Boleh Ku Pinjam Rahimmu?

Boleh Ku Pinjam Rahimmu?
Boleh Ku Pinjam Rahimmu 33


__ADS_3

Ini masih tentang Hanum ya teman-teman, biar tuntas dan tidak penasaran lagi.


Waktu bulan madu yang hanya tujuh hari aku gunakan dengan sebaik-baiknya. Setiap hari kami lalui dengan bercinta. Dan tak lupa aku memakai lingerie, pakaian terbaikku selama bersama mas Adzam.


Aku tidak pernah menyangka jika mas Adzam bisa lebih buas dari harimau. Ia seperti harimau yang kelaparan. Apa mungkin selama ini hubungannya dengan Afi datar-datar saja?


" Tenang mas Adzam, aku akan membuatmu terbang bersamaku." Ucapku pasti dalam hati. Ya aku hanya berani mengucapkannya di dalam hati. Aku perlu waktu untuk menjaga agar image ku tetap baik di hadapan mas Adzam. Karena bagiku mas Adzam adalah aset yang sangat berharga.


Waktu tujuh hari bersama mas Adzam di pulau Bali ini sudah selesai. Waktunya kami pulang. Namun sepertinya kami sama-sama belum ingin berpisah jadi kami memutuskan untuk menambah waktu beberapa hari untuk menginap di hotel di kota kami.


Lagi-lagi waktu kebersamaan kami habiskan untuk bercinta dan bercinta. Tiada hal yang lebih indah selain bercinta.


Dan waktu kebersamaan kami sudah habis. Waktunya kami pulang kerumah Afi dan mas Adzam. Sebelum turun dari mobil kami masih sempat terlibat adegan panas dengan mas Adzam. Aku dan mas Adzam seperti seorang gadis dan lajang yang baru mengenal cinta. Begitu menikmati pengantin baru.


Sehari dirumah mas Adzam, aku bisa membaca raut wajah kecemburuan. " Afi, jika tidak siap dengan kehidupan seperti ini mengapa harus bermain api? Sebentar lagi api itu akan membakar tubuhmu sendiri." Batinku.


Hari yang paling bersejarah dalam hidup ku telah tiba. Hari ini mas Adzam dan Afi akan membelikan aku sebuah rumah. Tidak pernah terlintas dalam benakku, jika aku akan punya rumah sendiri.


Dan kini aku bagai ratu di rumahku sendiri.


Aku bisa membeli barang yang ku suka. Dan mas Adzam selalu mampir setiap pagi dan sore, walau tujuan utamanya hanya untuk bercinta. Itu tak masalah bagiku.


Andai rahimku masih, pasti mas Adzam akan lebih mudah aku genggam dan aku kuasai.


Sepanjang perjalanan pernikahan ku dan mas Adzam ada suatu kabar yang membuatku ketar-ketir. Afi di kabarkan hamil. Pelan-pelan posisiku akan akan tergeser dengan kehadiran anak mereka.


Sesungguhnya bukan Afi yang meminjam rahimku namun akulah yang akan meminjam rahim Afi.

__ADS_1


Hal yang mengejutkan untukku saat Afi dan mas Adzam datang kerumah, Aku yang mengira hanya mas Adzam saja yang datang mencoba memberi kejutan hanya tampil menggunakan lingerie.


Di luar dugaanku, bukan mas Adzam yang ku temui justru Afi yang memergoki aku menggunakan lingerie.


Sumpah, itu adalah hal memalukan. Bagaimana bisa aku bersikap konyol di depan sahabatku sendiri?


Hal menyakitkan kembali terulang lagi, saat Afi memintaku dan mas Adzam agar untuk sementara waktu tidak bertemu.


Haruskah aku kembali kehilangan suami?


Sampai mereka pulang aku seperti orang gila.Sungguh sangat licik kelakuan Afi. Apa itu yang di bilang sahabat? Mencampakkan ku bagai sampah yang tidak berguna lagi.


Rasa dendam tumbuh subur di dalam hatiku.


Jika dulu aku pernah kalah dengan wanita lain, kini aku bersiap mengibarkan bendera peperangan dengan sahabatku.


Hari ini aku di kejutkan oleh mas Adzam, bahwa hari ini Afi masuk rumah sakit karena pendarahan. Aku tersenyum dengan perasaan lega, akhirnya kabar yang ku tunggu-tunggu terjadi juga.


