
Akhirnya aku mendatangi mas Adzam, " Mas, memangnya kamu gak punya kunci duplikat nya?" tanyaku pada mas Adzam.
" Eh anu, ada ini." Mas Adzam Tampak gugup menjawab pertanyaan dari ku, Tangan mas Adzam mengeluarkan kunci dari dalam dompetnya.
Aku membuka pintu dengan cepat.
Suasana rumah ini sepi, Aku masuk tanpa mengeluarkan suara.
Hingga sampai di depan pintu kamar aku di kejutkan oleh Hanum,
" Tara......"
Hanum mengagetkan kami berdua.
Mataku membulat karena melihat penampilan Hanum yang memalukan bagiku.
Lingerie merah menyala, dengan belahan dada rendah menyambut pertemuan kami.
Hanum yang terkejut dengan kedatangan ku sontak langsung masuk kekamar dan menutup pintunya. Sementara mas Adzam memijit keningnya, " Hari ini aku mengetahui semuanya, mas. Pantas saja kamu mulai tergila-gila dengan pesona Hanum. Ternyata ia menyambutku dengan pakaian yang..." Aku memilih duduk di ruang tamu. Menunggu Hanum keluar dari kamar.
Aku memperhatikan ruangan tamu ini. Terpampang foto mesra antara Hanum dan suamiku. Entah kapan mereka berfoto, begitu banyak foto mereka dengan senyum merekah. Entah mengapa rasanya aku mual melihat drama di hadapanku.
"Ya Allah, mimpi apa aku hingga bisa membiarkan mas Adzam memiliki dua istri." Aku memijit kepalaku yang sedikit pusing.
Setelah menunggu selama kurang lebih lima belas menit, akhirnya Hanum keluar dengan penampilan lebih sopan. Gamis panjang, dan kepalanya di tutupi oleh jilbab instan.
Aku menelisik penampilannya dari atas kepala hingga ujung kaki. Hanum menjadi serba salah karena tatapanku ini.
Penampilannya untuk menyambut suamiku sungguh nakal, tetapi ketika berhadapan denganku begitu alim. Aku menampilkan senyum sinis pada sahabatku ini. Rasanya aku sudah tidak sanggup untuk berpura-pura lagi dihadapan mereka.
" Maaf, mau minum apa, Fi?" tanya Hanum pada kami.
Suara itu... tiba-tiba saja aku tidak suka mendengar suara itu. Padahal itu adalah suara sahabatku sendiri.
Aku menutup mulutku, sesekali mengusap perutku. Aku takut terlalu membenci Hanum.
Kata orang kalau sedang hamil jangan terlalu benci pada orang, nanti anaknya mirip. Dan aku bingung mau percaya atau tidak. Tapi yang perlu ku tegaskan adalah aku tidak ingin anakku nanti mirip Hanum.
__ADS_1
Karena aku tidak menanggapi ucapan Hanum, akhirnya Hanum membuatkan teh manis hangat. Ia menghadapkan tepat di depanku.
Suasana masih hening. Hanya Hanum dan mas Adzam yang saling menatap.
Aku menarik napas panjang, berat rasanya untuk mengatakan ini pada sahabatku.
" Num, boleh aku berbicara?" Aku meminta persetujuan dari Hanum.
" Silahkan!" Ucap Hanum padaku.
" Aku sedang hamil, bolehkah mas Adzam tidak menemui mu untuk beberapa waktu yang tidak di tentukan? Maaf jika ini menyakitimu. Bukan maksudku ingin membuang mu, tapi untuk saat ini sulit bagiku berbagi suami dengan wanita lain." Ada perasaan lega karena sudah berhasil menyampaikan segala keinginan di hatiku.
" Kalau menurut kamu bagaimana mas?" Aku melempar pertanyaan pada mas Adzam.
" Mas ngikut saja pada pilihan terbaik. Maafkan kami ya Num, bukan maksud kami ingin membuang mu. Tapi ini kami lakukan untuk kebaikan janin yang ada di kandung Afi." Ucap mas Adzam.
Ku lihat mata Hanum berkaca-kaca. Mungkin ia merasa sakit hati dan sedih atas perlakuan kami padanya.
