Boleh Ku Pinjam Rahimmu?

Boleh Ku Pinjam Rahimmu?
Boleh Ku Pinjam Rahimmu 13


__ADS_3

Hanum menoleh sebentar, tersenyum kecil kepadaku. " Kalau cuma nyuci piring dan beres-beres begini kecil." jawabnya.


Aku hanya tertawa mendengar ucapannya.


Aku memperhatikan Hanum dari belakang.


Calon istri mas Adzam. Ya Allah semoga pilihanku memilih Hanum menjadi ibu untuk anak-anak mas Adzam adalah yang terbaik, dan aku berharap ya Allah semoga rumah tangga yang kami bangun tetap menjadi rumah tangga yang sakinah mawadah dan warahmah.


Hanum sudah selesai mencuci piring. Kini ia duduk dihadapanku. Kami saling menatap.


Satu menit.. dua menit dan...


" Apakah pernikahan ini bisa di batalkan Fi?"


tanya Hanum dengan wajah serius.


Aku menatap dalam matanya. Mencoba mencari jawaban sendiri, tapi nyatanya aku tak bisa menemukan jawabannyang kucari.


" Kenapa berubah pikiran?"


Hanum mengetuk-ngetuk jarinya dimeja.


" Kenapa berubah pikiran?" tanyaku lagi.


" Aku takut menyakitimu." jawabnya lirih.


" Maaf kalau semalam aku tak bisa menjaga sikap ku. Jujur aku sedang belajar menjadi wanita yang tegar. Tapi sulit!" jawabku jujur.


" Kalau ganya butuh seorang anak, mengapa kalian tak adopsi saja? Kupikir itu jalan terbaik Fi!"


Aku menggeleng, " Mas Adzam tidak mandul, jadi mas Adzam tetap bisa punya anak. Sedangkan aku..?" Bahkan aku sendiri tak sangup menjelaskan jati diriku.


" Maaf kalau kamu kecewa dengan sikap ku yang kemarin." ucapku lagi.


" Aku takut melukai perasaan mu Fi dan merusak persahabatan kita." Ucap Hanum murung.


" Demi mas Adzam." Aku memegang erat tangan Hanum. Mencoba memberi kekuatan, padahal aku sendiri pun rapuh.


************


Hanum sudah pulang, aku pun lanjut berberes rumah. Sore nanti aku dan mama akan berbelanja untuk keperluan pernikahan mas Adzam


Besok tante Indah, adik mama mas Adzam akan tiba. Aku agak takut menghadapi tante Indah. Tante Indah bisa saja marah karena ide konyolku.


Ting..Tong..


Bel rumah berbunyi, mungkin mama sudah datang. Aku bergegas membuka pintu, dan benar ternyata...


" Assalamu'alaikum...." Kompak mama dan tante Indah mengucap salam.


Mataku melotot karena terkejut, namun detik berikutnya kami berpelukan erat.


" Tante...."

__ADS_1


" Apa kabar sayang... sehat?" tanya tante padaku .


" Alhamdulillah sehat tante.."


Aku pun mempersilahkan tante Indah dan mama masuk kedalam.


Tak lupa aku menyuguhkan minuman pada mama dan tante Indah.


" Gak usah repot-repot sayang.."


" Cuma buat minum gak repotlah tan, masak sudah jauh-jauh datang tidak mencicipi minuman di rumah Afi." Candaku.


" Sini duduk" Tante indah menepuk kursi kosong yang ada di sampingnya.


Aku menuruti permintaan tante.


" Kenapa kamu merelakan suami mu menikah dengan sahabatmu? Itu berat loh untuk seorang laki-laki jika ia tak bisa berbuat adil pada istrinya." Jelas tante panjang lebar.


Aku pun menceritakan perjalanan pernikahan ku dan mas Adzam dari awal sampai akhir. Tante Indah berulangkali mengusap punggungku mencoba memberi semangat. tak sesekali mengusap air mata yang ikut tumpah.


***************


Hari yang kutakutkan akhirnya tiba. Pagi ini semua keluarga inti sudah berkumpul di rumah kami. Tak terkecuali Hanum dan mas Adzam sang pengantin. Hanum tampak cantik dan elegant dengan kebaya putih tak lupa kerudung putih dan bunga mrlati menghias di kepalanya. Mas Adzam pun tak kalah tampan untuk bersanding dengan Hanum. Pak penghulu sudah tiba dan sedang berbincang dengan mas Adzam, sementara Hanum sedang duduk disamping mama, tante Indah, Ririn juga Rina.


