Boleh Ku Pinjam Rahimmu?

Boleh Ku Pinjam Rahimmu?
Boleh Ku Pinjam Rahimmu 30


__ADS_3

Aku mulai membereskan semua perlengkapan yang ada di kamar ini. Tak lupa aku memesan taksi online.


Setelah semua administrasi selesai aku berjalan keluar membawa perlengkapanku.


Mama berkali-kali melarang ku pergi.


" Ma, Afi butuh waktu untuk sendiri." Ucapku sambil menghapus air mataku.


Aku berjalan keluar dari rumah sakit ini dengan tergesa-gesa. Tidak ku perdulikan larangan mas Adzam juga tangisan mama.


" Maafkan Afi, ma." Gumamku dalam hati.


Taksi online pesanan ku sudah datang. Aku masuk kedalam, tanganku berhasil di cekal oleh mas Adzam, " Mau kemana?" Tanya mas Adzam dengan wajah tang memerah karena menahan amarah.


" Bukan urusanmu! Lepas atau aku teriak! " Ancam ku.


Pegangannya melemah, Aku berhasil kabur dari mama dan mas Adzam. Sesekali aku melihat kebelakang, barangkali mas Adzam mengikutiku.


" Kita mau kemana bu?" Tanya pak supir.


Aku terdiam sejenak. Jujur aku tidak tahu mau kemana. Jelas pulang kerumah tidak mungkin bagiku. Dan sekarang aku tidak punya tujuan pasti dalam hidupku. Aku membuka dompet, menghitung isinya. Hanya ada tiga juta rupiah. Aku akan sejenak menginap di hotel. Barangkali berpisah beberapa hari dengan mas Adzam bisa membuat aku lebih membaik.


" Pak, tolong cari hotel yang dekat di area sini ya, pak!" Ucapku pada afa pak sopir.


Tidak perlu waktu lama, akhirnya taksi yang ku tumpangi berhenti di sebuah hotel sederhana. Aku pun turun, setelah membayar, aku pun masuk ke dalam hotel tersebut.


Aku menemui resepsionis hotel ini, namun ia tak langsung memberiku kamar, ia memperhatikan penampilanku dari atas kepala hingga ujung kaki ku."Seburuk apalah penampilanku ini?" Aku mengusap wajahku beberapa kali.


Setelah menunggu beberapa menit akhirnya aku mendapat sebuah kunci hotel. Aku di bantu karyawan hotel untuk masuk ke kamarku. Sampai di depan kamar hotel, karyawan itu pergi meninggalkanku.


Aku seperti meragu untuk masuk. Seumur hidupku, ini kali pertama aku menginap sendirian. Nyaliku menciut, mamun ku putuskan untuk masuk. Rasa sakit karena perlakuan mas Adzam sesekali mengalahkan ketakutanku.


Aku menghidupkan lampu kamar ini. Tak lupa mengunci pintunya terlebih dahulu. Aku hanya ingin keamanan ku benar-benar aman di sini. Setelah itu aku membersihkan diri. Bagaimanapun juga aku tidak boleh egois, Aku tidak sendiri untuk saat ini. Ada janin di dalam perutku yang harus ku pastikan kesehatannya.


Selesai mandi, aku memesan makanan. Sebagaimana aku kalutnya, aku harus tetap makan demi janin yang ku kandung.


Aku sedang rehat di kamar hotel ini. aku meluruskan kaki. Rasanya badan dan kakiku pegal. Ingin rasanya saat-saat lelah seperti ini ada mas Adzam yang sedang memijit kakiku.


Huft! Aku menghembuskan nafasku. Kenapa harus mas Adzam lagi sih? Bisa enggak jangan mikirin dia lagi. Aku mengambil handphone, begitu banyak panggilan telpon dari mas Adzam, mama, Raka, Ririn, Rina juga.. Hanum.


Aku membuka pesan dari mas Adzam


( Afi, kamu dimana? Jangan nekat.

__ADS_1


( Pulang Afi!)


( Afi maafkan, mas.)


Maafkan kekerasan hatiku kali ini mas...


Aku hanya perlu tenang sebentar saja.


Aku mematikan handphone ku. Lalu menikmati makan malamku bersama anakku.


Kenyang! aku mengusap perutku yang sedikit lebih membuncit.


