Boleh Ku Pinjam Rahimmu?

Boleh Ku Pinjam Rahimmu?
Boleh Ku Pinjam Rahimmu 17


__ADS_3

Aku hanya menggeleng kan kepala.


Aku memilih Hanum menjadi istri kedua suami ku karena aku yakin keimanan Hanum sangat kuat. Tetapi mengapa jadi begini?


" Hanum, dimana jilbabmu?" Aku sedikit tegas padanya.


Bagaimana pun juga aku ingin Hanum yang dulu.


Ia masuk meninggalkanku. Aku tidak perduli.


Aku menunggu tukang bubur ayam yang biasa lewat di kompleks kami. Hari ini aku sedang malas memasak. Mood ku kacau balau.


Ah, itu dia tukang bubur lewat, aku masuk kedalam mengambil mangkok.


" Bang beli!" aku melambaikan tangan.


" Tiga ya bang" Ucapku lagi.


Aku membawa tiga mangkuk berisi bubur ayam. Tak lupa aku menyiapkan tiga gelas teh manis hangat untuk menemani sarapan kami pagi ini.


Mas Adzam sudah mandi, sudah berpakaian rapi. Kini kami sudah duduk bertiga untuk menikmati sarapan.


" Mas, nanti kita cari rumah ya buat Hanum." aku membuka percakapan pagi ini.


" Oh iya deh." kamu ikut ya Fi." ucap mas Adzam.


Aku hanya mengangguk sebagai tanda setuju.


" Num, kamu sudah resign? " tanyaku.


" Belum Fi."


" Kalau menurut mas sih sebaiknya kamu resign aja dari pekerjaan mu." ucap mas Adzam memberi saran.


" Iya deh mas nanti aku pikir-pikir dulu."


Kami sudah selesai makan, kini kami berangkat bertiga untuk mencari rumah yang cocok untuk Hanum. Bagaimana pun Hanum sekarang adalah istri sah dari mas Adzam. Sudah sepatutnya ia menerima hak dari gaji mas Adzam. Dan aku bikan lah perempuan yang tamak atas harta mas Adzam.


Setelah satu jam berputar-putar, akhirnya kami menemukan rumah yang cocok untuk Hanum. Rumah minimalis, komplek yang tidak jauh dari rumahku. Mungkin memakan waktu setengah jam jika menaiki kendaraan.


Rumah Hanum berada dipinggiran kota sedangkan rumahku ada di kompleks. Tak masalah bagiku. Dari dulu aku ingin rumah yang nyaman dan tidak berisik.


Kami pun lanjut membeli tempat tidur, lemari dan keperluan dapur. Itu kebutuhan utama dalam berumah tangga. Untuk urusan perabot semua aku serahkan pada Hanum.


Yah akhirnya semua sudah kelar. Hanum sudah membawa bajunya disini. Kami membereskan rumah bersama-sama. Malam ini Hanum akan tinggal dirumah ini.


Hari sudah sore. Rumah baru Hanum sudah rapi. Aku izin pulang, tapi mas Adzam berniat mengantarku.


" Mas antar ya Fi." ucap mas Adzam menawarkan diri.

__ADS_1


" Kamu sudah berani tinggal disini Num?" tanyaku memastikan.


Tampak ada keraguan di wajah Hanum, " Berani kok Fi." katanya.


" Oke aku pulang dulu ya, Assalamu'alaikum."


" Waalaikumsalam."


*************


Kami meninggalkan rumah Hanum. masih ada kecanggungan diantara aku dan mas Adzam. Padahal dulu kami tak pernah kehabisan bahan pembicaraan. Lalu sekarang mengapa menjadi dingin?


Kami sudah tiba dirumah, aku membersihkan diri sejenak agar lebih fresh.


Sejujurnya aku merindukan mas Adzam yang selalu hangat padaku.


Sudah sepuluh hari sejak mas Adzam menikah ia raj pernah menyentuhku, padahal dulu ia sekalu mara jika tiga hari saja aku tak memberinya jatah biologis untuknya. Apa lagi jika aku sedang kedatangan tamu bulanan, maka ia akan semakin risau. Apakah sekarang karena sudah ada Hanum?


Aku sudah tampil cantik hari ini. Sebisa mungkin aku ingin kembali menghangatkan ranjang kami yang sudah terlanjur dingin.


Mas Adzam masih asyik bermain ponsel, sesekali tersenyum.


