Boleh Ku Pinjam Rahimmu?

Boleh Ku Pinjam Rahimmu?
Boleh Ku Pinjam Rahimmu 35


__ADS_3

Mas Adzam dan Hanum masih saja diam. Sepertinya mereka masih syok karena tertangkap basah berhubungan badan tanpa busana di istanaku.


Sebenarnya tidak ada yang salah, karena mereka sudah sah dimata hukum dan agama. Salah mereka hanya salah tempat untuk melampiaskan nafsu mereka. Mereka melakukan dikamar pribadiku, mereka melakukan di istanaku sendiri. Bukan berarti setelah mereka sah menjadi suami istri, terus merasa bebas untuk melakukan hubungan suami istri dimana saja mereka suka.


" Jika kamu tidak tahu apa yang kamu mau, mari kita berpisah mas!" Ucap ku lantang tanpa basa basi.


Mas Adzam mendekat kearahku. Spontan ia memegang tanganku.


" Kita tidak boleh bercerai, Fi!" Ucap mas Adzam meminta dikasihani.


" Hanum, inikan yang kamu mau?" Aku mendekat kearah Hanum. Hari ini aku tidak boleh kalah. Tidak akan ada air mata untuk mereka berdua.


" Aku hanya meminta waktu padamu dan pada mas Adzam agar tidak bertemu untuk sementara waktu. Berkorban untukku saja kamu tidak bisa? Demi kesehatan mental ku dan calon buah hatiku. Apa kamu terlalu mencintai suamiku?" Sindir ku lagi.


Hanum mengangkat wajahnya. Ada kemarahan yang terpancar di wajahnya.


" Dari awal, apakah kamu tidak memikirkan ini? Siapa yang menghadirkan aku di dalam rumah tanggamu? Siapa yang memintaku untuk menjadi istri kedua dari suamimu? Kamu lupa dengan hal itu? Jika bukan kamu yang memaksa aku untuk menikah dengan suamimu, Mungkin aku tidak akan hadir di tengah keluarga kecilmu. Sekarang disaat kamu bisa hamil, kamu meminta kepadaku agar aku menyingkir dari kehidupan mas Adzam? Kamu pikir segampang itu membolak-balik kan hati. Ya sekarang aku mengerti, kamu hanya menganggap aku seperti sampah yang bisa kamu buang kapan pun kamu mau. Atau kamu menganggap ku seperti pemain cadangan yang kapan saja bisa kamu gunakan. Jangan pernah menyalahkan ikatan cinta antara aku dan mas Adzam." Ucapnya lantang dan sinis.


Aku menutup mulutku. Sahabatku, bisa berkata seperti itu.


" Dan kamu selalu menggoda suamiku dengan pakaian dinas kebanggaan mu?"


Ucapku lagi.


" Bukan suamimu saja, tapi suamiku." Ia mengingatkanku.


Aku muak melihat mas Adzam yang hanya bisa diam. Kini dia bukan lagi mas Adzam kebanggaan ku. Aku mengusap perutku yang sedikit lebih membuncit. Tendangan kecil darinya mengingatkanku agar aku tidak stres.


Aku mundur kearah pintu, menatap mas Adzam dengan sendu.


Aku membuka pintu meninggalkan mas Adzam dan Hanum di istanaku.


Aku menemui Ririn dan Raka, Ririn memelukku dengan hangat. Sementara Raka mengajakku untuk saat ini kembali kerumah mama.

__ADS_1


Akhirnya aku mengikuti saran dari Raka, kembali kerumah mama.


Mobil sudah meninggalkan halaman rumahku. Barulah air mataku tumpah membanjiri wajahku. Tangisan yang kutahan sejak tadi kini meledak. Ternyata sesakit ini menangkap basah suami tidur dengan wanita lain. Walau aku tahu itu adalah istri sah suamiku dan juga atas dasar permintaanku.


Ririn masih berusaha menguatkan ku. Ia mengusap bahu ku dan mengingatkanku agar tidak depresi, demi kesehatan calon buah hatiku.


Hanya membutuhkan waktu sekitar lima belas menit untuk sampai dirumah mama.


Aku turun dari mobil, menyeret langkahku. Sepertinya tenagaku habis terkuras hari ini demi menyelesaikan masalah ini.


