
Ah, anak sekecil Tari memang susah di tebak. Sebentar sudah sedih, sebentar sudah nangis, sebentar sudah senang, sebentar lagi uda tertawa. Dia belum tahu apa artinya sedih itu. Nyatanya kini ia sudah tertawa bermain bersama teman-temannya..
" Afi, mau kah kamu memberi alamat tempat tinggal mu? Bukan aku saja yang rindu, mama pun sangat merindukan kalian. Ririn, Raka mereka rindu pada kalian. Ayolah Afi, tolong bicara, jangan diam. Jika kamu tidak bisa memaafkan mas, setidaknya kamu todak ikut menghukum mama agar tidak berti dengan cucu kandungnya sendiri.
Klik!
Aku memutuskan sambungan telepon.
Aku belum siap untuk bertemu dengan kamu,mas.
****
Aku tidak menyangka jika live kemarin adalah suatu bencana buatku dan Tari.
Seseorang telah menuliskan alamat kami di kolom komentar.
Aku sejenak mematikan handphone dan memulai aktivitas seperti biasanya.
Aku juga merasa tidak yakin jika mas Adzam bersedia untuk datang ke tempat kami.
Hari ini aku memutuskan untuk menikmati waktu dengan bersantai di depan rumah.
Para tetanggaku juga sedang sibuk dengan aktivitasnya masing-masing.
Tak pernah kuduga, sebuah motor berhenti di depan rumahku.
Dan ternyata pak Rizky bertamu kerumahku.
" Assalamu'alaikum mbak Afi.."
" Waalaikumsalam.."
" Boleh saya masuk?"
" Silahkan pak!"
Kini kami berdua duduk saling berhadapan di teras rumah.
Ada rasa risih karena takut para tetangga berfikiran buruk tentang kami berdua.
" Tumben pak, ada keperluan?" Tanyaku basa-basi membuka percakapan diantara kami berdua.
" Tidak ada yang tumben,mbak."
Pak Rizky tersenyum.
" Saya ingin menanyakan perihal lamaran saya? Apakah di terima?"
Ya Allah..jujur aku lupa tentang lamaran itu. Bahkan alu tidak pernah menganggap lamaran itu dengan serius.
" Bagaimana mbak Afi?" Sepertinya pak Rizky begitu terburu-buru untuk hubungan ini.
Aku terdiam sejenak memikirkan jawaban yang pantas untuknya.
Dari kejauhan aku melihat dua mobil mewah masuk ke desa kami. Hal yang masih jarang dan mahal untuk kami yang tinggal di desa ini. Semakin lama mobil ini mendekat kearah rumahku dan berhenti tepat di depan rumahku. Dan dua mobil mewah itu menjadi perhatian teman-teman Tari.
Hati ku mulai merasa tidak enak, jangan-jangan...
Aku dan pak Rizky saling berpandangan.
" Siapa ya mbak? Tumben ada mobil mewah masuk ke desa kita." Pak Rizky tampak kebingungan.
Seorang lelaki turun dari mobil dengan berpakaian rapi.
Aku seperti tidak asing dengan lelaki itu. selanjutnya seorang lelaki juga keluar dari pintu sebelah disusul beberapa wanita muda dan cantik. Seseorang lagi wanita tua dan seorang anak perempuan berusia sekitar enam tahun.
Aku memperhatikan sosok itu yang berjalan mendekat kerumahku.
Dug! Jantung ku berdenyut.
" Mama..! Ucapku dengan bibir bergetar.
Bagaimana bisa aku lupa dengan wanita tua itu. Wanita yang ku rindukan setiap malam, wanita yang selalu ku doakan setiap malam.
__ADS_1
" Anakku..."
Wanita tua itu merasa lemas dan ke dua wanita disampingnya berusaha menuntun wanita tua itu.
Tak membuang waktu lagi aku berlari menubruk mama.
" Mama...."
Aku menangis histeris.
" Anakku...Afi..huuuuu..."
Kami berpelukan erat.
" Kenapa kamu tega ninggalin mama nak.."
Mama masih terisak.
" Mbak Afi.."
Seseorang wanita mendekat kearahku.
" Ririn..."
Kami kembali berpelukan.
Siapa sangka pertemuan kami begitu mengharu biru.
Pak Rizky hanya menatap kami kebingungan. Selama lima tahun aku hanya hidup berdua dengan Tari,lalu tiba-tiba keluargaku datang dengan mobil mewah.
Aku mempersilahkan mas Adzam dan keluarga masuk kedalam rumah sederhanaku.
Netra ku mencari sosok Hanum, namun tak kutemui.
Apakah ia tidak ikut? Apakah ia tak siap bertemu denganku dan Tari?
Aku menggelar tikar sebagai alas tempat duduk dan mempersilahkan mereka duduk.