Ia menarik napas panjang kemudian menghembuskan, Seolah-olah ia mencari ruang udara yang luas agar dadanya tidak sesak.
" Hanum, aku tahu ini berat. Bukan hanya buatku, tapi buat kamu dan mas Adzam. Tapi... semua ini aku lakukan demi keselamatan bayi ku." Ucapku lagi.
Suasana kembali hening, mas Adzam tak juga mengiyakan dan menalak Hanum.
" Ada yang ingin di bahas lagi? kalau tidak ada silahkan pulang. Maaf saya mau istirahat." Ucap Hanum lagi sambil melipat tangannya.
Aku dan mas Adzam pun berpamitan pulang. Sebelum ku langkahkan kakiku, Aku mengamati rumah Hanum. Kehidupan. yang mewah dalam jangka waktu beberapa bulan.
****
Kini kami sudah tiba di rumah. Aku hanya ingin istirahat. Setelah meminta izin pada mas Adzam, aku langsung masuk ke kamar.
Entah berapa lama aku tertidur, yang jelas aku terbangun saat mendengar suara mas Adzam menelpon seseorang.
Siapa yang menelpon mas Adzam? Apakah mama? Namun mengapa bicaranya berbisik-bisik?
Tapi aku tak berani mendekati mas Adzam, takut nanti hatiku menjadi perih kembali.
__ADS_1
Setelah menunggu hampir lima belas menit akhirnya mas Adzam masuk kedalam kamar. Aku hanya pura-pura tidur, Masih kurasa saat mas Adzam naik keatas ranjang dan mengecup keningku, lalu mulai membaringkan badannya di sebelahku,
Ternyata tidak semudah itu mas Adzam berpisah dengan Hanum.
*****
Pagi sudah datang, Rasanya mataku berat untuk dibuka. Mas Adzam masih tidur dengan nyenyak. Ada dengkuran halus dari mulut mas Adzam. Aku pun tak berusaha membangunkan.
Aku membuka gorden juga jendela rumah kami agar udara pagi yang masih sejuk bisa masuk.
Aku membuka pintu, daun-daun masih basah oleh embun yang menempel pada daun.
Pagi ini saat sedang menikmati suasana pagi, aku merasakan celana ku basah.
Apakah aku mengompol? Aku menelisik kebagian bawah celanaku, ada warna merah yang menempel.
" Mas.." Aku manggil mas Adzam dengan teriak sekencangnya.
Hanya dengan sekali panggilan mas Adzam datang menghampiriku.
" Ada apa?"Mas Adzam mengusap wajahnya yang masih ngantuk
"Ada darah, mas." Aku menunjukkan darah yang ada di celananku.
" Kamu jatuh?" Mas Adzam membentakku.
" A- aku.." Tidak sanggup melanjutkannya lagi.
" Kita kerumah sakit sekarang, cepatlah berganti baju!" Ucap mas Adzam lagi.
Aku segera bersiap, hanya butuh waktu sepuluh menit saja. Setelah semua perlengkapan di bawa akhirnya kami segera meluncur kerumah sakit. Tujuan rumah sakit yang biasa kami tempuh memakan waktu tiga puluh menit, kini hanya kami lalui sekitar lima belas menit. Aku merasa jantungan berada disamping mas Adzam.
Setelah sampai di rumah sakit, aku langsung di tangani oleh dokter Rayhan. Sementara mas Adzam berdiri disampingku, mencoba menguatkan ku. Ada kepanikan yang terpancar dari wajah mas Adzam.
Kami sempat melakukan USG, kata Dokter Rayhan janinku masih sehat. Aku hanya terlalu banyak pikiran. Akhirnya atas saran dari Dokter Rayhan aku harus menjalani bed lrest selama satu minggu. Tanpa membantah mas Adzam menyetujui saran dari Dokter Rayhan. Mas Adzam segera menghubungi mama dan adik-adiknya.
Setelah Dokter Rayhan pergi, Mas Adzam mendekatiku, " Apa yang menjadi pikiranmu Fi? Bukannya kita sudah sepakat bahwa antara Mas dan Hanum sudah tidak ada hubungan apa-apa." Ucap mas Adzam.
__ADS_1
Aku tidak menanggapi ucapan mas Adzam, Aku membuang pandanganku, rasa percayaku belum pulih untukmu mas.