Boleh Ku Pinjam Rahimmu?

Boleh Ku Pinjam Rahimmu?
Boleh Ku Pinjam Rahimmu 48


__ADS_3

Tak terasa aku sudah lima tahun tinggal di desa ini. Air mataku tidak pernah menetes selama berada disini. Handphone ku masih tersimpan rapi tak pernah terpakai karena disini tidak ada sinyal.


Tari juga selalu sehat, bahkan tahun ini dia sudah masuk ke sekolah taman kanak-kanak.


Tari, si penyemangat hidupku, yang selalu menjadi temanku di kalah senang mau pun duka.


Setiap hari rutinitas ku berjualan nasi kuning di depan rumah. berat badanku pun mulai bertambah dan itu artinya aku bahagia.


Hanya sesekali saja aku memikirkan mama. Apakah mama baik-baik saja?


Ma, jika kita di takdir kan untuk bertemu, aku yakin kita pasti bertemu suatu hari nanti.


Desa ku yang tempati hampir kurang lebih lima tahun ini, perlahan-lahan mulai maju. Tower pun mulai di bangun, handphone menjadi alat komunikasi yang di butuhkan. Hampir semua orang di desa ini sekarang punya handphone yang super bagus. Listrik juga sudah bisa hidup siang malam.


Aku kembali mengambil handphone di laci lemari. Handphone penuh kenangan ini masih bagus. Dan handphone ini adalah salah satu kado ulang tahun yang di beri oleh mas Adzam.


"Mas, sejauh apa pun aku pergi nama mu tetap mempunyai tempat di hatiku. Aku memang benci padamu, tapi tidak mudah melupakanmu. Bismillah.." Aku mengisi daya handphone ku.


Setelah sedikit penuh, tanpa rasa sabar aku menekan tombol power, maka handphone ini sudah menyala.


Hal yang ingin kubuka saat ini adalah album.


Ya album ini masih penuh dengan kenangan aku, mas Adzam,mama juga Ririn dan Raka.


Satu persatu aku melihat foto di album handphone ku. Tanpa ku minta, air mata yang selama lima tahun tidak tumpah akhirnya kini tumpah kembali membasahi pipiku.


Ada kerinduan yang menyeruak di relung hatiku.


" Ibu sedang apa?" Suara nyaring Tari mengagetkan ku.


Dengan cepat ku usap air mata yang jatuh. Aku tidak ingin menjadi beban pikiran untuk tari.


" Ibu nangis?" Tanyanya lagi.


Aku merunduk mensejajarkan tinggi dengan Tari, " Ibu gak nangis sayang.. Mata ibu kena debu." Sahutku berbohong.


" Ibu pegang apa? Handphone ya? Asyik... sekarang ibu sudah punya handphone, nanti Tari pinjam ya bu mau lihat film kartun."


Anak ku bersorak gembira karena akhirnya ia bisa nonton film kartun kesukaannya.


Aku mengiyakan permintaan tari, " Kasihan kamu, nak. Seharusnya hidup kamu bahagia. Dikelilingi keluarga yang penuh kasih sayang. Tapi.. karena ibu ceroboh menjodohkan ayahmu dengan sahabat ibu, akhirnya kamu harus ikut menanggung semua penderitaan ini."

__ADS_1


Aku mengelus pucuk kepala Tari lembut.


" Bu, Tari minta uang ya buat beli es."


Aku memberinya satu lembar uang dua ribuan dan ia berlari keluar rumah bersama dengan teman-temannya.


Aku tersenyum melihat aksi lucu dari Tari.


Aku meletakkan handphone di atas meja, nanti sore aku akan meminta bantuan mbak Mita, untuk mengantarku ke tempat pendaftaran kartu.


Aku memulai aktivitas ku membersihkan rumah. Alhamdulillah dengan hasil tabungan saat menikah dengan mas Adzam aku bisa membeli rumah sederhana untuk kami tempati berdua dengan Tari.


***


Saat sore hari, aku sudah selesai dari pendaftaran kartu handphone.


Bismillahirrahmanirrahim.. takut-takut aku untuk mengaktifkannya.


Selama lima tahun, ini kali pertama aku kembali bermain handphone.