Aku meninggalkan mereka, dan pergi kedapur untuk membuat teh.
" Mbak, kenapa bisa sejauh ini?"
Tanya Ririn padaku.
" Mbak damai disini Rin."
" Kenapa tak pernah mau kasih kabar?"
" Perlukah?" aku balik bertanya.
" Tentu. Lima tahun kami memendam rindu. Kami pikir, mbak dan Tari sudah di telan bumi." Ia tertawa, mengajakku bercanda.
" Bukan mbak tak mau memberi kabar, hanya saja baru beberapa minggu saja disini ada listrik dan sinyal." Aku mencoba menjelaskan apa yang terjadi disini.
" Lalu kepala desa itu?"
Ririn memainkan matanya, mencari jawaban padaku.
" Dia bukan siapa-siapa." Aku menjawab singkat.
" Sepertinya ia menyukai mbak."
" Masak?" Aku pura-pura tidak paham.
" Apakah ia punya istri?" Lagi-lagi Ririn kepo terhadapku.
" Duda."Aku meninggalkan Ririn didapur dan segera membawa teh manis untuk tamuku hari ini.
Sesekali mas Adzam dan pak Rizky berbincang-bincang.
Aku tidak paham apa yang mereka bicarakan.
Sementara aku asyik berbincang dengan mama.
__ADS_1
" Mama sehatkan?"
" Sehat."
" Mama menginapkan disini?"
" Besok mama akan pulang, tapi mama tak mau jika kamu dan Tari tidak ikut serta."
Mama mulai merayuku.
" Ma, ini tempat ternyaman untuk Afi. Afi tidak bisa ikut dan kembali kerumah mama karena Afi bukan.."
Aku tidak melanjutkan ucapanku.
" Kamu tetap menantu mama bahkan lebih dari itu. Mama sudah anggap kamu sebagai anak mama. Dan kami harus ikut pulang bersama mama. Apa ku akan menikah dengan pria itu?"
Aku terkejut karena ucapan mama. Bagaimana bisa mama menuduhku seperti itu.
" Afi dan pak Rizky tidak ada hubungan apa-apa,ma. Pak Rizky hanya seorang pemimpin disini dan Afi adalah warganya." Aku mencoba menjelaskan pada mama.
" Lalu untuk apa ia datang kerumahmu?" Mama mulai berang.
" Lima tahun kamu tanpa kabar. Lima tahun kamu menghilang, Lalu kamu menolak untuk pulang? Apa kamu mau selamanya memisahkan mama dengan cucu mama?"
Mama mulai menangis seperti anak kecil.
Pak Rizky dan mas Adzam mendatangi kami.
" Pak, apa kamu tertarik pada anakku?"
Aku tidak menduga mama langsung bertanya pada pak Rizky.
Aku dan pak Rizky saling berpandangan. Kami sama bingungnya menghadapi mama.
Aku menggeleng memberi kode pada pak Rizky.
" Ayo jawab pak!" Mama mulai marah-marah.
" Jika Afi bersedia saya lamar dan ibu merestuinya, saya akan menikahi Afi." Ucap pak Rizky dengan tegas.
Mataku membulat, aku seperti mendengar Guntur disiang bolong.
Mas Adzam dan keluarga yang lain terkejut hingga menutup mulutnya tak percaya dengan ucapan pak Rizky.
" Kamu tidak boleh menikahi anakku.. Afi itu istrinya Adzam, sampai kapan pun tetap istri Adzam." Mama mulai meraung seperti orang kesurupan.
Aku meminta pak Rizky untuk pulang, " Pak, maaf bukan maksud saya untuk mengusir bapak. Tapi.."
" Saya mengerti mbak. Semoga semua cepat selesai dan kita bisa segera menikah."
Pak Rizky berlalu meninggalkan rumahku.
Heran sekali aku melihat keseriusan pak Rizky. Apa benar ia mencintaiku? Mas Adzam yang dulu jelas mencintaiku saja bisa melupakanku.
Aku kembali masuk kedalam rumah. Mas Adzam sedang berusaha menenangkan mama.
Aku memberi air putih pada mama.
" Fi, Kamu jangan menikah lagi." Rengek mama padaku.
Aku hanya mengangguk agar mama sedikit lebih tenang.
****
Malam ini aku menyuguhkan ayam semur dan tumisan kangkung.
Selesai makan, mama dan Ririn pamit untuk beristirahat dikamar ku. Sementara Tari ingin tidur dekat dengan ayahnya.
Mungkin karena terlalu jauh menempuh perjalanan, Mama dan keluarga yang lain sudah tertidur.
Kini tinggallah aku dan mas Adzam yang masih terjaga. Ada perasaan kikuk. Aku menyerahkan bantal dan selimut seadanya pada mas Adzam.
" Fi, bisa kita berbicara sebentar di depan."
__ADS_1