
" Mas?" Aku mencoba sadar, namun sepertinya kami sudah sama-sama lupa diri.
Aku tak menolak saat tangan mas Adzam mulai masuk kedalam bajuku. Aku juga tidak marah saat tangan mas Adzam merabai dadaku. Justru aku menikmati hal ini. Separuh jiwaku melayang bersama kecupan mas Adzam.
Mas Adzam mulai melucuti pakaian ku, namun disaat kami akan memulai hal yang lebih dalam lagi, terdengar suara mobil memasuki halaman rumah mama.
Sontak aku mendorong mas Adzam hingga terjatuh.
Secepat mungkin aku memakai pakaianku kembali. Jangan sampai mama dan Ririn memergoki aku dan mas Adzam melakukan hubungan suami istri. Mau di taruh dimana wajahku nanti. Aku menarik mas Adzam keluar dari kamar. Mas Adzam tampak cemberut karena hasratnya belum tersalurkan. Maaf ya mas!
Aku secepatnya kedepan untuk membuka pintu. Aku tidak ingin mama dan Ririn curiga.
Saat pintu sudah terbuka, mereka sudah berada didepan pintu.
" Ibu, lama banget buka pintunya." Tari cemberut kepadaku.
" Hah! masak sih?" Aku pura-pura tidak tahu.
Mereka masuk kedalam rumah. Aku sedikit bernapas lega. Setidaknya mereka tidak curiga padaku.
Huft!
Aku pun menyusul mereka masuk kedalam.
" Loh Zam, kamu sudah pulang?" Mama terkejut melihat mas Adzam sedang tiduran di sofa depan televisi.
Mas Adzam tak menyahut, ia hanya melirikku sekilas lantas setelah itu ia membuang pandangannya.
Dasar buaya darat! batinku.
Malam ini kami melewati makan bersama.
" Ma, besok pagi Afi dan Tari Izin pulang ke desa." Ucapku hati-hati.
" Kamu serius?" Tanya mama tanpa melihatku.
" Afi gak bisa lama-lama disini. Tari juga harus sekolah ma." Ucapku lagi.
" Kalau itu memang sudah keputusanmu, mama tidak bisa melarang. Zam, besok antar Tari pulang ke desa." Perintah mama.
Mas Adzam hanya diam. Entah apa yang ada di kepalanya saat ini.
Pagi-pagi sekali kami sudah siap berberes untuk pulang ke desa. Perjalanan yang lama membuat kami yarus berangkat lebih pagi.
Semua keluarga sudah berkumpul untuk melepas kepergian kami berdua. Mas Adzam juga sudah siap hendak mengantar kami. Ia sedang mengecek mobil agar tidak rusak saat kami gunakan nanti.
" Mbak, apa Raka ikut ngantar? Perjalanan jauh takutnya mas Adzam ndak sanggup nyupir. Kan bisa gantian sama Raka nanti."
" Enggak perlu." Ucap mas Adzam dari arah belakangku.
Raka hanya tertawa mendengar ucapan mas Adzam. Ia seperti tahu apa yang sedang di pikirkan mas Adzam.
Kami saling berpelukan. Seperti biasa mama sangat berat melepas kami.
" Fi, tolong fikir lagi permintaan mama." Bisik mama di telingaku.
Aku mengangguk lantas mencium kedua pipi mama yang mulai keriput.
Kami melambaikan tangan sebagai tanda perpisahan.
Kini mobil mas Adzam meninggalkan halaman rumah mama.
Tari kembali melanjutkan tidurnya.
Sementara aku masih sedih karena harus berpisah dengan mama.
Mas Adzam sedang fokus menyupir, hanya ada nyanyian yang mengalun merdu dari tape mobil mas Adzam. Hening, aku dan mas Adzam masih sama-sama diam.
***
Setelah menempuh perjalanan yang melelahkan akhirnya aku dan mas Adzam tiba di desa.
