
Setelah merasa puas dengan penampilanku, aku pun memutuskan untuk keluar kamar.
Pintu kubuka, pandangan ku langsung mengarah ke ruang keluarga. Ada sosok yang sedang meringkuk dengan tubuh di tutupi selimut.
Aku menyipitkan mataku, mencoba mengingat-ingat. Apakah Raka tidur didepan televisi? sejak kapan? Bukankah ia punya kamar sendiri.
Pelan-pelan aku melangkah mendekatinya.
Sosok yang meringkuk itu ternyata mas Adzam.
Sejak kapan mas Adzam datang kerumah mama? Ya Allah mas, kasihan sekali kamu.
Aku masih berdiri di samping mas Adzam yang sedang meringkuk.
Bingung harus bagaimana.
" Mbak!" Panggil Ririn.
Seketika aku terloncat kaget, " Ada apa?" Tanyaku sebel.
Ririn hanya senyum-senyum tidak jelas melihat aku terkejut karena dia datang tiba-tiba
" Biarin aja, mbak. Mas Adzam tadi malam jam dua belas datangnya. Ririn yakin pasti mas Adzam masih ngantuk." Cerocos Ririn
Aku hanya mengangguk dan meninggalkan mas Adzam. Aku pergi kedapur, ternyata sudah ada mama. Mama sedang sibuk membolak-balik sesuatu di wajan.
" Masak apa ma?" Aku menyapa mama dan mendekatinya.
" Ini mama sedang ingin makan mie goreng." Jawab mama tanpa melihatku. Sepertinya ia sedang fokus pada masakannya.
" Sini ma, Afi saja yang masak!" Aku mencoba menawarkan diri pada mama, namun di tolak mama dengan alasan nanti aku capek.
Akhirnya aku duduk di kursi meja makan. Pikiranku kembali terkenang pada mas Adzam. Darimana saja ia sampai datang jam dua belas malam? Apa ia tidak bisa lepas dari Hanum? Apakah ia menuntaskan hasratnya terlebih dahulu dengan Hanum.
Suara handphone berdering. Dan aku tahu itu ponsel siapa. Sudah pasti itu ponsel mas Adzam. Apakah itu telpon dari Hanum?
Aku memijit keningku. Pusing rasanya karena aku selalu membawa nama mas Adzam dan hanum kedalam pikiranku.
" Pusing ya Fi?" Tanya mama tiba-tiba sudah duduk di dekatku.
Aku tak menjawab pertanyaan mama. Mali rasanya jika nanti makin menambah beban mama.
__ADS_1
Kini kami sudah berkumpul di meja makan. Ada mama, aku, Ririn dan Raka. Sedangkan mas Adzam belum bangun.
Kami begitu menikmati makanan. Hanya Ririn yang sibuk bersuara meski sedang makan.
Tiba-tiba mas Adzam sudah bangun dan bergabung bersama kami. Suasana jadi hening, sunyi, sepi dan dingin.
Terutama antara Raka dan mas Adzam. Mereka saling menatap dengan sinis.
" Raka, Adzam.. Apa yang terjadi pada kalian?" Tanya mama. Suaranya begitu tegas. Hal yang sangat jarang ku dengar.
Mas Adzam menghentikan aktivitas makannya. Ia menatapku, seolah meminta jawaban padaku.
" Tanya pada menantu kesayangan mama." Sindir mas Adzam padaku.
Sungguh perkataan mas Adzam membuat amarah ku membara.
Aku menatap mas Adzam, ia pun menatapku balik.
" Kalian berdua adalah kakak beradik, anak yang lahir dari rahim mama. Sejak kecil kalian tidak pernah berantem apalagi sampai baku hantam. Terus sekarang apa maksudnya?"
Mama tampak mengusap sudut matanya. Bahkan suaranya bergetar saat meminta jawaban dari kami anak-anaknya.
" Mama, apa pantas seorang adik mencampuri urusan rumah tangga abangnya?" Tanya mas Adzam menatap tajam Raka.
" Jangan ceramah bang kalau kelakuanmu tidak berakhlak. Pantaskah bagi seorang suami bercinta dengan suaminya di istana istrinya dan di kamar pribadi istrinya?" Ia menggelengkan kepalanya.
tangannya menunjuk ke arah kepala, " Pikir pakai otak." Ucapnya berlalu dari kami.
