Boleh Ku Pinjam Rahimmu?

Boleh Ku Pinjam Rahimmu?
Boleh Ku Pinjam Rahimmu 15


__ADS_3

Ini adalah malam yang tidak pernah ku lupakan. Bahkan yang di pikiranku saat ini adalah wajah-wajah mereka berdua yang bahagia menikmati peluh penuh cinta.


Aku membiarkan rumah ini gelap tanpa menghidupkan satu lampu pun. hanya lampu kamar yang redup ku hidupkan.


Aku tidak tahu mata ini akan tertutup kapan yang jelas tiba-tiba rasa ngantuk datang menyerang membuatku sejenak melupakan beban hidupku.


******************


Jauh di Indonesia bagian tengah, tepatnya di Bali. Sepasang suami istri yang baru saja di sahkan tadi siang baru saja sampai di penginapan hotel berbintang lima yang difasilitasi kelas VIP.


Adzam dan Hanum baru saja meletakkan koper mereka di kamar hotel.


Ada rasa canggung diantara mereka berdua.


INI POV ADZAM


" Kamu mau ke kamar mandi duluan Num?" tanyaku pada Hanum.


Hanum masih duduk di tepi ranjang berukuran besar yang di balut sprei putih yang bertabur bunga mawar merah.


" Mas saja yang duluan, aku mau berberes sebentar." Ucapnya lembut.


Aku bangkit mengambil handuk di koperku dan menyiapkan pakaianku membawa kedalam kamar mandi.


Jujur ini adalah pertama kali aku berduaan dengan seorang perempuan selain Afi. walau sekarang Hanum juga adalah istriku.


Aku membersihkan tubuhku, pikiranku masih melayang pada seseorang yang ku tinggal di seberang sana.


Belum pernah aku meninggalkannya sendiri dirumah. Apa lagi aku meninggalkannya bukan karena dinas kantor. Entah ide dari mana ia menjebakku dalam pernikahan seperti ini..


Tidak pernah terlintas dalam pikiranku jika aku harus mempunyai Istri dua.


Akhirnya aku selesai mandi, keluar dari kamar mandi. Hanum sidah bersiap hendak masuk. Aku mempersilahkannya masuk.


Apa yang harus ku lakukan malam ini? Haruskah kami bercinta? Aku menyugar rambutku. bingung rasanya.


Aku berniat menelpon Afi malam ini. Ada rasa bersalah karena sudah menyakiti perasaannya. Aku menempelkan handphone di telingaku hingga terdengar suara operator berbicara " Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif."


Aku mencoba panggilan kembali, tapi tetap sama hanya operator yang sedang sibuk berbicara.


Apa yang dilakukan Afi dirumah? tidak pernah sekalipun ia mematikan handphone nya dengan alasan takut ada hal penting. Lalu mengapa hari ini ia tidak mengaktifkan handphonenya?


Aku memijit keningku berkali-kali. Rasa pusing langsung mendera kepalaku.


Krieettt...


Suara pintu kamar mandi di buka. Oh Tuhan... apa yang harus kulakukan? Hanum keluar dari kamar mandi hanya dengan menggunakan lingerie merah menyala. Sangat kontras dengan kulitnya yang putih mulus.

__ADS_1


Aku terpesona dengan penampilannya yang sangat berani di hadapanku. Rambutnya yang panjang hitam berkilau membuat mataku tak bosan menatapnya. Dan Hanum adalah salah satu mahluk tuhan yang diciptakan dengan sempurna.


" Mas..." panggilnya.


Sumpah... malam ini aku di buat gugup olehnya. Bagaimana pun aku adalah lelaki normal. Jika di hadapkan dengan wanita seperti Hanum tentu aku tidak akan pernah menolak.


Hanum bergelayut manja di bahuku. Aroma harum keluar dari rambutnya yang tergerai. Aku tidak tahu kapan Hanum menyemprotkan wewangian di sekujur tubuhnya. Wangi yang lembut.


" Mikiri Afi ya mas?" tanyanya manja.


" Eh, enggak kok." Jawabku bingung sambil menggaruk kepalaku yang tidak gatal.


Aku seperti terhipnotis saat berdekatan dengan Hanum.


Entah siapa yang memulai hingga diantara kami berdua tidak ada jarak lagi. Bahkan kami kini saling mendekap seolah saling mencari kehangatan satu sama lain.


