
Aku menarik selimut menutup separuh tubuhku. Di luar dugaanku, mas Adzam membantuku. " Selamat tidur." Bisiknya dan mendaratkan ciuman di keningku.
Aku melotot menatapnya, Ia hanya tertawa renyah tanpa merasa bersalah.
" Dasar buaya!" Makiku pada mas Adzam.
Aku mulai menutup mataku.
Sayup-sayup masih terdengar suara mas Adzam. Sepertinya ia sedang menerima telpon.
" Apa salah mas menemani Afi? Apa masih kurang waktu mas untuk bersama denganmu? Permintaanmu sudah di luar batas,Num."
Suasana kembali hening, sepertinya mas Adzam memutuskan pembicaraannya dengan Hanum.
Aku merasa bodoh amat dengan mereka. Kini waktunya aku tutup mata dan tidur nyenyak.
*****
Pagi sudah datang, aku merasa puas dengan tidur ku malam ini. Kulihat Bintari ku sedang tertidur pulas. Bahkan aku tidak mendengar tangisannya malam ini.
Di sudut kamar ini, tampak mas Adzam sedang tertidur lelap. Apakah ia mengurus Bintari dengan baik malam ini?
Terdengar dengkuran halus dari bibirnya.
Mas Adzam.
Suster masuk kekamar ku, Ia membawa Bintari untuk mandi. Sarapan pagi sudah tersedia. Pagi ini aku seperti kelaparan. Tapi sebelum makan aku ingin mandi terlebih dahulu. Dengan berjalan tertatih-tatih aku pergi kekamar mandi. Aku membersihkan diriku sendiri.
Disaat sedang membasuh diri, pintu kamar mandi di ketuk dari luar.
" Ada apa mas?" teriakku.
" Sedang apa?"
Aku segera buru-buru mandi, dan keluar sudah dengan pakaian lengkap. Tak lupa kepalaku sudah tertutup jilbab.
Aku keluar dari kamar mandi. Jujur, aku sangat takut untuk berjalan setelah melewati masa melahirkan Bintari.
Tanpa banyak kata mas Adzam memapahku keatas ranjang rumah sakit.
" Mas?"
Aku memukul bahunya berulangkali.
" Kita masih suami istri. Aku belum pernah menceraikan mu." Ia menarik jilbabku pelan.
Dia mencari sisir dan mulai menyisir rambutku. Kini aku hanya diam tanpa bantahan. Menerima semua perlakuan mas Adzam.
Selanjutnya ia menyuapiku makan.
Ah, nikmat sekali makan dari suapan tangan mas Adzam. Mataku mulai berkaca-kaca.
Sebisa mungkin aku menahannya agar tidak terjatuh.
Sial! mataku tidak bisa di ajak kompromi.
Akhirnya mas Adzam memergoki mataku yang basah.
Aku membuang wajahku, Malu.
__ADS_1
" Jangan nangis!" Ucap mas Adzam. Ia mengusap wajahku.
" Maaf kalau selama ini mas tidak memberimu perhatian. Maaf kalau selama ini kamu menanggung beban berat. Maaf!"
Ia membawaku kedalam pelukannya. Dadanya yang bidang sudah basah karena air mataku.
Tanpa kami sadari ada mata yang sedang mengawasi kami, melihat gerak gerik kami.
Hanum! Entah sejak kapan ia menonton kami. Entah sejak kapan ia melihat mas Adzam berlaku manis padaku. Yang jelas aku menangkap bau-bau kecemburuan di wajah Hanum.
Ia masuk dan duduk di sofa sebelum ku persilahkan. Ia sibuk memainkan ponselnya agar tak melihat mas Adzam menyuapiku.
Kami sudah di perbolehkan pulang. Mas Adzam memberesi semua barang-barang kami. Mas Adzam juga membayar biaya bersalin kami. Ia lebih dulu turun untuk menyusun barang-barang didalam mobil kami.
Sementara aku sedang menggendong Bintari. Bayi manis ini masih tertidur lelap.
"Tidurlah nak, biar ibu yang menghadapi ayahmu dan istri keduanya." Bisikku di telinga Bintari.
Cukup lama mas Adzam berada di bawah, hingga Hanum punya kesempatan untuk mendekatiku.
Ia menatapku dengan sinis, tangannya terlipat di dada, " Jangan bahagia dulu, bukan berarti mas Adzam bisa kamu rengkuh kembali. Selamanya dia akan menjadi milikku, hanya milikku." Ia mendekatkan wajahnya kearahku.
Jika sedang tidak menggendong Bintari, bisa saja aku menampar wajahnya. Namun aku tidak ingin menjadi wanita rendahan.
" Ku kira kau domba, ternyata kau serigala. Ambil! ambil mas Adzam jika kau ingin memiliki seutuhnya. Bagiku mas Adzam tidak lagi berharga." Balasku pada Hanum.
Hanum kembali ingin membalas ucapanku, namun mas Adzam sudah keburu datang. Ia mulai merubah wajahnya lebih manis dan ramah. Ia juga menawarkan diri agar bisa menggendong Bintari.
Aku menatapnya dalam, dan mas Adzam mengerti akan tatapan tajam ku kearah Hanum.
Mas Adzam mengambil alih membawa Bintari, sementara aku berjalan pelan-pelan di belakangnya.
Mas Adzam membuka pintu depan. Ia menyuruhku masuk duduk disampingnya. Kemudian memberi Bintari padaku.
