
Aku merebus air panas setelah mendidih langsung mencelupkan mie dan telur.
Saat sedang asyik menikmati mie, aku di kejutkan dengan kedatangan mas Adzam.
" Fi..."
" Hem?" Aku mendongak dengan mulut masih penuh dengan mie yang bergelantungan.
" Lapar." Ia memegang perutnya.
Ya Allah.. aku memukul jidatku sendiri.
" Maaf.." Aku mengangkat dua jariku sebagai pertanda aku meminta maaf.
Aku meletakkan sendok dan bangkit dari kursi ku. Kembali memanaskan air.
Kami masih sama-sama diam tak ada yang mencoba untuk membuka percakapan.
Mie sudah siap, dan aku menghidangkan di hadapan mas Adzam.
" Makan mas, mumpung masih hangat.!" Ucapku dengan lembut.
Mas Adzam mengangguk dan mulai menikmati mie yang masih mengepul.
Aku memperhatikan dari kursi seberang.
Mas Adzam... sudah lama kita melewati momen seperti ini. Makan bersama walau pun hanya semangkok mie. Kemana perginya bahagia kami yang dulu?
Aku meletakkan kedua tangan ku diatas dagu. Memperhatikan kekasihku yang sudah lama tidak terurus lagi. Makannya, pakaiannya, bahkan kebutuhan biologisnya pun ku abaikan.
" Kenapa memperhatikanku seperti itu Fi?" tanya mas Adzam.
Sontak aku gelagapan karena kepergok telah memperhatikan suamiku sendiri.
" Eh.. siapa yang merhatiin kamu mas?" Elakku malu.
" Tuh buktinya mie kamu masih penuh." ucap mas Adzam sembari menunjuk mangkok ku yang masih penuh.
Hah! Aku menutup wajahku dengan kedua telapak tangan ku. Malunya aku...batinku berseru.
Aku cepat menghabiskan mie yang sudah mengembang. Bisa-bisanya aku seperti bocah yang baru jatuh cinta. Apa karena hubungan kami sudah lama dingin seperti salju dan kini salju itu mulai mencair.
Aku membereskan sisa mangkok bekas makan mie tadi. Mas Adzam masih menunggu di kursi meja makan. Aku seperti di awasi oleh mas Adzam. Hanya sesekali aku melirik lewat sudut mataku. Takut salah tingkah lagi dan akhirnya berujung pada malu.
Yes! Akhirnya sudah beres semua.
Hoam... Aku menguap. Rasa kantuk menyerangku dengan hebat.
" Uda ngantuk yang?"
Hah? Yang? Apa telingaku gak salah dengar? Sudah hampir sebulan ia melupakan kata panggilan itu untukku.
" Uda ngantuk?" Mas Adzam mengulang ucapannya.
Aku hanya mengangguk, ia mengikutiku kekamar ku. Ups ralat bukan kamarku tapi kamar kami.
Aku membaringkan tubuhku diatas ranjang. Menarik selimut menutup separuh tubuhku.
Aku mencoba menutup mataku. Namun di luar dugaanku Mas Adzam memeluk erat tubuhku.
" Maafkan kesalahan mas akhir-akhir ini ya.." bisiknya di telingaku.
__ADS_1
" Kamu gak salah mas, aku yang salah." Bisikku.
Entah siapa yang memulai, yang aku rasa bibir mas Adzam sudah menyusuri leherku.
Hal yang hampir saja terlupa selama satu bulan ini kini membara kembali.
Aku membalas cumbuan mesra mas Adzam. Hingga kami melakukan ibadah halal seorang suami dan istri.
Malam ini kami melewati malam kami dengan berkali-kali bercinta layaknya pengantin baru.
Ternyata kami masih saling mencintai. Buktinya ia masih bernafsu berhubungan denganku. Aku bangkit dari ranjang. Sejenak membersihkan diri dari sisa-sisa kebahagiaan kami tadi. Sementara mas Adzam sudah tertidur dengan pulas hingga terdengar dengkuran halus dari mulut mas Adzam.
Tak lupa aku kembali melaksanakan shalat malam. Terima kasih ya Allah karena hubungan kami telah membaik.
*****************
Pagi-pagi sekali aku sudah bangun, Hal pertama yang kulakukan adalah memasak. memasak sambal teri di campur terong adalah makanan kesukaan mas Adzam.
Disaat aku sedang fokus memasak, tiba-tiba ada tangan yang melingkar di pinggangku.
Sedikit terkejut, tapi lebih banyak terharu. heheeee..
" Kaget ya..?"
