Boleh Ku Pinjam Rahimmu?

Boleh Ku Pinjam Rahimmu?
Boleh Ku Pinjam Rahimmu 18


__ADS_3

Pov Mas Adzam


Aku dan hanum sudah tiba di rumah. Jatah bulan madu dari Afi hanya tujuh hari, namun aku masih kurang puas untuk menikmati waktu berdua bersama Hanum. Entah mengapa aku menjadi candu untuk menikmati Hanum. Ia terlalu pintar menyenangkan seorang laki-laki.


Sepanjang perjalanan pernikahan ku dengan Afi, tak sekalipun ia tampil seksi di hadapanku. Ia hanya menggunakan pakaian tidur yang sopan setiap malam. Terkadang aku merasa bosan, namun tak berani untuk menegur. Saat berhubungan intim pun ia terlalu pasrah dan menerima. Berbeda dengan Hanum, saat berduaan denganku ia hanya menggunakan pakaian tipis menerawang dengan warna terang menyala. mungkin ia punya koleksi yang sangat banyak. Hanum begitu liar dan aku begitu mendambanya.


Sekarang aku lebih sering membanding-bandingkan antara Afi dan Hanum.


Saat tiba dirumah, aku seperti orang lain dalam menghadapi Afi. Ia juga menjadi lebih buruk pasca ku tinggal berbulan madu. matanya lebih cekung dan tubuhnya tampak kurus.


Aku melihat ada kerinduan dimatanya. spontan ia memelukku erat. Entah mengapa aku tidak membalas pelukannya. Aku takut Hanum akan cemburu dengan perlakuan ku terhadap Afi. Padahal Afi adalah istriku juga.


Malam ini kami tidur bertiga di rumah ini. Dan malam ini aku kembali menyakiti hati Afi. Seharusnya malam ini aku tidur dengan Afi, Seharusnya aku ada disamping Afi. Nyatanya aku sudah menjadi lelaki paling jahat. Karena malam itu di rumah ini aku kembali bercinta dengan Hanum.


Aku tidak tahu apakah ia mendengar suara kami saat bercinta.


Atas persetujuan Afi, akhirnya kami mencari rumah yang nyaman untuk Hanum. Aku memilihkan rumah untuk hanum di pinggiran kota, agar aku bisa mampir kapanpun aku mau.


Seperti pagi ini, aku akan berangkat kerja. aku mengurangi jatah sarapanku agar nanti aku bisa memasak makanan Hanum. Dan secara diam-diam aku mengabari Hanum kalau aku akan mampir kerumah nya pagi ini.


Aku bersiul-siul senang, karena membayangkan akan bertemu Hanum. Aku seperti remaja yang sedang jatuh cinta.


Dan kini aku sudah sampai di rumah Hanum. pintu masih terkunci dan aku membukanya dengan kunci duplikat yang ada padaku


Pintu terbuka dan tidak ada Hanum yang menyambutku.


" Hanum?" aku memanggilnya berulang kali, namun tidak ada sahutan.


Aku membuka pintu kamar dan ternyata pagi-pagi ia sudah memberi suprise padaku.


Dengan tiba-tiba ia memelukku dan mencium dengan agresif.


Aku seperti kewalahan di buatnya.


" Rindu!" ia menyudahi ciuman kami pagi ini.


Hanum.. ternyata ia begitu pintar memanjakan mataku. lingerie merah dengan belahan dada rendah.


" Seksi sekali pagi ini?" tanyaku sambil memeluknya.


"Cuma buat kamu mas." ucapnya manja.


" Mas uda sarapan?" tanya hanum lagi

__ADS_1


" uda tapi sedikit. Mas penasaran dengan masakan mu pagi ini." ucapku lagi.


Kami pun akhirnya sarapan bersama. Aku melirik jam yang ada di pergelangan tanganku. Setengah jam lagi aku ada rapat dengan klien. Aku pun bersiap untuk berangkat kekantor. Hanum mengantarku di depan pintu.


" Hati-hati ya mas!" Ia mencium pipiku kanan dan kiri.


" Nanti sore kalau tidak ada halangan mas mampir ya? rindu." ucapku.


Hanum hanya tersenyum genit kepadaku.


Semangat kerjaku semakin bertambah setelah aku memiliki dua istri. Tak sabar rasanya untuk segera sore.


