
Pandanganku mulai buram. Tenagaku pun sudah terasa habis. Bahkan kini aku merasa ngantuk hingga mama dan Ririn berkali-kali menggoyang wajahku agar aku tersadar.
" Ayo bu, sedikit lagi!" perintah dokter.
Disaat aku mulai putus asa, Ada wajah mas Adzam dan Hanum tersenyum menghinaku terbayang di pelupuk mataku.
Dengan sekuat tenaga aku kembali mengejan, dan...
Oek....oekk...oek...
Terdengar suara tangisan bayi yang begitu kencang memenuhi ruangan ini...
Tangisku pecah, Kami bertiga menangis berbarengan...
Ada rasa bahagia, haru sedih di proses melahirkan ku. Anak pertama tanpa dampingan suami, bahkan sejak ia berusia lima bulan, ayahnya tak berdiri disamping kami.
" Alhamdulillah ya bu, bayinya perempuan, sehat.cantik lagi seperti ibunya." Jawab suster.
Aku sudah selesai melahirkan, dan kini akan di dorong keruangan rawat inap untuk masa pemulihan dan besok baru kami boleh pulang.
Saat pintu ruangan terbuka, Ada sosok wajah yang sangat ku kenal berdiri di depan pintu tempat aku bersalin tadi. Wajahnya begitu tegang, dan kini berubah ceria saat pintu sudah terbuka.
Tak ketinggalan di sebelahnya, ada sosok sahabatku yang memegang lengannya erat, seperti takut kehilangan.
Ia menatap wajahku, namun aku membuang pandanganku.
Ia melepaskan tangannya dari pegangan Hanum. Kini ia ikut mendorongku masuk keruang rawat inap.
Kini kami sudah berada di ruangan.
Bayiku sudah di letakkan di sampingku namun terpisah oleh box bayi.
Mas Adzam kembali mendekatiku, Cup! satu ciuman mendarat di keningku.
Cukup lama ia meletakan bibirnya di keningku.
Aku yang tiba-tiba mendapat perlakuan seperti itu seketika terkejut, Apakah ia todak malu melakukan ini didepan keluarganya?
Lalu, apa ia todak takut Hanum cemburu?
Dasar lelaki aneh!
Setelah menciumku, ia mendekati bayi kami, Ia menggedong bayi kami penuh rasa cinta.
Selanjutnya ia menyerukan suara adzan di telinga gadis kecil kami.
Ada rasa haru, karena mas Adzam masih datang ketempat ini untuk bertemu dengan putrinya.
Aku mengusap air mataku yang tumpah. Jalan pernikahan yang berliku-liku dan berakhir drama seperti ini.
Mas Adzam berkali-kali mencium putri kecil kami.
Hingga seorang suster masuk kedalam ruangan kami,
" Maaf bu, siapa nama putrinya karena kami akan membuat surat kelahiran." Jelas suster tersebut.
Mas Adzam menatapku, suasana menjadi hening.
__ADS_1
" Bintari Iswara."
Suster itu menulis nama yang ku sebutkan, kemudian ia menunjukan buku itu padaku agar aku memeriksa huruf yang ia tulis
" Sudah benar sus."
setelah mengucapkan terima kasih, suster itu berpamitan dan berlalu dari hadapan kami.
" Kenapa kamu memberi nama anak kita tanpa meminta saran padaku?"
Tiada hujan, tiada angin, tiba-tiba saja mas Adzam tidak terima atas pemberian nama yang ku sematkan pada putri kecilku.
Aku tersenyum sinis pada mas Adzam, dasar lelaki tidak tahu diri.
"Kemana kamu selama ini mas?" Aku memberi pertanyaan menohok padanya.
" Bukankah kamu terlalu sibuk dengan istri keduamu? Bukankah setiap malam aku melewatinya hanya sendiri? Bahkan beberapa bulan ini kamu tidak pernah mengirim uang untuk keperluan ku dan calon bayi kita. Sekarang kamu merasa tidak di akui? ck...." Aku menggelengkan kepala sebagai tanda tidak mengerti.
Wajah mas Adzam mengeras, bahkan Hanum ikut mendengus.
Muak rasanya melihat wajah mereka berdua.
Mas Adzam masih menimang bayi kami. Mungkin ia sudah terpikat pada pesona Bintari.
Malam sudah datang, jam di dinding menunjukkan pukul sepuluh.
Mas Adzam bersikeras untuk tetap tinggal disini bersama darah dagingnya.
Sementara Hanum tampak gelisah, mungkin saja ia sudah tidak betah berada disini.
Mas Adzam seperti bisa membaca kegelisahan istrinya,
Tanpa banyak kata juga tanpa pamit hanum berlalu dari hadapan kami.