Diluar dugaan kami, mas Adzam mengejar Raka. Ia menghajar Raka habis-habisan.
Sontak aku, mama dan Ririn berlarian tak tentu arah.
Tanpa rasa takut aku berlari kearah mas Adzam dan Raka. mas Adzam yang sedang memukuli Raka tanpa sengaja tangannya mengenai wajahku.
Aduh!
Aku menjerit kesakitan. Barulah mas Adzam sadar jika pukulannya mengenai wajahku.
Ia bangkit dan melepas Raka. Hidungku sudah basah oleh darah. Mungkin karena terkena pukulan mas Adzam.
Mama tampak histeris. Mama memelukku.
__ADS_1
Ririn mengambil tisu dan mengelap darah yang masih menetes dari hidungku.
Lemas sudah rasanya tubuhku. Kini aku berbaring tanpa daya. Mas Adzam memapah tubuhku kekamar kami. Aku yang sudah tak berdaya tak bisa menolak. Setelah aku cukup tenang, mama dan Ririn meninggalkanku. Kini hanya ada aku dan mas Adzam di kamar ini.
Mulutku terkunci bisu. Tidak ada lagi perkataan yang ingin ku bicarakan pada mas Adzam.
Mas Adzam masih duduk di bibir ranjang menunggu ku.
" Fi.." Ucapnya terputus karena ponselnya berbunyi. Sekilas ia menatap ponselnya, selanjutnya ia membiarkan ponsel itu tetap berdering.
Dari Hanum kah? Mengapa tidak di jawab? Bukankah mereka sudah saling mencintai?
Ponsel itu kembali berdering, mas Adzam kulihat menjawabnya.
" Mas sedang sibuk." Ponsel dimatikan begitu saja.
Ia mengurut keningnya. Mungkin saja ia juga sedang pusing dengan takdir kami. Beberapa tahun silam, ia tidak pernah mengurut keningnya, karena jika tahu aku akan membawakan minyak urut dan segera mengurut kepalanya hingga ia merasa nyaman dan merasa baikan.
satu detik, satu menit, lima menit, sepuluh menit, " Maafkan mas, Fi!" Ucap lelaki itu menghiba di hadapanku.
" Untuk?" Aku berpura-pura lugu dihadapannya. Aku hanya ingin tahu kesalahannya yang mana yang ingin ku maafkan.
" Untuk semua kesalahan yang pernah mas buat padamu." Ucapnya lagi.
Aku menggeleng, berat rasanya memaafkan mas Adzam. Hatiku terlanjur sakit.
" Bisakah kita damai seperti dulu lagi? Meski mas yakin tak akan bisa sama seperti waktu itu. Tapi setidaknya kita bisa berdamai dan kembalilah kerumah."
Aku menyipitkan mataku, apa katanya, kembali kerumah?
Aku kembali menggeleng," Tidak bisa mas! Aku tidak bisa kembali kerumah itu. Rumah itu bukan tempat ternyaman lagi untukku. Bagaimana bisa istanaku, istana pribadiku di nodai oleh istri kedua suamiku? Bagaimana bisa aku melupakan kenangan kamu bercinta dikamar kita bersama istrimu? Bersama sahabatku. Memang tidak ada yang salah jika kalian ingin bercinta, karena kalian adalah sepasang yang sah oleh agama dan negara, tapi tidak di kamar pribadiku dan disaksikan oleh kedua mataku sendiri." Sindir ku tajam.
" Lalu apa yang harus mas lakukan untuk menebus semuanya? Bukankah kamu yang menghadirkan Hanum didalam rumah tangga kita?"
Mas Adzam menatapku tajam, detik berikutnya ia keluar dan membanting pintu sekeras-kerasnya.
Aku menutup telingaku. Ya Allah.. begitu berubah perangai suamiku.
Ku usap sudut mataku yang basah. Nyatanya aku tidak sekuat dan setegar yang ku mau.
Sekarang aku tidak tahu mas Adzam kemana, namun dari jendela kamar ini aku bisa melihat mobil sportnya pergi meninggalkan rumah mama.
__ADS_1
" Mau kemana kamu, mas?" Gumamku dalam hati.
Dulu ia tidak pernah pergi dalam keadaan marah. Ia akan mencoba merenung jika ada perselisihan di antara kami berdua.