
Mbak, boleh ngobrol sebentar? " pintanya.
Aku membalikkan badan ku, heran. Apa yang mau di bicarakan. Bukankah selama ini kami jarang bicara.
Aku kembali duduk dimeja makan.
" Ada apa?" Aku menatapnya serius.
" Apa betul mbak menyuruh mas Adzam menikah lagi dengan sahabat mbak?"
Raka menatapku tajam.
Aku menghela napas, " Apa urusannya dengan kamu Ka?" Aku balik bertanya.
" Mbak uda siap berbagi suami dengan wanita lain. Mbak uda sinting?" Jawabnya lagi.
Seumur hidupku baru kali ini ada orang yang berani mengatakan aku sinting.
Jelas kata-kata nya tadi menyakiti aku, Apalagi umurnya tiga tahun dibawahku.
" Itu urusan mbak Ka, bukan urusan kamu." Aku berdiri hendak meninggalkannya.
" Urusan apa?"
Tiba-tiba kami dikejutkan oleh kedatangan mas Adzam.
Aku merasa kikuk, Apalagi berduaan dengan adik ipar.
Sementara Raka tampak lebih tenang sambil tetap menikmati santap siangnya. Bahkan ia kembali mengisi nasi di perutnya.
" Bukan apa-apa mas. Oh ya, kamu mau makan mas?" Aku mencoba mengalihkan pembicaraan kami.
" iya nih lapar. Oh ya mama uda makan?"
" Uda mas, tadi uda Afi suapin sekarang lagi istirahat di kamar."
Aku mengisi nasi kedalam piring mas Adzam. Kemudian aku duduk disampingnya.
" Siapa yang masak? Enak banget supnya. Iya kan Ka?"
Yang di tanya malah cuma menganggukkan kepala. Tampaknya ia sudah siap makan, dan berlalu dari ruang makan ini.
" Kenapa tuh anak kok aneh banget?" Tanya mas Adzam kepadaku.
Aku hanya mengangkat kedua bahuku sebagai tanda bahwa aku tidak tahu.
Mas Adzam sudah selesai makan. Ia masuk kekamar nya, mau mengganti pakaiannya.
Memang dirumah mama mas Adzam kami masih meninggalkan baju milik kami, karena kami terkadang masih sering menginap dirumah mama.
Aku duduk di depan tv , melihat acara kartun dua botak kesukaanku. Terkadang mas Adzam meledekku karena folm favorit ku tidak cocok dengan usiaku. Tapi aku tidak perduli selagi aku happy.
Aku masih tertawa sendiri melihat kelucuan dua botak di tv, dan mas Adzam sudah duduk disampingku. Akhirnya mas Adzam ikut-ikutan tertawa.
Seneng itu kita yang ciptain bukan orang lain.
__ADS_1
" Loh, Adzam kapan datang?" Mama keluar dari kamar.
" Baru aja kok ma, uda sehatan ma?" tanya mas Adzam.
" Uda mendingan kok Zam, lagian mama bosan dikamar terus."
Mama duduk disamping mas Adzam dengan sigap mas Adzam memijit punggung mama.
Mas Adzam adalah anak yang patuh dan peduli pada orang tua. Beruntungnya aku punya suami seperti mas Adzam.
Tiba-tiba handphoneku berbunyi. Ada nama Hanum terpampang di layar kaca handphone milikku.
Mas Adzam dan mama kompak menatapku.
" Hanum." Aku memberi tahu tanpa diminta.
Suasana jadi tegang, Mas Adzam membuang wajahnya. Mama hanya terdiam.
Aku pamit mengangkat telpon dari Hanum. Aku berjalan ke teras depan.
( Halo Num..) sapaku
( Aku sudah punya keputusan, kapan mau ketemu?) terdengar suara Hanum tanpa basa-basi dan ramah tamah.
( kalau besok gimana? soalnya mama lagi kurang enak badan.) Aku memberi tahu perihal mama pada Hanum.
(Oke.)
Sambungan telepon di putus oleh Hanum.
Ada apa dengan Hanum? Kenapa bahasanya tidak seramah biasanya.
Apakah aku memyakiti Hanum.
Aku memijit keningku. Entah mengapa kepalaku jadi berasa pusing memikirkan ini.
Aku masuk kedalam rumah dan kbalo bergabung dengan mama dan mas Adzam.
" Hanum bilang apa Fi?" tanya mama.
Sepertinya mama penasaran dengan percakapan aku dan Hanum.
" Hanum ngajak ketemu ma, katanya dia sudah punya keputusannya ma."
" Jadi hari ini kalian mau ketemu Hanum? tanya mama lagi.
