Boleh Ku Pinjam Rahimmu?

Boleh Ku Pinjam Rahimmu?
Boleh Ku Pinjam Rahimmu 25


__ADS_3

Tidak butuh waktu lama untuk tampil cantik namun sederhana, kini aku sudah ikut bergabung menyantap makan pagi ala masakan mama mertua.


Ayam bumbu kalasan dan sambal terasi di tambah lalapan timun, daun singkong rebus, di tambah kacang panjang begitu menggugah selera makanku pagi ini.


Namun ada sesuatu yang sedang mengganjal pikiranku. Sedang apa Hanum disana? Kesepian kah dirinya?


Aku menatap mama, Ririn, dan mas Adzam bergantian.


" Ayo dimakan, Fi!" Ucap mama sambil menatapku.


" mikirin apa sih, mbak?" Ririn menghentikan suapan nasi ke mulutnya.


" Eh, enggak," Aku melanjutkan makanku.


Kami sudah selesai makan, Ririn membereskan sisa kotoran bekas makanan kami pagi ini.


Mama mengajak aku dan mas Adzam ke ruang keluarga. Aku dan mas Adzam saling memandang, detik selanjutnya kami sudah mengekor di belakang mama.


Mama menjatuhkan badannya di karpet berbulu merah. Aku pun melakukan hal yang sama, namun lebih hati-hati.


" Mama mau menyelesaikan polemik yang terjadi di dalam rumah tangga kalian. Sebagai orang tua, mama tidak bisa membiarkan kalian menjalani rumah rangga tangga yang seperti ini. Rumah tangga tidak sehat!" Ucap mama tanpa basa basi lagi.


" Apa yang harus Adzam lakukan, ma?"


Mas Adzam terlihat murung.


" Ceraikan Hanum!" Mama membuang mukanya, tak menatapku sama sekali.


" Iya, ma! Tadi juga Adzam sudah berbicara hal ini dengan Afi." Jawab mas Adzam murung.


Sesedih itukah dirimu mas? Aku masih saja berpikiran buruk pada mas Adzam.


" Rumah tanggamu dan Hanum dibangun bukan atas dasar cinta. Kita hanya butuh rahim Hanum untuk melahirkan anak-anak mu, sesuai keinginan kamu dan Afi. Sekarang Afi sudah hamil maka Hanum tidak kita butuhkan lagi. Kamu lihat kondisi Afi? dia setres berat! Dia depresi karena tidak siap melihat kamu berdekatan dengan Hanum. Apalagi kondisi Afi yang sekarang hamil anakmu, tidak mudah untuk membuat hidup sesantai ini, Adzam." Mama kembali melanjutkan nasihatnya kepada kami.


Aku masih diam seribu bahasa. Disatu sisi apa yang disampaikan mama benar, bahwa aku tidak siap melihat mas Adzam berbagi selimut, berbagi kemesraan bersama wanita lain. Disatu sisi, jika aku menyuruh bercerai mas Adzam dan Hanum, itu artinya aku sangat jahat dan egois. Ibarat pepatah, Habis manis sepah di buang. Kalau itu sempat terjadi, oh.. apakah aku masih disebut sahabat?


" Bagaimana dengan pendapat mu Fi?" Pertanyaan mama membuyarkan lamunanku.


" Em.. anu ma, em nanti Afi dan mas Adzam akan bertemu Hanum, kami akan membicarakan bertiga." Aku menjawab pertanyaan mama sangat gugup sekali.


" Adzam, jaga Afi baik-baik. Jangan sampai terulang lagi kejadian ini. Jika Afi sering depresi, maka resikonya sangat besar bagi tumbuh kembangnya janin yang ada dalam kandungan Afi." Pesan mama lagi pada mas Adzam.


Mas Adzam hanya mengangguk.

__ADS_1


Ririn sudah siap dengan pekerjaannya dibelakang, " Ma, kita pulang sekarang yuk!"


Ririn sepertinya tampak lelah setelah berkutat dengan pekerjaan rumah tangga di rumahku.


" Mbak Afi sudah membaik?" Ririn bertanya padaku.


" Alhamdulillah Rin, mbak sudah baik." Aku tersenyum kepada adik ipar ku yang judes namun sangat sayang padaku.


Mama bangkit dari duduknya, Aku menyalami mama. Mama memelukku, " Jangan sakit, kamu harus sehat demi cucu mama." Pesan mama berbisik kepadaku.


