Boleh Ku Pinjam Rahimmu?

Boleh Ku Pinjam Rahimmu?
Boleh Ku Pinjam Rahimmu 45


__ADS_3

Hanum?"


Aku memandang Hanum penuh selidik.


Apa yang akan di lakukan Hanum pada mas Adzam?


Tanpa banyak kata Hanum pergi keluar menghindar dariku.


Ada sesuatu yang tidak beres, sebelum hal buruk terjadi,aku harus minta bantuan Raka.


Dengan cepat aku menelpon Raka agar segera datang kerumah sakit.


Kini aku bisa sedikit bernapas lega karena Raka sudah dalam perjalanan menuju kesini.


Setelah memastikan mas Adzam baik-baik saja, aku memutuskan untuk menyantap nasi goreng dan segelas teh manis panas yang kini sudah berubah menjadi hangat.


Alhamdulillah, akhirnya perutku terasa kenyang.


Aku melihat Raka sudah sampai. Menambah kelegaan hatiku.


" Mbak!" Sapa Raka padaku.


Aku tersenyum padanya.


" Memangnya mbak kenapa kok jadi takut nemani mas Adzam sendiri?" Tanya Raka penasaran.


Huft! Aku menghembuskan nafas berat. Apa aku harus jujur pada Raka tentang apa yang harus ku lihat tadi?


" Mbak?"


Raka menyenggol bahuku.


" Mbak butuh teman, Ka."


Aku berbohong pada adik mas Adzam.


" Sundel bolong itu kemana mbak?"


" Sundel bolong siapa?" Tanyaku pura-pura tidak tahu.


" Rival mbak."


Ia menyindir ku, menaik turunkan alisnya sambil tersenyum memamerkan giginya yang putih. Sedang aku mencubit tangannya dengan keras.


" Eh mbak, aku penasaran deh kok bisa rem mobil mas Adzam itu gak berfungsi?"


" Maksud kamu remnya blong?"


" Iya. Makanya mobil mas Adzam nabtak pembatas jalan. Untungnya jalanan sedang sepi." Jelas Raka lagi.


Otakku mulai berfikir keras, apa ini ada hubungannya dengan sundrl bolong itu dan selingkuhannya? Tapi untuk apa? Apa motifnya?


Selama berumah tangga dengan mas Adzam, ia selalu rajin mengecek keadaaan kondisi mobil.


Ya Allah apa yang terjadi sesungguhnya dengan mas Adzam?


" Mbak.."


Panggilan Raka kembali mengejutkanku.


" Ka, kamu bisa bantu mbak?"

__ADS_1


"Bantu apa?" Ia serius menatap wajahku.


Aku menceritakan apa yang kulihat tadi pada Raka tanpa di tambahi mau pun di kurangi.


" Jadi tugasku apa mbak?"


" Mata-matai Hanum." Perintahku.


" Siap bos!" Ia mengangkat tangannya di pinggir kepala seperti orang yang sedang hormat pada bendera.


Kini aku sudah lega. Mudah-mudahan besok mas Adzam sudah sadar. Kini aku mbaringkan tubuhku di sofa, sementara Raka sedang asyik memainkan handphonenya. Sayup-sayup kudengar ia berbicara, mungkin menelpon pacarnya.


******


Aku sudah shalat subuh, kusempatkan menelpon Ririn untuk menanyakan kabar putri kesayanganku. Aku melakukan panggilan video call.


Tampak wajah Ririn yang baru bangun.


" Halo mbak."


" Begadang ya?" Tanyaku memastikan.


" Iya mbak, Tari tidurnya gelisah, mungkin ia tahu ibunya sedang berjuang bersama ayahnya."


Ririn mengarahkan kamera handphone kewajah Tari.


Hatiku terasa adem melihat wajahnya. Ada kerinduan yang menyeruak di dalam hatiku.


Setelah puas melihat wajahnya, Aku mematikan sambungan telepon.


" Mbak, di panggil keruangan mas Adzam." Raka menyusulku ke area musholla rumah sakit.


Aku segera berjalan tergesa-gesa.


" Bagaiman kondisi suami saya, Dok." Tanyaku melemah.


" Alhamdulillah sudah membaik, suami ibu sudah sadar."


" Alhamdulillah.." Aku mengucap syukur tiada henti.


Kini di ruangan ini hanya ada aku dan mas Adzam, matanya sudah terbuka. Ia meminta air minum karena merasa haus.