Mama membuka pintu, ia terkejut melihatku ada di hadapannya. Mama menuntunku masuk kedalam rumah. Ririn memberi aku air putih hangat agar aku lebih tenang.


Sementara Raka sudah kabur masuk kekamar.


" Apa yang terjadi sesungguhnya,Fi?" Tanya mama.


Aku belum bisa menceritakan pada mama, hatiku masih terasa disayat-sayat oleh tajamnya belati.


Mama seperti tidak percaya. Kini ia bisa sama sepertiku, menangis terisak-isak. Siapa yang bisa menyangka jika mas Adzam bisa sepatuh itu pada Hanum, demi sebuah se*l*ng*ka**n.


" Sekarang istirahatlah di kamar. Jangan terlalu banyak yang di pikirkan. Urusan Adzam biar nanti menjadi urusan mama." ujar mama.


Aku masuk kekamar mas Adzam. Kamar pengantin baru kami. Kamar yang menjadi saksi hidup kami. Di kamar ini untuk pertama kalinya aku dan mas Adzam tidur dalam satu ranjang, berbagi selimut juga berbagi kehangatan.


Sekarang aku kembali tidur di kamar ini, tanpa tahu sampai kapan. Jika dulu mas Adzam yang akan menemani ku, kini aku sendiri, menangis dalam diam.


Aku mencari handuk di lemari ini, Ada handuk mas Adzam yang tersusun rapi.


Aku mengambilnya, memeluk erat didadaku.


" Aku rindu,mas!" batinku dalam hati.


Pakaian mas Adzam, parfum mas Adzam, selimut mas Adzam, mengingatkanku pada mas Adzam.

__ADS_1


Bagaimana bisa alu melupakannya sejenak, jika waktu enam tahun kami selalu bersama.


Setelah merasa cukup tenang, aku pun mandi, ku basuh rambutku agar lebih segar.


Setelah selesai mandi, aku memilih memakai kaos oblong milik mas Adzam.


Tak lupa aku mengunci pintu dan menutup tubuhku dengan selimut milik mas Adzam.


Tanpa butuh waktu lama, rasa kantuk datang menyerang.


Aku pun melewati malam ini sendiri tanpa suami tercinta.


****


Alarm di handphone ku berbunyi, menandakan pagi sudah datang. Pagi ini hatiku terasa tenang. Mungkin efek tidur cukup. Pagi ini aku melaksanakan shalat subuh dengan hati khusyuk, berharap ada jalan keluar di dalam kehidupan rumah tanggaku.


Tak lupa ku langit kan doaku. Aku yakin Allah lebih tahu apa yang kurasa saat ini. Dan aku selalu yakin jika Allah tidak akan menguji hambanya di luar batas kemampuan umatnya.


Aku mengganti pakaianku agar lebih sopan. Daster berlengan panjang khas ibu hamil ku kenakan. Aku sedikit berputar di depan cermin. Kusam, mataku pun lebih cekung bahkan tubuhku lebih kurus. Hanya perutku saja yang tampak lebih menonjol.


Berbeda dengan beberapa tahun silam, sebelum aku menghadirkan Hanum di dalam rumah tangga.


Aku selalu melakukan perawatan wajah, tubuh juga kuku. Aku juga berusaha tampil cantik dan wangi, agat mas Adzam tidak melirik wanita lain jika sedang berada di luar rumah.


Kini aku tak ubahnya seperti gembel. Kulitku tak pernah terawat lagi. Di tambah kondisi ku yang sedang hamil, aku benar-benar memberhentikan semua pemakaian alat-alat kecantikan. Takut hal buruk menimpa bayiku.


Setelah merasa puas dengan penampilanku, aku pun memutuskan untuk keluar kamar.


Pintu kubuka, pandangan ku langsung mengarah ke ruang keluarga. Ada sosok yang sedang meringkuk dengan tubuh di tutupi selimut.


Aku menyipitkan mataku, mencoba mengingat-ingat. Apakah Raka tidur didepan televisi? sejak kapan? Bukankah ia punya kamar sendiri.


Pelan-pelan aku melangkah mendekatinya. Rasa penasaran membuat aku berniat untuk melihat sosok itu. Kini aku dan sosok itu sudah dekat. Terdengar dengkuran lembut menandakan bahwa ia masih tidur. Aku mencoba menatap wajahnya namun tertutup oleh selimut. Siapa sosok ini?

__ADS_1


__ADS_2