" Dasar jelangkung, datang tak di jemput pulang tak diantar." Sindir Ririn sambil cekikikan.
Mas Adzam melotot kearah Ririn. Seketika Ririn menutup mulutnya.
Suasana kembali hening, hingga seorang suster masuk, " Ibu, jam besuk sudah habis. Jadi peraturan di rumah sakit ini hanya ada satu orang yang menemani pasien." Jawabnya dan berlalu pergi.
Kami saling pandang. Mama bangkit dari duduknya, " Raka, Ririn, ayo kita pulang!" Mama mulai berkemas-kemas.
" Ma..?"
Mama seperti tahu aku tidak ingin ditemani oleh mas Adzam.
Mama mendekati, " Fi, Adzam ayahnya Bintari. Sudah selayaknya ia menjaga kalian disini. Agar dia tahu beratnya menjadi orang tua." Mama memelukku mencium keningku.
" Zam, jaga keluargamu baik-baik. Ingat! sudah ada Bintari, Bayi ini yang kamu tunggu - tunggu dari dulu. Sekarang sudah ada? Tidak ada yang yang kamu harapkan dari Hanum. Tolong dengar ucapan mama!"
Mas Adzam mengantar mama kedepan.
Aku menatap putri kecil kami, Bintari Iswara.
Ku dekap lembut ia dalam pelukanku.
Sampai aku tidak sadar, mas Adzam sudah memperhatikan ku di depan pintu.
__ADS_1
Ia mendekatiku, kini hanya ada kami bertiga. Aku, mas Adzam dan juga Bintari. Seharusnya ini adalah formasi lengkap untuk keluarga kami. Namun sayangnya keluarga kami sudah cacat sejak aku memasukkan Hanum kedalam rumah tangga kami.
" Fi, tidurlah!" Mas Adzam mengambil Bintari dari pangkuanku.
Ia meletakan Bintari yang tertidur pulas ke dalam box bayi di sampingku.
Bagaimana aku bisa tidur, jika ia tetap duduk di sampingku. Tak ada pembicaraan diantara kami berdua. Suasana diantara kami menjadi dingin. Bahkan suara cicak berkejaran pun terdengar oleh telingaku.
" Fi, apa kabar?"
Jujur aku tertawa dalam hati mendengar kalimat basa - basi dari mas Adzam.
Ia tersenyum sendiri, mungkin merasa canggung setelah beberapa bulan tak berbicara denganku.
" Fi, terima kasih sudah menjaga Bintari selama dalam kandungan." Ucapnya lagi.
" Bintari anak yang kuat mas. Makanya ia bisa lahir ke dunia ini." Aku menyindir mas Adzam.
Lagi-lagi ia hanya bisa tersenyum sendiri.
" Ya, mas tahu itu. Maaf untuk kesalahan mas selama ini karena..."
Ucapan mas Adzam terputus karena suara tangisan dari Bintari.
Tanpa ku minta ia memeriksa popok Bintari, " Basah ya, sayang?"
Pelan-pelan ia membuka pampers Bintari, lalu menggantinya dengan yang baru.
" Sudah sayang, Tari haus?" Ia mengambil Bintari dari box dan menyerahkan padaku.
Ia lalu membuatkan susu untuk Bintari, ia membaca petunjuk pada kemasan susu.
Entah terharu atau karena masih cinta, bibirku tersenyum melihat kesigapan mas Adzam dalam menjaga kami. Bahkan suara dering ponsel yang berbunyi sama sekali tak di hiraukan.
Ia mengambil Bintari dari pangkuanku, selanjutnya ia memangku Bintari dan memberinya susu.
Good job!
" Wah, anak ayah hebat! Haus ya makanya nangis? Habis ngompol minum susu.." Mas Adzam berbicara sendiri, seolah-olah Bintari sudah bisa di ajak berkomunikasi.
Jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Aku mulai menguap, mataku terasa berat.
Bintari sudah tertidur lelap.
Aku menarik selimut menutup separuh tubuhku. Di luar dugaanku, mas Adzam membantuku. " Selamat tidur." Bisiknya dan mendaratkan ciuman di keningku.
Aku melotot menatapnya, Ia hanya tertawa renyah tanpa merasa bersalah.
" Dasar buaya!" Makiku pada mas Adzam.
Aku mulai menutup mataku.
Sayup-sayup masih terdengar suara mas Adzam. Sepertinya ia sedang menerima telpon.
" Apa salah mas menemani Afi? Apa masih kurang waktu mas untuk bersama denganmu? Permintaanmu sudah di luar batas,Num."
Suasana kembali hening, sepertinya mas Adzam memutuskan pembicaraannya dengan Hanum.
__ADS_1
Aku merasa bodoh amat dengan mereka. Kini waktunya aku tutup mata dan tidur nyenyak.