" Maafin mama ya, sayang. Sudah buat kamu begini. Mama janji, akan selalu ada di samping kamu." Aku mengajak bayiku ngobrol. Sesekali ia bereaksi dengan menendang nendang perutku.


Ya Allah... Indah sekali merasakan gerakan janinku.


Aku mengambil selimut, menutup separuh tubuhku. Rasa kantuk datang menyerangku.


******


Alarm di handphone ku berbunyi, ini menandakan sudah pukul lima. Namun aku masih belum mau bangkit dari ranjang nyaman ini.


Aku mengusap perutku, ada tendangan kecil disana. " Yang sabar ya, nak. Insya Allah semua akan baik-baik saja." Aku menyemangati diriku sendiri.


( Mbak kemana? Please, jangan yang aneh-aneh. Mbak enggak sendiri untuk menghadapi ini. Ada mama, mbak Rina, Raka juga Ririn.)


" Raka.. ternyata kamu peduli juga dengan mbak mu ini." Gumamku dalam hati.


Pesan kedua dari Ririn, Ia tak lagi mengetik langsung menggunakan pesan suara. Aku mendengarkan pesan suaranya yang tidak jelas. Masih terdengar suara tangisan penuh kekhawatiran.( Mbak harus pulang, kita akan hadapi Hanum bersama-sama…)


Ririn, maafkan mbak, seharusnya kamu tidak ikut-ikutan membenci Hanum. Biar Hanum menjadi tanggungan mbak.


*****


Kini aku sudah hampir tiga hari berada di hotel, pikiranku jauh lebih tenang. Handphone lebih banyak ku matikan. Setiap hari aku hanya makan dan tidur. Aku tidak punya kegiatan lain. Terkadang aku masih punya rindu terhadap mas Adzam. Seharusnya ini awal kebahagiaan kami.


" Mas, sedang apa kamu?" Bathinku terasa nelangsa.


Ini adalah tahun terberat untukku dan mas Adzam. Bagaimana bisa mas Adzam mengurus dirinya sendiri jika tidak ada aku?


Selama pernikahan, ia hampir tak pernah mengambil baju sendiri dari almari. Ia tak pernah mau tahu dimana kaus kaki, sepatu, tas kerja bahkan kunci mobil juga dasi.


Mas Adzam kulayani bak raja. Setiap pagi ia memakai barang yang kusediakan. Lalu sekarang?

__ADS_1


Ah, dasar bodoh! Sekarangkan sudah ada Hanum. Hanum lebih pandai menyenangkan mas Adzam. Jangan bodoh Afi! Aku memukul kepalaku berulang kali.


Yang namanya laki-laki sudah pasti buaya. Dan mas Adzam kini sudah menjelma menjadi buaya darat.


Aku memilih tidur membaringkan tubuhku di ranjang. Ibu tidak boleh stres, demi kamu nak! Aku berulang kali mengelus perutku.


Mataku terasa berat hingga aku tertidur pulas.


****


Aku terloncat dari tidurku, terdengar ketukan keras di pintu kamar hotel yang ku tempati.


" Siapa?" Batinku bertanya-tanya.


Apa pengurus hotel? mengapa tidak sopan.


Semakin lama gedoran di pintu semakin kuat.


Aku mondar mandir kebingungan. Apa yang harus ku lakukan?


" Mbak.. mbak Afi.. Ini Ririn mbak.."


Terdengar suara perempuan, menyebutkan nama Ririn. Benarkah itu Ririn? Darimana dia tahu keberadaan ku?


" Mbak, buka pintunya! Ririn tahu mbak ada di dalam." Suara itu semakin kencang.


Aku berjalan mendekati pintu. Kubuka kunci pintu, dan...


Ririn menubruk ku.


" Mbak... huhuuuuu." Ia menangis memelukku.


Aku membalas pelukan adik ipar ku.


" Jangan pergi lagi mbak, Ririn khawatir mbak."Ucapnya tersedu-sedu.


Aku membawa mereka masuk kedalam kamar. Raka, anak itu hanya diam.


Setelah Ririn susah agak tenang, aku bertanya pada Ririn, " Dari mana kamu tahu mbak disini?"


Ririn menunjuk ke arah Raka, sementara Raka tidak terima di sudutkan oleh Ririn. Ia menatap Ririn tajam.


Aku memandang Raka, ia malah membuang wajahnya tak mau menatapku.

__ADS_1


Ada apa denganmu Raka?


__ADS_2