Aku menghampiri mas Adzam, " mas mandilah dulu." ucapku lembut.


" Iya yang bentar lagi."


Tatapan tidak beralih sedikit pun dari handphone nya.


Satu jam, dua jam aku menunggunya dikamar, namun mas Adzam masih asyik dengan dunianya.


Ya Allah... jika ini jalanmu, hamba ikhlas ya Allah... batinku merintih karena menerima perlakuan dari mas Adzam.


Aku menarik selimut menutup separuh tubuhku. Bukan hanya tubuh ku saja yang lelah. Batinku ikut lelah menerima dan menjalani kenyataan ini.


Aku tidak tahu jam berapa mas Adzam masuk kekamar. Yang aku tahu saat terbangun tengah malam ia sudah berada di sampingku dan tertidur dengan lelap.


Aku memperhatikan wajah suamiku, " Mas, mengapa kamu semakin jauh denganku?" gumamku.


" Hanum..."


Hah? Mas Adzam mengigau menyebut nama Hanum.


Sudah seberapa besar cinta mu pada Hanum, mas? Hingga tidur saja kamu masih menyebut namanya.


" Hanum .. mas rindu!"


Aku menggenggam tangan mas Adzam.


Ternyata aku sudah kehilangan cintamu mas.

__ADS_1


Ku peluk erat tubuh suamiku. Demi kebahagianmu biarlah aku merasakan sakit ini mas!


**********


Pagi sudah datang. Matahari bersinar dengan cerah. Mas Adzam sedang bersiap untuk berangkat kekantor. Sedangkan aku masih sibuk berkutat didapur menyiapkan sarapan.


Mas Adzam sudah duduk di meja makan, " Selamat pagi mas.." sapaku ramah.


Aku berusaha tidak membahas hal-hal buruk yang membuat aku dan mas Adzam bertengkar.


Cup! Aku mencium pipinya lembut.


Ia menahan wajahku. Kini kami saling menatap. Di luar dugaan ku, mas Adzam mencium bibirku dengan lembut hingga aku tak kuasa menolak. Aku membalas ciuman dari mas Adzam.


Aku tidak munafik, sebagai istri yang sudah tidak di sentuh suaminya hampir dua minggu lamanya. Tentu ada kerinduan untuk bermesraan dengan suaminya.


Cukup lama kami berciuman hingga akhirnya kami sama-sama sadar dan tertawa berbarengan.


" Uda telat mas!" aku mencoba mengingatkan.


Mas Adzam hanya tersenyum.


" Nanti sore ya!" Ia mengedipkan sebalah matanya.


" Mulai genit ya.." aku mencoba menggodanya


Pagi ini mood sedikit membaik setelah mendapat sambutan hangat juga perhatian dari mas Adzam.


Selesai sarapan aku mengantar mas Adzam sampai di depan pintu. Tak lupa aku memeluknya, " Hati-hati ya mas!"


Mas Adzam melambaikan tangan kepadaku.


Aku masuk kedalam tumah setelah mobil mas Adzam telah menghilang.


Aku segera berberes rumah agar bisa santai sejenak.


*************


Hari ini aku membuka media sosialku. Begitu banyak lingerie berseliweran di berandaku. Setelah hampir menikah lima tahun bersama mas Adzam aku belum pernah mencoba pakaian seksi seperti ini. Setiap malam aku selalu memakai baju tidur selayaknya orang yang mau tidur. Dan mas Adzam juga tidak pernah membicarakan pakaian seksi ini sepanjang pernikahan kami.


Akhirnya setelah memikirkan matang-matang aku pun mencoba memesan satu lingerie warna hitam dengan potongan minim. Mudah-mudahan aku punya nyali untuk memakai di depan mas Adzam.


Bagaimana pun juga aku perlu terlihat tampil menarik di depan mas Adzam. Apalagi setelah kehadiran Hanum di dalam rumah tanggaku. Mas Adzam seperti terpesona dengan kecantikan Hanum hingga membawa namanya dalam tidurnya.


Aku berdiri di depan cermin. Apakah wajahku semakin tua? Atau mas Adzam yang sedang di landa puber kedua?


Entahlah hal ini malah membuat kepalaku pusing.


Bel di rumah berbunyi berkali-kali. Aku segera berjalan kedepan untuk membuka pintu.

__ADS_1


Hah! untuk apa dia datang lagi?


__ADS_2