Aku mengusap sudut mataku. Sedih rasanya menjalani takdir kehidupan seperti ini.


Mama dan Ririn pulang meninggalkan rumah kami.


Aku dan mas Adzam masih terdiam. Tidak ada yang berusaha membuka percakapan diantara kami.


Aku memilih pergi ke dapur, membuat susu juga tak lupa meminum vitamin pemberian Dokter.


Aku masih duduk di dapur, berusaha menjernihkan pikiran ku.


" Fi," Mas Adzam menyentuh bahuku.


Aku hanya menoleh sebentar, detik berikutnya aku hanya menunduk.


Aku masih diam seribu bahasa. Hal yang sangat jarang ku lakukan saat pernikahan kami masih hangat.


Mas Adzam meninggalkan,nia masuk kekamar. Terdengar suara gemericik air. Itu artinya mas Adzam sedang mandi.


Aku masih bingung dengan jalan pikiranku. Jalan apa yang harus ku pilih. Tapi demi keselamatan bayi yang ada di kandunganku, aku harus menyelesaikan hari ini juga.


Aku masuk kekamar, menyiapkan pakaian mas Adzam. Hal yang sudah lama ku tinggalkan, pelan-pelan ku ulangi kembali.


Mas Adzam keluar dari kamar mandi, ia heran melihat aku menyiapkan pakaiannya.


" Makasih ya, Pelan-pelan kamu akan menjadi Afi ku yang dulu. Mas rindu!" Ia melingkarkan tangannya di perutku.


" Mas, apakah aku bisa seperti dulu lagi? Sementara kamu? Sudah terkontaminasi oleh Hanum atas ulahku." Gumamku dalam hati.


Aku melepaskan tangan mas Adzam, tanpa bicara aku mengambil handuk dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


******


Aku hanya memakai baju seadanya, tanpa makeup juga.

__ADS_1


" Ayo mas!" Aku mengajak mas Adzam keluar.


Ia menatapku heran, " Uda seperti ini aja?" Tanya mas Adzam.


" Kenapa? Jelek? Kamu malu jalan sama aku?" Aku menjatuhkan badanku di kursi.


Ternyata benar Mas Adzam sudah berubah.


Ia lebih mementingkan kecantikan seorang wanita sekarang.


Sepertinya mas Adzam tahu apa yang ada di pikiranku, ia mendekatiku. " Maaf, bukan maksud mas untuk menyakitimu, mas terbiasa dengan kamu yang tampil apa adanya." Akhirnya mas Adzam jujur padaku.


" Ayolah! Mas juga mau ini segera selesai, kita buka lembaran baru. Hanya kita berdua tanpa ada Hanum." Bujuk mas Adzam lagi.


Akhirnya dengan berat hati, ku langkahkan kakiku keluar. Mas Adzam mengunci pintu rumah kami.


*****


Kini kami sudah tiba dirumah Hanum. Aku memperhatikan rumah ini. Aku masih ingat, pertama kali saat ikut datang saat membeli rumah ini, rumah ini begitu gersang. Dalam jangka waktu beberapa bulan, Hanum bisa menyulap rumah ini begitu asri.


Banyak tumbuhan hijau yang berjejer di teras rumah ini. Sepeda motor keluaran baru terparkir di teras rumah.


Sambil menunggu Hanum membuka pintu, aku memperhatikan lingkungan sekitar rumah ini.


Aku begitu menikmati pemandangan rumah Hanum. Kalau di bandingkan dengan rumahku, rumahku tidak ada apa-apanya.


Dari kejauhan, mas Adzam tampak gelisah, sesekali ia mengusap keringat di wajahnya.


" Mas, apa berat bagimu untuk melepaskan Hanum?" Batinku nelangsa.


Aku mendekati pintu pintu rumah Hanum, mengetuknya berkali-kali, namun tidak ada tanda-tanda pintu di buka.


Akhirnya aku mendatangi mas Adzam, " Mas, memangnya kamu gak punya kunci duplikat nya?" tanyaku pada mas Adzam.


" Eh anu, ada ini." Mas Adzam Tampak gugup menjawab pertanyaan dari ku, Tangan mas Adzam mengeluarkan kunci dari dalam dompetnya.


Aku membuka pintu dengan cepat.


Suasana rumah ini sepi, Aku masuk tanpa mengeluarkan suara.


Hingga sampai di depan pintu kamar aku di kejutkan oleh Hanum,


" Tara......"

__ADS_1


__ADS_2