
6
Aku pun meninggalkan rumah Hanum. Sejujurnya aku tidak yakin Hanum akan menerima permintaan konyol dariku.
Biarlah Hanum menganggap aku gila. Demi kebahagian mas Adzam dan keluarganya aku rela berbagi suami dengan sahabat ku sendiri.
Miris memang, aku yang sebatang kara harus menerima takdir seperti ini.
Mobil memasuki pekarangan rumah, Aku turun dari mobil. Ada sandal dua pasang di depan rumahku. Siapa yang datang? Batinku sibuk bertanya-tanya.
Ku pencet bel, tak lama pintu dibuka. Wajah Ririn menyembul dibalik pintu.
Ku ucapkan salam. Ririn memelukku.
Selalu begitu, adik ipar tapi berasa adik kandung. Aku begitu menyayanginya.
" Mbak dari mana?" Tanyanya manja.
" Ada urusan sebentar, uda lama datangnya? Sama siapa dek?" Aku melangkah masuk.
" Sama mama. " Ia mengikutiku dari belakang.
Nampak mas Adzam dan mama sedang bekumpul di depan tv.
" Ma, uda lama? Kok gak ngabari Afi kalau mau datang?" tanyaku sembari mencium pipi mama.
" Suntuk dirumah, jadi mama ngajak Ririn kerumah kamu." Jawab mama santai.
" Untung aja ada mas Adzam dirumah kalau enggak kan kasihan mama kecewa." jawabku lagi.
" Bersih-bersih gih, abis itu kita makan. Mama tadi beli sup." Ucap mama.
Aku berpamitan membersihkan diri.
Segar! Itu yang kurasakan setelah mandi.
Kemudian,Aku segera kedapur menyiapkan makan malam.
Aroma sup menguar, perutku sudah mau berdemo.
" Ma, ayo makan malam! Ini uda siap." Panggilku
Mas Adzam, mama dan Ririn sudah berkumpul dimeja makan.
Kami menikmati makan malam ini dengan khidmat.
Setelah selesai makan mama menyuruh Ririn untuk memberesi, sementara aku diajak mama kedepan, katanya ada yang mau di bahas.
Aku sudah bisa menebak, akan kemana arah pembicaraan ini.
Dan aku yakin, mas Adzam sudah memberi tahu mama akan hal ini.
Kami duduk santai di ruang keluarga.
Selama aku pulang, mas Adzam belum ada menyapaku. Heran, ada apa dengannya.
" Fi, apa kamu sudah serius dengan keputusanmu membiarkan Adzam menikah lagi dengan sahabatmu?" Tanya mama tanpa basa basi.
" Aku serius ma. Semua yang kulakukan adalah terbaik untuk keluarga kita. Terutama untuk mas Adzam. Keluarga ini akan punya penerus."
__ADS_1
" Tapi mama tidak pernah memaksa untuk mempunyai anak dari kalian." Ucap mam ngotot.
Sepertinya mama memang tidak terima dengan keputusanku.
" Mama adalah mama yang sempurna untukku, aku bahagia bisa di pertemukan dengan keluarga ini. Izinkan sekali saja Afi berkorban untuk keluarga ini ma!"
Hari ini kupastikan tidak ada air mata yang keluar, hingga mereka tidak meragukan lagi keputusanku.
" Lalu dzam, apa keputusanmu? Kamu terima semuanya?" mam menatap mas Adzam tajam.
Mas adzam menatap ku dan mama secara bergantian. " Adzam setuju ma, Insya Allah Adzam akan berlaku adil. Dan semua keputusan ini atas rencana Afi. Ya kan Fi?" Tanya mas Adzam padaku meminta dukungan.
Aku hanya mengangguk. Kalau ditanya pada hatiku, jelas aku tak mampu berbagi suami dengan wanita lain. Tapi demi kebahagian kami, biarlah aku yang terluka. Dan aku harus tahu diri jika aku mandul.
Mama memijit keningnya sendiri.
" Pusing mama lihat kalian. Kalau mama pribadi tidak akan siap berbagi suami. Ini kamu malah suruh suami kamu nikah lagi." Tampak dari suara dan wajah mama lagi marah dengan kami berdua.
Suasana hening menyelimuti kami. Tidak ada yang membuka obrolan untung mencairkan salju diantara kami bertiga.
Aku hanya menunduk menatap karpet merah, Mas Adzam mengetuk-ngetuk jarinya ke lantai, sementara mama masih mengurut kening.
