
Setelah Ririn susah agak tenang, aku bertanya pada Ririn, " Dari mana kamu tahu mbak disini?"
Ririn menunjuk ke arah Raka, sementara Raka tidak terima di sudutkan oleh Ririn. Ia menatap Ririn tajam.
Aku memandang Raka, ia malah membuang wajahnya tak mau menatapku.
Ada apa denganmu Raka?
" Sekarang jelasin ke Ririn, mengapa mbak kabur dari rumah sakit?" Tanya Ririn.
Dari wajahnya ia begitu sangat penasaran. Karena yang tahu penyebab kemurkaan ku hanya mas Adzam. Sedangkan mama sendiri baru datang. Dan aku belum sempat cerita apa-apa. Yang jelas sakit hati terbesarku adalah pembelaan mas Adzam terhadap Hanum. Bisakah ia menghargai sedikit saja padaku. Aku sedang mengandung buah hatinya. Buah hati yang kami tunggu-tunggu kehadirannya.
" Mbak?" Hanum kembali mengguncang bahuku.
Aku yang sibuk dengan pikiranku kembali terkejut.
"Jangan melamun!" Ucap Ririn lagi.
"Maaf, mbak gak bisa menceritakan masalah rumah tangga pada kalian." Ujarku lagi.
Sejelek apa pun tingkah mas Adzam, dia suamiku yang wajib ku jaga segala aibnya.
" Kita pulang ya, mbak!" Ajak Ririn padaku.
Aku kembali termenung memikirkan ajakan Ririn. Bagaimana aku harus pulang, sementara suamiku saja tidak risau atas kepergian ku.
Ku usap air mata yang membasahi wajahku.
Setiap teringat mas Adzam aku selalu bersedih bahkan air mata selalu menetes.
" Mbak gak bisa pulang. Mas Adzam saja tidak risau atas kepergian mbak." Ucapku lagi.
" Mbak mau Hanum semakin menguasai mas Adzam?" Ucap Ririn lebih tegas kali.
Aku menyipit kan mataku, mencari pembenaran atas ucapan Ririn.
" Kalau mbak tidak pulang, Bukan saja mbak akan kehilangan mas Adzam, tapi mbak juga akan kehilangan harta yang sudah mbak kumpulkan bersama mas Adzam."
Sungguh terkejut aku mendengar ucapan Ririn. Apa yang Ririn pikirkan hampir sama dengan pemikiran ku selama ini.
__ADS_1
Hanum yang sekarang bikan lagi seperti hanum yang dulu ku kenal saat masih kuliah. Jarak berpisah beberapa tahun membuat aku tak lagi mengenal sahabatku sendiri.
" Sekarang Hanum ada di rumah mu, mbak." Ucap Raka tegas.
Bagai petir di siang bolong yang menyambar tubuhku. Jadi ini jawaban ku atas pertanyaan ku sendiri.
Mas Adzam tidak risau atas kepergian ku karena kini ada Hanum di sisinya.
Dan aku kini percaya, karena bukan Ririn yang berbicara. Raka adalah sosok adik ipar yang tidak banyak bicara jika tidak penting.
Tanpa menunggu persetujuanku, Ririn mulai mengemasi semua barang-barang ku.
Raka masih menatapku, tatapan iba atas nasibku.
" Sudah selesai." Ucap Ririn riang.
" Ayo pulang mbak!" Ucap Ririn lagi sambil memberikan tas pada Raka. Sementara Ririn menggandeng tanganku.
Ya Allah.. betapa bersyukurnya aku, mempunyai adik ipar yang peduli padaku.
*****
Rasa penasaran mendorongku untuk masuk kedalam rumahku sendiri.
Raka dan Ririn mengikuti di belakangku. Sepertinya mereka sengaja berjaga-jaga andai sesuatu hal buruk terjadi.
Aku membuka pintu rumahku menggunakan kunci cadangan yang di pegang oleh Ririn. Sengaja aku tidak menimbulkan suara, agar aku bisa melihat dengan kepalaku sendiri apa yang sedang terjadi di rumahku dan rumah mas Adzam.
