Boleh Ku Pinjam Rahimmu?

Boleh Ku Pinjam Rahimmu?
Boleh Ku Pinjam Rahimmu 19


__ADS_3

Aku berdiri di depan cermin. Apakah wajahku semakin tua? Atau mas Adzam yang sedang di landa puber kedua?


Entahlah hal ini malah membuat kepalaku pusing.


Bel di rumah berbunyi berkali-kali. Aku segera berjalan kedepan untuk membuka pintu.


Hah! untuk apa dia datang lagi?


Mantan mas Adzam, apa dia belum move on. Aku yang hendak membuka pintu berubah pikiran. Aku juga tidak ingin bertemu dengan wanita yang suka menggoda suami orang. Wanita masa lalu mas Adzam. Untuk apa lagi ia dayang kerumah ini?


Aku bersembunyi di bawah jendela. Setelah cukup lama akhirnya wanita itu pergi.


Aku sedikit bisa bernapas lega. Maha dahsyat Allah menguji kesabaran ku. Ada sedikit kebosanan ku dalam menjalani hidup. Bagaimana tidak bosan, setelah selesai berberes rumah, aku hanya tidur-tidur dan santai.


Aku melihat jam di dinding sudah menunjukkan pukul lima, seharusnya jam segini mas Amal sudah pulang. paling terlambat jam delapan malam. Itu pun kalau sedang ada rapat mendadak.


Hari ini aku tidak berniat masak apa-apa. Sampai saat ini batinku seperti lelah mungkin akibat dari pernikahan Hanum dan mas Adzam.


****


Malam mulai beranjak, jam di dinding sudah menunjukkan hampir pukul sepuluh.bAku mematikan seluruh lampu. Hanya lampu tidur di kamar yang ku nyalakan.


Ku tarik selimut menutupi tubuhku. Air mataku sudah tidak menetes lagi, mungkin sudah kering karena terlalu sering aku menangis.


Yang membuatku terkejut adalah saat bangun pagi. Mas Adzam sudah ada di sampingku. Tangannya melingkar di perutku. Hal yang sudah lama tidak ia lakukan. Ada apa dengan mas Adzam ku? Aku berbalik ke arahnya. Ku usap lembut wajahnya hingga membuat mas Adzam terbangun.


" Mas Adzam, pulang jam berapa? kenapa tak membangunkan Afi?" tanyaku.


" Kasihan kamu sudah nyenyak banget. Lagian mas kan punya kunci duplikat nya." Jawab mas Adzam lagi.


Ia menciumi bibirku lembut. bahkan nafsunya begitu menggelora. Pagi ini kami terlibat hubungan suami istri.


Mas Adzam sudah kembali seperti dulu lagi.


" Yang, bersiap-siaplah, setelah urusan dokumen selesai, kita akan pergi ke Paris." ucap mas Adzam kala itu.


Aku yang terkejut mendengar ucapan mas Adzam akhirnya terduduk di ranjang.


" Kamu serius mas?" aku kembali bertanya memastikan ucapan mas Amal.

__ADS_1


" Kamu tidak percaya?" Mas Amal balik bertanya padaku.


" Bersama Hanum?" tanyaku lagi.


Mas Adzam menggeleng, " hanya kita berdua."


Aku memeluk mas Adzam, Ya Allah terima kasih karena sudah mendengar semua doa yang ku panjatkan setiap hari. Mas Adzam ku telah kembali seperti dulu lagi.


Aku tengah mempersiapkan perlengkapan berliburku. Mulai dari baju hangat untukku dan mas Adzam.


Tak lupa kami berpamitan pada Hanum. Ada raut cemburu di wajahnya.


Besok pagi kami akan berangkat. Lingerie yang ku pesan sudah datang. Aku mencoba saat mas Adzam sudah berangkat kerja.


Aku melihat tampilan ku di depan cermin. Rambutku yang hitam dan panjang ku coba di gerai. Ah, ternyata aku masih menggoda ucapku dalam hati.


Diam-diam aku pergi berbelanja sendiri. Hari ini aku ingin membeli Lingerie sebanyak 12 buah. Sesekali aku ingin menyenangkan mas Adzam.