**********


Waktu jam pulang kantor usai. Aku segera meluncur ke rumah Hanum.


Aku membuka pintu rumah yang terkunci.


Hanum menyambutku di ruang tamu dengan pakaian yang sangat aku suka.


Tanpa basa-basi aku dan Hanum pun segera menuntaskan kerinduan yang terpendam.


Tak terasa waktu semakin berjalan. Rasanya aku masih ingin bermalam di rumah namun aku juga harus menjaga perasaan Afi. Bagaimana pun Afi adalah orang yang menemaniku dari nol.


" Mas pulang dulu ya. Jangan lupa kunci pintu dengan benar."


Kami berpelukan sejenak. Aku mengecup bibir ranum milik Hanum. Aku menyudahi ciuman kami, sebelum Hanum membalas dan kami terlibat adegan ranjang kembali.


Aku meninggalkan Hanum, meluncur pulang kerumah Afi. Tak membutuhkan waktu lama aku sudah tiba didepan rumah Afi, istri pertamaku.


Rumah ini tampak gelap, tidak ada lampu depan yang di hidupkan. Padahal dulu Afi sangat takut dengan gelap. Sekarang ia malah membiarkan rumah ini gelap. Aneh sekali!


Aku membuka pintu yang telah terkunci dengan kunci duplikat milikku.


Dulu setiap pulang bekerja, walau pun aku terlambat pulang ia selalu memberi sambutan hangat juga suara manjanya. Tapi kini? Sambutan hangat pun tidak ku terima.


Aku masuk kedalam rumah. Menghidupkan lampu Kamar. Tampak Afi sudah tertidur dengan hanphone masih menyala di tangannya. Aku mengambil handphone itu kemudian mematikan dan menarihnya dimeja.


Aku mengganti pakaian tidur. Karena merasa lapar aku pun pergi kedapur. Tidak ada makanan apa pun. Hanya sisa bungkus mie instan.


Aku duduk sejenak di dapur. Rumah ini semakin dingin sejak aku menikah. Perhatianku berkurang untukknya. Padahal dulu semua waktu ku hanya untukknya. Ya Allah..mengapa Engkau uji kehidupan rumah tanggaku? Tak terasa air mataku menetes.


Aku kembali masuk kekamar. Tidur disamping Afi. Memeluk tubuhnya yang semakin kurus dan kecil. Baju yang biasa ia kenakan juga sekarang tampak kedodoran.

__ADS_1


" Maafkan aku yang ...!" Aku mencium rambut hitam nan harum.


*********


Pagi sudah datang, Aku tak menjumpai Afi disampingku.


Aku bangun, dan menemukannya sedang didapur.


Kupeluk ia dari belakang, Mencium harum rambutnya.


" Uda bangun mas?" Tanyanya riang.


Aku tak menanggapi ucapan Afi. Yang kulakukan saat ini adalah mengemdus lehernya. Hal yang dulu sering aku lakukan.


" Mas, geli loh!" Ucapnya sambil tertawa renyah.


Aku tidak perduli, aku hanya ingin suasana dirumah ini kembali hangat. Aku mencumbunya hingga ia berbalik menghadapku. Aku mematikan api kompor kemudian memapahnya untuk kembali kekamar. Ku letakkan Afi dengan lembut. Selanjutnya kami terlibat dalam hubungan sah suami istri. Hubungan yang telah lama hambar kembali ku bangkitkan.


Selesai bercinta Afi menutup matanya malu.


" Kenapa?" Aku mencoba menggodanya.


" Malu." jawabnya polos.


" Bersiaplah besik kita akan liburan ke paris!" Ucapku lagi.


" Paris? kamu serius mas?" Ia terduduk untuk meyakinkan ucapanku.


" Gak percaya?"


Dia hanya menggeleng.


" Mas sedang mengurus semua dokumen agar kita bisa berbulan madu lagi. Untuk yang ke dua kali."


" Sama Hanum?" tanya nya lagi.


" Boleh?" Aku balik bertanya.


Raut wajahnya berubah murung. Aku memeluk tubuhnya sambil berbisik di telinganya, " Hanya kita berdua! Aku dan kamu."


Air matanya tumpah menetes di pipi. Dia menangis didadaku.


Percayalah Fi, walau kini ada Hanum, tapi kamu adalah wanita terbaik dalam kehidupan mas.

__ADS_1


__ADS_2