Aku tidak tahu ekspresi apa yang cocok untuk ku saat ini. Melihat mereka kompak ada rasa sakit yang menghujam jantungku.


Aku masih mengintip di balik pintu kamarku.


Masih mengumpulkan kekuatan untuk menyaksikan mas Adzam mengucap ijab kabul untuk yang kedua kali.


" Bagaimana pak Adzam,apakah pernikahan ini sudah bisa di langsungkan?" tanya pak penghulu.


Mas Adzam menatapku seolah meminta persetujuanku.


Aku menganggukkan kepala sebagai tanda setuju.


suasana hening, pak penghulu memulai acara ijab kabul dan menjabat tangan pak penghulu. Hingga terdengar suara mas Adzam dengan lantang, " Aku terima nikahnya Hanum binti Waluyo dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan uang lima juta rupiah tunaii...."


Dengan serentak saksi menjawab Sah....


Alhamdulillah.....


Tanpa sadar air mataku jatuh satu persatu seperti hujan di luar sana.


Ya, pernikahan mas Adzam kali ini ditemani derasnya air hujan dan derasnya air mataku.


Seolah alam pun tahu betapa sedihnya hatiku melihat pernikahan ini. Kini Hanum telah duduk di samping mas Adzam menandatangani beberapa dokumen pernikahan.


setelah selesai, untuk pertama kalinya mereka berjabat tangan. Hanum nampak tersenyum mencium tangan suamiku dan suaminya.


Ya... kini suamiku adalah suaminya juga. Tidak ada yang berbeda. Hanum juga akan menerima hak yang sama dari mas Adzam.


Kini acara sesi foto berlangsung, tampak mas Adzam dan Hanum berpose dengan memamerkan buku nikah mereka. Dan aku sungguh tak berani menatap mereka, Sepanjang acara berlangsung aku lebih banyak menunduk menyesali takdir Hidupku.

__ADS_1


Sesekali tante Indah mengusap punggungku mengucapkan kata sabar dan istigfar.


Di acara pernikahan mas Adzam aku lebih banyak diam hingga otakku tak fokus saat ada yang memanggilku.


" Fi..." Sebuah suara mengejutkanku.


Aku mencari asal suara yang memanggilku.


Mas Adzam melambaikan tangan kearahku.


" Sini! "


Aku berjalan kearah pengantin baru itu dengan langkah berat.


Aku berdiri di samping Hanum,tapi mas Adzam menarik tanganku untuk berdiri disampingnya. Akhirnya kami bertiga berfoto.


Acara ijab kabul sudah selesai, selanjutnya kami menikmati makan siang bersama. Mas Adzam dan Hanum duduk berdampingan. Entah mengapa aku seperti kehabisan nafas melihat Hanum duduk bersama suamiku.


Makanan yang tersaji begitu lezat dinikmati mereka, tapi tidak denganku.


Selera makanku hilang begitu saja.


Mataku seperti enggan berpaling dari mas Adzam dan Hanum.


Dan sepertinya mas Adzam menyadari itu.


Ia bangkit dari duduknya dan tak lupa membawa piringnya berjalan kearahku.


" Makan! Mau yang mana?" Mas Adzam mengambil piring dan bersiap mengisi.


" Gak perlu repot mas, aku bisa sendiri." Elakku sambil meraih piring dari tangan mas Adzam tapi tak bisa dijangkau karena mas Adzam tetap mengisikan nasi beserta lauk pauk kesukaannya.


" Makan tang banyak, itu makanan kesukaan mas." ucap mas Adzam sembari mengedipkan satu matanya.


Aku tersenyum hambar padanya. Entah mengapa kini aku tidak menyukai gombalannya.


Aku memulai aktivitas makanku demgan lambat. Sementara mama dan kerabat yang lain sudah selesai.


" Tambah lagi?" tanya mas Adzam.


Aku menggelengkan kepalaku sebagai tanda menolak.


Aku meletakkan piring yang masih penuh. Kemudian mencuci tanganku.


" Sudah siap?" tanya mama.


" Sudah ma.."


Piring kotor pu di beresi oleh beberapa orang yang ku bayar untuk membantuku hari ini.


Sementara Hanum izin mengganti baju kekamar sebelah yang sudah kubereskan semalam.


Aku masuk kekamarku di ikuti oleh mas Adzam.

__ADS_1


Aku mengambil sesuatu untuk mas Adzam.


" Apa ini?" tanya mas Adzam heran.


__ADS_2