
Malam ini aku menyuguhkan ayam semur dan tumisan kangkung.
Selesai makan, mama dan Ririn pamit untuk beristirahat dikamar ku. Sementara Tari ingin tidur dekat dengan ayahnya.
Mungkin karena terlalu jauh menempuh perjalanan, Mama dan keluarga yang lain sudah tertidur.
Kini tinggallah aku dan mas Adzam yang masih terjaga. Ada perasaan kikuk. Aku menyerahkan bantal dan selimut seadanya pada mas Adzam.
" Fi, bisa kita berbicara sebentar di depan?"
" Bicara apa?"
Ia menarik tanganku keluar.
Kini aku sudah berada disampingnya.
" Apa kabarmu?"
" Baik mas."
" Besok kita pulang! Tempatmu dan anak ku bukan disini."
Aku menatapnya dalam remangnya lampu teras rumahku.
" Sekarang ini adalah tempat ternyaman bagiku, mas. Juga bagi anakmu. Aku tidak punya rumah untuk berpulang."
" Siapa bilang kamu tak punya tempat untuk berpulang? Rumah kita akan selamanya menjadi rumah kita. Dan besok kita akan pulang."
Dari suaranya mas Adzam mencoba meredam amarahnya.
" Mas, berbahagialah dengan pernikahan mu yang sekarang. Aku juga disini mencoba untuk berbahagia, mencoba untuk move on, mencoba untuk bangkit dari keterpurukan rumah tangga kita. Jangan pernah berfikir jika rumah tangga kita akan kembali seperti semula. Semua sudah usai sejak lima tahun lalu." Ucapku lembut.
"Karena pak Rizky?" Mas Adzam mulai mengintimidasi.
Aku menggeleng sambil tersenyum, " Ini tidak ada kaitannya dengan pak Rizky, mas."
" Ia terang-terangan mencintaimu dan ingin menikahi mu."
" Apa salah jika aku memulai hidup baru dengan pria lain?" Aku balik bertanya padanya.
" Kau menyukainya?"
" Kalau iya kenapa? Kalau tidak kenapa?" Aku balik bertanya padanya.
" Kau masih istriku dan kau tidak berhak untuk menikah dengan pria manapun."
Dasar aneh!
" Aku tidak pernah menceraikan mu." Ucap mas Adzam dengan pedenya.
Sumpah! Ingin rasanya aku memberi bogem mentah diwajah mas Adzam.
Aku bangkit dari dudukku dan hendak berlalu meninggalkannya. Tapi aku tak berhasil, karena tanganku berhasil di tarik oleh mas Adzam.
" Aduh!" Aku terjatuh dalam pelukan mas Adzam.
" Jangan pernah berpisah dariku, selamanya kamu milikku dan akan menjadi milikku." Bisik mas Adzam tepat di telingaku.
" Lepaskan mas." Aku berusaha mengelak saat mas Adzam mendekatkan wajahnya kearahku.
Ia semakin erat mengunciku. Tenagaku tidak sebanding dengan kekuatan mas Adzam.
Entah setan apa yang merasuki mas Adzam hingga bibir mas Adzam dengan sukses menyentuh bibirku.
Bahkan kini aku menikmati setiap sentuhan yang di berikan oleh mas Adzam. Hatiku seperti ingin menolak, namun tubuhku begitu rindu sentuhan ini.
Cukup lama bibir kami saling bersentuhan, bahkan kini aku membalas sentuhan itu. Tangan mas Adzam mulai menjalar ke area dada.
__ADS_1
Bahkan tangan itu sudah menelusup kedalam baju. Lampu teras yang remang-remang membuat mas Adzam begitu bebas mencumbui ku.
Saat tangan mas Adzam berhasil menyentuh bagian dada ku, sontak aku tersadar dan mendorong mas Adzam.
" Cukup mas!" Aku membenarkan pakaianku yang mulai acak-acakan.
" Kenapa?" Suara mas Adzam serak, mungkin karena menahan sesuatu yang belum tersalurkan.
" Bukankah kau menikmati? Mas tahu kau rindu." Mas Adzam berusaha merengkuhku kembali.
Namun dengan sigap aku menolak.
" Aku bilang cukup mas!" Aku meninggalkannya sendiri diluar.
Ku angkat tubuh putriku masuk kedalam kamar. Tak lupa aku mengunci kamar. Kini aku sudah mengelar karpet tipis sebagai alas tidurku bersama Tari dibawah.
Aku tidak membiarkan mas Adzam tidur dekat putriku. Aku takut ia merusak masa depan putriku. Walau ia adalah ayah
kandungnya sendiri.
****
Pagi sudah datang, mama dan keluarga yang lain mulai bersiap-siap. Katanya mereka akan pulang hari ini.
Tari juga hari ini tidak berangkat sekolah. Ia sedang asyik bermanja-manja dengan ayahnya.
" Mama pulang hari ini?"
" Bukan mama saja yang pulang, kamu dan Tari pun harus ikut mama pulang hari ini." Jawab mama menahan amarah.
"Ma.."
