
Selesai makan, aku tak mau berbasa basi lagi.
" Hanum, bolehkah aku meminjam rahimmu? Tanyaku dengan serius.
Mas Adzam menyenggol kaki ku. Mungkin agak kaget dengan sikap ku yang sedikit frontal.
Aku hanya melirik menggunakan ekor mataku, bahwa mas Adzam terperangah dengan mulut membentuk huruf o.
Maafkan istrimu yang sekarang ya mas. Aku berbicara sendiri dalam hati.
Hanum masih diam. Sesekali ia menarik nafas dan membuangnya. Kurasa ia sedang mengumpulkan energi untuk membicarakan hal penting ini.
Ia menatapku dan mas Adzam bergantian. Membuat aku sedikit tak sabar dengan keputusannya.
" Boleh aku bertanya Fi?"
" Silahkan!"
" Apakah kamu ridho jika suami mu menikah lagi?"
" Ya alu ridho karena ini semua atas izin dari aku." Jawabku tegas.
" Begini Num, kamu menikah dengan suamiku atas izin dari seratus persen. Hak dan kewajiban antara aku dan kamu sama tidak ada perbedaan. Nantinya juga kamu akan menikah secara resmi dengan mas Adzam." Jelas ku secara detail.
" Lalu apa keputusanmu?" Dalam hati aku merasa ketakutan, takut kalau ia menolak menikah dengan mas Adzam. Jika itu terjadi maka impianku untuk menimang anak mas Adzam tidak akan menjadi kenyataan.
Lama Hanum terdiam. Aku dan mas Adzam saling melirik. juga harap-harap cemas.
"Fi, aku bersedia menikah dengan mas Adzam."
Akhirnya keluar juga ucapan yang aku tunggu-tunggu.
" Alhamdulillah...." Aku memeluk mas Adzam.
Lega rasanya karena Hanum mau berbagi kebahagiaan dengan kami.
Aku juga memeluk Hanum, berkali-kali kuucapkan terima kasih.
Mungkin bagi sebagian orang akan menganggap aku adalah wanita gila. Mana ada wanita waras yang merelakan suaminya menikah lagi dengan sahabatnya.
Tapi aku tidak perduli dengan pemikiran orang lain.
Ini adalah kehidupan rumah tanggaku, jadi yang bisa menetapkan keputusan hanya aku dan mas Adzam.
" Num, kami tidak perlu memikirkan apa-apa. Cukup kamu menyediakan dokumen yang di butuhkan untuk pernikahan saja. Acara dan tempat biar aku dan mas Adzam yang mengurus. Iya kan mas?" Aku mencoba meminta pendapat pada mas Adzam.
Mas Adzam hanya mengangguk bak kerbau yang di cucuk hidungnya.
" Lalu kapan pernikahan akan di laksanakan?" tanya Hanum kikuk .
¹
" Secepatnya." Sambarku dengan cepat.
__ADS_1
" Baiklah kalau semua sudah selesai aku mau berpamitan pulang."
" Eit, sebentar. pulang bareng mas Adzam aja sekalian berangkat kekantor."
Mas Adzam mengangguk gugup.
Hanum sudah masuk kedalam mobil mas Adzam. Ada rasa nyeri didadaku. Bagaimana bisa aku dengan suka rela membiarkan mas Adzam semobil dengan sahabatku sendiri.
Mas Adzam masih menatapku dari kejauhan, ia ragu untuk masuk kedalam mobil.
Aku mengangguk memberi kode padanya. Tersenyum lebar pada suamiku.
Ia tersenyum masam padaku. Maaf ya mas... Aku melambaikan tangan. Mobil mas Adzam berlalu meninggalkan aku sendiri.
Aku memijit keningku. Bersandar pada kuatnya dinding. Lama-lama aku merosot terduduk di lantai. Aku menatap langit rumah ini agar air mataku tidak tumpah. Sesak itu yang kurasa. Aku jadi bimbang, Mundur atau lanjutkan?
Badan ini serasa tidak bertenaga, lemas. Yang ada dipikiran ku adalah apa yang sedang di perbuat oleh suami ku di dalam mobil bersama sahabatku?
Tes.. satu persatu air mataku meluncur. Begitu rapuhnya aku..
" Fi, sadar Fi.."
Seseorang seperti memanggil -manggil namaku. Tapi terlalu jauh suara itu.
Hingga badan ku terasa di guncang kuat.
Aku tersadar,ada wajah Hajjah Halimah di dekatku.