" Ye... handphone ibu uda bisa.." Tari kembali bersorak-sorai.


Aku memberikan handphone ku untuk di mainkan Tari.


Tak berselang lama ku dengar teriakan nyaring suara tari, " Ibu..."


Sontak aku berlari mendekati Tari karena takut sesuatu hal yang buruk terjadi padanya.


" Ibu, ini siapa?" Ia memberi tahukan sebuah gambar di handphone.


Seketika aku diam membisu, haruskah aku jujur sekarang pada Tari?


Ada gambar aku dan mas Adzam yang ditunjukkan Tari pada ku.


Aku meraih handphone dari tangan Tari, dan duduk disamping Tari.


" Kenapa ibu diam? Ini ayah? Tari punya ayah, bu?"


Aku memeluk Tari, " Punya dong sayang, semua anak yang lahir ke dunia ini pasti punya ayah."


" Tapi kenapa ayah gak tinggal bareng sama kita? Kakak Dewi ayahnya ada dirumahnya."

__ADS_1


Ia menceritakan perihal temannya yang punya ayah.


" Suatu hari nanti, kalau Tari sudah besar kita ketemu ayah, ya. Jangan lupa berdoa, supaya Allah kabulkan permintaan Tari."


Aku menghibur Tari agar tidak bersedih.


Aku memutar video kartun kesukaannya agar ia sedikit lupa pada foto kami.


***


Malam sudah larut, namun mataku belum mau terpejam. Aku masih membuka akun berlogo biru. Ku ketik nama Ririn, seketika muncul foto profil seorang perempuan yang ku kenal dengan seorang pria menggunakan gaun pernikahan.


Mataku mengembun melihat foto kebahagian Ririn dan suaminya.


" Ya Allah... semoga Ririn menemukan jodoh yang baik, yang sayang sama Ririn dan yang paling utama lelaki yang bersama saat ini adalah lelaki yang bertanggung jawab." Doa ku dalam hati.


Aku kembali membuka akun berlogo biru milik Ririn.


Masih suasana bahagia di album pernikahan Ririn, semua keluarga berkumpul dengan wajah ceria tak lupa pakaian mereka berseragam yang sama.


Ada foto mama, masih terlihat cantik.


Ada juga foto Rina dan suami juga anak-anaknya.


Ada foto Raka dengan istrinya yang sedang hamil.


Dan di foto terakhir, senyumku hilang seketika karena ada foto mas Adzam dan Hanum. Mereka berpose dengan tangan mas Adzam merangkul bahu Hanum.Tawa mereka lepas, menunjukkan bahwa bahagia sekali hidup mereka. Aku menelisik setiap foto mereka, apa mas Adzam dan Hanum belum punya anak?


Mas Adzam dan Hanum hidup dengan gaya glamor, terlihat dari sandal dan tas yang di kenakan Hanum. Berbanding terbalik dengan kehidupan aku dan Tari disini yang harus serba hemat agar kami tetap bisa makan tiga kali sehari.


Aku kembali melanjutkan melihat beranda Ririn. Ada fotoku yang sedang menggendong Tari dengan caption ( Bagi siapa yang melihat perempuan ini tolong kabari kami secepatnya. Mbak Afi, kami semua rindu dengan mbak dan Tari. Sudah beberapa purnama kita tak pernah bersua. Beberapa lagi Ririn akan menempuh kehidupan baru. Ririn hanya ingin mbak dan Tari hadir di hari bahagia Ririn. Kalau mbak Afi lihat ini tolong kabari Ririn, karena nomor handphone Ririn masih yang dulu.)


Aku terisak-isak membaca caption di foto itu.


Ternyata mereka masih ingat padaku. sesak rasanya dadaku mengenang mereka. Lima tahun bukanlah waktu yang sebentar.


Untuk memberi kabar pada Ririn bahwasannya aku di sini baik-baik saja, aku pun meninggalkan jejak like di postingan foto tersebut.


Selanjutnya aku mematikan handphone, dan tidur memeluk Tari yang sudah sejak tadi tertidur dengan lelap, mungkin Karena terlalu banyak bermain.


Aku mulai memejamkan mata untuk menyambut esok pagi yang lebih ceria.

__ADS_1


__ADS_2