Dengan penuh kasih sayang aku memberikan sesendok air putih pada mas Adzam. Tak lupa aku membasahi bibir mas Adzam dengan air agar tidak kering.


Ia juga memintaku agar duduk mendekat padanya.


" A..afi.." Terbata-bata ia menyebut namaku.


Ia berusaha meraih tanganku. Tanpa perintahnya aku menggenggam tangannya.


" Mas, ada Afi di sini." Ucapku pelan.


Entah mengapa ini adalah momen tersedih dalam hidupku.


Momen dimana aku merasa rapuh melihat cinta pertamaku harus terbaring lemah di pembaringan.


Mataku hampir basah, dengan cepat ku usap wajahku. Aku tidak ingin terlihat lemah di depan mas Adzam.


" Semangat sembuh ya! Bintari sudah rindu pada ayahnya."


Aku mencoba membawa nama Bintari agar mas Adzam kembali semangat untuk menjalani kehidupan.

__ADS_1


Dan ia tersenyum mendengar nama anak kesayangannya. Ia juga tampak mengangguk lemah tanpa daya.


Pagi ini aku menyuapi mas Adzam makan dengan bubur. Kemudian di lanjutkan dengan minum obat.


" Cepat sembuh, biar kita bisa cepat pulang ya."


****


Ini adalah hari ketiga aku dan mas Adzam di rumah sakit. Dan kabar baik itu datang hari ini. Mas Adzam sudah di perbolehkan pulang. Ada rasa haru yang menyelimuti hatiku saat ini.


Aku menyusun semua perlengkapan mas Adzam, dan Raka menyusunnya ke dalam mobil. Selanjutnya ia mendorong mas Adzam yang sedang duduk di kursi roda.


Setelah kecelakaan itu kaki mas Adzam belum bisa di gerakkan. Kata dokter butuh waktu agar mas Adzam bisa sembuh seperti sedia kala.


Kini kami sudah dalam perjalanan pulang, mobil melaju dengan sedang. Tak sengaja mataku menatap Hanum yang sedang berboncengan dengan seorang pria muda yang pernah ku temui waktu itu. Mereka berboncengan mengendarai motor yang dibeli hasil keringat mas Adzam.


" Ka, berhenti." Ucapku tiba-tiba.


Seketika Raka memijak rem membuat mobil berhenti mendadak.


Mas Adzam terkejut, namun ia tak bisa apa-apa. Ia berbaring lemah di kursi tengah.


Raka mengikuti arah tatapan mataku.


" Kamu lihat?" Tanyaku pada Raka.


" Iya."


" Sekarang percayakan kata-kata mbak?"


" Besok Raka eksekusi mbak. Sekarang kita fokus antar mas Adzam pulang."


Aku mengangguk mengikuti rencana Raka.


****


Kini kami sudah sampai di rumah Mama. Mama menyambut kepulangan mas Adzam dengan derai air mata.


Ia seperti tak sanggup melihat mas Adzam tidak berdaya seperti ini.


Kami bergantian mengurus mas Adzam. Beruntungnya aku di kelilingi keluarga yang saling mendukung.


Bahkan Raka adalah orang yang perduli pada mas Adzam. Ia mengurus mas Adzam dengan baik. Apalagi saat mas Adzam akan mandi. Ia dengan suka rela memandikan mas Adzam.


Hari ini aku dan Raka berencana untuk mendatangi Hanum dirumah ku.


Bagaimanapun ia tak berhak berada di istanaku.


Kami berboncengan naik motor agar lebih cepat.


Sesampai di rumah, Suasana rumahku uang dulu bersih kini tal ubahnya seperti kandang kambing. Kotoran cicak berserakan dimana-mana.


" Hanum.. sudah berapa lama rumah ini tak tersentuh sapu?" Batinku dalam hati.


Aku melihat ada sandal orang dua pasang di depan rumah. Satu sandal perempuan dan satu lagi sandal laki-laki. Aku yakin jika Hanum sedang bersama selingkuhannya didalam rumah.


Aku menyuruh Raka untuk menjemput pak RT. Kami harus menggerebek Hanum dan selingkuhannya.


Setelah pak RT datang, aku membuka pintu rumah ini dengan kunci duplikat yang ku punya.


Sepi sekali suasana rumah ini. Lantai ini penuh dengan debu. Sasaran utamaku adalah kamar pribadiku. Aku membuka pintu kamar ini pelan-pelan dan berusaha tidak menimbulkan suara.

__ADS_1


Saat pintu terbuka, betapa terkejutnya kami karena..mmm


__ADS_2