Tiba-tiba Ririn datang menghampiri kami
" Pada mau minum teh enggak? Biar Ririn buatin."
Namun tawaran Ririn tidak kami gubris. Kami asyik dengan pikiran masing-masing.
" Hellow.... Kenapa kayak kuburan gini, sepi amat." Ririn setengah berteriak.
Aku mengangkat kepalaku, menatap Ririn.
Ririn menjadi serba salah karena tatapan kami.
" Kita pulang aja Rin, kayaknya darah tinggi mama kambuh." Mama bangkit dari duduknya.
" Ambil tas mama!"
Ririn menuruti permintaan mama, tapi dari wajahnya ia masih bingung. Karena gak seperti biasanya kami seperti ini.
Tanpa pamit mama meninggalkan kami.
Maafkan Afi ma... batinku sibuk berbicara sendiri.
Mas Adzam menutup pintu, Ia pun berlalu tanpa bicara meninggalkan aku sendiri disini.
Sakit, itu yang kurasakan.
Mas Adzam masuk kekamar kami, tanpa mengajakku.
Aku merasa lelah hari ini di tambah sikap mama dan mas Adzam yang mendiamkan ku.
Tanpa ku minta air mata turun deras berlomba-lomba mengalir di pipiku.
Kuambil handphone ku, mengalun lagu mellow menambah kesedihan di hatiku.
🎶🎶
Pernah sakit tapi tak pernah sesakit ini
__ADS_1
Karena pernah cinta tapi tak pernah sedalam ini
Aku ingin semua cintamu hanya untukku
Memang ku tak rela kau bagi untuk hati yang lain🎶
Ku baringkan tubuh ku di sofa, menutupnya dengan selimut. Lelah hatiku, lelah batinku.
Ibu.. Andai aku bisa mengenalmu dan memilikimu, mungkin aku bisa berbagi senang susah denganmu.
Ibu... dimana engkau..
Aku merinduimu setiap waktu...
Ibu..Ibuu....
Jeritku tertahan, hanya bahuku yang terguncang.
Entah karena lelah atau pun rasa kantuk yang menyerang, Akhirnya aku terlelap juga.
Yang aku sadar ketika terbangun, aku sudah ada di kamar, di kasur empuk kami. Bahkan aku tidak sadar ketika pindah kekamar ini.
Tampak suamiku sedang tertidur lelap di sampingku. Terdengar dengkuran halus menemani tidurnya. Ku peluk erat tubuhnya, hingga ia terbangun. Mungkin tidurnya terganggu karena ulahku.
Ia mengecup keningku dan semakin erat memelukku. Malam ini kami tidur berpelukan, seakan takut kehilangan satu sama lain.
Mas, Hari ini kamu milikku seutuhnya. Tapi, seiring berjalannya waktu aku harus bisa menerima dirimu diperhatikan oleh wanita lain, di layani oleh wanita lain, di peluk oleh wanita lain bahkan berbagi selimut dengan wanita lain. Aku menutup mataku meresapi semua kenangan malam ini.
**************
Ayam jantan mulai berkokok, pertanda hari pagi mulai menjelang.
Ku bangunkan mas Adzam, menyuruhnya mandi dan segera melaksanakan sholat shubuh di mesjid.
Mas Adzam mengucek-ngucek matanya, kemudian duduk.
Setelah merasa nyawanya terkumpul semua ia pergi kekamar mandi.
Dasar lelaki, mandi saja lupa membawa handuk.
Ku pastikan sebentar lagi pasti ia akan berteriak.
Dan benar saja, " Yang... Handuk!" teriak mas Adzam dari dalam kamar mandi.
Aku mengambil handuk dan menyerahkan padanya. Tak lupa omelan dari mulutku meluncur dengan bebas.
Ia hanya cengar cengir, mirip kebo disawah.
Aku ketawa sendiri.
Mas Adzam bersiap ke mesjid, sementara aku bersiap shalat sendiri dirumah. Ada rada damai ketika sudah mengerjakan kewajiban umat muslim.
********
Pagi ini Aku tidak masak, karena kebutuhan sudah habis. Jadi pagi ini aku hanya ingin sarapan bubur ayam.
Aku mengambil mangkok dan membawanya kedepan. Sambil menunggu tukang bubur,aku mengambil air dan menyiram tumbuhan diteras yang mulai layu seperti diriku.
Dari kejauhan, tampak mas Adzam berjalan.
__ADS_1
Ada rasa ngilu di dadaku melihatnya seperti itu. Sebentar lagi ia akan membagi waktu untuk sarapan denganku.