Badanku terasa capek. Petang mulai datang saat kami tiba di desa. Untungnya tadi aku sempat membeli tiga bungkus nasi beserta lauknya. Jadi ketika sudah mandi kami lekas menyantap makanan yang ku beli tadi.
Rasa capek dan kenyang membuat Tari jadi lebih cepat tidur. Ia langsung masuk kekamar dan tidur memeluk boneka beruang pemberian mas Adzam. Sementara aku tampak kikuk. Hanya mas Adzam yqng terlihat santai.
__ADS_1
Aku mulai menguap berkali-kali. Hingga kuputuskan untuk tidur. Aku memberikan bantal juga selimut pada mas Adzam.
" Fi, mas tidur di dalam ya." Pintanya. Tanpa menunggu persetujuanku ia sudah berjalan kekamar sambil membawa bantal dan selimut yang kuberi tadi.
" Gak bisa mas."
" Kenapa gak bisa?" Ia menggeser Tari lebih kepinggir.
" Sini tidur!" Ia menepuk tempat kosong di pinggir Tari.
" Aku dibawah saja mas. Kita gak boleh seranjang karena kita sudah ce.."
" Kita tidak pernah bercerai, dan mas tidak pernah menceraikanmu." Potong mas Adzam.
Mau gak mau aku naik ke atas kasur di samping mas Adzam.
Jujur, setelah sekian purnama tak tidur dengan mas Adzam jantung ku berderak lebih kencang.
Aku membelakangi mas Adzam. Kurasa ini lebih baik dari pada aku melihatnya.
Di luar dugaanku ia menarik tubuhku kuat. Selanjutnya aku sudah berada dalam pelukannya. Hangat dan nikmat!
Aku seperti orang bodoh, tidak berontak sama sekali. Bahkan kini tubuh kami sudah berada dalam satu selimut.
Di dalam kamar yang remang-remang, mas Adzam mengecup bibirku singkat.
" Aku tidak akan macam-macam. Tidurlah!" Bisiknya di telingaku.
Aku memejamkan mataku. Dan ini adalah malam terindah ku. Rasanya aku tak ingin pagi datang cepat-cepat. Aku tertidur dalam pelukan hangat mas Adzam. Bahkan aku tak tahu status kami seperti apa.
***
Suara ayam jantan berkokok, menandakan hari sudah pagi. Aku berusaha menyingkirkan tangan mas Adzam di perutku, tapi ia memelukku lebih erat.
" Disini saja! Aku masih ingin bersama mu." Bisiknya pelan.
Dan aku bagai kerbau yang di cucuk hidungnya. Aku membiarkan tangan itu memeluk tubuhku erat.
Mas Adzam, ternyata aku merindumu selama ini. Dan cintaku begitu besar padamu.
" Bu." Tari memanggilku.
Kini aku bisa bernapas lega. Aku bangun dan segera mandi agar lebih fresh.
Selesai mandi aku segera menyiapkan sarapan.
Tidak butuh waktu lama aku berada didapur. Kini nasi goreng kesukaan Tari dan mas Adzam sudah siap. Kini hanya tinggal menunggu mas Adzam dan Tari selesai mandi.
Sambil menunggu mereka, aku sempatkan untuk membagikan oleh-oleh kepada tetangga sekitar rumahku.
Aku menenteng beberapa plastik agar tak bolak balik nantinya.
Alhamdulillah, akhirnya aku sudah selesai memberikan oleh-oleh, saat akan sampai di tikungan rumah kebetulan aku bertemu dengan pak Rizky.
" Eh,mbak Afi.. kapan sampai?" Pak Rizky menghentikan sepeda motornya sejenak.
" Semalam sore pak." Ucapku sopan.
Pak Rizky memandang mobil yang terparkir di halaman rumahku, " Keluarganya ngantar lagi?" Tanya pak Rizky.
" Em.. Iya pak."
Tiba-tiba saja mas Adzam keluar dari dalam rumah. Ia menyapa pak Rizky, " Pak Rizky, mari mampir kita ngopi-ngopi." Tawar mas Adzam.