Sementara Hanum duduk di belakang mas Adzam.
Aku tidak bisa membayangkan, bagaimana reaksi wajah Hanum ketika ia harus mengalah padaku.
Bintari, terimakasih karena sudah membantu ibu untuk memikat hati ayahmu kembali.
*****
Kami sudah tiba di rumah mama, Ririn menyambut Bintari dengan hangat. Ia langsung mengambil Bintari dari gendonganku.
" Selamat datang di rumah tante, sayang."
Ririn mencium lembut pipi Bintari, Aku langsung masuk ke kamar. Ku buka kotak jamu yang sempat ku beli minggu lalu. Ku baca petunjuk penggunaannya, walau mas Adzam tidak bersama lagi denganku, tapi aku harus merawat diriku dengan baik.
Aku mengintip dari balik pintu, betapa ramainya rumah ini, suasananya menjadi hangat karena kehadiran Bintari.
Raka yang terkenal cuek juga tak mau ketinggalan, namun ia tak berani memegang Bintari karena badannya yang masih terlalu kecil. Ia hanya mencolek pipi gembul Bintari.
Mama berkali-kali mengusap matanya. Aku pun terharu melihat pemandangan ini.
Mas Adzam pun tampak tersenyum bahagia. Hanya Hanum yang tampak bete. tidak ada raut bahagia sedikit pun atas kelahiran Bintari.
Aku kembali duduk di atas ranjang, memakai parem dan pilis lalu mengoleskan ke seluruh badan. Tak lupa aku melilitkan kain putih panjang ke perutku, kata orang dulu, kain ini berguna untuk mengecilkan perut agar terlihat langsing kembali.
Tidak pernah salah jika aku ingin mencoba.
__ADS_1
Karena ini adalah pengalaman pertama bagiku, jadi aku seperti kebingungan untuk melilitkannya.
" Mau mas bantu?"
Ya Allah... seketika aku menutup perutku.
Bagaimana bisa aku tidak sadar akan kedatangan mas Adzam?
Tanpa menunggu persetujuanku, ia membuka perutku dan mulai melilitkan kain panjang itu mulai dari paha hingga sebatas perut.
Sejak kapan ia tahu hal ini?
" Jangan heran, biasa saja." Ucap mas Adzam.
Ia seperti tahu isi hatiku yang sedang bertanya-tanya sendiri.
" Sudah selesai." Ia kembali menutup perutku.
" Terima kasih." Jawabku singkat.
Aku mencoba mencari kesibukan. Menyusun kasur bayi Bintari di atas ranjangku.
" Jangan capek-capek!" Perintah mas Adzam.
Aku menghentikan aktivitas ku. Sejak kapan ia perduli padaku.
" Kamu baru saja melahirkan. Ibarat mobil, kamu baru saja turun mesin. Jangan mengangkat benda yang berat-berat. Jangan terlalu capek, nanti kamu bisa pendarahan." Ucap mas Adzam memberi penjelasan padaku.
Setelah mas Adzam selesai bicara, aku kembali menyusun susu, dan botol minum Bintari diatas meja. Jika nanti ASI ku sudah keluar, maka susu formula ini akan ku berhentikan.
" Besok kamu tidak usah mencuci, biar mas saja yang mencuci pakain kotormu dan pakaian Bintari." Ucap mas Adzam lagi.
" Tidak usah repot-repot mas. Aku sudah terbiasa mengerjakan semua sendiri. Insya Allah aku akan baik-baik saja."
Tidak ada yang perlu ditakutkan jika semua dikerjakan pelan-pelan dan hati-hati.
" Mas, yuk pulang!"
Aku dan mas Adzam sama-sama melihat kearah pintu. Rupanya hanum sudah mengajak mas Adzam pulang.
" Silahkan pulang mas, tidak perlu menghawatirkan aku dan Bintari."
Aku keluar dari kamar. Mama menyerahkan Bintari padaku.
" Bawa Bintari masuk ke kamar, dan kamu segera makan agar ASI mu nanti cepat keluar." Perintah mama.
Aku menuruti perintah mama. Bintari tidak terlalu rewel. Setelah meletakkan bintari di ranjang, aku segera kedapur untuk mengisi kampung tengahku.
Ku dengar mama marah pada mas Adzam, " Kamu mau ajak Adzam pulang? Dimana pikiran dan hatimu sebagai wanita? Siapa nanti yang akan membantu Afi mengurus Bintari pada malam hari? Itu tanggung jawab Adzam. Supaya ia tahu bagaimana beratnya menjadi seorang ayah. Mama minta kamu jangan ganggu Adzam dulu untuk satu bulan ini."
Mama meninggalkan mas Adzam dan Hanum.
Sementara Ririn dan Raka sedang sibuk dengan aktivitasnya masing-masing.
Selesai makan aku melihat mas Adzam dan Hanum berdiskusi di ruang tamu.
Tidak ingin menambah rasa sakit hati, aku segera masuk kedalam kamar dan menutupnya. Tak lama kudengar suara mobil meninggalkan pekarangan rumah mama.
Aku berjalan kearah jendela. mas Adzam dan Hanum sudah pulang.
__ADS_1
" Mas, setelah ada Bintari, tetap saja engkau tak bisa menolak permintaan Hanum. Ternyata cintamu lebih besar terhadap Hanum dari pada Bintari.