" Fi, sebentar lagi kamu bukan hanya kehilangan suami. Bahkan sebentar lagi kamu akan kehilangan anak juga harta dan orang-orang yang ada di sekitarmu."


Aku tertawa sekencangnya.


Aku sadar sekarang telah menjadi pribadi yang tidak baik. Tapi apa yang kulakukan terhadap Afi belum ada apa-apanya dibanding aku dulu yang di siksa oleh lika mantan istri suamiku, dan tanpa pembelaan sedikitpun dari mantan suamiku.


Aku juga harus rela kehilangan rahimku, tanpa harus menuntut kemana-mana. Dan untungnya saja aku tidak memilih untuk bunuh diri.


****

__ADS_1


Ada kabar bahagia saat mas Adzam mengabarkan padaku bahwa ia akan mampir seusai pulang kerja. Aku sudah bersiap untuk menyambut suamiku yang tampan dan mapan. Aku memperkirakan ia akan datang sekitar pukul empat, Jadi aku sengaja duduk santai di teras rumah siang hari, karena ingin menikmati panas udara kali ini.


Tiba-tiba aku di kejutkan oleh sebuah mobil yang sangat ku kenal, Mas Adzam datang lebih cepat. Jantung ku terasa dag dig dug. Aku memeluknya, Rindu!


Setelahnya jangan tanya aktivitas apa yang kami kerjakan. Tugasku adalah menggoda suamiku agar lebih betah bersama ku. Terbukti ia sangat berat untuk berpisah dariku. Rasanya aku seperti terbang di awan mendengar penuturan mas Adzam.


" Mas, kamu tidak akan bisa lepas dariku." Aku tersenyum manis padanya.


Tidak terasa pertemuanku dan mas Adzam sudah dua jam lebih. Aku menggerutu kesal. Mengapa waktu selalu berputar cepat saat aku sedang bersama mas Adzam. Seolah-olah waktu pun seperti Afi, ikut cemburu melihat kemesraan ku bersama mas Adzam.


Saat mas Adzam mengabarkan kalau Afi di rawat, aku menawarkan diri agar sore ini aku ikut bersamanya untuk menjenguk Afi. Namun mas Adzam melarang, dengan alasan waktu yang tidak tepat. Padahal sesungguhnya itulah yang sedang kucari. Kalau Afi cemburu atas kedatangan ku, tentu bisa merusak mentalnya dan syukur-syukur bisa keguguran.


******


Aku masih bete karena mas Adzam melarang ku untuk menjenguk Afi.


Untuk menghilangkan rasa sebal terhadap mas Adzam aku memutuskan untuk berbelanja. Tak lupa untuk dandan cantik. Saat aku sedang asyik memilih baju, ponselku berdering, ada nama mas Adzam tertera dilayar ponsel. Ada apa dengan mas Adzam? Apa rindu itu masih bersemayam di hatinya? aku pun menekan tombol warna hijau, terdengar suara mas Adzam di seberang. Ia terdengar panik, katanya Afi kabur. Aku pun pura-pura panik, dan segera akan menemui mas Adzam. Akhirnya aku buru-buru pulang kerumah. Rencananya hari ini aku akan kerumah mas Adzam untuk membuat mas Adzam tenang. Tak lupa Lingerie paling seksi kumasukkan kedalam tas kecilku.


Ini adalah waktu yang pas untuk bercinta di rumah mas Adzam, khususnya di ranjang pribadi Afi. Aku mengendarai sepeda motorku dengan rasa yang sangat sangat bahagia. Ternyata Tuhan mendengar keinginanku.


Kabur saja yang jauh,fi. Jangan memikirkan mas Adzam lagi. Mas Adzam biar aku yang ngurusin. Tugasmu sudah selesai. Sekarang giliran aku yang akan membuat hidup mas Adzam bahagia.


Aku sudah sampai di depan rumah mas Adzam, mas Adzam menyambutku, wajahnya tampak kusut. Aku membawa mas Adzam masuk.


" Mas, tenang ya. Mudah-mudahan Afi baik-baik saja." Aku mencoba menghibur mas Adzam.


Selanjutnya aku izin kekamar, Kini aku mengganti pakaianku. Lingerie yang kubawa di tas sudah melekat di tubuhku. Aku keluar kamar, menemui mas Adzam dengan penuh percaya diri.

__ADS_1


Dan benar saja, Ia menatapku tanpa berkedip. " Mas, ayo kita berpesta sejenak melepas kerinduan yang terpendam." Bisikku di telinganya.


__ADS_2