" Enggak lah ma, mama kan lagi kurang enak badan. Masih ada waktu besok untuk bertemu hanum kok ma." Jelas ku.
Mas Adzam hanya menganggukkan kepala tanda menyetujui keputusanku.
Mas Adzam dan mama asyik bercerita, sedangkan aku hanya menjadi pendengar cerita saja.
Pikiran mulai bercabang-cabang.
Apakah pilihanku sudah benar? Apakah aku sudah yakin pada diri ku sendiri tidak akan cemburu ketika suatu saat mas Adzam tidur dengan sahabatku sendiri.
__ADS_1
Mengapa aku menjadi meragu? Bukan kah kita harus siap berkorban demi pasangan kita.
Huft! Aku menghembuskan nafasku. Sontak mama dan mas Adzam menatapku bersamaan membuat aku menjadi salah tingkah.
" Mikiri apa?" Tanya mas Adzam.
Aku menggeleng, aku tidak ingin mas Adzam membaca keraguan di wajahku.
" Kamu meragu Fi?" tanya mama.
Ah, kenapa sih feeling ibu selalu benar?
" Kalau kamu meragu masih ada waktu untuk berfikir ulang tentang rencana mu." Ucap mama lagi.
Aku masih terdiam tak merespon ucapan mama.
Mas Adzam merangkul tangannya di pundak ku. Mengusap lembut bahuku.
Jangan nangis, jangan nangis ucapku dalam hati. Aku tidak mau air mataku turun dan dilihat oleh mama dan mas Adzam.
Bagaimanapun aku harus tegar didepan mereka.
" Fi, mama tidak pernah menuntut kalian harus punya anak. Mama tidak pernah meminta kamu membiarkan Adzam menikah dengan wanita lain. Mama juga tidak keberatan jika kalian ingin mengasuh anak dari panti asuhan. Lalu apa yang sebenarnya kamu cari Fi? Bahagia itu bukan karena anak, tapi pasangan yang saling mencinta itu pun suatu kebahagian dalam berumah tangga." begitu bijaksana sekali ucapan mama.
" Mas juga tidak pernah menuntut kita harus punya anak yang. yang paling penting dalam hidup mas, kita bisa selalu bergandengan tangan bersama dalam suka mau pun duka." Ucap mas Adzam menambahi perkataan mama.
Aku menggenggam tangan mas Adzam. " " " Demi Allah dan Rasul aku ikhlas berbagi suami dengan wanita lain mas, yang penting ada buah hati diantara kita. Walau kelak anakku itu bukan lahir dari rahimku sendiri." Sekuat tenaga ku atur nada suaraku agar mereka tidak mementingkan perasaanku lagi.
Allah... mengapa berat sekali ujian-Mu.
Aku seperti tidak kuat menerima cobaan dari mu ya Rabbi...
*************
Setelah Ririn dan Raka pulang kerumah, akhirnya aku dan mas Adzam memutuskan untuk pulang kerumah mama.
Mama juga sudah mulai merasa enakan.
Aku juga sempat berpesan sama mama agar tidak terlalu memikirkan pernikahan mas Adzam yang kedua. Apalagi mama mempunyai riwayat darah tinggi.
Aku juga terlalu takut jika sesuatu hal terjadi mama, aku adalah orang yang paling bersalah.
Kami sudah tiba dirumah, aku pulang ikut mas Adzam. Sementara motor ku tinggal dirumah mama. Besok Raka akan mengantarnya kerumah kami.
Aku pun segera membersihkan diri. Kemudian aku menghangatkan makanan yang tadi siang ku masak. Sayang belum basi.
Mas Adzam masih diruang kerjanya. Karena tadi izin pulang duluan jadi mas Adzam membawa pulang pekerjaan yang belum disiapkan tadi.
kebiasaan mas Adzam kalau sudah membawa pulang pekerjaan kerumah pasti tidak ingin di ganggu. Dan aku paham dengan hal itu. Jadi malam ini aku makan sendirian. Tidak enak memang, tapi mau bagaimana lagi.
Setelah selesai makan aku masuk kekamar, bermain handphone adalah jalan satu-satunya agar aku tidak suntuk.
Kubuka logo biru, begitu banyak postingan teman-teman ku. Salah satunya ada postingan Hanum yang berisi ( semoga keputusan ku adalah yang terbaik untukku dan untukmu).
Postingan itu pasti untukku. Hanum.. semoga AKU BOLEH MEMINJAM RAHIM MU UNTUK ANAK-ANAK KAMI NANTI Harap ku dalam hati.
__ADS_1