Ya malam ini kami bercinta layaknya suami istri. Hal ibadah berpahala yang kami lakukan. Halal di mata agama juga negara.


Bercinta dengan Hanum membuat ku kembali muda. Siapa sangka wajah kalem nan pendiam ternyata begitu liar di ranjang.


Atau karena Hanum telah lama menjanda.


Ah, aku tidak mau ambil pusing. Aku ingin menikmati malam indah ini hanya dengan Hanum.


Malam pertama ku dengan Hanum sukses hingga pagi menjelang.


Kulihat Hanum sedang terlelap, mungkin dia lelah. Aku tak membangunkannya. Aku membersihkan diri dan memesan sarapan untuk kami berdua.


Jam di dinding sudah menunjukkan pukul sembilan. Hanum tampak membuka matanya malu-malu.


" Uda mandi mas?" tanyanya malu-malu.


" Udah. Mandi gih! Bau." Aku bercanda sambil menutup hidungku.


Ia bangkit dari tidurnya dengan wajah meringis. Apakah ia merasa kesakitan? padahal ini bukan yang pertama untuknya.


" Sakit?" tanyaku cemas.


" Eh,sedikit mas." lirihnya.


Aku mendekatinya, memapah tubuhnya kekamar mandi.


Ia hanya menutup wajahnya, malu melihatku. Entah mengapa, memapah tubuhnya yang polos tanpa sehelai benang membuat gairah bercintaku bangkit kembali. Aku rela mandi lagi demi mencicipi manis bibirnya. Dan akhirnya kami kembali bercinta di kamar mandi.


*************


Jami sudah selesai mandi. Aku pun sudah selesai berpakaian. Hanya menunggu Hanum yang sedang memakai pakaian.

__ADS_1


Ia keluar hanya menggunakan lingerie hitam dengan potongan dada rendah.


Oh my good... Apakah ini ujian-Mu


Rasanya aku ingin kembali menerkam Hanum.


" Mas, jangan ngelihatin aku gitu dong! Istirahat bentar ya, masih linu."


Suaranya begitu mendesah menggodaku.


" Sayang... emang gak bawa baju lain? Baju mu itu loh menggoyang imanku " Candaku pada Hanum.


" Emang sengaja mas. Satu minggu ini aku akan menggodamu dengan pakaian ini." jawabnya nakal.


Ia duduk di pangkuanku, sejenak kami berciuman sebentar dan melanjutkan makan tang sempat tertunda.


**********


Batas waktu bulan madu bersama Hanum telah selesai. Aku dan hanum tidak menyempatkan waktu untuk sekedar berjalan-jalan menikmati pantai fan pasir bali.vWaktu kami habis hanya untuk bercinta dan bercinta.


Bersama Hanum aku kembali muda.


kami berdua sudah tiba di kota Afi. Entah apa yang membuatku berubah pikiran hingga kembali memesan hotel berbintang lima. Rasanya aku belum ingin mengakhiri kebersamaan ku dengan Hanum.


Hanum terkejut saat taksi yang kami naikin masuk ke area parkir hotel.


" Mas kenapa ke hotel?


" Masih pengen dama kamu dua hari lagi." Jawabku jujur.


Hanum tersipu, kembali memelukku erat.


Aku memesan satu kamar.


Handphone ku dan Hanum sengaja di matikan agar tak ada yang mengganggu kami.


Aku dan Hanum pun sempat berbelanja lingerie. Aku membelikannya lima lagi dengan warna yang berbeda. Menikah dengan Hanum membuat aku tidak teringat pada Afi. Bahkan aku tak sempat untuk sekedar bertanya kabar pada Afi. Isi kepalaku hanya ada Hanum dan Hanum. Kemolekan tubuhnya sukses membuatku mabuk kepayang.


*************


Tidak terasa waktu dua hari sudah berlalu. Aku dan Hanum memutuskan untuk pulang kerumah Afi. Untuk sementara Hanum akan tinggal dirumah kami sampai aku menemukan rumah yang cocok untuk Hanum.


kami sudah tiba di rumah tanpa memberi kabar pafa Afi.


aku mengetuk pintu, agak menunggu lama pintu baru terbuka.


Kriiiet....

__ADS_1


Tampak wajah terkejut di balik pintu.


__ADS_2