."


"Non Nesya berlebihan, lagipula kenapa harus mengendap-endap? Non ada perlu apa datang kemari? Tuan muda tidak sedang dirumah, non Nesya."


"Nesya tahu mbok. Mbok boleh Nesya masuk?"


"Tentu boleh non Nesya, monggo silahkan masuk!" ucap mbok Narti pembantu Ravindra yang telah membuka pintu lebar-lebar. Mereka masuk kedalam rumah dan Nesya lekas mendudukkan diri di sofa ruang tamu.


"Non Nesya mau minum apa?"


"Tidak perlu repot-repot mbok."


"Mbok! Mbok Narti sudah lama kerja disini? Tunggu, bukankah Ravindra pernah bilang kalau mbok Narti hanya akan datang kemari seminggu tiga kali tapi kenapa mbok ada disini sekarang?"

__ADS_1


"Selama tuan muda tugas keluar negeri saya dan suami pasti diminta menjaga rumah ini agar tidak kosong non. Saya sudah sangat lama kerja dengan tuan Ravindra."


"Ravindra sering tugas keluar negeri? Apa dia tidak membawa ponsel atau ada nomor lain yang bisa dihubungi?"


"Iya non. Bahkan sampai berbulan-bulan, dan tak cukup hanya satu atau dua bulan saja. Tapi itu semua kan sudah tututan dari pekerjaannya non." jelas mbok Narti.


"Emang sekarang Ravindra tugas dimana mbok?"


"Ahhh. Kalau masalah itu simbok tidak tahu non. Kan non Nesya yang pacarnya." Nesya hanya tersenyum.


"Mbok Narti kenapa terus saja berdiri ayo duduk disini!" ucap Nesya tak enak hati.


"Tidak masalah non Nesya. Mbok lebih nyaman berdiri."


"Bagaimana mungkin?" tanya Nesya tak percaya dan kini mulai berdiri, berjalan dan memandangi setiap sudut rumah Ravindra.


"Mbok, kenapa tidak ada satu foto pun yang terpajang dirumah ini?" tanya Nesya.


"Ravindra menurunkan semua figura yang pernah ada?" ucap Nesya mengulang kalimat mbok Narti yang hanya dibalas anggukan saja.


"Aneh. Kenapa begitu? Bukankah ini terlihat mencurigakan?" tanya Nesya begitu curiga. Namun mbok Narti hanya menggeleng tanda tak tahu.


•••


Dikediaman Jendral Rico, Ratu dan Micky baru saja tiba. Mereka segera turun dan masuk.


"Kalian sudah pulang?"


"O-om Rico sudah kembali dari Kantor?"


"Ratu! Micky! Kalian sudah pulang? Kenapa hanya berdua saja? Dimana Nesya dan Destia?" ucap mama Renata yang mendekati mereka dan memintanya duduk. Micky menyalami sang Jendral dan istrinya itu terlebih dulu sebelum akhirnya mendudukkan tubuhnya.


"Om, tante, selamat sore. Tadi pagi Nesya mendadak minta segera kembali jadi kami pulang sekarang." jawab Micky.

__ADS_1


"Siapa namamu, nak?" tanya sang Jendral memperhatikannya dengan begitu teliti.


"Saya Micky Adriansyah Adinata, Om."


"Apa pekerjaanmu? Siapa orangtua mu? Dan dimana tempat tinggalmu? Sejak kapan kalian berhubungan?" tanya Jendral Rico bertubi pada Micky dan dengan sikap tegasnya.


"Papa!"


"Tidak apa tante. Om, saat ini saya bekerja sebagai CEO di AN Grop. Kedua orangtua saya telah meninggal dunia sejak saya kecil karena mengalami kecelakaan beruntun. Dan saya tinggal di Jakarta untuk saat ini. Kami saling mengenal sejak tiga tahun yang lalu sewaktu saya di Surabaya." jawab Micky penuh rasa percaya diri.


"Kamu mencintai Ratu, bukan?"


"Iya om."


"Lalu?"


"Lalu apa om? Tentu saya akan menikahinya saat Ratu telah siap." Micky meringis saat seseorang dengan sengaja menginjak kakinya.


"Kalian berdua tidak akan menikah sebelum Nesya menikah terlebih dulu!"


"Bagaimana mungkin om? Nesya hingga saat ini masih saja jomblo." kali ini Ratu tak cukup hanya dengan sengaja menginjak kaki Micky saja. Ia juga mencubit paha Micky dan memelototkan matanya hingga akan keluar.


"Dia bahkan sudah ada calon suami. Ingat, jangan sampai kalian berdua berbuat hal yang akan merugikan diri kalian sendiri nanti! Dan kamu Micky, jangan sering ajak Ratu pergi apalagi tanpa pengawal. Kalian berdua paham?" keduanya hanya saling tatap dan tak lama kemudian tersenyum.


"Sudah cukup, pa. Micky? Ratu? Dimana Nesya saat ini? Kenapa dia belum juga kembali?" tanya mama Renata terlihat panik.


"Iya, dimana dia pergi?"


"Om, tante, kak Nesya meminta kami pulang terlebih dulu tadi. Ia bilang akan mengantar kak Destia pulang dan menyelesaikan urusannya entah dengan siapa dan dimana." jawab Ratu menunduk.


"Dia bersama bodyguardnya?"


"Dia pasti akan aman. Tapi tetap kita harus memastikannya. Mama, segera telpon Nesya atau para pengawalnya! Suruh mereka untuk segera kembali!" Renata segera mencoba menghubungi salah satunya.

__ADS_1


__ADS_2