
Nesya berjalan beriringan dengan Ravindra, meninggalkan pantai yang semakin sore semakin besar ombaknya.
"Rav, mau kemana lagi?" tanya Nesya bingung saat melihatnya melangkah disebuah toko yang ada disekitar pantai.
"Baju kita basah Nesya, kita perlu baju baru." ucap Ravindra mulai memasuki toko dan memilih baju untuk mereka. Sementara Nesya hanya menguntitnya seperti itik yang tak ingin jauh dari induk-nya.
"Berapa ini mbak?" tanya Ravindra meletakkan beberapa baju pilihannya dimeja kasir.
"500K, pak." jawabnya. Ravindra mulai mengeluarkan beberapa lembar uang kertas dari dompetnya.
"Maaf, apa disini ada toilet?" tanya Ravindra.
"Iya, ada dibelakang pak. Silahkan jika bapak ingin menggunakannya."
"Baik, terimakasih." ucap Ravindra tersenyum mengambil shopping bag dan membawa Nesya ke toilet.
"Kamu ganti pakaianmu dengan baju ini!" perintah Ravindra. Nesya segera masuk dan mengganti bajunya. Setelah selesai ia keluar dan melihat Ravindra sudah mengenakan baju barunya.
"Mengapa kamu mengambil baju yang sama?" tanya Nesya membuat Ravindra menolehkan kepalanya.
"Pakai saja apa yang ada, lagipula kita mau pulang dari pada nanti sakit kalau tidak ganti."
"Alasan."
"Nesya! Ayo pulang, atau papa akan marah padamu nanti." ucap Ravindra menggertak.
"Papa?"
"Iya, papamu!" jawab Ravindra menarik lengan Nesya dan membawanya melangkah bersaman.
"Tunggu!" ucap Nesya menghentikan langkah saat merasa ponsel didalam tasnya bergetar.
"Queen." ucap Nesya menunjukan ponselnya pada Ravindra.
"Kak Nesya! Kalian berdua dimana? Cepatlah kembali! Aku tunggu di pintu exit!" ucap Ratu nyerocos tanpa menunggu jawaban dari Nesya justru langsung memutuskannya.
__ADS_1
"Queen. Queen." ucap Nesya menatap kesal ponselnya.
"Sudahlah! Ayo pulang!" ajak Ravindra kembali menggandeng tangan Nesya.
•••
"Itu mobil Micky kan?" tanya Ravindra setelah melihat mobil terparkir ditepi jalan.
"Iya, Rav." balas Nesya, lalu Ravindra mulai menekan klason mobil.
Tin!
Tin!
"Kalian dari mana? Lama banget deh. Kak Micky sampai kelaparan tuh nunggu kalian." ucap Ratu yang telah keluar dari mobil Micky dan mendekat ke pintu tempat Nesya duduk dimana ia telah membuka kaca.
"Ya sudah ayo jalan!" kata Ravindra.
"Ayo! Tunggu! Baju kalian samaan? Kayak ABG aja sih pake couple-couplean segala." ucap Ratu meledek memandang mereka berdua sinis.
"Buruan mau ikut kami atau pacarmu!" ucap Nesya tak kalah sinis. Ratu berlari masuk dalam mobil Micky dan melajukan mobil pelan.
💌 Destia
^^^Jangan lupa lusa ada pemotretan, sayang.^^^
💌 Aldo
^^^Nesya, kamu apa kabar? Aku di Jakarta sekarang.^^^
^^^Nesya aku benar-benar menyesal untuk kejadian saat itu. Aku minta maaf.^^^
^^^Nesya, aku harap kamu mau memaafkan aku.^^^
"Benar-benar muka tembok!" umpat Nesya kesal setelah membaca pesan dari Aldo.
__ADS_1
"Kenapa Nesya?"
"Tidak, . . .." ucap Nesya menggantung, mengingat Ravindra begitu membenci Aldo sejak pertemuan awal mereka. Tanpa berpikir dan bertanya lagi Ravindra mengambil alih ponsel Nesya dan membaca pesan yang tertampil dilayar ponselnya.
"Kepar*t! Masih berani dia menghubungimu! Nyalinya patut diacungi jempol!" ucap Ravindra marah menggenggam erat ponsel Nesya diatas setirnya.
"R-ravindra, a-aku belum menjawab pesan dari Destia." ucap Nesya gemetar melihat reaksi Ravindra.
"Jangan pernah balas pesan lelaki kepar*t itu!" ucap Ravindra mengembalikan ponsel setelah men-delete pesan dari Aldo.
"Kenapa kamu selalu sangat marah saat Aldo menghubungiku?" ucap Nesya mulai tenang.
"Jangan membahas apalagi menyebut namanya lagi! Dia tidak penting untukmu kan? Dia juga tidak pantas untukmu! Sekarang ayo kita turun!" perkataan itu menyadarkan Nesya bahwa mereka telah sampai disebuah restaurant.
•••
"Kenapa sedari tadi kalian berdua begitu lamban?" ucap Ratu tak suka.
"Ratu, jangan kekanakan seperti itu! Maafkan sikapnya." ucap Micky kepada Ravindra dan Nesya.
"Tidak apa Ky, dia dari dulu memang sudah begitu." jawab Nesya malas. Ravindra tersenyum.
"Buruan pesan makanan atau sampai rumah kita akan terkena masalah." sahut Ratu.
Saat pesanan datang ponsel Nesya kembali berdering dan terus berdering. Nesya mengabaikannya, namun si penelpon gigih dengan keinginannya hingga berulang kali mencoba menghubunginya tanpa jeda dan itu sangat mengganggu telinga keempat orang dimeja hingga menciptakan suasana yang tidak enak.
"Kak Nesya, angkatlah siapa tahu itu penting!" ujar Ratu, Ravindra menatap memberi isyarat agar Nesya segera mengangkatnya.
"Nesya, aku mohon maafkan aku. Aku menyesal telah melakukan hal bodoh padamu. Nesya, aku janji akan jadi kakak yang baik untukmu, Nesya tolong maafkan aku! please!" ucap Aldo dibalik telpon.
"Aku sudah memaafkan kamu. Sekarang aku minta kamu berhenti mengganggu kehidupanku, menjauh dari diriku!" jawab Nesya lalu memutus sepihak panggilannya, ketiga orang didepannya menatapnya bingung lalu melanjutkan makan lagi setelahnya.
...•••...
__ADS_1
...( Micky and Ratu )...