" Biasa aja." balasku sok cuek.
Diluar dugaan mas Adzam malah mengendus leherku.
" Mas.. geli!" ucapku sambil terkekeh.
" Geli tapi nikmat ya..?" Godanya lagi.
" Mas..!"
Setelah puas bermain dengan bibirku ia malah berlari meninggalkanku masuk ke kamar mandi.
Dasar! Batinku ngedumel.
Aku tengah menyusun hidangan sarapan pagi diatas meja. Terdengar suara pintu di ketik dengan keras.
Setengah berlari aku menuju pintu depan.
Krieeet...
Ada sosok yang ku kenal muncul di balik pintu.
Hanum!
Ada apa dengannya? Hingga datang sepagi ini kerumahku.
" Hai, boleh aku masuk?" Sapanya.
" Assalamu'alaikum dulu Num." Aku mengingatkan.
" Maaf, Assalamu'alaikum..." Ia mengucap salam.
" Waalaikumsalam, masuk Num! Aku mempersilahkan Hanum masuk kerumah ku.
" Langsung ke meja makan yuk! Kebetulan sebentar lagi kami mau sarapan. Hanya tinggal menunggu mas Adzam bersiap." Ajakku ramah. Aku mencoba untuk ramah. Hanum tidak salah apa-apa.
Hanum mengikutiku tanpa rasa canggung.
__ADS_1
" Duduklah!"
Hanum duduk dengan santai. Aku menuangkan segelas teh manis hangat untuknya.
" Minum dulu."
" Iya terima kasih." jawab Hanum sambil menyunggingkan senyum termanisnya untukku.
Akhirnya mas Adzam keluar dari kamar.
Dengan kemeja warna maroon membuatnya semakin perfect.
Mas Adzam tampak terpelongo, mungkin kaget dengan kedatangan Hanum sepagi ini dirumah kami.
Ups! ada yang memperhatikan rambut mas Adzam yang masih basah.
Aku hanya senyum-senyum sendiri. " Sampai seperti itu kamu memperhatikan suami ku Num, sabar sebentar lagi dia juga akan menjadi milikmu juga." batinku sibuk meracau sendiri.
" Eh, mas duduk sini." panggilku mengejutkan mas Adzam.
Mas Adzam berjalan ke arah kami.
Aku mempersilahkan mas Adzam duduk si sampingku.
" Duduk mas!"
Mas Adzam menuruti perkataanku.
Aku mengisi nasi beserta lauk pauknya kedalam piring dan memberikan pada mas Adzam.
" Ayo Num piringnya di isi nasi, sini deh sekalian." tawarku pada Hanum.
" Eh, gak usah Fi aku bisa sendiri."
" Oke.! tapi maaf lauknya seadanya. habisnya aku gak tau kalau kamu mau berkunjung."
" Ini juga uda enak kok." Jawab Hanum kikuk.
Kami mulai menikmati makanan kami masing-masing. Pikiranku tetap berkelana sesekali aku memperhatikan mas Adzam dan Hanum. Mas Adzam sepertinya tidak terlalu memperhatikan Hanum. Mungkin takut aku sakit hati.
Sarapan pagi telah selesai. Mas Adzam bersiap untuk berangkat kerja. Aku mengantar mas Adzam sampai kedepan pintu.
Cup! Cup! Cup! ciuman mendarat di pipi kanan dan kiri juga keningku.
" Mas.." Aku mencubit pelan pinggang mas Adzam.
" Udah lama, hampir terlupa."
Mas Adzam meninggalkanku bersama mobil kesayangannya. Aku melambaikan tangan.
Huft! Ku hela nafas berat. Ku tutup pintu, aku kembali masuk kedapur. Hanum sedang mencuci piring bekas makan kami tadi pagi.
Meja makan sudah dirapikan.
" Gak perlu repot-repot Num." Ucapku membuka pembicaraan diantara kami.
Hanum menoleh sebentar, tersenyum kecil kepadaku. " Kalau cuma nyuci piring dan beres-beres begini kecil." jawabnya.
Aku hanya tertawa mendengar ucapannya.
Aku memperhatikan Hanum dari belakang.
__ADS_1
Calon istri mas Adzam. Ya Allah semoga pilihanku memilih Hanum menjadi ibu untuk anak-anak mas Adzam adalah yang terbaik, dan aku berharap ya Allah semoga rumah tangga yang kami bangun tetap menjadi rumah tangga yang sakinah mawadah dan warahmah.
Hai teman-teman apakah Hanum bosa menjadi istri madu yang baik untuk Afi dan Adzam?