" Ada apa denganmu? Sampai kamu tak mendengar panggilan Ummi. Tatapan mu kosong, jauh kedepan nak. Bahkan kau tak mendengar panggilan Ummi, hanya air matamu saja yang mengalir. bahkan kamu menangis tanpa suara. Ada apa sebenarnya?"
Ummi memberondong ku dengan berbagai macam pertanyaan.
Aku masih sesenggukan, rasanya sebagian jiwaku ada yang tak terima melihat kebersamaan mas Adzam dan Hanum.
" Ummi, berdosa kah jika kita menyuruh suami kita menikah lagi?"
Ummi menatapku dalam-dalam. Beliau seperti ingin membaca jalan pikiranku.
" Ada apa dengan rumah tanggamu nak?"
Ummi mengelap sudut matanya.
" Ummi, aku menyuruh mas Adzam menikah lagi dengan sahabatku Ummi.. tapi hati ku sesak melihat mereka semobil berdua." Jawabku terisak.
Ummi mengelus pucuk kepalaku, memapah badanku kedalam rumah. Ummi berlalu kedapur mengambilkan air putih.
" Minumlah dulu."
Aku mengambil gelas dari tangan Ummi.
Ummi mengambil tisu di atas meja, dan mengelap wajahku dengan lembut.
" Sudah tenang?" tanya Ummi.
__ADS_1
Aku mengangguk.
" Afi sayang, kalau kamu memang tidak ridho, tidak ikhlas sebaiknya rencana kamu menjodohkan dengan sahabatmu itu di batalkan saja. suatu saat pasti akan berdampak dengan pernikahanmu. Kalau kamu minta pendapat Ummi sebagai wanita, tentu Ummi akan berfikiran bahwa Ummi tidak siap di madu." jelas Ummi.
Aku masih termenung memikirkan ucapan Ummi. Apakah aku sudah ridho?
" Ummi, diantara kami tidak ada anak, sementara aku sudah di vonis dokter mandul ummi."
" Sabar adalah obat segala obat. Perbanyak istigfar memohon ampun kepada Allah ya nak. Ummi telponkan Adzam ya..!" Tawar Ummi.
" Enggak usah Ummi, Insya Allah Afi sudah baikan." Aku menolak tawaran Ummi.
Bagaimana pun mas Adzam tidak boleh tau tentang kerisauan hatiku.
Akhirnya Ummi berpamitan pulang.
Ya Allah ampunkan aku..
******************
Hari sudah sore, mas Adzam baru saja pulang dari kantor. Mas Adzam sedang membersihkan diri di kamar mandi.
Aku masuk kedalam kamar, handphone mas Adzam terletak diatas meja.Lima tahun aku tidak pernah perduli dengan Amas Adzam. entah mengapa sejak Hanum menerima menjadi istri kedua mas Adzam hatiku selalu diliputi rasa curiga.
Aku menempelkan telinga di dinding kamar mandi. masih terdengar guyuran air. Aku berjalan mengendap- endap mengambil handphone mas Adzam.
Aku memeriksa kontak mas Adzam. Mataku terbelalak melihat nomor Hanum ada di deretan kontak milik mas Adzam.
Nelangsa itu yang kurasa. Baru satu hari semobil dengan sahabatku,mas Adzam sudah berhasil meminta nomor sahabatku.
Memang benar Kucing tidak akan pernah menolak jika di beri ikan, Buaya juga tidak pernah menolak jika di beri daging.
Ternyata mas Adzam sudah seperti kucing dan buaya. Menikmati semua ini.
Aku terduduk lesu di tepi ranjang. Tak ada gairah dalam menjalani kehidupan ini. Kupikir mas Adzam akan sedih atau kepikiran dengan semuanya ternyata...
Mas Adzam sudah keluar dari kamar mandi. Ia bersiul-siul, hal yang sangat jarang dilakukan. Mas Adzam apakah engkau sebahagia ini? Batinku menjerit.
" Yang kok tumben baju mas gak disiapin?"
" Hah? Apa mas" Aku gugup dan kurang mendengar apa yang di bilang tadi.
" Bajunya mana?" Mas Adzam mengulang lagi pertanyaannya.
Aku menepuk jidatku, " Maaf lupa mas."
Aku membuka lemari dan mengambilkan baju mas Adzam.
" Yang, ternyata Hanum orang supel ya." ucap mas Adzam.
Deg! Jantungku seperti berhenti berdetak.
Secepat itu kah mas Adzam?
__ADS_1