Pintu rumah sudah terbuka, Hanya suasana hening yang ku dapati. Bahkan aku berjalan pun seperti mengambang. Tidak ada suara sama sekali.
Ada kerinduan yang mendalam pada rumah yang sudah ku tinggali beberapa hari ini.
Jika ada mobil mas Adzam, berarti mas Adzam ada di rumah. Apa ia sedang tidur?
Tujuan utamaku adalah masuk kedalam kamarku.
Sebelum membuka pintu, aku lebih dahulu menyiapkan mental apa bila sesuatu hal terjadi di dalam sana.
Kamar kami memang di desain kedap suara, jadi apa pun yang kita bicarakan atau yang kita lakukan maka orang diluar tidak akan dengar.
__ADS_1
Kini tanganku sudah membuka handle pintu. Aku menatap Raka dan Ririn bergantian. Seolah aku meminta persetujuan mereka.
satu.. dua.. ti...ga! Dan pintu kini sudah terbuka. Aku yang menutup mataku perlahan-lahan membukanya.
Ada dua manusia yang sedang bergumul tanpa sehelai benang pun di tubuhnya di kamar pribadi kami. Ya, di kamar pribadiku dan mas Adzam. Dan pelakunya adalah suamiku sendiri bersama istri kedua suamiku.
Di luar dugaanku, Raka berlari kearah mas Adzam. Ia memberikan pukulan keras di wajah mas Adzam. Mas Adzam yang belum ada persiapan, seketika terjatuh terhuyung-huyung. Wajahnya lebam, ada tetes darah di sudut bibir mas Adzam. Sementara Hanum sudah lebih dulu berlari kekamar mandi membawa bajunya.
Mas Adzam menyempatkan untuk memakai celana dan bajunya yang berserakan di lantai.
Raka ingin menambahi pukulan di badan mas Adzam tapi teriakan ku menghentikan aktivitasnya.
" Raka hentikan!" Jeritku.
" Dasar laki-laki pecundang. Aku malu punya abang seperti kamu." Ucap Raka sambil menendang pintu kamar mandi dan segera berlalu meninggalkan aku dan mas Adzam.
Sementara Ririn, ia sudah lebih dahulu kabur ke ruang tamu sejak melihat mas Adzam dan Hanum tanpa busana.
Mas Adzam menatapku tajam, " Ini mau mu? Mengikut campurkan urusan pribadi dan urusan rumah tangga kita bersama dengan adik-adik ku?"
Mas Adzam, bahkan pertemuan kita kini harus berakhir drama seperti ini. Tidakkah ada rindu di matamu?
Hanum keluar dari kamar mandi.
Melihat wajahnya membuat aku bertambah mual. Kemana wajah lugu itu? Ia menunduk tak berani menatapku.
Namun masih berani curi pandang pada mas Adzam.
Aku menutup pintu kamar. Kini hanya ada kami bertiga di dalam kamar. Hanya aku, mas Adzam juga Hanum.
Aku duduk di sofa yang ada di kamar kami. Jijik bagiku untuk hanya sekedar mendaratkan badanku di atas ranjang yang yang kini sudah berserakan. Ranjang ini menjadi saksi percintaan mas Adzam dan juga Hanum. Tidak ada satu pun air mata yang menetes di pipiku. sepertinya sumber air mata ku sudah kering.
Kini waktunya aku bicara, " Apa yang kamu mau sekarang, mas?" Aku Memberikan pertanyaan pada mas Adzam.
Mas Adzam dan Hanum masih saja diam. Sepertinya mereka masih syok karena tertangkap basah berhubungan badan tanpa busana di istanaku.
Sebenarnya tidak ada yang salah, karena mereka sudah sah dimata hukum dan agama. Salah mereka hanya salah tempat untuk melampiaskan nafsu mereka. Mereka melakukan dikamar pribadiku, mereka melakukan di istanaku sendiri. Bukan berarti setelah mereka sah menjadi suami istri, terus merasa bebas untuk melakukan hubungan suami istri dimana saja mereka suka.
" Jika kamu tidak tahu apa yang kamu mau, mari kita berpisah mas!" Ucap ku lantang tanpa basa basi.
__ADS_1