" Sejak kapan kamu melawan ucapan mama? Sampai kapan pun kamu tetap istri Adzam dan tetap menjadi anak mama. Mama sudah tua, Afi. Mama hanya ingin menikmati hidup bersama cucu mama." Mama memelas meminta aku mengasihaninya.
Aku meninggalkan mama, dan mulai menyusun sarapan pagi ini.
" Ayo makan!"
Kami mulai berkumpul untuk menikmati hidangan pagi ini. Suasana pagi ini terasa dingin, tak ada yang berbicara sepanjang menyantap makan pagi ini.
Setelah selesai menikmati sarapan pagi ini aku mulai memberesi semua sisa makan kami tadi.
Saat semua didepan, aku menyendiri sendiri di dapur.
Aku duduk di depan pintu dapur. Ku usap air mataku yang menetes. Aku bingung harus tetap disini atau ikut kembali ke istana mama.
" Fi.." Mas Adzam menyentuh bahuku.
Ia duduk didekatku.
" Kenapa nangis?" tanyanya lagi.
Aku makin sesenggukan karena kehadiran mas Adzam.
Ia mengusap bahuku berkali-kali.
" Maaf kalau kedatangan kami kesini membuat kamu sedih. Maaf kalau permintaan mama terlalu berat buat kamu turuti."
" Mas, aku melalui lima tahun ini sangat sulit hanya berdua dengan Tari. Sebisa mungkin aku menghapus semua kenangan kita."
" Kamu tidak perlu menghapus kenangan kita, karena mas juga tidak pernah berusaha menghapus kenangan kita. Semua kenangan indah kita sudah tersimpan disini." Ia menepuk dadanya sendiri.
" Tapi mas minta satu hal sama kamu, sekali saja kamu ikut dengan kami. Kalau kamu tak ingin menetap disana kamu boleh balik lagi kesini."
Aku menatap mas Adzam, mencari kebenaran dalam setiap ucapannya.
" Jadikan hari ini ibarat kamu pulang kampung." Ucap mas Adzam bijak.
__ADS_1
Mas Adzam memelukku erat.
" Bersiaplah! Agar kita segera berangkat." ucap mas Adzam.
Aku pun bangkit dari duduk dan segera menyusun beberapa helai bajuku juga Tari.
Tari juga sudah mandi.
Kini kami sudah bersiap hendak berangkat.
mas Adzam dan Tari sudah masuk kedalam mobil.
Sementara mama dan Ririn juga sudah masuk ke mobil yang dikendarai Raka.
Aku sedang berusaha mengunci rumah, hingga pak Rizky lewat depan rumahku dan berhenti.
Ia turun dari motornya.
" Mau kemana mbak?" Tanyanya heran.
"Ehm saya mau.."
" Mau ke kota kembali bersama suami mu?"
Ucapan pak Rizky begitu menohok ku.
" Saya mau berkunjung kerumah mama, pak." Ucapku singkat. Karena saat ini tidak ada yang perlu ku jelaskan pada pak Rizky. Secara aku dan pak Rizky tidak ada ikatan spesial.
" Berapa lama?" Tanya pak Rizky.
" Apa perlu Afi memberi tahu anda berapa lama ia pergi?"
Tiba-tiba mas Adzam sudah berada di antara kami berdua.
Mas Adzam menatap tajam kearah pak Rizky.
Takut sesuatu terjadi, aku menarik mas Adzam untuk masuk kedalam mobil.
Setelah mas Adzam masuk ke mobil, aku pun berpamitan pada pak Rizky.
" Pak, saya permisi dulu." Ucapku sopan pada pak Rizky.
" Hati-hati." Ucapnya lagi.
Aku mengangguk dan tersenyum kemudian melangkah masuk kedalam mobil.
Detik berikutnya mobil melaju meninggal desaku.
" Ayah, mobilnya dingin banget." Ucap Tari senang.
" Tari kedinginan?" Tanya mas Adzam.
Aku mengeluarkan jaket dan memberikannya pada Tari.
" Yah, Tari seneng deh bisa naik mobil. Ada lagu-lagunya enggak kayak keretanya ibu. Jelek!" Tari tertawa cekikikan di bangku belakang.
Mas Adzam ikut tersenyum mendengar penuturan putrinya.
" Nanti kalau sudah samai rumah nenek, ayah akan ajak kamu jalan-jalan ke Mall." Janji mas Adzam.
" Mall itu yang ada tangganya jalan sendiri ya, yah?"
" Iya, itu namanya Eskalator sayang." Mas Adzam dengan sabar memberi penjelasan pada Tari.
Kini mereka tertawa bersama-sama.
Mas Adzam memutar lagu kesukaan Tari, dan Tari sangat menikmati perjalanan pertamanya.
__ADS_1
" Dia terlalu banyak ketinggalan." Ucap mas Adzam.
Aku tak menanggapi ucapan mas Adzam. Saat ini aku ingin memejamkan mata karena mengantuk akibat memikirkan mas Adzam yang hampir berbuat yang todak senonoh padaku.