Pak Rizky turun dari motornya,kemudian mereka saling bersalaman.
Mereka duduk di teras rumahku.
" Fi, buat kopi dua ya!" Perintah mas Adzam.
Aku pun mengangguk dan segera berlalu dari hadapan mereka.
" Bu, ayah mana?" Tari celingukan mencari ayahnya.
" Ayah didepan." Jawabku singkat.
__ADS_1
Tari seketika berlari kedepan. Selesai membuat kopi, aku segera membawanya kedepan.
Mas Adzam dan pak Rizky sepertinya sedang bicara serius. Namun mereka berhenti mengobrol saat aku datang.
" Silahkan di minum."
" Terima kasih mbak Afi." Pak Rizky tersenyum padaku.
Aku berlalu dari hadapan mereka. Aku mengintip dari celah papan tang berlubang. Mereka tampak bersitegang.
Hatiku menjadi dag-dig-dug takut mereka bersitegang.
Ya Allah ada apa dengan mereka?
" Afi, pak Rizky mau pulang." Panggil mas Adzam.
Aku bergegas segera keluar tak lupa membawa oleh-oleh untuk pak Rizky.
" Mbak Afi, saya permisi pulang." Pak Rizky mengulurkan tangannya.
Kami pun bersalaman
Aku memberikan oleh-oleh pada pak Rizky.
Setelah pak Rizky pergi kami pun memulai sarapan yang sempat tertunda.
Mas Adzam begitu sangat menikmati nasi goreng buatan ku.
Seperti biasa, setelah makan Tari langsung pergi bermain dengan teman-temannya. Mungkin Tari rindu dengan temannya.
Setelah selesai membereskan bekas makanan kami, Aku dan mas Adzam memutuskan untuk mengobrol sejenak.
" Fi, pak Rizky ingin melamar mu"
Ucapan mas Adzam sontak membuat mataku membulat.
" Apa kamu menerimanya?" Tanya mas Adzam sendu.
" Bisakah kita mengulang kembali seperti semula? Aku tidak rela jika Tari punya ayah sambung."
" Aku pasrah pada takdir hidupku,mas. Jika pak Rizky di takdir kan menjadi jodohku, apa boleh buat."
" Kamu harus menjadi milikku selamanya, Fi."
" Bagaimana bisa mas? Kamu saja masih terikat pernikahan dengan Hanum." Tolakku mentah-mentah.
" Jadi maksud mu, andai aku bisa membawa akta perceraian antara aku dan Hanum, kau mau kembali rujuk denganku?" Tanya mas Adzam mengintimidasi.
" Apa kamu berani mas?" Tantang ku.
Ia mengecup bibirku singkat.
" Ku pastikan aku akan membawa akta cerai kehadapan mu."
" Aku tidak bisa menunggu lama mas. Jika pak Rizky lebih dulu melamarku, maka maafkan aku jika nanti aku hidup dengannya." Ucapku lagi.
Ia bangkit dari duduknya. Mengambil jaket dan kunci mobil.
" Mau kemana mas?" Tanyaku heran.
" Aku mau pulang. Mau mengurus surat cerai supaya bisa hidup bersama kamu dan Tari."
" Serius mas?" Ucapku girang.
Lagi-lagi ia memelukku erat. mengecup bibirku. dan. kini kami saling membalas.
Ia menarik ku kekamar.
Di kamar ini ia mencumbu ku dengan sangat buas.
Ciuman kami terhenti kala Tari pulang dan memukul pintu kamar yang di kunci oleh mas Adzam.
" Anakmu pulang." Kami pun sama-sama menyudahi adegan dewasa.
Aku membuka pintu, ada wajah penuh keheranan menatap kami berdua.
__ADS_1
" Sayang, ayah pulang dulu ya. Nanti ayah datang lagi." Mas Adzam memeluk Tari.
Sebelum benar-benar pergi mas Adzam memelukku erat seraya berbisik," Tunggu aku, aku pasti datang."