Aku masuk ke toko khusus penjualan lingerie. tak sengaja mataku menangkap sosok yang kukenal. wanita itu?


Aku mengikutinya diam-diam. Suaranya? aku tidak asing dengan suaranya. Aku melihat ia sudah selesai berbelanja tak sengaja aku melihat wajah itu, Hanum?


Setelah memastikan Hanum sudah benar-benar keluar dari toko ini, aku pun mulai memilih pakaian mini kesukaan laki-laki.


Mas akan ku pastikan kamu tetap merasa puas padaku batinku dalam hati.


Aku mengambil dua belas potong lingerie dengan berbagai pilihan warna dan model. Kemudian aku membawa ke meja kasir.


Mbak kasir senyum-senyum melihat barang belanjaan ku yang sangat banyak. Untung aku memakai masker, jadi wajahku tidak begitu bisa di kenali.


Aku menenteng barang belanjaan keluar dari toko.


Aku tak lagi mampir kemana-mana, tujuanku adalah ingin langsung pulang dan mencuci semua lingerie yang ku beli agar terbebas dari kuman.


****


Sampai dirumah aku langsung mencuci dan menjemurnya di tempat tersembunyi agar tidak terlihat orang juga tidak terlihat oleh mas Adzam.


Sore ini aku sedang santai menikmati sepiring sate padang. Akhir-akhir ini selera makanku meningkat. Semua makanan yang lewat membuat air liurku menetes. Saat sedang asyik menikmati, tiba-tiba mobil mas Adzam memasuki halaman rumah kami.

__ADS_1


Mas Amal turun dari mobil, ia mengucapkan salam dan mengecup kepala juga keningku.


" Makan apa yang?" mas Adzam tak langsung masuk, ia duduk di sampingku.


" Mas mau sate padang? kalau mau biar aku pesankan mumpung belum jauh Abang penjualnya." ucapku lagi.


" Mau deh Yang satu." jawab mas Adzam lagi.


Aku pun masuk kedalam rumah untuk mengambil piring dan segera memesankan sate padang untuk mas Adzam.


Setelah mengantri dengan beberapa tetanggaku, akhirnya aku bisa pulang dengan membawa sepiring sate padang buat mas Adzam.


Diatas meja sudah tersedia segelas besar es teh manis dingin, " mas buat sendiri?"


" Iya Yang, malu ngerepotin kamu terus." ucap mas Adzam sambil menyantap sate padang yang ada di hadapannya.


Sore kami terasa begitu indah. Hal-hal; yang sudah lama tidak kami lakukan, pelan-pelan kami ulangi kembali.


*****


Malam telah tiba, Mas Adzam sedang santai menonton televisi di ruang keluarga.


Alu baru selesai mandi. Aku mengambil satu lingerie yang ku beli tadi siang. warna maroon menjadi pilihan ku kali ini. Aku melihat tampilanku di cermin, rambut panjang yang masih basah ku gerai. Tak lupa aku menyemprotkan parfum di tubuhku.


Aku masih bingung harus bagaimana caranya keluar dari kamar dan menemui mas Adzam yang masih santai di depan televisi. Aku tidak pede dengan penampilanku dengan pakaian kurang bahan. Aku masih memutar-mutar kan tubuh ku didepan cermin. untuk memastikan bahwa aku cukup cantik untuk tampil didepan mas Adzam. Saat sedang mematut diri di depan cermin, tiba-tiba pintu kamar di buka oleh mas Adzam.


Spontan aku berlari bersembunyi di balik pintu kamar. Mas Adzam mendorong pintu, ia pasti merasa heran karena pintu tak sepenuhnya bisa di dorong.


Aku menutup wajahku dengan kedua telapak tangan ku.


" Satu..dua..tiga.." Aku menghitung dalam hati.


Mas Adzam masuk kedalam kamar. Ia memergokiku yang sedang bersembunyi di balik pintu kamar.


" Yang... ngapain bersembunyi di balik pintu?" Mas Adzam kemudian menutup pintu kamar.


Kini ia keheranan menatapku yang tampil seperti ini di hadapannya.


Apa reaksi mas Adzam melihat penampilan Afi ya? tinggalin jejak di kolom komentar ya...

__ADS_1


__ADS_2